|
Jumat, 13 Februari 2009 | Bali Post Nilai Kearifan Subak Penting Dimaknai Denpasar (Bali Post) - Leluhur orang Bali memang hebat. Banyak nilai kehidupan diwariskan hingga kini dan tampaknya masih sangat relevan dengan semangat zaman. Dalam konteks berorganisasi misalnya, leluhur kita sudah mengenal sistem kelembagaan sejak zaman agraris melalui organisasi tradisional bernama subak. Ada pemimpin (klian subak), ada anggota subak, yang memiliki hak dan kewajiban. Melalui organisasi itu para petani berupaya mencapai kesejahteraan yang berkeadilan. Hal itu dikatakan Kepala Balai Pelestarian Nilai Sejarah dan Tradisional (BPNST) Bali, NTB dan NTT Drs. Made Purna, M.Si. saat kegiatan bedah proposal penelitian di kantor BPNST, Rabu (11/2). Bedah proposal penelitian itu menampilkan sejumlah narasumber yakni Prof. Dr. Gde Parimartha, Dr. Gde Mudana, Dra. S. Swarsi, M.Si. Ada 21 judul proposal penelitian yang dibedah, salah satunya menyangkut subak. 'Nilai-nilai kearifan lokal subak ini penting terus digali dan dimaknai dalam kehidupan kini dan yang akan datang,' ujar Purna. Lewat subak, lanjut Purna, para petani betul-betul menerapkan konsep keharmonisan hidup yang dikenal dengan Tri Hita Karana. Ada Pura Subak tempat para petani ngrastiti bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi -- menjaga hubungan harmonis dengan Sang Pencipta (parahyangan). Lewat organisasi tersebut para anggota subak menjaga hubungan selaras dengan sesama (pawongan) dan melalui lembaga subak, petani menjaga hubungan harmonis dengan alam (palemahan). Kata Purna, dalam kaitannya menjaga kelestarian alam, peran petani sangatlah besar. Dengan menjalankan swadharma-nya sebagai petani mereka sesungguhnya telah mengkonservasi alam -- menyediakan tutupan hijau dengan menanam tumbuh-tumbuhan yang berfungsi strategis menyerap air hujan. 'Itu bagian dari upaya menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan alam. Karena itu subak sebagai warisan leluhur yang memiliki nilai kearifan lokal, penting terus dijaga kelestariannya,' ujarnya sembari menyebut bahwa subak telah mengalami ancaman yang cukup serius, terutama di daerah perkotaan akibat beralihnya fungsi lahan yang cukup drastis. Tak hanya itu. Dalam organisasi subak, sesungguhnya leluhur orang Bali sudah menerapkan sistem berdemokrasi yang baik. Melalui paruman-paruman yang dilakukan, berbagai aspirasi diserap, digodok dan didiskusikan. Bagaimana mengatur air yang baik, merata dan adil, didiskusikan sedemikian rupa. Ada aturan-aturan dalam pembagian air. Sistem demokrasi yang harmonis seperti itu tampaknya penting diadopsi dalam berdemokrasi di era sekarang, dalam rangka mengeliminasi benturan-benturan. (08)
|