Logo PHDI Pusat
Kembali pada Ajaran Tatwam Asi dan Ahimsa Print E-mail

Kembali pada Ajaran Tatwam Asi dan Ahimsa
 
TATWAM ASI merupakan mahavakya atau ajaran yang bersumber dari Weda, memiliki dimensi metafisika, fisika, etika sosial dan landasan humanisme Hindu. Mantan Ketua Peradah Bali Prof. Dr. IBG Yudha Triguna, M.S. mengatakan bahwa tatwam asi berdasarkan konsep advaita vedanta (monisme) memandang manusia secara esensial sama.

Tatwam asi adalah ajaran normatif yang tidak semata-mata berlaku sesama manusia, tetapi juga terhadap makhluk hidup dan bahkan benda mati sekalipun. Sebab, dalam semua benda itu terdapat energi yang tidak lain adalah panas atau prana. Itu daya hidup. Karena itu segala perbuatan yang dapat mengakibatkan penderitaan, ketidakseimbangan, disharmoni, bahkan penghancuran dan kematian orang lain dan alam semesta bertentangan dengan ajaran tatwam asi, kata Direktur Program S2 Ilmu Agama dan Kebudayaan Unhi ini.

Dikatakannya, perang secara sederhana diartikan sebagai pencapaian sesuatu dengan menggunakan kekerasan. Sekalipun ada pandangan yang menyatakan perang sebagai hal yang alamiah untuk suatu kebaikan, secara normatif kitab suci Hindu menganggap perang sebagai suatu yang bertentangan dengan mahavakya ahimsa. Pandangan Hindu tidak terlalu kaku memegang sesuatu yang bersifat sangat ideal. Namun, Hindu mengutuk semua sikap yang kompromi terhadap kekerasan.

Dalam perspektif Hindu, ahimsa bukan sebuah kondisi fisik, tetapi sikap mental mencintai. Nonkekerasan sebagai suatu kondisi mental, berbeda dengan sikap tak melawan. Nonkekerasan tak memiliki dendam dan kebencian. Namun kedua mahavakya itu, kata Yudha Triguna, bukanlah sesutu yang mudah dilaksanakan. Dia memerlukan proses latihan, dengan kesadaran dan komitmen diri untuk meningkatkan kehidupan spiritual.

Tatwam asi tak bisa dilaksanakan jika dalam diri masih ada rasa dengki, iri hati, dendam, marah, fitnah dan seterusnya. Karena sifat itu menghambat dan menghalangi kesadaran diri yang cenderung melahirkan sifat keakuan (ego). Karena itu ajaran ini baru menjadi suatu pola tindakan, manakala telah dilaksanakan sebagai bentuk disiplin, sebab agama adalah praktik dan disiplin diri.

Agar gesekan-gesekan tidak mudah terjadi, umat mesti mampu mengendalikan diri atau mengekang hawa nafsu (tapas), tidak melakukan kekerasan (ahimsa), berlaku benar dan jujur (satya) dan lain-lain. Terpenting lagi, umat mesti mampu mengimplementasikan ajaran tatwam asi (aku adalah engkau). Sebab, menyakiti orang lain sama artinya menyakiti diri sendiri. Menghormati dan memperlakukan orang lain dengan sebaik-baiknya sama artinya memperlakukan diri dengan baik pula.

(lun) From: "Putra Semarapura"
Date: Mon, February 12, 2007 6:53 am
To: This email address is being protected from spam bots, you need Javascript enabled to view it

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2003/11/19/bd3.htm
 
Source :   HDNet
 

 
< Prev   Next >
"));