Mecaru Di Jakarta - Desa, Kala, Patra

 

Puja Trisandhya

You need to a flashplayer enabled browser to view this YouTube video

Renungkan !

Jangan berbuat dengki pada orang lain dan menjauhlah dari kumpulan para penghasut. Jangan putuskan harapan Anda dalam kehidupan ini. Abaikan semua keindahan maya yang cepat berlalu. Terimalah apa yang akan terjadi terhadap Anda dengan lapang dada. Bertahanlah, karena kebahagian sedang menunggu Anda ...
 
Renungan Hari Siwaratri
Hampir setiap ajaran agama di muka bumi ini mengenal adanya Sorga dan Neraka, tetapi hanya ajaran Hindu yang mengenal Moksa. Apakah Sorga dan Neraka itu merupakan sebuah tempat? Kalau merupakan sebuah tempat, pertanyaan kita berikutnya adalah: di manakah tempat itu berada? Benarkah Sorga dan Neraka itu ada? Bagaimanakah keadaan tempat-tempat tersebut? Siapakah yang sudah pernah ke sana dan mau menceritakannya?

Read more...
 
Selamat Tahun Baru Imlek 2561

Image

Click Readmore untuk lihat Sambutan Ketua Umum Parisada dalam rangka Tahun Baru Imlek Nasional 2561.

Read more...
 
Sendratari Triyoni Saraswati tampil di Australia

Sendratari Triyoni Saraswati yang dibawakan oleh para penari asal Indonesia akan tampil di hadapan peserta Kongres Parlemen Agama Dunia, 3-9 Desember 2009 di Melbourne, Australia.

Image
Aktifitas Dharmadyaksa di Kongres Parlemen Agama Dunia - Australia


Sendratari Triyoni Saraswati tersebut menggambar cerita tentang kewanitaan yang mempunyai ilmu kebijaksanaan yang diangkat dari budaya Jawa (Solo), Bali dan Makasar, kata Suprapto Suryodarmo pemilik padepokan Tari Lemah Putih Solo, di Solo, Jumat.


Read more...
 
Korupsi Itu Disebut “Maling Matimpuh”

Dharma Wacana – Balipost, Minggu 13 Desember 2009.
Korupsi Itu Disebut “Maling Matimpuh”
Oleh: Drs. I Ketut Wiana, MAg

Api sakya gatir jnatum
Patatah khe patatrinam
Na tu pracchannabhavanam
Yuktanam caratan gatih

(Kutipan Athasastra)

Artinya: Lebih mudah mendapatkan jejak kaki burung terbang di angkasa daripada mengikuti gerak gerik para pegawai negara yang secara sembunyi-sembunyi mengkorupsi uang negara.

Read more...
 
Uang dan Keadilan

Balipost – Minggu, 22 November 2009.
Uang dan Keadilan
Drs. I Ketut Wiana, M.Ag

Adhaarmika naroyo hi yasya
caapya nrtam dhanâm
Himsaaratasca ye nityam nehaa
sa sukhamedate
(Manawa Dharmasastra IV. 170)

Artinya: Hidup penuh dosa apabila mengumpulkan kekayaan dengan cara yang tidak sah. Orang yang hidupnya selalu gembira bila dapat menyakiti orang lain. Orang yang demikian itu tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya di dunia ini maupun di dunia lain.

Read more...
 

Alamat Kontak

Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat
Jl. Anggrek Neli Murni
Blok A No. 3 Slipi,
Jakarta Barat
Telp : (021) 5330414
Fax : (021) 5485181
Kontak Email :
sekretariat[at]parisada.org
(Putu Nugata)
Kontak System Designer :
jayamartha[at]gmail.com
(IBM Jaya Martha)

Jejak Pendapat

Bagaimana pendapat Anda tentang tampilan baru ini ?
 

Layanan Online

Artikel Umat

Jaman sekarang, jika ada orang yang berbicara tentang ”clean business” – berbisnis dengan sikap arjawam yang berati jujur - tulus - tanpa kecurangan, tentu menuai tawa. Dianggap ide yang tak masuk akal, fanatik bahkan mungkin dianggap bodoh.

Read more...
 

Hit Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini224
mod_vvisit_counterKemarin279
mod_vvisit_counterMinggu ini224
mod_vvisit_counterBulan ini2200
mod_vvisit_counterSeluruhnya276835
[Sejak 26 Januari 2008]

Statistik Anggota

Total Members : 815
Members Online : 0
Today : 2 Registers
This week : 2 Registers
This month : 25 Registers

Login Form






Lost Password?
No account yet? Register

Siapa Online ?

We have 7 guests online
Bagus Diarsa, Seorang Penjudi bisa Masuk Surga

Studi Teologis dan Intertekstualitas

I Made Titib

Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar, Bali

Tinjauan Umum

ImageCeritera Bagus Diarsa (CBD) telah dikaji oleh Nyoman Tusthi Eddy, Tafsir Simbolik Cerita Bagus Diarsa, diterbitkan Yayasan Dharma Sastra, Denpasar (2002). Pada awalnya hanyalah tradisi lisan, cerita dari mulut ke mulut, yang kemudian dituliskan dalam bentuk Satua Bagus Diarsa, yakni Cerita Bagus Diarsa (2002: 153). Selanjutnya, cerita tersebut diubah dalam genre kidung disusun dengan memakai aturan bahasa Kawi-Bali oleh seseorang yang tidak dikenal namanya (lazimnya para kavi, sastrawan tidak mencantumkan nama dalam karyanya),  yakni dituangkan  ke dalam 270 pupuh (irama). Pupuh yang digunakan hanya satu, yakni pupuh Adri (2002:89). Selanjutnya, dalam genre gaguritan, cerita Bagus Diarsa ini dikemas dalam beberapa pupuh, yakni  pupuh sinom sebanyak 194 pupuh dan durma 99 pupuh. Cerita Bagus Diarsa dalam bentuk satua (cerita) an dua genre tersebut menunjukkan bahwa cerita ini sangat populer di kalangan masyarakat Bali.