Logo PHDI Pusat
Optimalisasi Fungsi Pura Print E-mail

OPTIMALISASI FUNGSI TEMPAT SUCI PURA


Latar Belakang
Tempat suci pura yang di Indonesia pada umumnya dibangun dengan berpedoman pada konsep Tri Mandala yaitu uttama mandala, madhyama mandala dan kanistama mandala,  telah mengarahkan fikiran dan tindakan warga Hindu untuk memfungsikan tempat suci pura untuk aktivitas-aktivitas ritus-spiritual, yaitu komunikasi dan hubungan vertikal warga Hindu dengan Brahman/Hyang Widhi/Tuhan Yang Mahaesa, sekaligus aktivitas-aktivitas ritus-sosial, yaitu  komunikasi dan hubungan horisontal antar-sesama warga Hindu khususnya dan masyarakat luas umumnya.


Namun dalam faktanya, aktivitas-aktivitas yang dilaksanakan warga Hindu di tempat suci pura masih sangat berfokus dan didominasi oleh aktivitas-aktivitas ritus-spiritual (vertikal) dan tempat suci pura kurang difungsikan sebagai tempat untuk melaksanakan aktivitas-aktivitas ritus-sosial (horisontal). Sebagai dampaknya, fokus perhatian dalam pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia Hindu di tempat suci pura lebih dititikberatkan pada pengembangan kecerdasan spiritual (spiritual quotient, SQ). Kecerdasan-kecerdasan utama lainnya pada diri manusia, seperti kecerdasan aspirasi (aspiration intelligence, AI), kecerdasan intelektual (intellectual quotient, IQ), kecerdasan emosional (emotional quotient, EQ), kecerdasan daya-juang (adversity quotient, AQ), dan kecerdasan kekuatan (power intelligence, PI) kurang dikembangkan di tempat suci pura. 
Konsepsi ideal Tri Mandala tempat suci pura pada faktanya belum dilaksanakan secara optimal oleh warga Hindu. Kelemahan dalam mengimplementasikan konsepsi ideal ini berdampak pada sikap mental warga Hindu yang cenderung berorientasi pada kehidupan rohani semata dan kurang memedulikan kehidupan duniawi (jagadhita). Dampak lanjutannya, sebagian besar warga Hindu hidup dalam kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Warga Hindu menjadi cenderung hanya memikirkan dirinya sendiri dan tenggelam dalam rutinitas kegiatan ritual/upacara yang berdimensi vertikal, pada saat yang sama kurang peka dan peduli pada kehidupan sosial di sekelilingnya (dimensi horisontal). Hal ini dapat menimbulkan citra bahwa Hindu adalah ajaran agama yang fatalis (tidak mengurusi aspek duniawi), utopis (penuh angan-angan semu) dan dehumanis (tidak manusiawi). Kondisi ini tidak dapat dibiarkan berjalan terus. Warga Hindu di Indonesia harus didorong dan diarahkan agar secara mandiri bertanggung jawab pada pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia Hindu secara utuh dan menyeluruh baik rohani dan jasmani.
Guna mempercepat proses penyeimbangan fokus pembinaan dan pengembangan aspek kehidupan rohani dan kehidupan duniawi tersebut, warga Hindu sewajarnya mendapatkan inspirasi, motivasi, arahan, bimbingan dan panduan nyata tentang optimalisasi fungsi tempat suci pura. Parisada sebagai Majelis Tertinggi Umat Hindu di Indonesia sesuai dengan fungsi dan tugas pokoknya berkewajiban mengemban tugas ini. Sehubungan dengan hal-hal tersebut di atas, sebagai swadharma pengurus dalam menjalankan yadnya dan bahktinya, disusunlah Panduan Dasar Optimalisasi Fungsi Tempat Suci Pura ini.

Tujuan
Panduan Dasar Optimalisasi Fungsi Tempat Suci Pura ini dibuat dengan tujuan mengoptimalkan fungsi tempat suci pura sebagai pusat pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia Hindu secara utuh, menyeluruh dan terintegrasi demi tercapainya kemerdekaan rohani dan kesejahteraan dunia.

Sasaran
Sesuai dengan spirit dan maksud yang terkandung dalam konsepsi Tri Mandala, yaitu uttama mandala (area utama), madhyama mandala (area tengah) dan kanistama mandala (area luar), tempat suci pura hendaknya difungsikan untuk melaksanakan aktivitas-aktivitas suci sesuai ajaran dharma yang memiliki dua dimensi utama, yaitu:
• Dimensi vertikal, yaitu komunikasi dan hubungan vertikal warga Hindu dengan Brahman/Hyang Widhi/Tuhan Yang Mahaesa melalui aktivitas-aktivitas ritus-spiritual,
• Dimensi horisontal, yaitu komunikasi dan hubungan antar-manusia sesama warga Hindu khususnya dan masyarakat luas umumnya melalui aktivitas-aktivitas ritus-sosial.
Ke dua dimensi aktivitas-aktivitas tersebut hendaknya dilaksanakan secara serasi, selaras, seimbang dan saling melengkapi secara harmonis sebagai bentuk penghayatan dan implementasi nilai-nilai dan ajaran Hindu Dharma. Pelaksanaan ke dua dimensi aktivitas-aktivitas tersebut pun hendaknya disesuaikan dengan tempat (desa), waktu (kala) dan ruang (patra) dengan menghargai keluhuran budaya setempat (local genius).
Mengingat panduan tentang fungsi tempat suci pura pada dimensi vertikal telah banyak dikeluarkan dan implementasinya pun pada umumnya telah berjalan dengan baik, pada Panduan Dasar Optimalisasi Fungsi Tempat Suci Pura ini lebih dititikberatkan pada panduan dasar untuk memfungsikan tempat suci pura bagi aktivitas-aktivitas pada dimensi horisontal.
Aktivitas-aktivitas pada dimensi horisontal yang dilaksanakan di tempat suci pura pada dasarnya dilaksanakan di area-area yang ditetapkan sebagai madhyama mandala (area tengah) dan/atau kanistama mandala (area luar).
Guna lebih optimalnya pelaksanaan pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia Hindu secara utuh dan menyeluruh, warga Hindu di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia diharapkan secara proaktif mengambil inisiatif dan merealisasikan lebih banyak aktivitas-aktivitas sosial di tempat suci-tempat suci pura, sehingga tempat suci pura betul-betul dapat menjadi pusat gerakan pengembangan sumber daya manusia (centre of excellence).
Sasaran dari aktivitas-aktivitas sosial yang dilaksanakan di tempat suci-tempat suci pura diharapkan memberi manfaat nyata di antaranya sebagai berikut:
• Sebagai wahana pembelajaran dan pendalaman ajaran-ajaran Hindu Dharma, sehingga pembinaan mental-spiritual anak-anak, remaja, pemuda dan keluarga warga Hindu dilaksanakan secara sistematis dan berkelanjutan,
• Sebagai media peningkatan rasa persaudaraan (sathya-mitra) di antara sesama warga Hindu,
• Sebagai implementasi perwujudan nilai-nilai dan ajaran Hindu Dharma dalam kehidupan sehari-hari bagi warga Hindu,
• Sebagai wahana pemeliharaan, pelestarian dan pengembangan budaya lokal (local genius) oleh warga Hindu dan mengisi budaya lokal tersebut dengan nilai-nilai Hindu Dharma,
• Sebagai bentuk pengabdian dan pelayanan kasih yang didasarkan pada ajaran Hindu Dharma tentang kasih sayang tulus pada sesama (tat twam asi) oleh warga Hindu kepada masyarakat luas,
• Lebih mendinamisasikan kehidupan di tempat suci pura.

Bentuk Aktivitas
Bentuk dari aktivitas-aktivitas sosial yang dilaksanakan di tempat suci-tempat suci pura pada dasarnya mengarah pada pusat kajian, pendalaman dan implementasi pengamalan ajaran Hindu Dharma (“The Hindu Centre of Excellence”).
Bentuk dari aktivitas-aktivitas sosial yang direkomendasikan untuk dilaksanakan di tempat suci-tempat suci pura di antaranya adalah:

NAMA KELOMPOK AKTIVITAS BENTUK KEGIATAN
Pusat Pengembangan Spiritualitas (Center for Spiritual Development) • Yoga dan Meditasi: Pelatihan-pelatihan yoga dan meditasi
• Spiritual Learning Cycle Program (SLCP): Kegiatan-kegiatan pendalaman spiritualitas yang dilakukan secara rutin, berkelanjutan dan berkesinambungan di dalam tempat suci pura, seperti diskusi (dharma tula), kidung dan tembang rohani (dharma gita), ceramah (dharma wacara).
• Dharma yatra: Kegiatan-kegiatan pendalaman spiritualitas yang dilakukan dengan melakukan perjalanan ke tempat suci-tempat suci pura atau menerima kunjungan warga Hindu dari daerah lainnya yang melakukan dharma yatra.
Pusat Pendidikan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Center for Education & Learning) • Sekolah: Pendirian dan pengelolaan Lembaga Pendidikan, seperti Sekolah Umum Bernuansa Hindu (Widyalaya) dan Pendidikan Agama dan Keagamaan Formal yang Berbasis Hindu (Pasraman),
• Pelatihan: Mengadakan berbagai jenis pelatihan untuk peningkatan kualitas SDM Hindu, seperti pelatihan bahasa, kewirausahaan, teknologi informasi (komputer), mata pelajaran sekolah, dsb.
• Perpustakaan dan Web-based Laerning: Penyediaan buku-buku agama dan pengetahuan maupun sarana pembelajaran dengan basis website untuk peningkatan kualitas SDM Hindu.
Pusat Pengembangan Seni dan Budaya (Center for Arts & Culture Development) • Pengembangan Seni: Mengadakan berbagai jenis kegiatan kesenian, seperti tari, drama, nyanyi, tabuh dan gamelan, baik tradisional maupun modern.
• Pengembangan Budaya: Kajian-kajian dan pentas budaya dengan disertai upaya-upaya pelestarian dan pengembangan budaya lokal.
Pusat Pelayanan Kemanusiaan (Center for Humanitarian Services) • Layanan Kesehatan: Membuat dan menyelenggarakan kegiatan layanan kesehatan seperti klinik pengobatan (baik dengan metode tradisional, medis, dan ayurvedic), donor darah, dsb.
• Pusat Konsultansi dan Konseling: Membuat dan menyelenggarakan kegiatan layanan  konsultansi dan konseling bagi anak-anak, remaja dan keluarga.

Pengelolaan Aktivitas
Aktivitas-aktivitas sosial yang dilaksanakan di tempat suci-tempat suci pura dapat dikelola secara langsung oleh pengelola tempat suci pura (seperti pengempon, penyungsung), organisasi paguyuban (banjar, suka-duka), organisasi kemasyarakatan yang sudah ada, maupun lembaga-lembaga yang khusus dibuat untuk pengelolaan aktivitas sosial tersebut.
Sangat dianjurkan agar aktivitas-aktivitas sosial yang dilaksanakan di tempat suci-tempat suci pura diorganisasikan dengan baik dan dikelola secara profesional dengan manajemen modern, tanpa mengurangi spirit dan suasana kekeluargaan dan persaudaraan di antara warga Hindu di wilayah tersebut.
Khusus untuk kegiatan-kegiataan anak-anak, remaja dan pemuda dianjurkan untuk membentuk wadah-wadah otonom dan mandiri ”MAHIRA” (Remaja Hindu Pura) di masing-masing tempat suci pura. Wadah-wadah otonom dan mandiri ini diarahkan sebagai salah satu ujung tombak gerakan aktivitas sosial di tempat suci pura.
Para pengelola aktivitas-aktivitas sosial yang dilaksanakan di tempat suci-tempat suci pura diharapkan agar mengadakan pola komunikasi, pertemuan dan/atau kegiatan secara rutin dan berkelanjutan, misalnya setiap satu atau dua minggu sekali.

Penutup
Panduan Dasar Optimalisasi Fungsi Tempat Suci Pura ini lebih dimaksudkan sebagai inspirasi, motivasi, arahan, bimbingan dan panduan agar warga Hindu secara mandiri mampu bertanggung jawab pada pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia Hindu secara utuh dan menyeluruh baik rohani dan jasmani.
Pilihan bentuk aktivitas sosialnya dan teknis pelaksanaan aktivitas-aktivitas sosial tersebut sepenuhnya diserahkan kepada warga Hindu yang hendaknya disesuaikan dengan tempat (desa), waktu (kala) dan ruang (patra) dengan menghargai keluhuran budaya setempat (local genius).

 
< Prev   Next >
"));