Logo PHDI Pusat
Tak Benar Umat Hindu Tengger Pindah Agama Print E-mail

Survey IBO Hindu Telkom Jawa Timur
Tak Benar Umat Hindu Tengger Pindah Agama
Raditya – 136, November 2008. Laporan: I Made Ardita Tata

IBO Hindu Telkom Jatim pada 19-20 September 2008 lalu berkesempatan
mensurvey umat Hindu di sekitar Tengger. IBO Hindu Telkom Jatim mengirim tenaga survey sejumlah 5 orang, masing-masing, I Made Ardita Tata, I Putu Sudira, I Made Rita, I Made Merta Yasa, dan I Nyoman Sudira. Survey ini bertujuan mengetahui gambaran keadaan umat Hindu di sana berikut potensi dan kendalakendala yang dihadapi.

Survey yang dilakukan mulai hari Jumat, 19 September 2008 hingga Sabtu, 20 September 2008 dengan sasaran adalah Desa Ngadisari di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo dan Desa Argosari di Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang. Hal ini dilakukan karena kedua desa tersebut adalah desa yang paling jauh letaknya dari “kota” (Probolinggo dan Lumajang). Asumsinya, desa yang jauh dari kota, maka warga masyarakat desa tersebut akan teguh memegang tradisi leluhurnya dan kepercayaan agamanya (Hindu). Alasan lainnya yang sangat penting dan paling utama adalah berdasarkan berita di detik.com yang menyatakan “1686 Mualaf Tengger menanti zakat Anda.” Disebutkan bahwa suku Tengger yang menjadi Muamalaf tersebut ada di Kecamatan Kenduro (yang benar adalah Senduro).

Berangkat dari Surabaya hari Jumat 19 September 2008 jam 16.30 dengan istirahat makan sore di daerah Tongas, tim sampai di Desa Ngadisari jam 20.00 WIB. Sesuai kesepakatan tim dengan Kepala Desa Ngadisari, Supoyo, maka tim sudah ditunggu oleh Kades bersama stafnya di ruang pertemuan, yaitu jaba pura, Pura Tunggal Jati Ngadisari. Pertemuan dihadiri oleh Kades Ngadisani, Supoyo, Pemangku Pura Tunggal Jati merangkap Ketua PHDI Desa Ngadisarii, yaitu Mangku Suwantoko, Drs.Bambang S, guru agama dan Kepala sekolah SMP PGRI Ngadisari, Sumaryono, guru agama, Suyanto, anggota BPD (Badan Permusyawaratan Desa), Suherman, pengurus Pura Tunggal Jati, Lastoko, kepala dusun, Djumai, Kasi Kesra (perangkat Desa), Sarwoko, Kasi pembangunan (perangkat Desa), serta pemuda pemudi dan anak-anak sekolah SD, SMP dan SMA. Secara keseluruhan berjumlah sekitar 75 orang.

Dari 450 KK (1554 jiwa) anggota masyarakat Desa Ngadisari, hanya 13 orang yang beragama islam. Informasi lain berkaitan dengan umat yang tim peroleh dari Kades Ngadisari adalah, Desa Sapi Kerep (IBO Hindu Telkom Jatim pernah melakukan Bakti Sosial di desa ini tahun 2005), komposisi pemeluk agama Hindu dan Non Hindu adalah 60 persen: 40 persen. Desa Wono Kerto, mayoritas penduduknya Islam. Desa Ngatas, mayontas penduduknya Hindu, Desa Jetak, mayonitas penduduknya Hindu, Desa Wonotoro, mayoritas penduduknya Hindu, Desa Ngadisari, mayoritas penduduknya Hindu (Hindu 1541 orang, Islam 13 orang).

Sebagian besar mata pencaharian penduduk Desa Ngadisari adalah petani. Pekerjaan sampingan di luar petani adalah pengemudi transportasi kendaraan untuk wisatawan di gunung Bromo. (mobil Landrover). Pura Tunggal Jati ini dalam tahap pembangunan phisik. Di pelataran pura (mandala utama) hanya terdapat satu buah Padmasari kecil. Yang jelas sudah kelihatan adalah pondasi dan pagar pura yang semuanya dikerjakan secara swadaya masyarakat. Kepala desa mengharapkan dapat dibangun sebuah Padmasana di mandala utama. Pembangunan Padmasana ini diperkirakan memerlukan dana sekitar Rp.10.000.000,- (sepuluh juta rupiah). Di samping itu, berdasarkan informasi dari guru agama, Drs.Bambang S, diperlukan buku-buku pelajaran Agama Hindu di sekolah. Memang sudah ada buku pelajaran agama, namun sangat terbatas. Buku-buku referensi seperti, Bhagawad Gita, Catur Weda, Maha Brata, Ramayana dan lainnya tidak ada sama sekali. Demikiàn juga dengan majalah majalah Hindu.

Dalam bidang ekonomi khusus untuk pertanian, secara keseluruhan tidak ada masalah yang berarti. Walaupun pada saat tertentu, terjadi permasalahan yang berkait dengan “over produksi — hasil panen” yg mengakibatkan harga pasar turun atau sebaliknya.

Desa Argosari, Senduro, Kabupaten Lumajang
Pada hari ke 2 survey, Sabtu, 20 September 2008 pagi jam 08.00 rombongan bergerak meninggalkan Desa Ngadisari menuju Desa Argosari, Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang. Setelah makan siang di Lumajang, sekitar jam 12.00 siang tim sampai di Pura Mandara Giri Semeru Agung. Sesuai janji yang telah kami sepakati dengan Pembina masyarakat Hindu (Pembimas Hindu) Kecamatan Senduro, Edi, kami melakukan diskusi di pelataran pura. Selesai sembahyang siang perjalanan dilanjutkan ke Desa Argosari bersama Edi. Arah perjalanan dari Pura Mandara Giri Agung Semeru adalah ke atas dengan jalan yang menanjak dan sempit. Setelah menempuh perjalan sekitar 1,5 jam kami sampai di Desa Argosari jam 13.30. Langsung menuju rumah kawannya Edi yang bernama Anto.
Desa Argosari penduduknya terdiri dan 800 KK, di mana 600 KK beragama Hindu dan 200 KK beragama non Hindu (Islam, Kristen dan Budha). Secara administratif, Desa Argosari terdiri dan 4 pedukuhan, yaitu, Dusun Gedog, penduduknya mayoritas Islam, sejak tahun 1980-an. Dusun Bakalan, penduduk Hindu ratusan KK, Islamnya 16 KK. Dusun Pusung Duur, penduduk Hindu ratusan KK, Islamnya 15 KK. Dusun Krajan, mayoritas penduduk beragama Hindu.

Informasi yang sangat berharga dan penting adalah dan Dukun Karioleh yang turut diskusi yang menyebutkan, sasaran umat Islam mengislamkan daerah-daerah di Desa Argosari adalah Dusun Bakalan dan Dusun Pusung Duur. Dusun Gedog karena mayoritas penduduknya Islam maka rombongan kami tidak ke sana. Di dusun Bakalan sedang dibangun pura. Luas area puranya sekitar 10 x 20 meter, terdiri dari bangunan Padmasana dan tempat sembahyang. Informasinya, pura yg sedang dibangun ini berkat bantuan dari Ditjen Bimas Hindu sebanyak Rp.25.000.000. Di pura ini kami melakukan wawancara dengan Ketua PHDI Desa Argosari, yaitu Sugianto. Beliau mengatakan bahwa masyarakat Argosari sangat memerlukan pembangunan tempat sembahyang atau pura di wilayah Desa Argosari khususnya di dusun Pusung Duur.

Dengan ditemani oleh Kepala Dusun, yaitu Ngadikan, rombongan menuju tempat sembahyang di Dusun Pusung Duur. Menurut tim, tempat tersebut tidak layak disebut pura.Baru masuk melalui pintu halaman sudah ada bangunan kecil, kumuh dengan lantai berdebu tebal. Masuk ke ruangan dan beberapa langkah sudah ada pintu keluar (bagian belakang ruangan (ukuran 5 x 5 meter) di sebelah pintu keluar (bagian belakang bangunan) terdapat Padmasari.

Di atas atap bangunan terdapat 2 buah Loudspeaker, mungkin maksudnya untuk menyaingi suara adzan dari bangunan mesjid yang berdiri beberapa meter di sebelahnya. Bangunan pura tersebut sangat tidak sebanding bila disandingkan dengan masjid di sebelahnya. Tim benar-benar sangat terenyuh dan “jengah” dengan kondisi seperti ini.Berat sekali perjuangan saudara kami warga Tengger yang ada di dusun Pusung Duur ini. Namun mereka masih setia dengan agama leluhurnya. Sampai kapankah mereka akan setia? Di Surabaya tim survey bisa dengan sangat mudah dan tenang bersembahyang di bawah rerimbunan pohon beringin di Pura Agung Jagat Karana Perak.

Setelah melakukan wawancara dengan beberapa penduduk di sekitar bangunan pura, tim mohon diri melanjutkan perjalanan berikutnya. Dengan mengatakan maaf, tim sampaikan kepada Kadus Pusung Duur bahwa tim tidak bisa singgah ke rumahnya. Sayang sekali memang. Tapi tim akan melakukan perjalanan lanjutan. Kadus Pusung Duur saat wawancara, mengutarakan keinginannya untuk membangun pura di lahan yang ada saat ini sudah ada. Lahan tersebut berukuran sekitan 10 x 25 meter. Secara garis besar beliau mereka reka secara garis besar biaya yang diperlukan. Padmasana, tembok penyengker yang sudah build in, semen, batu pondasi dan sebagainya. Sedangkan tenaga tukang akan diambilkan dari warga masyarakat dan dilakukan secara gotong royong. Perkiraan Biaya kurang lebih Rp.25.000.000.

Tujuan berikutnya adalah Dusun Krajan. Dari ketiga dusun yang mayoritasnya beragama Hindu, Dusun Krajan adalah dusun yang paling “mewakili” umat Hindunya. Dusun mi telah mempunyai puna dan sanggar (tempat sembahyang). Namun melihat kondisi pura yang ada, menurut semua anggota rombongan survey sangat jauh dani “cukup”. Ukurannya sangat kecil dan sederhana: sebuah Padmasana, Padmasari dan bangunan sejenis joglo untuk berteduh dan panas atau hujan saat sembahyang, sangat sederhana. Tim juga mengunjungi sanggar di puncak bukit.Anak-anak kecil sedang melakukan Dharma Sadhana dengan bimbingan guru agamanya. Tim sempat berdialog dan meminta kepada anak-anak kecil generasi muda Hindu Desa Argosari agar Bangga menjadi orang Hindu. Jangan tergoda oleh apa pun sehingga “lupa diri” meninggalkan agama dan tradisi tradisi leluhur.

Informasi dari Dukun Karioleh saat kami tanyakan tentang mualaf Tengger, beliau dengan sedikit “emosi” mengatakan bahwa hal tersebut tidak benar. Beliau menyatakan bahwa, mmang benar ada warga Tengger yang beragama Islam, namun itu terjadi sejak tahun 1980-an (di Dusun Gedog). Kalau yang menjadi mualaf, beberapa tahun terakhir beliau mengatakan tidak ada, malah beberapa mualaf tersebut sejak setahun terakhir sudah kembali menjadi Hindu. Sama dengan warga Desa Ngadisari, dan beberapa wawancara yang dilakukan dengan beberapa aparat Desa Argosari mengatakan bahwa, masalah kehidupan ekonomi masyarakat Desa Argosari sudah “cukup”. Dengan hasil bercocok tanam kubis, daun bawang pre, kentang, mereka menyatakan sudah cukup untuk hidup sederhana di lembah Bromb yang sejuk. Menurut pengamatan tim, mereka tidak terlalu “neko-neko” mengenai biaya untuk sekedar makan minum sehari-hari. Seperti yang disampaikan oleh Sugianto, Ketua PHDI Desa Argosari yang mereka sangat perlukan saat ini adalah tempat sembahyang.

 
< Prev
"));