Logo PHDI Pusat
Paradigma, Visi dan Misi Parisada Print E-mail

Paradigma, Visi dan Misi Parisada
Parisada hasil mahasabha VIII diharapkan akan berbeda dengan Parisada sebelumnya. Parisada yang baru nanti akan memiliki Visi dan Missi yang jelas, serta bertindak berdasarkan Paradigma yang baru. Paradigma secara sederhana dimaksudkan sebagai pola berpikir, sedangkan Visi adalah pandangan, harapan atau cita-cita akan masa depan yang ingin dicapai dan Missi adalah tugas-tugas suci untuk mencapal harapan tersebut. Paradigma Visi dan Missi ini boleh dikatakan “mantra” yang akan menghantarkan Parisada ke depan dalam melayani umat Hindu. Ketiga “mantra” ini boleh dikatakan sebagai jawaban atas tuntutan umat Hindu tentang perlunya perobahan-perobahan mendasar dan Parisada untuk lebih memenuhi tuntutan umat demi kemajuan agama dan umat Hindu di Indonesia. Ketiganya tidak lahir dan ruang kosong, tetapi lahir sebagai dialektika dati permasalahan yang dihadapi baik oleh Parisada maupun oleh umat Hindu sendiri.

Dalam perjalanan mengemban tugas pembinaan terhadap umat Hindu di Indonesia, Parisada telah melakukan banyak hal. Namun dalam rangka lebih memaksimalkan pengabdiannya di masa depan, Parisada tanpa ragu melihat kelemahan dan kekurangannya di segala bidang, baik yang menyangkut lembaga maupun pengurus antara lain kinerja susunan dan tata organisasi, sikap, onientasi, dedikasi dan kualitas pengurus secara pribadi. Dan untuk ini Parisada perlu membuka din dan mengundang kritik dan saran-saran dan semua pihak. Beberapa kelemahan dan kekurangan Parisada yang dicatat berdasarkan masukan dan umat antara lain sebagai berikut:

Parisada kurang responsif dan kurang sigap dalam mengantisipasi dan menangani masalah-masalah keagamaan yang terjadi di masyarakat. Seringkali muncul kasus adat yang bernuansa agama yang karena tidak mendapat perhatian Parisada menyebabkan masyarakat melakukan tindakan sendiri yang sering disertai tindak kekerasan. Parisada seringkali tidak lugas menyuarakan ajaran-ajaran Weda jika di masyarakat terjadi penyimpangan, terutama jika dilakukan oleh kelompok-kelompok yang memiliki kekuatan atau koneksi dengan kekuasaan.

Hasil-hasil Mahasabha selama ini pada umumnya tidak dapat direalisasikan oleh pengurus Parisada sehingga terkesan tidak berhasil dan hanya beberapa personalia saja yang benar-benar bekerja melayani umat Hindu sesuai dengan kemampuan dan kewajibannya.
Kurang jelasnya prosedur pengambilan dimana Sabha Pandita memiliki hak veto yang bisa mementahkan hasil yang sudah diputuskan dalam Pesamuhan Agung atau Mahasabha, padahal Saba Pandita sudah ikut terlibat dalm proses pengambilan keputusan dalam kedua forum ini.
Selama ini figur-figur yang duduk di Parisada pada umumnya terlalu berat pada status sosial dan jabatan dan bukan pada dedikasi serta komitmennya untuk mencerdaskan serta memajukan umat serta perkembangan agama Hindu.

Kelemahan-kelemahan tersebut di atas sebagian disebabkan oleh kondisi internal Parisada sendiri, sebagian disebabkan oleh lingkungan sosialpolitik, dan umat Hindu sendiri, serta minimnya sarana dan prasarana. Hal ini disampaikan tanpa maksud untuk mencari ‘apologi’ tetapi semata-mata supaya kita dapat melakukan analisis yang tepat demi untuk melakukan perbaikan ke depan.

Di samping melakukan perbaikan secara internal, Parisada juga harus mengetahui permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh umat Hindu, supaya Parisada dapat menyiapkan strategi dan program yang tepat dalam mengemban tugasnya.

Permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh umat Hindu secara garis besar antara lain adalah sbb:
1. Tattva : Pengetahuan pemahaman tentang tattva Hindu masih lemah, yang mengakibatkan keyakinan, loyalitas dan komitmen yang lemah terhadap agama Hindu.
2. Etika : Mulai muncul gejala melemahnya moralitas dan etika umat Hindu. Di samping karena pemahaman yang lemah atas tatva juga sebagai akibat transisi nilai dan masyarakat agraris ke industri, khusus untuk Bali, industri pariwisata.
3. Upacara : kehidupan keagamaan umat Hindu masih terpusat kepàda ritual yang cenderung terlalu menekankan pada bentuk tanpa pemahaman akan maknanya.
4. Wawasan Keumatan : masih bersifat ‘inward looking’, sebagian besar masih berpusat atau terbatas pada wawasan dan solidaritas berdasarkan kesukuan dan untuk Bali berdasarkan asal-usul keturunan (dadia, pedharman).
5. Wawasan Kebangsaan (Pluralisme) : Memiliki toleransi yang tinggi terhadap agama atau keyakinan lain, namun lebih bersifat pasif dan permisif. Lebih banyak karena kurangnya pemahaman mengenai agama-agama.
6. Adat : Masih banyak komponen atau praktek adat yang menjadi penghambat perkembangan agama Hindu.
7. Kesetiaan Terhadap Agama Hindu : Cukup banyak terjadi perpindahan agama di kalangan generasi muda Hindu, khususnya di luar Bali. Karena mereka tidak menemukan kepuasan intelektual dalam agama Hindu.

Sesuai dengan aspirasi umat, Parisada akan melakukan perbaikan-perbaikan yang mendasar, atau melakukan perobahan terhadap semangat, sikap maupun susunan serta tata kerja organisasi.

Parisada akan tampil dengan Paradigma Baru. Parisada tidak lagi memposisikan dirinya sebagai ‘pembina’ tetapi lebih sebagai ‘pelayan’ umat. Terkait dengan hal ini Parisada perlu memiliki Visi dan Misi yang menjadi pedoman bagi Parisada sebagai majelis tertinggi umat. Visi dan misi yang aspiratif akan memperkuat dasar legitimasi Parisada dan sekaligus berperan sebagai faktor penting untuk menumbuhkan rasa memiliki dan solidaritas.

Visi mengandung makna “power of seeling or imagining looking a need grasping the truth than underlies fact” atau “the ability to see or plan into the future”. Ringkasnya visi menyangkut kemampuan kita untuk memandang ke depan atau kemampuan kita untuk menggambarkan wawasan yang berorientasi ke masa depan.

Parisada sebagai majelis tertinggi umat Hindu Indonesia yang mandiri dan merupakan wahana pengabdian dan pelayanan umat dalam rangka pelaksanaan dharma menetapkan Visi sebagai berikut:

“Terbentuknya masyarakat Hindu dengan keyakinan, komitmen dan kesetiaan yang tinggi terhadap agama Hindu”, serta sejahtera dalam kehidupan sosial ekonomi.”
Visi ini sebetulnya merupakan penjabaran dari tujuan tertinggi agama Hindu yaitu “Moksãrta Jagadhita ya ca iti Dharma”.

Misi (mission) adalah a purpose for which a person or groups of people is sent atau ringkasnya yang menyangkut bagaimana tujuan itu hendak diwujudkan. Sebagai penjabaran visi di atas PHDI mempunyai missi:

1. Mengupayakan penyebarluasan pengetahuan dan pemahaman tentang ajaran dan nilai-nilai Hindu.
2. Mengupayakan tercapainya standar moral dan etika yang tinggi dalam menunjang pencapaian tujuan-tujuan hidup berdasarkan : Dharma, Artha, Kama dan Moksha.
3. Mengupayakan tumbuhnya wawasan dan solidaritas keumatan yang berskala nasional dan global.

Dengan visi dan missi ini Parisada akan mampu merumuskan strategi dan program kerja secara terfokus. Program kerja tersebut akan betul-betul dapat dilaksanakan dan hasilnya terukur. Artinya program kerja itu terinci : jelas sasaran, anggaran, kebutuhan SDM, penanggung jawab, dan jangka waktu pelaksanaannya. Program kerja yang jelas akan lebih mudah ditawarkan kepada umat. Karena bagaimanapun umat Hindu sendiri yang harus menanggung biaya dan semua program kerja itu. Dengan itu baru keinginan umat untuk memiliki Parisada yang mandiri akan terwujud. Berhasil atau gagalnya Parisada adalah merupakan keberhasilan atau kegagalan umat Hindu secara keseluruhan.

Jadi baik Parisada maupun umat Hindu perlu melakukan reformasi, guna mencapai umat Hindu yang kuat keyakinan, komitmen dan kesetiaannya kepada agama Hindu, serta maju dan sejahtera dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Hanya dalam keadaan seperti itu umat Hindu akan mendapat tempat dan dihargai sejajar dengan umat lain dalam masyarakat Indonesia.
(Disarikan dan Pokok-Pokok untuk seminar dalam rangka menyongsong Mahasabha VIII, kertas kerja yang disiapkan oleh Panitia Mahasabha VIII. NPP).• WHD No. 415 September 2001.

 

 
< Prev   Next >
"));