Logo PHDI Pusat
Salya, Penganut Ajaran Sewala Brahmacari Print E-mail

Salya, Penganut Ajaran Sewala Brahmacari
Oleh : I Made Purna, Denpasar

Salya terkenal sebagai pemuda yang gagah dan konsekuen terhadap apa yang ia ucapkan, namun dan kecil sampai dewasa ia sangat binal. Dengan kebinalan itu pula akhirnya ia menemukan jodohnya yang bernama Pujawati / Kacawati / Satyawati, anak perempuan dari seorang pertapa raseka (musuh tradisional para satria, dan mereka sering dianggap mewakili kekuatan setan, sedangkan jiwa satria mewakili kekuatan akal dan ketertiban) bernama Bagawan Bhagaspati. Salya dengan Satyawati saling mencintai. Namun Satyawati sangat dekat dengan ayahnya yang sudah balu itu. Hal ini dapat dibenarkan, dengan siapa lagi ia mendapatkan kasih sayang, kecuali dengan ayahnya. Sebab Satyawati hidup di dalam pertapaan tidak ditemani oleh ibunya. Ibunya sudah meninggal.
 
Salya seorang ksatria yang terkenal. Oleh karena itu ia merasa tidak pantas mempunyai seorang raseksa di dalam keluarganya. Karena menjadi pengertian semua pihak bahwa perkawinan Salya dan Satyawati tidak berlaku selama Bhagaspati masih hidup. Oleh karena Bhagaspati merasa ganjalan di mata menantunya, maka Bhagaspati memerintahkan Salya untuk membunuhnya. Karena dia sendiri menginginkan agar perkawinan tersebut bisa berlangsung lama demi kepentingan anaknya. Dan sebagai ”hadiah” perkawinan dia memberikan kepada pemuda Salya senjata sakti Candabirawa. Salya setuju untuk melaksanakan keinginan raseksa yang sudah tua itu, meskipun dia sadar bahwa pembunuhan ini dengan caranya sendiri merupakan suatu pelanggaran terhadap aturan satria.

Kemungkinan besar dia harus menebusnya dengan nyawanya sendiri. Dari ketiga tokoh tersebut di atas, yang mana sebenarnya berwatak yang paling agung, apakah sebenarnya tugas Salya ? Apakah maksud sesungguhnya dari Bhagawan Bhagaspati? Kenapa sampai hati Satyawati mengorbankan ayah kandung demi cinta. Kalau disimak secara mendalam dari ketiga tokoh itu tidak ada yang sempurna. Dan memang demikian kemampuan yang diberikan Tuhan kepada manusia. Dari ketiga tokoh itu, masing-masing ada kepentingan yang sifatnya duniawi. Salya lebih mementingkan kehormatan dan gengsi. Satyawati lebih mementingkan cinta bahkan nafsu, dan Bhagaspati yang juga sering disebut Kaladarma, namun ia tetap, menginginkan sesuatu pembalasan. Kalau Bhagaspati manusia sempurna, ia mestinya tidak mementingkan suatu pembalasan. Salya dan Satyawati bisa dianggap sebagai alat untuk pergi ke Sorga.
 
Walaupun dari ketiga tokoh yang disinggung dalam membicarakan tokoh Salya ini tidak ada yang sempurna, namun ada beberapa nilai yang perlu kita gali, sebagai alat untuk mengarungi hidup ini. Nilai-nilai itu antara lain:

Nilai Satya Wacana (setia, jujur dengan perkataan).
Salya pada waktu kecil sampai dewasa memang binal serta kematiannya berada di pihak Kurawa. annya berada di pihak Kurawa. Seolah-olah ia bukan anak yang manut dengan orang tua, dan seolaholah ia juga tidak mengerti bahwa nilai dan perkawinan bukan sifatnya individu, melainkan sosial. Artinya mengawani anaknya, juga mengawini keluarganya. Demikian pula matinya seorang kesatria pada saat perang Bharatayuda ada di pihak Kurawa, itu bukan berarti seluruh perbuatan diwarnal oleh darma, ketidak-jujuran.
 
Darma sebagai sumber ajaran dalam Mahabrata senantiasa mengetengahkan Satya sebagai inti pelaksanaannya. Satya sebagai sikap jujur dan bertanggung jawab akan segala gerak pikiran, perkataan dan perbuatan senantiasa mewarnai sepak terjang tokoh Salya. Hal ini dilukiskan 2 peristiwa;

Pertama pada waktu ia memenangkan sayembara di kerajaan Kuntiboja yang memperebutkan Dewi Kunti. Peluang untuk hal itu ada. Karena Salya adalah kesatria yang memegang teguh ajaran satya, maka di depan umum ia mengumumkan bahwa ia telah mengikrarkan janji tidak akan kawin selain dengan Satyawati. Sikap Salya ini sejajar dengan konsep sewala brahmacari yaitu seorang istri maupun seorang suami hanya kawin sekali, sekalipun menjanda atau menduda karena cerai hidup ataupun cerai mati. Ajaran sewala brahmacari, yaitu hanya sekali kawin pada waktu deha (perawan). Ada pendapat yang agak ekstrim, walaupun ia tidak kawin secara sah, misalnya hanya bergaul saja dengan laki-laki atau perempuan dan seorang janda atau seorang duda hakikat sewala brahmacari akan hilang. Umumnya yang lebih bisa menjalankan hakikat sewala brahmacari ini adalah para ibu, sedangkan para laki-laki agak jarang.

Kedua Salya konsekuen terhadap ucapannya yaitu pada saat mabuk ditodong untuk menjadi senopati perang oleh Duryodana. Dengan singkat ia menjawab “Kalau memang demikian kehendakmu, baiklah !“ Salya memihak ke Kurawa bukan karena Duryodana menantunya, melainkan karena “makanan”. Oleh karena itu hati-hatilah memakan makanan orang. Apakah makanan itu sudah suci (prasada) atau tidak sekalipun setiap orang harus makan demi kehidupan. Di dalam kitab Maitri Upanisad, VI. 11 : Sesungguhnya ada sesuatu merupakan wujud tertinggi dari inti Brahman yaitu “makanan”. Apabila seseorang tidak makan, dia tidak akan dapat mendengar sesuatu, tidak dapat menyentuh sesuatu, tidak akan mendengar sesuatu, tidak akan dapat berbicara, dan akhirnya mencium sesuatu, tidak akan dapat mengecap sesuatu, dan akhirnya nafas vitalnya dan akan meninggalkan tubuhnya. Selanjutnya diterangkan pula bahwa apabila seseorang itu telah makan, maka ia akan dapat mengisi dirinya dengan banyak kehidupan. Dia akan dapat berpikir baik, akan dapat menyentuh dengan baik dan melihat dengan baik.
 
Demikian artinya makanan, terutama makanan yang didapat berdasarkan dengan wajar. Namun Duryodana tidak menghormati makanan. Dengan makanan ia menyiasati Salya. Oleh karena Salya tahu arti dan makna makanan, maka ia tetap menghormatinya bahwa makanan yang ia makan itu adalah wujud individual dan Brahma. Ia tidak ragu lagi dengan apa yang ia ucapkan, sekalipun harus mengorbankan nyawa, negara kekayaan dan lain-lain.

Nilai Hukum
Salah satu ajaran Pancasrada yang banyak dibahas atau dibicarakan dalam tokoh Salya ini adalah ajaran hukum karmaphala. Hal dapat dibenarkan bahwa ajaran ini sangat mendapat tempat pada jaman Mahabharata, bahkan sampai sekarang terutama pada agama Hindu dan Budha. Umat Hindu sebagai pemilik awal kita Mahabharata sangat yakin bahwa setiap sebab pasti membawa akibat (hukum kausal). Lahirnya kepercayaan ini didasari itu senantiasa melakukan bermacam-macam guna (pekerjaan) untuk mencapai kepuasan pikiran, perasaan dan jasmaninya sesuai dengan ide dasar serta pandangan hidupnya masing-masing. Segala gerak dan aktivitas yang dilakukan itu, baik disengaja maupun tidak, baik atau buruk, disadari maupun di luar kesadaran, benar atau salah. Dan kesemuanya itu disebut karma. Sedangkan phala adalah hasil segala kegiatan dalam bentuk pikiran, ucapan dan perbuatan.
 
Pada hakikatnya proses karmaphala itu sungguh rumit, dan memang ulit dimengerti. Sifatnya kompleks, wujudnya bisa konkrit dan bisa abstrak. Walaupun demikian, karmaphala adalah suatu kebenaran, atau yang nyata-nyata ada. Hukum ini tidak saja berlaku dalam tingkah laku manusia, juga berlaku untuk seluruh alam semesta, binatang, dan tumbuh-tumbuhan. Jika hukum itu ditimpakan kepada manusia, maka hukum itu disebut hukum Karma. Dan jika hukum itu ditujukan untuk alam semesta maka hukum itu disebut Rta. Hukum inilah yang mengatur kelangsungan hidup gerak serta perputaran alam semesta ini. Bintang-bintang di langit bertebaran taat bergerak menurut garis edarnya, sehingga tidak tabrakan satu sama lain. Kemungkinan terjadi tabrakan itu membuktikan cukup lama dan hanya bisa diamati oleh ilmuwan. Matahari patuh bersinar mengikuti kodratnya, sehingga air laut menguap menjadi awan, kemudian jatuh menjadi hujan, akhirnya mengikuti sungai berliku menuju ke laut. Semua kejadian di alam semesta ini diatur oleh hukum Rta. Hukum sebab akibat yang maha sempurna. Demikian pula halnya hukum karma yang mengatur hidup manusia. Setiap perbuatan dan seseorangpasti ada akibatnya. Setiap gerak tentu ada hasilnya.
 
Proses karma dalam ajaran agama Hindu, perhitungannya tidak selamanya didasarkan pada ukuran fisik. Karena fisik ini adalah maya. Karena itu karma jangan diperhitungkan secara lahiriah, melainkan secara rohaniah. Efek atau akibat yang ditimbulkan dalam pikiran itulah karma. Sakit dan tidak sakit, suka dan duka bukan ditinjau dari fisik, melainkan dari segi rohani. Begawan Bhagaspati meminta janji untuk membunuh Salya di saat perang Bharatayuda, bukan fisik Bhagaspati yang berhadapan langsung, melainkan melalui perantara Yudhistira dalam peristiwa ini karma dan phala bisa diukur secara seimbang. Nyawa dibalas dengan nyawa pula.
 
Jenis-jenis Karmaphala
Setiap mengalami masa kehidupan tertentu, manusia tidak akan putus-putus menikmati karmaphala itu. Ada yang sempat dinikmati pada masa hidupnya sekarang, dari perbuatan sekarang, yang disebut dengan prarabda karmaphala; ada pula hasil perbuatan sekarang dinikmati pada masa hidupnya mendatang yang disebut kriyamana karmaphala, serta ada kalanya apa yang kita nikmati sekarang adalah hasil karma kita terdahulu yang belum sempat kita rasakan, yang disebut dengan sancita karmaphala. Menurut keyakinan umat Hindu adanya hukum karmaphala ini akan memberi keyakinan kepada umat manusia untuk mengarahkan segala tingkah lakunya selalu berdasarkan etiket dan cara-cara yang baik sehingga tercapailah kebahagiaan dalam hidup ini dan di akhirat serta pada penjelmaan yang akan datang.
 
Ketiga jenis karmaphala ini, satu dengan lainnya saling menutupi, sehingga sulit untuk membedakan. Namun dengan kesadaran rohani, pembedaan ini menjadi mungkin. Seperti halnya pada kehidupan sekarang ini banyak orang mengeluh pada dirinya sendiri, kenapa justru kita yang sudah berbuat baik, tetapi kehidupan tetap menderita. Sebaliknya ada orang yang perbuatannya selalu tidak baik, tetapi merasakan suatu kemewahan duniawi.
Perbuatan Salya terhadap Begawan Bhagaspati termasuk prarabda karmaphala. Salya bisa menikmati hasilnya di masa hidupnya.•WHD No. 420 Pebruari 2002.

 

 

 
< Prev   Next >
"));