Logo PHDI Pusat
Lingga Yoni Print E-mail

Lingga Yoni
Oleh: GM Nurjana

Berbagai literatur suci yang tergolong Weda dengan tegas menyebutkan bahwa LINGGA sebagai simbol BRAHMAN, Tuhan Yang Maha Esa dengan aksara dan suara “AUM” yang bergema menciptakan Pertiwi atau YONI, alam semesta langit dan bumi dengan segala ciptaan-NYA.

RUU Pornografi menjadi UU Pornografi tanggal 30 Oktober 2008 oleh DPR - RI, memang tidak lagi memuat “Lingga dan Yoni” Sebagai materi seksualitas yang sempat diprotes oleh umat Hindu. Seluruh pasal 14 yang pada penjelasannya memuat “.... misalnya patung telanjang yang menggambarkan Lingga dan Yoni” sudah dihapuskan. Namun demikian kiranya perlu kita mengerti apa dan bagaimana yang disebut Lingga-Yoni menurut pengertian Hindu.

Pengertian Lingga-Yoni
Ada salah pengertian mengenai Lingga-Yoni, yaitu sebagai lambang alat reproduksi lelaki dan perempuan (pallus atau vagina):
Kamus; Jawa Kuna Indonesia mendefinisikan: “Linga (skt) tanda, ciri, isyarat, sifat khas, bukti keterangn, petunjuk; Lingga, lambang kemaluan lelaki (terutama Lingga Siwa dibentuk tiang batu), patung dewa, titik tugu pemujaan, titik pusat, pusat poros, sumbu”. “Yoni (skt) rahim, tempat lahir, asal Brahmana, Daitya, dewa, garbha, padma, naga, raksasa, sarwa, sarwa batha, sudra, siwa, widyadhara dan ayonia (P.J. Zoetmneder, S.C. Robsou, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1994, 601, 1494).

Ensiklopedia Indonesia memberi definisi:
“Lingga, dalam mithologi Hindu : alat kelamin pria (lat : phallus, lambang siwa sebagai dewa semesta, kebalikan dan Yoni. “Yoni, alat kelamin kemaluan perempuan sebagai tara atau timbalan dan Linggam merupakan lambang syakti atau prakrti yang dijabarkan dalam bentuk unsur kewanitaan “ (Ensiklopedia Indonesia Ikhtisar Baru Van Hove, Jakarta 1990, 2020 dan 3993).

Tapi apa sebetulnya lingga dan yoni menurut pengertian Hindu?
Dancing with Siva Lexicon memberi definisi lingga atau Siva lingga sebagai berikut: “Tanda (mark or sign) dari Siva. Ikon Siva yang paling banyak digunakan, ditemukan hampir di semua mandir Siva. Bentuknya bundar, eliptik, citra aniconic, biasanya diletakan di atas dasar bundar, atau pitha. Sivalinga adalah simbol paling kuno paling sederhana dan Siva, khususnya Parasiva, Tuhan di luar semua bentuk dan sifat-sifat. Pitha merepresentasikan Parashakti, kekuatan Tuhan.

The Oxford Dictionary of World Religions menambahkan: “Lingga adalah simbol energi generatif. Menyebut ini sebagai “phallic worship” (pemujaan palus) adalah salah secara total memahami represenrasi ecara miniatur atau bentuk simbolik, menciptakan dan melepaskan kekuatan dengan mana dia diasosiasikan.”
Ada perbedaan sangat mendasar antara dua definisi pertama dengan dua definisi terakhir.
Lingga sebagai simbol Ayah (Tuhan) dan Yoni sebagai Ibu (pertiwi), sebagai alam semesta, telah dipuja oleh umat umat Hindu sejak 3.500 tahun sebelum masehi. Lingga dan Yoni diwujudkan menjadi tempat suci atau bangunan suci dalam bentuk arca pelinggih, candi, seperti bangunan Padmatara yang kita kenal sekarang.

Ciri utama yang melekat pada bangunan arsitektur suci “Lingga” atau “Linga” adalah:

Satu: Wujud Lingga, bentuk vertikal, ujung oval, umumnya terbuat dan batu andesit sebagai wujud cahaya Brahman yang transendental untuk menciptakan alam semesta beserta isinya.

Dua: Aksara “OM”(AUM), gema suara Brahman dan simbol kekuatanNya untuk penciptaan.
Tiga: Bangunan Suci “Yoni” tempat tegaknya “Lingga” untuk menciptakan alam semesta, dengan kelengkapan kekuatan Bedawangnala (naga, kura-kura) yang didepannya Nandi, mengawal, menjaga keseimbangan ciptaan Nya.

Dapat ditambahkan, seoiang tokoh intelektual Hindu Swami Harshananda pada Sri Ramakrishna Ashrama menyebutkan Lingga dan Yoni sebagai Simbol Tuhan God dan umat Hindu yang universal: Secara literal Siva artinya keberuntungan dan Linga artinya satu tanda atau satu simbol. Dari sini Sivalinga adalah satu simbol Tuhan yang agung dan semesta yang sepenuhnya adalah keberuntungan. Siva juga berarti Yang Esa yang di dalamnya seluruh ciptaan istirahat setelah mahapralaya. Liñga juga berarti hal sama di mana obyek-obyek ciptaan dipralina selama disintegrasi dan semesta ciptaan. Karena, menurut agama Hindu, adalah Tuhan yang sama yang menciptakan, memelihara dan menarik alam semesta ke dalam dirinya. Maka Sivaliñga merepresentasikan Tuhan sendiri secara simbolik. (Swami Harshananda, Principal Symbol og World Religions, 1978:7).

Lingga Yoni di tempat pemujaan.
Lingga Yoni dalam bentuk pelinggih atau bangunan candi di Jawa jumlahnya ribuan. Khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta saja terdapat 72 situs candi dengan bangunan pelinggih Lingga Yoni. Satu kompleks candi saja terdapat minimal 9 pelinggih “Lingga Yoni” seperti Lingga Yoni di candi Hijau, candi Sambisari, candi Kedulan, candi Kranggan, candi Nogosaren dan lain sebagainya. Bagian candi dengan Lingga yang terbesar saat ini adalah candi Hijau, di kecamatan Brebah Yogyakarta dan masih banyak situs Lingga Yoni yang menjadi tempat pemujaan peninggalan Mataram Hindu yang belum dieksavasi oleh Dinas Purbakala sebagai cagar budaya.

Khususnya di Bali diberbagai pura dibuat dalam bentuk arca disebut “Maha Lingga” yang menggambarkan ke Esaan Tuhan atau Brahman.

Sebagai aksara suci dalam bangunan suci Lingga Yoni adalah Pranava aksara “OM” (AUM) yang dijelaskan dalam Lingga Purana, ketika Brahman menciptakan alam semesta beserta isinya. Jadi Brahma sebagai maha pencipta atau Lingga yang dalam Atharwa Weda disebutkan:

Brahman adalah pencipta alam semesta
Brahmana bhumir vihita,Brahma dyaur uttara hita,Brahma-idam urdhuam tiryak ca-Antariksam vyaco hitam. (Bahman menciptakan bumi ini. Brahman menempatkan langit ini di atasnya. Brahman menempatkan wilayah tengah yang luas ini di atas dan di jarak lintas).
AtharvavedaX. 2. 25.

Dalam bangunan suci di mana terdapat arca Lingga Yoni yang dipuja oleh umat Hindu tidak ditemukan satu katapun, termasuk bila ditafsirlan dari segi Heurmenetika, yang menyatakan Lingga Yoni sebagai simbol ketelanjangan, atau alat kelamin laki-laki atau perempuan.
(Penulis, Welaka, Mahasiswa S3 Ilmu Hukum di Yogyakarta). Media Hindu edisi 59 – Januari 2009.

 

 

 
< Prev   Next >
"));