|
Dari Mengamati Kerja Sang Pandai Besi Oleh : Anatta Gotama, Denpasar Penguasa yang di dalam tiada menyebabkan perbuatan, tidak juga Dia bertindak. Tidak juga Dia menghubungkan perbuatan-perbuatan dengan rangkaian pahalanya. Adalah alam material yang menyebabkan semuanya ini. - Bhagavad Gita V- 14. Memposisikan – Diri pada jarak yang aman Terlibat atau melibatkan diri secara emosional pada suatu permasalahan, permasalahan apa saja, tidak memungkinkan kita untuk dapat melihat persoalannya dengan jernih. Untuk dapat melihatnya dengan jernih, kita harus memposisikan-diri pada jarak tertentu ‘yang aman’, darimana segala persoalan yang terkait di dalamnya menjadi tampak jelas dan menyeluruh. Inilah kerja mengamati itu; inilah yang memungkinkan kita dapat merumuskan solusi atau sekurang-kurangnya penyikapan yang pantas terhadap permasalahan yang ada. Memposisikan-diri pada jarak tertentu ‘yang aman’, disinilah umumnya kesulitan kita bertumpu. Apa yang dimaksud dengan ‘jarak yang aman’ dan bagaimana kita dapat memposisikan diri demikian? Inilah pertanyaan kita. Seorang pandai besi, misalnya, boleh jadi memang cukup aman berdekatan dan bermain dengan api yang ada di tungku peleburannya, namun tidak bagi kita. Bagi kita, itu bukan saja tidak aman, namun juga tidak nyaman. Apakah sang pandai besi tak merasakan ketidak nyamanan yang sama? Tidak juga; ia juga merasa sumuk, gerah; akan tetapi, ia telah terbiasa dalam kondisi fisikal seperti itu. Ia, karena terbiasa, telah membentuk ketahanan fisikal dan punya keterampilannya itu. Menggunakan pengandaian itu, kita dapat melihat lebih jelas bahwasanya ‘jarak aman’ dari setiap orang berbeda-beda. Demikian juga rasa nyaman bagi masing-masing orang. Rasa aman dan rasa nyaman, berkaitan erat satu sama lain. Bagusnya, keduanya ternyata bisa dibentuk, bisa dikondisikan dan bisa dikembangkan melalui pembiasan (abhyasa). Pradigma serupa dapat disaksikan dengan mudah di sekitar kita. Dalam memecahkan permasalahan-permasalahan pribadi maupun sosial, pemposisian-diri ini menjadi sedemikian pentingnya. Bilamana kita masuk terlalu dekat dengan tanpa membekali diri dengan ketahanan dan keterampilan memadai -- seperti yang ‘dipunyai oleh ‘si pande besi itu’ -- emosi kita bisa dengan mudah tersulut dan membakar kita. Dan bilamana ini terjadi, niat untuk memecahkan permasalahan, malahan bisa menjerumuskan kita pada kemelut itu sendiri. Ini sama sekali tidak membantu memecahkan permasalahan, tidak menjadikannya lebih runyam saja, sudah baik. Butuh seorang Pandai Besi Seolah-olah telah menjadi kodrat alami, bila emosi tak bisa dihindarkan secara serentak dengan rasio. Mereka hadir bergantian. Mungkin inilah yang disebut sebagai fungsi dari otak kiri dan otak kanan, oleh para neurolog. Kita seolah-olah dikodratkan untuk rawan terhadap -- apa yang disebut sebagai -- split-personality oleh para psikolog dan psikiater. Betapapun juga niat membantu memecahkan suatu permasalahan pribadi maupun sosial, adalah niat yang terpuji. Namun, untuk bisa benar-benar melakukannya, kita mutlak perlu membekali-diri secukupnya. Kita bukan saja perlu berpengetahuan, namun juga berketerampilan memadai. Dalam keterampilan inilah ketahanan mental psikologis -- seperti yang dipunyai oleh si pandai besi itu -- itu ditemukan. Emosi akan dengan mudah tersulut bila ada ikatan emosional atau sentimentil yang kuat dengan permasalahan maupun dengan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Oleh karenanyalah, kita butuh jarak ‘yang aman’ itu, disamping cukup pengetahuan dan ketahanan untuk bisa tetap merasa nyaman berada dekat dengannya guna dapat mengamati secara cermat dan menyeluruh. Mereka yang sekeluarga, seketurunan, sebangsa, seagama, sekepercayaan atau sekeyakinan, setradisi dan sebudaya umumnya punya ikatan emosional dan sentimental yang kuat. Permasalahan internal mereka, menjadi sulit untuk dipecahkan oleh mereka sendiri, sejalan dengan sulitnya ditemukan orang-orang yang berkwalifikasi seperti si pandai besi itu. Disini, mereka butuhkan ‘pihak ketiga’. Namun sayangnya, ‘pihak ketiga’ ini juga belum tentu terlengkapi dengan pengetahuan dan pengalaman langsung yang mencukupi. Perspektifnya bisa jadi sedemikian sempitnya, sehingga tidak memadai untuk melahirkan solusi yang bersifat menyeluruh dan bertahan lama. Penempaan di Perapen Yang mungkin mampu menghasilkan solusi yang terbaik, tentunya ‘si pandai besi’. Sebatang besi yang masih keras, yang belum sepenuhnya dapat dibentuk, dipanasinya dahulu dalam tanur perapen-nya. Setelah cukup lunak, barulah dilakukan penempaan dan pembentukan. Proses pemanasan, pembakaran di perapen, merupakan pengibaratan dan laku tapa-brata. Disamping memurnikan dan melunakkan batin, tapa-brata juga membentuk suatu ketahanan fisik-biologis dan mental-psikologis, dengan mana kita sanggup menghadapi segala permasalahan. Saya belum melihat cara-cara lain di luar itu. mi adalah cara Hindu, seperti yang diutarakan dalam kitab suci Manawa Dharmashastra, Bhagavad Gita, Mahabharata -- sebagai Veda Kelima -- dan Tattwa-Tattwa serta Shastragrama lainnya. Tapa-brata membantu kita untuk dapat melihat diri sendiri dengan sebaik-baiknya. Ia membantu kita untuk memahami bahwasanya secara struktural dan fundamental kita tak ada bedanya satu dengan yang lainnya. Kita terbentuk dari tattwa atau unsur-unsur hakiki yang sama. Yang berbeda hanyalah komposisinya, yang terpantul dalam rupa atau wujud kita masing-masing, Secara ragawi, Anda bisa saja berbeda jender dan wujud fisikal dengan saya. Namun, hingga batas-batas tertentu paradigma dan fenomena mental psikologis kita serupa benar. Hanya mereka yang telah benar-benar dapat melihat dirinya sendiri sebagai tak ada bedanya secara mental-psikologis dan spirit dengan manusia lainlah yang mungkin dapat benar-benar membantu memecahkan berbagai persoalan manusia yang tiada habis-habisnya ini. Adanya perbedaan jasmaniah, keturunan, ras, jender dan lain sebagainya hanyalah karena kita terlahir di alam dualitas, di alam ilusi, di Mayapada ini. Segala perbedaan yang tampak secara superfisial maupun metafisikal, bukanlah sesuatu yang dapat dipegang sebagai Kasunyataan, sejauh mereka hanya pengeliruan yang disebabkan oleh Maya. Disini seorang Hindu berpijak di dalam mengupayakan pemecahan dari setiap persoalan-persoalan yang dihadapinya. Ia menyeberangkan kita dari perspektif dualistis yang terlanjur dibiasakan, sehingga dapat melihat persamaan dalam perbedaan dan perbedaan dalam kesamaan. Visi Sang Mpu dan Visi Gita Di Nusantara, kita sebetulnya telah diwarisi “Bhineka Tunggal Ika”. Ia bukan saja pernah berhasil mempersatukan bangsa ini selama berabad-abad, namun juga masih ampuh di era global ini. Bapak dan para pendahulu bangsa ini telah membuktikan keampuhannya, mengapa kita tidak? Vakya ini hadir dan seorang ‘pandai besi’, seorang Mpu. Melalui penempaan diri dan penggalian yang sedemikian dalam ke lubuk hatinya yang paling dalam, Mpu Tantular memunculkannya di permukaan lewat masterpiece-nya -- Sutasoma. Terlepas dari apakah Tantular itu adalah nama asli beliau atau bukan, secara harfiah ia berarti ‘tidak tertular lagi’. Tak tertular oleh apa ? Mungkin sekali yang dimaksudkan adalah tak tertular lagi oleh keduniawian ini hingga tak lagi terkecoh dengan mudah oleh Maya. Beliau telah mampu melihat segala sesuatunya sedemikian jelas dan jernihnya, beliau telah dapat melihat melalui ‘kacamata’ Kasunyataan. Beliau telah mencapai apa yang digambarkan dalam Gita sebagai “Dia yang berbuat dan telah melepaskan semua keterikatannya, mempersembahkan perbuatan-perbuatannya kepada Tuhan, bahkan tidak akan disentuh oleh dosa bagaikan daun tunjung (padma) yang tiada tersentuh oleh air”. [BC V – 10]. Melihat dan mengamati segala sesuatu yang di luar sana mungkin tidaklah begitu sulit, sejauh kita telah terbiasa mengarahkan perhatian ke luar. Namun kesulitan segera menghadang, bilamana hendak mengarahkan perhatian ke dalam. Padahal, untuk memahami diri-sendiri, hanya dimungkinkan lewat kefasihan dalam menarik perhatian ke dalarn ini. Gita mengibaratkan visi Sang Mpu ini sebagai yang penyu menarik anggota badannya ke dalam cangkangnya yang keras itu. Beliau menarik semua indriya dan segenap objek-objeknya, sehingga jiwanya mencapai kemurnian yang bijaksana”[BG II - 58]. Mengintip bagaimana seorang pandai besi bekerja, bagaimana ia melebur dan melunakkan kekerasan dan kekakuan besi, menempa dan membentuknya menjadi berbagai peralatan yang berguna, memberi pelajaran yang sangat bermanfaat. Sesungguhnya, apapun di seputar kita bisa mengajari kita berbagai hal yang bermanfaat. Masalahnya hanya pada kemampuan melihat, untuk selanjutnya mengekstraksikan esensi yang bermanfaat bagi kehidupan. Bahan bakunya telah ada disini, dan senantiasa ada disini, slap untuk diolah. Hanya karena masih ada ‘sesuatu’ yang menghalangi mata kita sajalah, kita tak dapat melihatnya dengan baik. Tapa-brata-yoga-samadhi seperti apa yang dirumuskan oleh para pendahulu kita, tidaklah harus dimaknai, disikapi dan dilakoni secara konvensional seperti sangkaan kebanyakan orang. Ia bisa dilaksanakan dan masih tetap relevan dalam kehidupan modern yang mengglobal ini. Umat manusia telah memanfaatkan akal budinya dalam melahirkan sains dan teknologi untuk memudahkan hidupnya, juga bisa dimanfaatkan untuk memudahkan dharma-sadhana.• WHD No. 420 Pebruari 2002. |