|
VIRYA Potensi Ramuan Obat Oleh : Ngurah Nala Universitas Hindu Indonesia
Pembagian ramuan obat berdasarkan atas virya atau potensi yang dikandung oleh suatu ramuan obat, ada dua versi. Versi pertama menganggap bahwa ramuan obat berdasarkan atas virya yang ada di dalamnya cukup hanya terdiri atas 2 golongan, sedangkan versi lainnya mengatakan sebaiknya dibagi atas 8 golongan. Alasannya, pembagian tersebut disesuaikan dengan khasiat yang dikandung oleh ramuan obat dan diagnosis penyakitnya.
Alasan yang dikemukakan oleh kelompok pertama yang membagi ramuan obat berdasarkan atas virya ini terdiri atas 2 golongan, bahwa pada kenyataannya hanya ada dua potensi (virya) utama yang terdapat di dalam ramuan obat, yakni potensi usna atau panas dan sita atau dingin (di Bali disebut : anget dan tis), walaupun potensi yang dikandung setiap ramuan obat ditentukan pula oleh keberadaan unsur panca mahabhuta yang mendominasi bahan ramuan itu. Kedua jenis pembagian ramuan obat ini adalah: 1. Ramuan virya usna Ramuan obat yang dimasukkan dalam kelompok virya usna atau usna dravya ini ialah ramuan yang memiliki potensi panas (Bali : anget). Potensi panas yang dikandungnya ini disebabkan oleh adanya kandungan unsur bhuta teja (panas) yang mendominasi ramuan. 2. Ramuan virya sita Ramuan obat yang mempunyai potensi dravya sita atau virya sita ini, memiliki potensi dingin (Bali : tis). Keadaan dingin ini sebagai akibat dari ramuan ini didominasi oleh unsur bhuta apah (air) dan perthivi (elemen padat) di dalamnya. Pandangan yang mengatakan bahwa ramuan obat dapat dibagi lebih dari dua kelompok, yaitu terdiri atas 8 kelompok, adalah berdasarkan pemikiran bahwa ramuan obat tidak hanya mengandung dua potensi itu saja, tetapi lebih dari dua. Selain itu diperhatikan juga keberadaan unsur panca mahabhuta yang mendominasi ramuan, sehingga penggolongannya menjadi: 1. Ramuan virya sita Ramuan obat yang berpotensi virya sita ini dingin, didominasi oleh dua buah unsur panca mahabhuta, yaitu unsur bhuta perthivi (bumi, zat padat) dan apah (air, zat cair). 2. Ramuan virya usna Ramuan obat yang berpotensi virya usna ini panas, lebih banyak mengandung unsur bhuta teja (panas) dibandingkan unsur bhuta lainnya. 3. Ramuan virya snigdha Ramuan obat yang memiliki virya snigdha ini lembut berminyak, didominasi hanya oleh satu buah unsur panca mahabhuta, yakni oleh unsur bhutajala atau apah (air, zat cair). 4. Ramuan virya ruksa Ramuan yang berpotensi virya ruksa ini, kenyal tanpa minyak, didominasi oleh satu buah unsur panca mahabhuta, yaitu unsur bhuta vayu. 5. Ramuan virya guru Ramuan obat yang mengandung potensi virya guru ini berat dan kental, didominasi dua buah unsur panca maha bhuta, ialah oleh unsur bhuta perthivi (zat padat) dan apah (zat cair). 6. Ramuan virya laghu Ramuan obat yang berpotensi virya laghu ini, ringan dan encer, didominasi oleh tiga buah unsur panca mahabhuta, yakni unsur bhuta teja (panas, sinar), vayu (udara, gas) dan akasa (hampa, kosong, rongga). 7. Ramuan virya manda Ramuan obat yang berpotensi virya manda ini, hambar, didominasi hanya oleh sebuah unsur panca mahabhuta, yakni oleh unsur bhuta apah (air, zat cair). 8. Ramuan virya tiksna Ramuan obat yang berpotensi virya tisksna ini, menyengat, hanya didominasi oleh sebuah unsur panca maha bhuta, yaitu unsur bhuta teja (panas, sinar). Pembagian sesuai dengan potensi atau virya yang dikandung ramuan obat ini menurut sebagian para ahli Ayurveda, disesuaikan dengan diagnosis penyakit (rupa nidana) yang hanya terdiri atas 2 jenis, yakni sakit panas dan dingin. Istilah panas dan dingin yang berkaitan dengan penyakit ini bukanlah semata-mata didasarkan atas tinggi rendahnya suhu tubuh orang bersangkutan. Diagnosis panas menurut Ayurveda, terhadap suatu penyakit yang diderita oleh seseorang, bila diukur suhu tubuhnya dengan termometer tidak akan menunjukkan kenaikan suhu. Suhu tubuhnya mungkin saja normal, bahkan kadang-kadang lebih rendah dari normal. Demikian pula diagnosis dingin, tidaklah berarti suhu tubuh orang tersebut lebih rendah dari normal. Di dalam dunia pengobatan Bali atau usada Bali kedua penyakit ini disebut sakit panes (panas, usna) dan nyem (dingin, sita). Sedangkan sebagian ahli Ayurveda cenderung membagi lebih terperinci lagi potensinya, karena disesuaikan dengan spesifikasi setiap penyakit sehingga akan lebih mudah dalam pengobatannya.
VIPAKA Vipaka, adalah rasa atau kecap dari ramuan obat setelah dicerna di dalam alat pencernaan. Makanan atau ramuan obat yang mengandung tepung (karbohidrat) pada umumnya akan berubah rasanya menjadi manis setelah dicerna. Misalnya nasi yang rasanya hambar, setelah dikunyah akan terasa manis. Ramuan obat berdasarkan atas vipaka ini, dimana dominasi dari unsur panca mahabhuta yang dikandungnya sangat menentukan, dapat dibagi atas 3 kelompok, yakni: 1. Ramuan vipaka svadu atau madhura Rasa ramuan obat jenis vipaka svadu, yang rasanya manis setelah dicerna, bahannya didominasi oleh unsur bhuta perthivi (elemen padat) dan apah (air). Nasi yang mengandung unsur bhuta perthivi dan apah yang dominan, setelah dicerna akan menghasilkan rasa manis. Rasa manis inilah yang disebut svadu vipaka. 2. Ramuan vipaka amla. Rasa ramuan obat vipaka amla, yang rasanya masam setelah dicerna, bahannya didominasi oleh unsur bhuta apah (air) dan teja (panas). Buah pisang yang rasanya manis agak sepet setelah dicerna rasanya menjadi masam. Rasa masam inilah yang disebut amla vipaka. 3. Ramuan vipaka katu Rasa ramuan obat vipaka katu, yang rasanya pedas setelah dicerna, bahannya didominasi oleh unsur bhuta vayu (udara) dan akasa (kosong, rongga, leher). Daun kubis yang rasanya manis dan sepet setelah dicerna menjadi terasa pedas. Rasa pedas inilah yang disebut katu vipaka. Reaksi, efek atau khasiat dari suatu ramuan obat sering belum dapat dijelaskan hanya berdasarkan aras rasa (kecap), guna (sifat), virya (potensi) dan vipaka (rasa setelah dicerna) yang dikandung di dalam ramuan dimaksud. Keadaan ini disebabkan unsur bhuta yang terkandung di dalamnya, yang dimanifestasikan dalam rasa, guna, virya dan vipaka, belum kelihatan peranannya. Peranannya atau khasiatnya baru tampak setelah ramuan obat dimaksud diberikan kepada pasien atau orang yang menderita sakit (vyadhyu paststa).
Prabhava Pada kenyataannya, ramuan obat tidaklah hanya memiliki sensasi berupa rasa, virya, dan vipaka saja. Ada sensasi lain lagi yang ada dalam bahan obat yang tidak dapat dijelaskan peranannya oleh para vaidya Ayurveda. Substansi yang tidak dapat dijelaskan ini di dalam badan, dalam kitab Charaka Samhita disebut prabhava. Artinya, sesuatu yang tidak mengikuti aturan, atau suatu aksi spesifik dari suatu ramuan obat yang tidak ada kaitannya secara langsung dengan rasa, virya dan vipaka. Yang dimaksud dengan aturan ini, ialah: 1) setiap bahan obat atau makanan yang memiliki svadu rasa (manis), tikta rasa (pahit) dan kasaya rasa (sepet), potensinya adalah sita virya (dingin, tis); 2) makanan atau ramuan obat yang mempunyai amla rasa (masam), lavana rasa (asin) dan katu rasa (pedas), potensi yang dikandungnya ialah usna virya (panas, anget). Bila terjadi penyimpangan potensi ini, maka keadaan ini disebut prabhava. Semua bahan makanan atau bahan obat yang mempunyai rasa manis, pahit dan sepet, seharusnya menurut aturan potensinya adalah dingin, sita virya. Tetapi ada bahan makanan dan ramuan obat tertentu yang tidak mengikuti aturan ini. Ada penyimpangan potensi. Potensi yang seharusnya dingin malahan panas, usna virya. Demikian pula sebaliknya. Ada pula bahan makanan dan ramuan obat yang rasanya masam, asin dan pedas, seharusnya berpotensi panas atau usna virya, tetapi potensinya dingin, sita virya.
Mengenai prabhava, yang aksinya di dalam tubuh belum dapat dijelaskan, karena tidak mengikuti aturan yang telah ada hanya dapat dimengerti dengan pemberian contoh-contoh saja. Untuk memahami hal itu para ahli Ayurveda memberikan contoh beberapa bahan makanan yang mengalami penyimpangan itu, sebagai berikut: Madu yang rasanya manis memiliki prahhava usna virya. Pada hal menurut aturan, makanan atau ramuan obat yang mengandung rasa manis, svadu rasa, potensinya seharusnya dingin, sita virya. Bukan usna virya, panas. Demikian pula halnya dengan buah jeruk yang masam mempunyai prabhava sita virya, dingin. Seharusnya menurut aturan, buah yang rasanya masam memiliki usna virya, panas. Buah asam yang rasanya masam dan seperti memiliki prabhava sita virya, dingin. Umbi bawang yang rasanya pedas mempunyai prabhava situ virya, dingin. Rimpang kunir yang rasanya pahit mempunyai prabhava usna virya, panas seharusnya menurut aturan adalah dingin. Buah Delima yang rasanya seperti mempunyai potensi sesuai aturan, yakni dingin, tetapi vipaka-nya yang berbeda, yaitu prabhava svadu vipaka, rasanya setelah dicerna adalah manis, seharusnya pedas. Dari beberapa contoh bahan makanan dan ramuan obat lainnya yang tidak mematuhi aturan yang telah baku, yang tidak mungkin diketengahkan di sini• WHD No. 426 Agustus 2002. |