Logo PHDI Pusat
Sejarah Blambangan masih Misterius Print E-mail

Senin, 22-December-2008, 14:02:17
Hari Jadi Banyuwangi 18 Desember Sejarah Blambangan masih Misterius

KERAJAAN Blambangan adalah cikal bakal munculnya Kabupaten Banyuwangi. Kebesaran daerah di ujung timur pulau Jawa ini identik dengan keemasan masa kerajaan Majapahit. Sayangnya, sejumlah petilasan yang membuktikan kebesaran Blambangan sudah musnah. Hanya beberapa yang tersisa. Itu pun dalam kondisi memrihatinkan.

Menilik cerita sejarah, Blambangan ada tahun 700 - 1400 masehi. Kurangnya bukti prasasti membuat kehadiran kerajaan ini hanya tersebar sebagai cerita rakyat. Silsilah keturunan bangsawannya pun samasekali tidak ada.

Dari hikayat yang berkembang, ada lima raja yang pernah memerintah Blambangan. Raja pertama Siung Manoro yang datang dari Kediri, Jawa Timur. Tokoh ini pertama kali masuk ke Alas Purwo dan bertempat tinggal di rumah penguasanya, Mbah Dewi Roro Upas. Tidak disebutkan pasti sampai kapan pemerintahan Siung Manoro dan hubungannya dengan ratu Alas Purwo tersebut.

Raja kedua, Kebo Marcuet, putra seorang bangsawan dari Klungkung, Bali. Disebutkan, tokoh ini memiliki sepasang tanduk. Karena keanehan inilah, dia dibuang orangtuanya ke Alas Purwo. Di tempat ini, dia dirawat seorang rsi sakti, Ki Ajah Pamengger, yang juga kakek Minak Jinggo atau Joko Umbaran, salah seorang raja Blambangan.

Selanjutnya Blambangan dipegang Joko Umbaran, pemuda sakti asal daerah Brati, Pasuruan. Kala itu, kerajaan Majapahit dipimpin ratu Kencono Wungu. Naiknya Joko Umbaran menjadi raja diawali sayembara sang Ratu. Ratu cukup repot dengan kehadiran adipati Blambangan Kebo Marcuet yang mulai merongrong Majapahit.

Akhirnya disayembarakan, siapa yang mampu membunuh Kebo Marcuet akan diberi tanah Blambangan dan dijadikan suami Kencono Wungu. Joko Umbaran berhasil membunuhnya. Dia menang setelah dibantu seorang pemanjat kelapa, Dayun. Kemenangan itu harus dibayar mahal. Wajah Joko Umbaran rusak dan kakinya pincang.

Joko Umbaran dinobatkan menjadi raja Blambangan bergelar Minak Jinggo atau Uru Bismo. Dalam hikayat suku Jawa, Minak Jinggo digambarkan seorang raja yang jahat. Dia memiliki senjata besi kuning yang sakti dan memiliki dua istri, Wahito dan Puyengan. Dua permaisuri ini konon berasal dari Bali.

Karena kesaktiannya, Minak Jinggo menjadi raja yang ditakuti. Kekuasaannya terus meluas hingga Probolinggo. Kondisi ini menjadi ancaman bagi Ratu Kencono Wungu.

Apalagi, Minak Jinggo mulai menagih janji untuk bisa dinikahi sesuai bunyi sayembara.
Dalam kondisi tegang, Ratu Kencono Wungu memerintahkan seorang pemuda sakti, Damarwulan, untuk menumpas Minak Jinggo. Usaha ini berhasil.

Minak Jinggo terbunuh dan kepalanya dipenggal. Kisah perjuangan Damarwuan ini hingga sekarang menjadi cerita sejarah paling pupuler bagi komunitas warga Banyuwangi. Begitu populernya, warga membuatnya menjadi sebuah kesenian Damarwulan yang dikenal dengan Janger.

Dikisahkan, setelah membunuh Minak Jinggo, Damarwulan dinikahi Ratu Kencono Wungu dan menjadi raja Majapahit.

Setelah Minak Jinggo, Blambangan dipimpin adipati Siung Laut yang asli warga Blambangan. Dia memiliki seorang putri cantik, Dewi Sedah Merah. Putri ini rencananya dinikahkan dengan patihnya, Joto Suro. Namun, sang Putri memilih kabur ke Mataram (Jawa Tengah) bersama kekasihnya, Pangeran Julang. Kemudian, Siung Laut hijrah ke Bali bersama permaisurinya dan bergelar Jaya Prana dan Layon Sari.
Raja terakhir Blambangan adalah Joto Suro.

Setelah diangkat menjadi raja, Joto Suro kembali ingin mendapatkan Dewi Sedah Merah. Pasukan Joto Suro menyerang Mataram. Usahanya berhasil. Sedah Merah diboyong ke Blambangan. Suaminya, Pangeran Julang, memilih kabur. Meski menjadi tawanan, Dewi Sedah Merah menolak dinikahi. Dia memilih mati dengan cara bunuh diri. Selama menjadi raja, Joto Suro mengangkat patih Ario Bendung.

Ario Bendung kemudian ditipu agar menyerang Mataram. Padahal itu hanyalah akal-akalan Joto Suro untuk menikahi istri Ario Bendung. Namun, gagal, istri Ario Bendung menolak, lalu dibunuh Joto Suro. Mendengar istrinya tewas, Ario Bendung mengamuk. Ia membunuh Joto Suro.

Tanpa penyebab yang jelas, Ari Bendung akhirnya bunuh diri dan tewas di Mataram. Kepergian Ario Bendung ke Mataram bertepatan munculnya banjir lahar yang melanda Blambangan.

Saat itu penduduk Blambangan hanya tinggal 10 orang. Lima bertahan di Blambangan, sisanya memilih pindah ke Mataram. Konon, sejak itu Blambangan menjadi hutan belantara. Seluruh bekas kerajaan yang ditinggalkan hancur tertimbun lahar.

Kisah sejarah Blambangan versi Jawa tersebut dimentahkan para budayawan Banyuwangi. Minimnya bukti di lapangan makin menguatkan pernyataan itu. Sampai kini, Blambangan tetap diyakini baru muncul sekitar tahun 1700, yakni, selama kepemimpinan Prabu Tawang Alun dengan kerajaannya di Desa Macanputih, Kabat.

Tawang Alun diyakini keturunan bangsawan Majapahit dari Jember. Kemudian mendirikan kerajaan Macan Putih sebagai ibu kota Blambangan. Sebelum menetap di Macan Putih, Tawang Alun memindahkan pusat pemerintahannya tiga kali. Pertama di Lateng, Rogojampi, lalu ke Bayu, Songgon, dan terakhir ke Macan Putih, Kabat.

Keturunan Tawang Alun, Rempeg Jogopati, yang berperang puputan melawan Belanda juga diyakini masih memiliki ikatan darah dengan keraton Mengwi, Badung. Dari sinilah nama Banyuwangi muncul setelah menghilangnya Blambangan.

“Bukti sejarah Blambangan memang sangat minim. Apalagi tidak ada satu pun prasasti yang menyebutkannya. Kami hanya menganalisis dari berbagai sumber yang otentik,” kata budayawan Banyuwangi, Hasan Ali.

Konon, dari buku-buku sejarah yang ada di perpustakaan Leiden, Belanda, nama Blambangan hanya disebut sejak pemerintahan Tawangalun. Sebutan ‘Blambangan’ juga misterius.

Ada yang menyebut cikal bakalnya adalah tirto arum. Ada juga dari kesusastraan kerajaan Kediri yang menyebut Blambangan dengan Balamboangan. Artinya, daerah subur penghasil padi terbesar selama pemerintahan Majapahit.

Penetepan hari jadi Banyuwangi 18 Desember 1771 juga didasarkan pada sejarah perjuangan Tawang Alun dan keturunannya melawan penjajah Belanda. Banyaknya bukti sejarah bekas kerajaan Blambangan yang tersisa, kata Hasan Ali, tidak ada kaitannya dengan hikayat Damarwulan, Minak Jinggo, dan Blambangan.

Diperkirakan beberapa situs sejarah Blambangan yang diyakini peninggalan Minak Jinggo justru bekas istana kerajaan Tawang Alun. -udi

 
Next >
"));