Logo PHDI Pusat
Sad Dharma dalam Ritual Hindu Print E-mail

Sad Dharma dalam Ritual Hindu
Oleh: Mandayuh, Denpasar

Satyam brhad rtam ugram diksa tapo brahma yajnah prthiwim dhrayanti.
Artinya Satya, rta, tapa, diksa, brahma dan yajna inilah yang menegakkan bumi.
(Atharwa Weda XII. 1. 11)

SATYA
Satya artinya benar, setia, berhasil, sah, jujur. Ritual agama Hindu sebagai pondasi dasar adalah persembahan yang suci tulus ikhlas, yang membutuhkan kesetiaan, kejujuran dan kebenaran dalam pelaksanaannya. Dengan demikian sattwikalah sifatnya ritual tersebut yang menuntun diri dan ketidaknyataan (asat) menuju ke realitas (sat). Dalam ritual agama Hindu satya menyangkut kepercayaan dan keyakinan (bhakti dan sradha) sebagai titik tolaknya, karena dengan kepercayaan dan keyakinan akan memperoleh ketenangan. Dengan satya orang akan memperoleh kemenangan (satyam eva jayate) dan keseimbangan jasmani rohani (jagadhita dan moksa).

Kepercayaan dan keyakinan pada Hyang Widhi dan segala sesuatu yang bersangkut paut dengan itu yang didalamnya termasuk ritual agama Hindu, dijiwai oleh agama Hindu, wedalah nafasnya. Jadi ritual agama Hindu bernafaskan weda, walaupun secara prinsip teoritik belum diketahui secara pasti, namun secara praktek sudah dilaksanakan. Belajar memahami ritual agama Hindu tidak harus bersumber pada weda tapi juga berdasarkan kenyataan, sehingga kita tidak melakukan perubahan dengan mencabut sampai keakar-akarnya tapi statis berkembang supaya tradisi weda bisa dipertahankan dan weda tetap mengalir menjiwai aspek-aspek kehidupan agama Hindu. Dengan demikian satya
dalam ritual agama Hindu merupakan kepercayaan dan keyakinan, dan kepercayaan dan keyakinan inilah kita akan memperoleh pengalaman dan keyakinan serta dan pengalaman itu kita memperoleh pengertian. Sradhaya satyam apnoti, sradham satye prajapatih (dengan sradha kita mencapai Tuhan, dengan sradha menuju satya).

RTA
Pada mulanya Rta berarti jalannya segala sesuatu kemudian rta mengandung arti hukum mendukung alam semesta. Rta adalah hukum yang diciptakan Hyang Widhi sebagai penguasa segalanya yang menyusupi seluruh alam semesta. Manusia tunduk padanya dan menuruti supaya tenang hidupnya.

Kaitannya dengan pelaksanaan ritual agama Hindu rta sangatlah penting peranannya. Munculnya gejala alam, benda-benda bersinar dilangit, posisi bumi, bulan dan matahari selalu menjadi perhatian bagi umat Hindu, untuk menentukan hari baik dan hari buruk (wariga atau dewasa). Rta dan ritual berjalan secara harmoni tetap berproses tanpa adanya benturan-benturan. Umat Hindu dalam proses lahir hidup mati, ritual Hindu selalu mengiringinya. Matahari terbit di timur tenggelam di barat, bulan purnama, tilem, matahari, bulan dan bumi serta bintang-bintang yang bertebaran di langit menjadi perhatian umat Hindu dalam melaksanakan ritual panca yajna.

Hyang Widhi yang berbadankan jagatraya, menjadi penguasa atas segala yang ada ini sehingga Dewa-Dewa adalah personifikasi dan kekuatan-kekuatan yang berada di balik kekuatan-kekuatan alam itu yang sungguh bersahabat dengan umat Hindu, maka dipujalah Dewa Agni (dewa api), Dewa Surya (dewa matahari), Usas (dewa Fajar), Perthiwi (dewa bumi), Dyaus (dewa langit), Vayu (dewa angin), Savitr (dewa matahari pagi), Pejanya (dewa awan dan hujan). Begitulah Dewa-Dewa dipuja sebagai personifikasinya kekuatan alam yang sesungguhnya hanya ada satu rta yang mengatur dan menguasainya yaitu Hyang Widhi. Rta selalu menjadi perhatian umat Hindu dalam menentukan wariga untuk melaksanakan ritual panca yajna.

TAPA
Tapa artinya pengendalian indriya. Tapa merupakan disiplin religius dalam usaha menemukan hakekat din yang sejati, menyadari din menuju kesadaran universal. Dalam pelaksanaan ritual agama Hindu pengendalian din sangatlah perlu supaya kita merasa tulus ihklas tanpabeban, menyesuaikan dengan kemampuan tanpa adanya unsur paksanaan. Kanista, madya, utama itulah ajaran agama Hindu dalam ritual yang mempunyai nilai universal dan fleksibel.

Dengan melaksanakan tapa, kita fokuskan perhatian kita pada yang satu yaitu Sang Hyang Widhi Wasa sehingga muncul ‘rasa bhakti untuk menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Pengendalian din yang kuat akan menuju tujuan yang baik, kepentingankepentingan yang berlawanan dapat dicapai berkat adanya pengendalikan din yang teratur.

Pengendalian din dalam melaksanakan ritual akan memberikan ketenangan dan kesenangan karena ritual yang selalu menyertai agama Hindu akan mampu dilaksanakan mengalir di setiap kehidupan umat Hindu dengan mengaturnya. Sehingga ritual
tetap berproses untuk menegakkan bumi. Dengan tapa mampu instrospeksi din dan melatihnya secara terus-menerus, maka dalam melaksanakan ritual kita dapat memilih yang baik dan benar menghindar dan yang buruk dan salah. Mengendalikan din dalam ritual berpikir, berkata dan bertindak segalanya menuju pada yang yang baik.

DIKSA
Diksa artinya inisiasi, pentasbihan, pengabdian yang menyeluruh. Orang yang telah diinisiasikan inilah yang melaksanakan persiapan dan penyucian untuk upacara agama Hindu.

Dalam pelaksanaan ritual agama Hindu diksa itu, pandita dan pinandita yang muput dan nganteb upacara bekeijasama dengan pelaksana upacara dan tukang banten (tri manggalaning yajna). Dalam pelaksanaan ritual hendaknya mohon pada pandita dan pinandita untuk muput dan nganteb upacara dengan upakara tertentu. Seorang diksa apabila telah selesai upacara mendapatkan daksina.

BRAHMA
Brahma artinya kata suci, mantra suci. Ritual agama Hindu selalu diiringi mantra suci apa yang dipersembahkannya itu dikatakan tanpa melebihi dan menguranginya. Yantra membutuhkan mantra terjadi harmonisasi, yantra yang sudah diberi mantra akan mengandung nilai religius magis tidak hanya simbolik semata dan yantra ini diperlakukan secara etis-sosio-religius oleh pemujanya didalam memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani (sekala niskala). Dalam memuja Tuhan dengan mantra dibutuhkan sarana sebagai media pemusatan pikiran (yantra). Dalam ritual mantra, yantra dan meditasi merupakan satu kesatuan. Aktivitas palaksanaan ritual tidak bisa lepas dan mantra, pandita dan pinandita melafalkan mantra-mantra suci terkait ritual tersebut.

YAJNA
Yajna berasal dan akat kata “yaj” yang artinya memuja, menyembah, korban suci. Pemujaan dan persembahan tersebut dikembangkan untuk mencakup aspek-aspek kehidupan eksistensinya sebagai suatu kesatuan. Yajna sepintas terlihat sebagai suatu ritual, namun didalamnya terkandung unsur religo-magis-filosofis, sosiologis dan kosmologis.

Bhagawadgita menyebutkan, dunia ini tercipta berkat yajna, maka umat Hindu berkewajiban memutar cakra yajna. Sehingga semesta berproses secara harmoni. Patram, puspam, phalam, toyam sebagai persembahan bukan bentuk fisik semata tapi disusun dirangkai sehingga menghasilkan sesuatu bentuk (banten) sesuai dengan nama dan bentuk tertentu yang diperlukan dalam ritual tersebut. Dalam agama Hindu dirumuskan adanya panca yajna adalah wajib untuk dilaksanakan untuk membayar hutang (rna).

Demikianlah Sad Dharma dalam ritual agama Hindu yang secara utuh berjalan dalam satu kesatuan, yang sesungguhnya ritual agama Hindu sudah bersumber pada weda dan tata pelaksanaannya menyesuaikan dengan konstekstual di lapangan.• WHD. No. 452 September 2004

 

 

 

 
< Prev   Next >
"));