Logo PHDI Pusat
Buyan Print E-mail

Opini – Bali Post
Minggu, 01 Februari 2009
Buyan

ADAM dan Hawa diusir dari surga karena melanggar perintah Penciptanya agar tidak makan buah terlarang. Seandainya skenario sedikit berubah, misalnya, Tuhan memaafkan pasangan purba tersebut dan mengajaknya tetap hidup di surga, kira-kira wajah Taman Firdaus kemungkinan tidak seindah dibayangkan orang. Ketenangan dan kedamaian kerajaan Tuhan, yang beratmosfir kerukunan sehingga anjing dan kucing pun tidak pernah bertengkar, tidak akan terjadi. Malah keabadian sebagai ciri khas surgawi, tidak akan pernah ada.

"Makanya jangan latah mengumbar istilah 'perubahan', apalagi kalau perubahan menjurus ke kondisi yang malah lebih buruk. Perubahan secuil pada kisah Adam dan Hawa, umpama menuang sesendok air ke karburator mobil. Bukan hanya merusak karburator, tapi merembet ke busi, platina atau sistem pembakaran, menyebabkan mogok total. Ihwal Adam dan Hawa, jangan coba mengutak-atik sedikit jua, sebab itu berasal dari sebuah kitab suci. Pun kita, tidak senang bila mitos maupun bagian dari mitologi dalam kitab suci Hindu didekonstruksi orang," ujar Rubag.

"Senang atau tidak, Bali sekarang sudah tidak seperti sebutannya yakni 'Pulau Dewata' alias 'The Island of Gods and Godesses'. Apa gunanya mempertahankan mitos atau mitologi kalau kita sendiri melecehkan ajaran agama dengan berbagai dalih, meskipun banyak yang paham kalau ujung-ujungnya duit? Itu ibarat mementingkan kulit, mengabaikan isi! Yopie Latul yang bukan orang Bali pernah menjerit lewat lagu di tahun 1980-an, 'Kembalikan Baliku Padaku!', tapi orang Bali malah kalap menghabisi warisan leluhurnya. Perilaku ini disindir, orang Bali punya hobi 'baris berbaris' dan paling gemar aba-aba 'adep kiri adep kanan' atau jual semuanya. Celakanya, yang dijual bukan cuma miliknya, malah ketika jadi pejabat, pun milik publik dimanfaatkan buat kemaslahatan sendiri," papar Lonjong.

"Bau busuk bangkai ikan, menurut pepatah Italia, berawal dari kepalanya!" celetuk Kondra.

"Peradaban sebuah bangsa, konon, tidak mungkin bisa dirusak bangsa lain, kecuali bangsa itu yang merusaknya sendiri. Istilah-istilah agama yang mengatur perilaku sudah teramat sering dikotbahkan lewat berbagai media, yang andaikata kaset atau disket, suaranya tidak lagi jelas karena terlalu sering diputar. Trihita Karana, Trikaya Parisuda, Tri Pramana, Tri Sandya dan tri-tri lain, diobral setiap hari. Kenyataannya, Bali kian bopeng, demografinya melimpah dan kacau serta kriminalitasnya makin mencemaskan. Dikritik, diprotes dan didemo sudah sering, malah kian menjadi-jadi, karena pemegang kebijakan menerapkan 'politik Catur Muka' -- berwajah dan beranggota badan serba empat, namun tanpa kuping. Sepanjang tidak merusak dan berbuat anarkhis, tak acuhai," sambung Jangling.

"Ya, tak acuhai, karena pikir mereka, kalau capek pemrotes, pengritik dan pendemo akan berhenti sendiri. Bila tetap bandel, gelombang protes dihadapi demo tandingan dengan merekrut beberapa orang bertubuh gempal. Mirip tembok-tembok pemecah ombak yang dibangun di beberapa pantai, yang menimbulkan abrasi hebat di kawasan lainnya. Kalau gagal, baru digunakan alat-alat kekuasaan seperti yang disimbolkan tubuh dan wajah perkasa Catur Muka, dilengkapi perisai, pentung dan gas air mata plus beberapa pasal KUHP atau UU Subversif. Anehnya, pikiran pun bisa diadili! Maraknya parodi dan plesetan di TV dan masyarakat saat ini, tidak lain karena keder terhadap kekuasaan."

"Benar! Baru-baru ini, bersamaan pelantikan Presiden ke-44 Amerika Serikat, di Bali ada polemik tentang rencana pembangunan tempat hiburan terapung di atas danau. Karena polemik berlangsung berhari-hari, di masyarakat beredar plesetan, 'Barack Obama di Washington, berak senggama di Buyan'. Plesetan itu, kuduga, dilemparkan orang yang begitu prihatin karena seluruh kawasan suci sudah berkali-kali dicoba untuk digerayangi para investor, bahkan ada yang sudah dikangkangi seperti di Tanah Lot. Istilah 'senggama', menurutku, bisa konotasi atas perselingkuhan penguasa dengan pengusaha yang memungkinkan keluarnya perizinan, sedangkan kata 'berak' bermakna pengotoran. Atau keduanya bisa bermakna harfiah, melihat master plan proyek berluas 900 Ha itu sekilas pernah dimuat di Bali Post," papar Rubag.

"Bisa jadi! Siapa berani menjamin tempat yang sejuk dan romantis tidak meningkatkan libido atau birahi? Apa desakan biologis untuk buang air besar di danau bisa dilarang, lantaran perut kelewat kenyang? Apalagi, proyek yang diberi nama Buyan Eco-Cultural Heaven (BECH) atau Surga Ekologi dan Budaya Buyan, konon akan dilengkapi penginapan di sekitar danau, dengan dalih melestarikan ekologi. Persis seperti sinyalemen Kondra, rencana BECH itu telah membelah masyarakat sekitarnya dalam pro dan kontra. Mereka yang mendukung boleh jadi karena terbius iming-iming pekerjaan yang konon akan menampung paling sedikit 3.500 karyawan dan meningkatkan minimal 50 persen pendapatan keluarga. Kedengaran mirip 'janji surga' seperti yang diterima pelaku bom bunuh diri," jelas Lonjong.

"Nggak, bagiku mirip janji Belanda tempo dulu, tentang kemerdekaan yang akan diberikan pada Indonesia kelak kemudian hari. Tanpa kegigihan para pejuang, sampai kiamat pun negeri ini tidak akan merdeka. Lalu, yang menolak proyek tersebut, bagiku, terdiri dari dua kelompok. Pertama, kelompok yang pernah mendengar kisah yang dialami masyarakat yang berdiam di sekitar hotel-hotel besar di beberapa kawasan di Bali. Mereka juga pernah menerima janji serupa di era Orba, malah ada yang diintimidasi untuk menjual tanah buat lahan hotel. Nyatannya, mereka cuma jadi penonton kegiatan pariwisata, bahkan untuk mencari muatan buat taksi mereka yang dibeli dari hasil jual tanah, mereka harus gigit jari. Sebab, perusahaan-perusahaan taksi besar milik para cukong menggaet semua penumpang atas rekomendasi pihak hotel," tutur Jangling.

"Di Bali, gabungan antara janji dan sumpah disebut sepata, yang dalam kitab Sarasamuscaya, konon bisa dilontarkan pedagang untuk meyakinkan para pembeli dan luput dari dosa, meski isi sepata penuh kebohongan. Karena kini politisi sulit dibedakan dengan saudagar, agar tidak repot-repot, aku tidak akan menagih janji dan sumpah politisi. Sedangkan polemik yang melahirkan plesetan 'berak senggama di Buyan', bagiku, tak ubahnya perselingkuhan antara saudagar dan politisi. Aku cuma ingin tahu, kelompok kedua itu siapa, Ngling?" tanya Kondra.

"Jumlah mereka segelintir, namun sadar betul kalau Bali merupakan titipan para leluhur buat keturunan mereka yang banyak di antaranya belum lahir. Juga paham konsep Hindu tentang bukit, gunung, danau, sungai dan laut sebagai sumber segala kehidupan, seperti kepala yang seharusnya tidak diserahkan orang lain untuk diinjak-injak, apalagi diberaki. Makanya, mereka tidak menyerahkan keputusan perihal Buyan kepada para pemegang kebijakan yang notabene manusia bermental dagang, tapi kepada Ida Sang Hyang Widi, disertai doa, ala tinindak ala tinemu, ayu tinindak ayu tinemu," sahut Janggling.* aridus

 
< Prev   Next >
"));