Logo PHDI Pusat
Membaca Babad Baru Tanpa Bangga .......... Print E-mail

Bali Post - Minggu Pon, 25 Januari 2009
Membaca Babad Baru Tanpa Bangga ..........
Wacana Tak Menang yang Manusiawi Rendah Hati

Membaca Babad Baru Tanpa Bangga Tak Menang yang Manusiawi Rendah Hati
PADA GILIRANNYA, cepat atau lambat, kita juga akan menjadi leluhur. buku harian,
Bedanya, sebagian besar di antara kita mungkin tida akan dituturkan lewat media babad.
Ketununan akan lebih mengenal siapa kita melalui media lain, seperti seperti sertifikat, pagam, tanda jasa, surat wasiat, buku harian, klipping, files di laptop, dan mungkin juga surat utang dan sejumlah tagihan bank. Dengan kata lain, ada kemungkinan kita akan menjadi leluhur tanpa babad.

 

Pertanyaan itu tidak sederhana. Bagi kebanyakan orang dan orang kebanyakan, babad adalah “bangunan” yang sudah jadi. Bangunan itu dikeramatkan, disucikan, dan dipatuhi. Asumsi bahwa leluhur ingin mempertahankan cara hidupnya tapi gagal karena kalah melawan arus perubahan, adalah produk pikiran yang bersumber dari luar kerangka kepatuhan pada babad. Itulah yang menyebabkan pertanyaan itu sejatinya kompleks. Lebih kompleks lagi karena kita yang hendak “menjawab” pertanyaan itu sudah dididik oleh babad dan tradisi.

Kita tentu saja bisa memahami bila leluhur ingin mempertahankan cara hidup mereka. Karena bukankah bertahan adalahciricana kenjapikirandankebudayaan man’usia. Yang agak susah kita pahami, mengapa leluhunbertahan terhadap keturunannya sendini. Tidak masuk akal bila keturunan dipandang sebagai ancaman yang akan merombakbangunanyang mereka bunt. Yang masuk akal barangkali mereka merasa cemas akan nasib keturunannya yang terkurung oleh perubahan yang mereka duga datang dari luar. Cemas  adalah juga ciri cara kerja pikiran.

 

Dengan atau tanpa babad, leluhur tetap leluhur. Apresiasi orang terhadap leluhurlah yang bisa berubah. Karena berbeda media yang dipergunakan, berbeda pula dampak kesan yang ditimbulkan. Babad seperti yang diperlihatkan hingga saat ini membangkitkan rasa bangga dan kagum orang pada leluhurnya. Sementara media lainnya, saperti yang disebutkan di atas. Belum kita ketahui akan membawa konskuensi apa.

Mumpung masih menjadi keturunan dan belum menjadi leluhur, mari kita merenung-renung. Dulu di harian ini juga saya pernah menyiarkan sebuah tulisan tentang leluhur, yang gagasannya antara lain seperti berikut ini.

Kita hormat pada leluhur karena mereka ternyata tidak mempertahankan dan memaksakan cara hidup mereka kepada keturunannya. Bila ya, tidak bisa dibayangkan, barangkali kita sekarang masih mengenakan pakaian kulit kayu dan berburu binatang di hutan untuk makanan anak istri yang menunggu di gua-gua persembunyian. Atau, barangkali kita sedang menonton pembakaran janda yang ditinggal mati oleh suaminya yang seorang raja.
Begitulah kurang lebih gagasan tulisan terdahulu. Sekarang mari kita mencari kemungkinan-kemungkinan di balik gagasan yang memang belum selesai itu. Mungkinkah sebenarnya lelithur ingin mempertahankan cara hidup mereka, tapi mereka ternyata kalah oleh gelombang perubahan yang mereka duga datang dari luar?

alah juga ciii cara keija pikiran.
Kita sudah terbiasa berpildr bahwa leluhur adalah kumpulantokoh-tokoh supernatural yang bisa mengubah keadaan seperti yang dipikirkannya, seperti yang diucapkannya. Asumsi bahwa leluhur kalah melawanperubahan, sungguh menjadiantiklimaks sebuah wacana kehebatan.
Path posisi netral kita bisa berpikir dua arah.Asumsiituyangtidaktepat, atauwacana kehebatan leluhur itu yang tidak manusiawi. Asumsi itu bisa tidak tepat karena masalahkalahdanmenangtargantungdari mana memandangnya. Sebaliknya, pencitraanleluhuritubisatidakmanusiawikarena tidak benar-benar menempatkan leluhur sebagai manusia, tapi manusia super.
Babad memang sarat dengan kisah kemenangan. Babad adalah salali satu faktor yang menyebabkan mengapa kebanyakan orang Bali bangga bahwa dirinya orang Bali. Sekarang mi, orang Ba]iiah yang lebih sering mengatakan kebudayaannya tinggidaripadaorangluar.Andaisajawacanakemenanganitudiimbangidenganwacana tidak-menang yang manusiawi, pencitraan pun alcan berimbang. Bangga dan sekaligus rendah-hati.
Karena kelak kita pasti akan menjadi leluhur, takadasalahnyasekarangberpikir untuk membuat babad dengan teknikbercerita berbeda.
• iBM DharmaPalguna

 

 
< Prev   Next >
"));