Logo PHDI Pusat
Tujuh Syarat Kualitas Yajna Print E-mail

Tujuh Syarat Kualitas Yajna
Written by IB.Heri J.  (agnihoma.org)
Sunday, 01 April 2007 19:31

KITAB suci Bhagawadgita Bab XVII sloka 11, 12 dan 13 menyebutkan, ada tiga tingkatan pengorbanan / persembahan suci (yajna) dipandang dari segi kualitasnya yaitu: Pertama, Tamasika yajna, yajna tanpa memperhatikan petunjuk-petunjuk sastra Veda. Kedua, Rajasika yajna, yajna yang dilakukan dengan penuh harapan akan hasilnya dan bersifat pamer. Ketiga, Satwika yajna, yajna yang dilakukan kebalikan dari tamasika dan rajasika yajna.

Dari uraian di atas, yajna yang satwika-lah yang dilaksanakan, karena telah memenuhi paling tidak tujuh syarat. Pertama, Sradha, artinya: pelaksanaan yajna hendaknya dengan keyakinan penuh, diyakini kebenarannya yang bersifat mutlak. Yajna tidak akan membawa dampak spiritual kalau tidak dilatarbelakangi oleh suatu keyakinan yang mantap. Tanpa keyakinan yang mantap, lambang atau symbol yang terdapat dalam upakara hanya akan berarti sebagai pajangan keindahan belaka tanpa arti. Bhima memandang perintah guru Drona untuk mencari Tirtha Kamandhalu sebagai suatu yajna.

Dijalaninya dengan keyakinan yang mantap, tanda keraguan, tidak memikirkan segala akibatnya, dengan keyakinannya itu akhirnya Bhima berhasil mendapatkan Tirtha kamandhalu. Kedua, Lascarya, artinya: suatu pengorbanan / persembahan besar atau kecil, sedikit atau pun banyak dari ukuran materi hendaknya dengan penuh keiklasan. Orang yang pikirannya masih diselimuti keragu-raguan melaksanakan yajna tidak akan mendapatkan anugerah dari Hyang Widhi. Dewi Kunti Ibu dari Panca Pandawa atas permintaan Dewi Durga untuk mempersembahkan salah satu putranya. Dengan diselimuti keragua-raguan Dewi Kunti menghaturkan Sahadewa putra tirinya kepada Dewi Durga.

Saat keragu-raguan dalam beryajna inilah maka Kalika Raksasi (Bhuta kala) menyusup ke dalam diri Kunti. Kunti menjadi emosi menyeret Sahadawa. Sahadewa dengan tulus iklas menyerahkan diri. Karena keiklasannya Dewa Siwa masuk ke dalam tubuh Sahadewa, Sahadewa menjadi sakti dan tidak bisa disantap oleh Dewi Durga. Bahkan Dewi Durga yang berujud mengerikan berubah menjadi cantik kembali sebagai Dewi Uma. Ketiga, Sastra, artinya: beryajna haruslah dilaksanakan berdasarkan petunjuk sastra. Kata sastra dalam hal ini adalah peraturan atau ketentuan hukum yang bersumber dari kitab suci.

Kedudukan hukum kitab suci Hindu disebutkan dalam Manawa Dharmasastra II.6 sebagai berikut: "Seluruh kitab suci Veda merupakan sumber pertama dari dharma. Kemudian sumber dharma berikutnya adalah adat istiadat, tingkah laku yang terpuji dari orang-orang budiman yang mendalami Veda, juga kebiasaan orang-orang suci dan akhirnya kepuasan diri sendiri ". Sumber-sumber dharma yang disebut belakangan dari sumber pertama tidak boleh bertentangan atau pun menyimpang dari Veda. Keempat, Daksina, artinya : suatu penghormatan dan penghargaan dalam bentuk harta benda atau uang yang dihaturkan secara tulus iklas kepada pemimpin upacara (Pandita, Pinandita/Pemangku), yang telah berjasa sehingga upacara berjalan aman, lancar dan sukses. Kelima, Mantra, artinya : setiap pelaksanaan upacara keagamaan yang berkualitas unsur mantra atau Gita nyanyian ke-Tuhan-an adalah sangat penting. Lagu-lagu suci untuk pemujaan diucapkan umat, Pinandita dan Pandita sesuai dengan ketentuan dan aturannya. Keenam, Annasewa artinya: jamuan makan atau minum kepada tamu upacara (atithi yajna) sesuai dengan kemampuan masing-masing juga sebagai salah satu syarat yajna yang baik. Namun demikian jamuan ini tidak boleh dipaksakan. Kalau dipaksakan bukanlah disebut yajna yang satwika. Ketujuh, Nasmita, artinya : suatu upacara agama hendaknya tidak dilangsungkan dengan tujuan pamer kemewahan atau pamer kekayaan dengan maksud tamu dan tetangga berdecak kagum. Tetapi bukan berarti yang mampu tidak boleh menampilkan kemewahan dan keindahan dalam upacara yajna, asalkan kemewahan dan keindahan yang dihadirkan itu hanya pantas dilangsungkan dengan tujuan menganggungkan nama Tuhan. Atau dengan kata lain tidak menekankan semata-mata aspek ritual dan seremonial belaka.

Jadi kualitas yajna yang dilaksanakan umat Hindu baik yang besar maupun yang kecil dari upacara dalam kandungan sampai pada upacara kematian hendaknya memenuhi paling tidak tujuh syarat seperti yang diuraikan di atas. Karena yajna yang berkualitas bukan memberatkan beban hidup manusia, melainkan menuntun umat manusia menuju kepada keseimbangan hidup. Terpenuhinya kebutuhan jasmani dan rohani manusia secara seimbang akan menuju pada tujuan agama Hindu

moksartham jagadhitaya ca iti dharma.**

 
< Prev   Next >
"));