Logo PHDI Pusat
Makna Pecanangan Print E-mail

MAKNA “PECANANGAN”
Oleh : Miswanto, Denpasar

Biasanya kita sering melihat para sulinggih, pemangku, ataupun orang-orang tua di Bali mempunyai kebiasaan “nginang” atau dalam bahasa halusnya disebut “mecanangan” (biasanya untuk kalangan sulinggih), suatu kegiatan makan sirih/base yang sudah dicampur dengan buah pinang/buah, kapur dan gambir. Pecanangan (bahan-bahan untuk mecanangan) itu biasanya menjadi “rayunan” untuk seorang sulinggih. Bahkan ada yang mengatakan bahwa itu adalah kebutuhan utama.

Kebiasaan tersebut (baca nginang, yang juga merupakan Bahasa Jawa dan mempunyai arti yang sama) juga sering dilakukan oleh para orang tua di Jawa pada jaman dahulu.
Berikut kita kupas satu per satu tentang esensi yang terkandung dalam pecanangan tersebut yang sebagaimana disebutkan di muka bahwa pecanangan itu terdiri dari sirih, buah pinang, kapur dan gambir.

Sirih
Sirih dalam Bahasa Jawa disebut sebagal “suruh”, yang kalau dikaji lebih lanjut merupakan gabungan dan suku kata “su” dan “wruh”, Su, ini adalah kata Jawa Kuno yang berarti baik, sungguh, benar (I Gde Semadi Astra, dkk, 1984). Sedangkan wruh adalah kata Jawa Kuno juga yang berarti tahu atau pengetahuan (kawruh).
Dengan demikian suruh dapat diartikan sebagai pengetahuan yang baik dan benar atau utama, yang mempunyai maksud bahwa kita sebagai manusia yang dikaruniai akal budi harus mempunyai pengetahuan yang baik dan benar sebagai bekal di masa tua nanti karena hanya pengetahuanlah teman terbaik dalam hidup ini sebagaimana terungkap dalam Kekawin
Niti Sastra 11.5
yang berbunyi:
“Norana mitra man glewihna waraguna maruhur”. (Tiada teman sebaik pengetahuan yang utama)
Namun demikian, untuk mencapai pengetahuan yang utama itu biasartya pahit rasanya sebagaimana rasa sirih waktu dimakan dan kalau tidak tawar kita bisa muntah-muntah. Akan tetapi kita juga harus berpikir akan hasil dan pengetahuan tersebut yang bisa membuat kita mencapai kebahagiaan rohani. Ingat peribahasa:
“Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian”.

Buah Pinang
Buah pinang dalam Bahasa Jawa disebut sebagai “jambe” yang erat kaitannya dnegan “jampi” yang dalam arti luasnya adalah mantra (biasanya jampi-jampi yang berupa mantra ini diberikan oleh seorang dukun kepada pasiennya). Sedangkan mantra ini adalah kata Sanskerta yang berasal dan kata “man” yang berarti pikiran dan “trana” yang berarti membebaskan. Di sini dimaksudkan bahwa kita harus mampu membebaskan pikiran kita dan segala macam bentuk indriya/nafsu sebagai disebutkan dalarn Sarasamuccaya 80 yang berbunyi:
“A pan ikan manah ngaranya, ya ika witning indriya, maprawrtti ta ya ring subha asubha karma, matangnyan ikang manah juga prihen kahartanya sekareng”. (Sebab yang disebut pikiran itu, adalah sumber dari segala macam indriya atau nafsu yang menggerakkan baik buruknya perbuatan, oleh karena itu pikiranlah yang patut diupayakan pengendaliannya).

Kapur
Kapur sebenarnya berasal dari kata Sanskerta atau Jawa Kuno “karpura” yang artinya barang yang berwarna putih, dan batu putih (Prof. Dr. M.M. Sharma, 1985 : 56). Dan kapur sendiri yang biasa digunakan untuk membersihkn lendir pada ikan tertentu sebelum dimasak. Dalam hal ini dimaksudkan agar seminimal mungkin kita bisa menjadi orang yang berfikir, berkata, dan bertindak “suci” walaupun kita tidak bisa menjadi orang suci seperti putihnya warna kapur tersebut.

Selain itu kita juga perlu memusnahkan buah dan segala perbuatan kita yaitu dengan tidak berpikir akan hasil dan segala kerja yang kita lakukan sebagaimana kapur menghilangkan lendir pada ikan tersebut dan selalu mempersembahkan apa yang kita lakukan hanya kepadaNya.

Hal ini dapat kita lihat pada Bhagavad Gita V. 10 yang berbunyi:
Brahmanya adhaya ktirmani sanjam tyaktva karoti yah, Lipyate na sa papena padma patram ivambhasa. (Mereka yang menipersembahkan semua kerjanya, kepada Brahman, berbuat tanpa motif keinginan apa-apa tak terjamah oleh dosa papa, laksana daun teratai oleh air).

Selain itu kita juga diharapkan untuk tidak terpengaruh oleh hasil kerja kita, baik yang berupa pujian ataupun hinaan karena dan semula memang kita tidak mempunyai motif apapun. Mengenai hal tersebut masih dalam Kitab yang sama dijelaskan dalam Adhaya V sloka 20 yang berbunyi: Na prahrs yet pri yam prapya nodvijet prapya capriyam’. Sthira buddhir asammudho brahma vid Brahmam sthitah (Dia yang tiada bergirang menerima suka dan juga tidak bersedih menerima duka, tetap dalam kebijaksanaan, teguh iman, mengetahui Brahman, bersatu dalam Brahman).

Ketiga bahan tersebut (sirih, buah pinang dan kapur) yang mempunyai makna agar kita berpengetahuan suci, melepaskan indriya dan berbuat suci dengan menghilangkan buah dan keija selaras dengan apa yang tersurat dalam Lontar Vrhaspati Tattva yang berbunyi:
“Telu prakara nikang sadhana, anung gawayakena de sang mahyun ing kale pasan, jnanabhyudreka, ngaranya ikang wruh ring tattwa kabeh, indriya yoga inarga ngaranya ikang tan jenek ring wisaya, trsnadoksaya ngaranya ikang humilangaken phalaning subha asubha karma”.
(Ada tiga cara yang harus dilakukan oleh Sang Sadhu untuk mencapai kalepasan yaitu :Jnanabhyudreka yang berarti tahu semua tattwa, Indriya yoga marga yang berarti tidak menikmati indriya/nafsu, Trsnadoksaya, yaitu memusnahkan buah perbuatan baik dan buruk).

Dari uraian tersebut, maka sangatlah tepat jika ketiga bahan tersebut, dijadikan bahan untuk “porosan” yang selain sebagai simbol esensi ilahi (Brahma, Visnu dan Siva), juga mempunyai arti sumbu, di mana pada lampu minyak misalnya, sumbu tersebut bisa membawa minyak naik yang kemudian hilang dan menjadi sesuatu yang terang. Seperti itulah ketiga cara itu (Jnanabhyudreka, Indriya yoga marga, dan Trsnadoksaya) akan membawa manusia menuju pencerahan dan kelepasan (moksa).

Gambir
Gambir
dalam Bahasa Jawa berarti senang, bahagia, ataupun gembira yang kemudian dikhususkan lagi menjadi “gambiraning ati” yang artinya kebahagiaan hati atau batin. Jadi setelah melaksanakan ketiga hal seperti yang disebutkan diatas niscaya kita akan mendapatkan kebahagiaan rohani yang tidak kita dapatkan pada materi yang kita miliki. Itulah beberapa makna yang dapat kita ambil dari pecanangan seorang sulinggih. Tentunya tidak akan sempurna jika kita hanya memahami makna tersebut tanpa mempraktekkannya.•WHD No. 428 Oktober 2002.

 

 

 
< Prev   Next >
"));