Logo PHDI Pusat
Fenomena Gerbang Kematian Print E-mail

Fenomena Gerbang Kematian
Oleh: Page Paradev (Mahasiswa Universitas Negeri Malang)

Pada satu kesempatan, teman saya berucap, “Hindu itu sadistis”. Saya terperanjat, betapa tidak? Biasanya pernyataan teman-teman saya yang non-Hindu selalu simpatik, etis dan berhati-hati jika menyerempet kepada hal yang berbau keagamaan. Sungguh lain dengan yang satu ini. Ketika saya tanyakan apa alasannya berucap seperti itu, jawabnya, “Iya memang, bayangkan kalau orang yang sudah mati dengan mengenaskan kemudian dibakar pula ramai-ramai, apa tidak sadis namanya.” Kalau dalam agama yang dianutnya perbuatan itu sungguh merupakan dosa besar dan tergolong perbuatan sesat (setan, iblis). Oh jadi itu toh masalahnya, perasaan saya yang tadinya ingin marah jadi batal. Saya maklum bahwa keyakinan saya dengan dia terutama tentang konsep Roh maupun tentang konsep kematian memang jauh berbeda. Harus dijelaskan dengan bijak dan masuk akal sehingga tidak terjadi persepsi salah tentang Hindu. Nih, yang susah jika kita tidak mampu untuk menjelaskan dengan baik sehingga kesalahan persepsi itu semakin meluas. Diakui atau tidak pengetahuan umat kita tentang tattwa masih sangat kurang, hanya segelintir (mereka yang mengenyàm pendidikan tinggi saja) yang relatif paham. Yang sering mendapat pertanyaan dari umat lain adalah mereka yang awam, bukan yang berpendidikan, tentu informasi yang diberikannya sesuai dengan “keawamannya”. Hal itulah yang mengilhami tulisan kecil ini.

Ketika kita mendengar kata “mati” yang dihubungkan dengan manusia, maka dalam benak kita terbayang sosok (jasad) terbujur kaku tak bernafas yang jika dibiarkan akan rusak/membusuk, karena itu jasad harus diurus selayaknya (dikubur atau dibakar). Bayangan mengenai definisi “mati” seperti itu tidak salah. Kematian adalah perpisahan jasad dengan Roh. Mati menurut pandangan Hindu hanyalah berlaku bagi jasad, bukan untuk Roh. Kematian hanyalah sebuah fenomena saja, tak lebih!

Bagi Roh, jasad tak lebih dari sekedar baju yang jika sudah usang mesti dilepas/dibuang untuk diganti dengan yang baru sebelum mendapat “selimut keabadian” di alam Moksa. Baik buruknya kualitas baju yang diperoleh kemudian bergantung dari daya beli “uang kebajikan” yang telah ditabungnya. Baju baru si Roh akan disandang pada reinkarnasinya. Baju yang paling mahal adalah bermerek “Manusia”, merek ini pun ada bermacam tingkatan, ada yang asli (kualitas utama), yang sedang, rendah bahkan yang imitasi juga banyak.

Gambaran perjalanan sang Roh antara kematian dan kelahiran kembali sebagai berikut : Roh berpindah dengan badan astral atau suksma sarira. Badan astral ini terjadi dan 19 tattwa atau prinsip, yaitu; 5 organ penggerak, 5 organ pengetahuan, 5 prana, pikiran, kecerdasan dan citta (bawah sadar) dan ahamkara atau keakuan (ego). Badan halus ini membawa segala jenis samskara atau kesan, serta wawasan atau kecenderungan-kecenderungan dan Roh pribadi. Bila buah dan karma- karma baik telah dihabiskan. Ta menggabungkan dirinya dengan badan fisik yang baru dan berinkarnai pada tempat di bumi ini. Yang penilakunya sudah baik mencapai kelahiran baik, dan yang perilakunya jahat ditanik ke dalam kandungan yang penuh dosa atau kelahiran yang lebih rendah.

Hindu mengenal konsep PurusaPradhana, Brahman-Atman, Bhuana Agung-Bhuana Alit. Pada peristiwa “kematian”, Atman diharapkan kembali kepada Brahman, dan jasad (Bhuana Alit) kembali kepada alam (Ehuana Agung). Untuk proses kembalinya Bhuana alit ke Bhuana Agung, cara yang terbaik adalah dengan membakar (kremasi). Mengapa kremasi yang terbaik? Menurut Sri Swami Sivananda, kremasi memberikan manfaat yang tertinggi bagi Roh. Bila badan tidak dibakar, sang Roh/Jiwa masih dihubungkan dengan bumi. Roh terkatung-katung mengitari badan yang sudah mati disebabkan oleh moha atau keterikatan pada badan fisik. Perjalanannya ke alarn surgawi terhalang karenanya. Jika dibakar, getaran-getaran yang dihasilkan dari penguncaran mantra dan persembahan sesajian air mampu memberikan hiburan dan menyenangkan Roh yang meninggal.

Upacara sapindikarana membantu jiwa melewati Preta Loka menuju Pitri Loka. Ia lalu diakui di antara para Pitri atau leluhur. Si anak mengelilingi jasad ayahnya tiga kali sebelum api dinyalakan pada tumpukan kayu bakar dan memercikkan air sekali, penguncaran mantra, “Pergilah! Menyingkir dan berangkat dari sini.” Tulang-tulangnya dikumpulkan pada hari berikutnya dan dibuang ke dalam sungai. Mereka yang mampu akan membawanya ke Banares atau Hardwar dan membuangnya ke sungai Gangga. Menjadi kepercayaan bahwa Roh yang fana, tinggal disampaikan ke sungai Gangga yang suci maka Roh akan mencapai wilayah yang lebih tinggi dari kecemerlangan dan sinar spiritual yang akhirnya bebas. Lewat kremasi unsur-unsur penyusun jasad dikembalikan ke asalnya, unsur air kembali ke air, api kembali ke api dan seterusnya.

Timbul pertanyaan, “Apakah semua harus dibakar?” Hindu adalah agama yang fleksibel sekali, di beberapa daerah ada larangan untuk membakar mayat dengan pertimbangan yang masuk akal, itu tak masalah. Mayat dikubur (beya tanem) juga boleh bahkan kalau tak memungkinkan untuk dikubur, ditenggelamkan di laut pun mungkin. Anjuran ngaben hanya bila memungkinkan dari aspek desa, kala, patra dan tattwa.

Seperti yang sudah diungkapkan di depan, masih begitu banyak umat kita yang tidak mengerti hakekat (tattwa), ada satu cerita yang menurut saya cukup menyentuh perasaan. Dulu di desa saya ada seorang juragan yang meninggal dunia. Karena urang kaya, tentu kerabat yang menghadiri prosesi ngabennya juga banyak dari kalangan berada. Nah, pada saat pembakaran mayatnya, orang-orang kaya itu ramai-ramai melemparkan sesuatu ke dalam kobaran api. Apa yang dilemparkan? Ternyata uang dan perhiasan yang cukup banyak, kalau dikumpulkan mungkin mencapai jutaan rupiah. Sambil melemparkan uang, seseorang ada yang berkata, “Bli Made, tiang sing side ngemaang Bli ape-ape, tuah ene ade pipis abedik, pang ada anggon Beli bekel dikedituan, selamat jalan Bli...” Artinya kurang lebih begini, “Kak Made, saya tidak bisa memberi Kakak apa-apa, hanya ini ada sedikit uang, agar ada Kakak gunakan sebagai bekal di alam sana, selamat jalan Kak...” Saya tercenung, bukan karena kematian Pak Made itu, tetapi karena menyaksikan begitu banyak orang kaya yang berbuat sia-sia. Tidakkah uang itu lebih baik diberikan kepada keluarganya yang masih hidup atau kepada tetangganya yang tinggal di gubuk-gubuk reot?

Tanpa disadari, melemparkan uang dan perhiasan ke api kremasi dapat menghalangi perjalanan Roh yang meninggal. Roh akan teringat akan kekayaannya di dunia dan merasa sayang untuk meninggalkannya, karena masih terikat dengan kekayaan maka Roh akan berputar-putar tak tentu arah (kemaya-maya/gentayangan). Nah kalau terjadi seperti itu, tidakkah kita merasa kasihan ? Seyogyanyalah kita memanjatkan doa-doa untuk keselamatan Roh, itu yang lebih bermanfaat, bukannya memberi “bekal” yang tidak-tidak yang justru membebani perjalanannya.•

 

 

 
< Prev   Next >
"));