Anggrek, Karya Seni Hyang Widhi

 

Puja Trisandhya

You need to a flashplayer enabled browser to view this YouTube video
 
Logo PHDI Pusat

Ekonomi Umat

Salah satu kewajiban umat Hindu adalah melaksanakan Dharma / Tirtha Yatra yaitu mengunjungi tempat-tempat suci yang menjadi "istana" bagi Hyang Widhi dan / atau sinar sucinya. Salah satu umat kita menyediakan program / jasa pemandu Tirta Yatra yang selengkapnya dapat anda kunjungi di website www.niscayabali.com.

 

 
SUBAK, EPOS RAMAYANA DAN ZAMAN KALIYUGA

Subak, Epos Ramayana,
dan Zaman Kaliyuga

Oleh Wayan Windia

LIBUR Nyepi, saya membuang jauh-jauh buku teks tentang subak dan pertanian, yang selama ini saya tekuni. Bacaan saya alihkan pada buku-buku Agama Hindu. Di rak buku, saya menemukan buku karya Pak Tjok Rai Sudartha, tentang Kepemimpinan Hindu Asta Brata Sebuah nasihat kepemimpinan, yang diamanatkan oleh Sri Rama kepada Pangeran Wibisana (bukan kepada Pangeran Bharata). Hal itu dilakukan, beberapa saat menjelang Wibisana akan menduduki jabatan sebagai Raja Alengka kini Ceylon (Sri Lanka).

Read more...
 
Sebaiknya Janganlah Jadi Golput

Sebaiknya Janganlah Jadi Golput

Araaja hi loke’ smin
sarwato widrute bhayaat.
raksaarthamasya sarwasya
raajananasrjat prabhuh

(Manawa Dharmasastra VII.3)

Maksudnya: Kalau masyarakat ini tanpa aja akan terusir, tersebar ke seluruh penjuru. Bermusuh-musuhan, akan dicekam rasa takut. Tuhan telah menciptakan Raja untuk melindungi seluruh ciptaan-Nya.

Read more...
 
Libur Fakultatif Tahun 2014

DAFTAR LIBUR FAKULTATIF  TAHUN 2014

Read more...
 
Bab 13 - Falsafah Kehidupan

Berkatalah Arjuna:
Oh Kreshna, daku berhasrat sekali untuk mempelajari hal-hal tentang Prakriti (alam) dan Purusha (Sang Jiwa), tentang ladang dan tentang Yang Mengetahui ladang ini (Sang Pengenal ladang), tentang ilmu pengetahuan (kebijaksanaan) dan tentang hal-hal yang perlu untuk diketahui.
Sloka di atas ini tak bernomor, dan sering tak diterjemahkan karena dianggap sebuah sisipan.
Berkatalah Yang Maha Pengasih:

 

Read more...
 
PERAN TEMBANG DOLANAN DALAM PENGAJARAN HINDU

Peran Tembang Dolanan
dalam Pengajaran Hindu
Oleh : Miswanto, Banyuwangi
(Sambungan WHD. No. 499)

Ekspresi yang ditunjukkan dalam sebuah Tembang Dolanan biasanya berupa sikap senang, periang, gembira dan sebagainya. Hal ini terlihat dalam salah satu contoh Tembang Dolanan “Lir-ilir” di bawah ini yang sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Jawa.

 

Read more...
 
Sorga Pahalanya Bagi yang Melestarikan Alam

 

Indraa ya dyaava osadhir uta aapah.

Rayim raksanti jirayo vanani. (Regveda III.51.5).

Maksudnya: Lindungilah sumber-sumber kekayaan alam seperti atmosfir (dyau) tanam-tanaman bahan makan dan tumbuh-tumbuhan berhasiat obat (osadha), sungai sungai, sumber air (aapah) dan hutan-hutan belantara (vana).


Read more...
 
Seimbangkan Beragama ke Luar dan ke Dalam Diri

Seimbangkan Beragama ke Luar dan ke Dalam Diri

Iha camutra wa kamyam
prawrttam karma kirtyate
niskamam jnanapurwam
tu niwrttamupadicyate.
(Manawa Dharmasastra.XII.89)

Maksudnya: Pengertian perbuatan-perbuatan yang menjamin tercapainya harapan-harapan di dunia ini atau di waktu mendatang disebut prawrtta. Tetapi perbuatan-perbuatan yang dilakukan tanpa keinginan akan pahalanya didahului dengan penentuan ilmu disebut niwrti.

Read more...
 
Nilai Kultur Melintasi Zaman

Nilai Kultur Melintasi Zaman
Oleh : Gregorius Magnus Finesso [Kompas, 3 Agustus 2013]

Energi pluralisme menjadi akar nilai hidup komunitas adat Bonokeling. Kuat menggenggam tutur leluhur sejak ratusan tahun silam, mereka tetap terbuka dan tidak menghakimi kelompok lain. Agama dimaknai sebagai aksentuasi wujud syukur pribadi kepada Sang Pencipta melalui keselarasan hubungan antarmanusia dan alam semesta.

Read more...
 
Dahsyatnya DOA

Dahsyatnya Doa
AA.SG Mas Sentani Dewi

Selain lebih mendekatkan diri pada Ida Sang Hyang Widhi, rajin berdoa juga mampu meningkatkan keimanan. Bibit sifat baik akan berkembang dan keseimbangan hidup pun terjadi.

Read more...
 
BALI DAN BANTEN: Mendalami Ajaran Yoga Dalam Upakara

BALI DAN BANTEN:
Mendalami Ajaran Yoga Dalam Upakara

Sarana upacara adalah upakara. Di Bali upakara dipopulerkan dengan istilah banten, sedangkan di India, upakara disebut wedya. Istilah wedya sebenarnya juga terdapat di dalam pustaka agama Hindu di Bali yang juga berarti banten. Upakara atau banten merupakan perwujudan dan ajaran bhakti marga dan karma marga.

Read more...
 

Alamat Kontak

Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat
Jl. Anggrek Neli Murni
Blok A No. 3 Slipi,
Jakarta Barat
Telp : (021) 5330414
Fax : (021) 5485181
Kontak Email :
sekretariat[at]parisada.org
(Putu Nugata)

Jejak Pendapat

Bagaimana pendapat Anda tentang tampilan baru ini ?
 

Artikel Umat

Dalam mengarungi bahtera kehidupan, pasang surut pasti pernah kita alami. Rwa-Bhineda, dua hal berbeda yang menjadi keniscayaan, layaknya siang dan malam, laki dan perempuan, suka dan duka, maka keberhasilan dan kegagalan pasti terjadi saat kita bekerja. Walau fakta rwa-bhineda nyata adanya, namun tetap saja, kegagalan konon menjadi, penyebab stress terbesar. Jika suatu saat, pasti akan pernah mengalami kegagalan, apa yang perlu kita persiapkan untuk menghadapinya ?

 

Read more...
 

Hit Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini30
mod_vvisit_counterKemarin209
mod_vvisit_counterMinggu ini909
mod_vvisit_counterBulan ini4016
mod_vvisit_counterSeluruhnya629373
[Sejak 26 Januari 2008]

Statistik Anggota

Total Members : 10928
Members Online : 0
Today : 4 Registers
This week : 104 Registers
This month : 367 Registers

Login Form






Lost Password?
No account yet? Register

Siapa Online ?

We have 24 guests online
Dari Simbol Menuju Aktualisasi Diri

Renungan Galungan:
Dari Simbol Menuju Aktualisasi Diri
Oleh: I Wayan Suja, Singaraja

Sampai saat ini masih ada beberapa desa tua di Bali tidak pernah melaksanakan perayaan Galungan karena mereka menganggap Galungan sebagai peringatan jatuhnya Bali ke tangan bala tentara Majapahit. Sedangkan, menurut isi lontar Purana Bali Dwipa, perayaan Galungan pertama kali di Bali pada Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun Saka 804(902 M); jauh sebelum jatuhnya Bali ke tangan Majapahit pada tahun 1265 Saka (1343 M). Dengan demikian, alasan untuk tidak merayakan Galungan seperti tersebut di atas hanyalah kesalahtafsiran.

 
"));