Logo PHDI Pusat
Poligami dan Poliandri Print E-mail

 

Poligami dan Poliandri Versi Hindu

Dalam Mantera Rg. Veda: X.85.42 ada doa yang isinya memobon Tuban semoga pasangan suami isteri itu tetap berdua selamanya dan hidup bahagia bersama anak dan cucunya dalam sebuah rumah. Permobonan itu mengandung makna, idealnya dalam perkawinan itu tidak ada poligami dan poliandri.

 

Rg.Veda X.85.47 menyatakan doa permohonan kepada para Dewata yang isinya semoga para Dewata selalu menyatukan dengan kekal hati mereka sebagai suami istri. Kalau bati mereka sudah demikian bersatu tentunya tidak ada suami dan istri yang suka dimadu. Kalau ada yang hidup berpoliganli atau berpoliandri, itu pasti karena tidak adanya jalan lain. Poligami bukan harapan hidup manusia yang normal tetapi suatu kenyataan hidup bagi orang-orang tertentu yang karena karma-nya tidak bisa menghindari poligami.


Dalam Manawa Dharmasastra IX.45 dinyatakan, seorang suami disebut hidup sempurna jika dalam keluarganya ada tiga unsur, yaitu ia, istrinya seorang dan anaknya. Dalam sloka yang lainya dinyatakan, istri yang hanya seorang yang dimiliki seorang suami disebut "swadarani". Swa berarti sendiri, dara berarti istri. Swadarani maksudnya hanya seorang istri yang dimiliki seorang suami.


Dalam Manawa Dhatmasastra 1X.102 ada ajaran kepada pasangan suami istri sbb: Pasangan suami istri hendaknya tidak jemu-jemunya mengusahakan agar mereka tidak bercerai dengan cara masing-masing, tidak melanggar kesetiaan antara satu dengan yang lainnya.


Secara umum mencintai orang lain selain istri atau suami sendiri dianggap umum sudah mengurangi kadar kesetiaan dalam perkawinan. Karena itu Hindu mengajarkan kepada umatnya untuk sejauh mungkin menghindari poligami dan poliandri.


Namun, dalam tradisi umat Hindu di Bali jodoh itu diyakini sebagai suatu buah karma yang disebut dengan istilah "jatu karma". Dalam Chanakya Nitisastra IV.1 dinyatakan, kelahiran, jenis pekerjaan/pengetahuan, kekayaan, jodoh dan kematian sudah ditetapkan Tuhan saat manusia masih dalam kandungan. Hal itu ditetapkan Tuhan berdasarkan karma-karma pada penjelmaan sebelumya. Melakukan poligami atau poliandri bukan karena suatu harapan tetapi suatu kenyataan hidup buah dari karma masa lalu. Kalau karma masa lalu harus berbuahkan poligami atau poliandri hal itu tidak bisa dihindari karena buah karma.


Mengenai jodoh sebagai suatu buah karma ada mitologi dalam Lontar Angastia Prana. Isi singkatnya: Roh turun menjelma ke dunia karena karma-nya. Saat akan turun menjelma roh ini disebut "semara sunia". Dalam perjalanan roh itu turun menjelma ke dunia akan menemui jalan simpang sembilan yang disebut: "Marga Sanga". Roh itu bingung menentukan jalan mana yang menuju ke alam skala. Saat roh itu bingung tiba-tiba ada juga roh yang lainnya juga bingung. Roh-roh yang bingung di Marga Sanga itu saat bertemu hilang bingungnya karena mereka sudah dengan jelas menemukan satu di antara sembilan jalan yang menuju ke dunia ini. Pertemuan di Marga Sanga itulah konon yang nantinya akan menjadi jodohnya setelah berada di dunia. Kalau yang bertemu di Marga Sanga itu dua roh, setelah di dunia ini mereka menjadi pasangan jodoh yang tidak berpoligami dan berpoliandri.


Kalau yang bertemu ada tiga atau lebih roh terus hilang bingungnya, maka akan terjadilah poligami atau poliandri. Pertemuan roh-roh itu di Marga Sanga terjadi karena karma mereka. Ini sebuah mitologi, boleh percaya boleh tidak.
Dalam ajaran Hindu, poligami itu sesuatu keterpaksaan karena takdir. Takdir itu turun karena karma. Untuk menghindari poligami lakukanlah perbuatan-perbuatan yang mendorong kita terhindar dari poligami.


Dalam Slokantara Sloka 2 dinyatakan tentang ditolerirnya poligami, bukan dibenarkan. Disebutkan ada tiga jenis Brahmacari yaitu Sukla Brahmacari, Sewala Brahmacari dan Krsna Brahmacari. Sukla Brahmacari, seorang Brahmacari lelaki yang tidak beristri selama hidupnya. Hidup tanpa istri itu dilakukan bukan karena tidak normal kelaki-lakiannya, tetapi sikap hidup yang benar-benar mengarahkan diri pada kehidupan yang khusus hanya menyangkut kerohanian demi dapat terfokus melayani masyarakat. Libido seksualnya diarahkan dengan kemampuan spiritual yang sangat kuat sehingga dapat diarahkan pada soal spiritual·tanpa seks.


Sewala Brahmacari, seorang lelaki yang hanya kawin dengan seorang istri selama hidupnya. Krsna atau Trsna Brahmacari, kawin dengan maksimal empat istri. Namun, dalam Sloka tersebut dinyatakan bagi mereka yang berpoligami ditolerir maksimal empat istri meniru Dewa Siwa dengan empat sakti-nya yaitu Dewi Uma, Dewi Gangga, Dewi Gauri, Dewi Durga.


Pernyataan sastra suci Slokantara ini sesungguhnya mengandung nilai pendidikan agar seorang suami tidak berpoligami, agar istri tidak berpoliandri. Sebab, untuk bisa berpoligami harus bisa meniru Dewa Siwa. Jelas, untuk bisa seperti Dewa Siwa bukan gampang. Untuk meniru Dewa Siwa berarti seorang suami harus menjadi seorang yang amat religius,


Pandawa, lima bersaudara punya istri satu, yaitu Dewi Drupadi. Kalau kita amati dengan baik ceritera Dewi Drupadi bersuamikan Pandawa Lima, sulit ditafsirkan hal itu sebagai suatu poliandri, Berdasarkan kisah Dewa Indra dalam Ceritera Markandia Purana diketahui bahwa Dewi Drupadi sesungguhnya bukanlah berpoliandri karena kelima suaminya adalah penjelmaan Dewa lndra.
Kesimpulannya, Hindu mengajarkan agar umat Hindu berusaha semaksimal mungkin menghindari poligami dan poliandri.

Oleh : Drs. I Ketut Wiana, M.Ag / Ketua Sabha Walaka Parisada Pusat

 
< Prev   Next >
"));