Logo PHDI Pusat
Cara Menyusun dan Menyampaikan Dharma Wacana Print E-mail

Cara Menyusun dan Menyampaikan
Naskah Dharma Wacana Dalam Diklat
Dharma Pracaraka ... (1)

Oleh : I Ketut Subagiasta IHDI Denpasar
(Penulis adalah Guru Besar Bidang Saiva Siddhanta, Fakultas Brahma
Widya, IHDN Denpasar)

Upaya untuk meningkatkan keterampilan dalam memberikan dharma wacana kepada umat Hindu dapat ditempuh melalui pelaksanaan pendidikan dan pelatihan (diklat). Selain itu dapat pula ditempuh melalui latihan mandiri atau praktek langsung oleh umat Hindu yang berminat untuk memberikan dharma wacana. Masih ada pula cara yang dapat ditempuh adalah melalui studi pada perguruan tinggi agama Hindu yang ada di Indonesia. Cara manapun yang ditempuh adalah baik, asalkan ada kesungguhan untuk menekuni kegiatan dharma wacana.

Bagi umat Hindu yang ingin menjadi pembicara, nara sumber, informan, pendharma wacana atau dharma pracaraka, orator, juru penerang (jupen), penyuluh agama Hindu sesuai kebutuhan untuk menjadi penutur agama Hindu merupakan kesempatan emas bagi siapapun yang meminatinya. Bisa saja dari kalangan pemuda, yowana, mahasiswa, siswa, tokoh agama, tokoh masyarakat, dosen, guru, pejabat, ataupun yang lainnya untuk dapat menjadi pendharma wacana yang baik dan profesional, asalkan yang bersangkutan ada kemauan, ada kemampuan, ada pengetahuan, ada kesempatan untuk turut berperan dalam memberikan dharma wacana.

Dharma wacana merupakan salah satu cara untuk menginformasikan ajaran-ajaran agama Hindu kepada umat Hindu pada khususnya dan umat mahusia pada umumnya. Dalam kondisi kekinian bahwa dharma wacana masih sangat relevan untuk dijadikan metode dalam membina dan mengembangkan visi dan misi agama Hindu di Bali maupun di Indonesia. Dharma artinya agama. Wacana artinya perkataan, wejangan, penuturan, pembicaraan, kata-kata dan sebagainya. Jadi dharma wacana artinya cara menuturkan isi ajaran agama Hindu kepada umat Hindu dan umat manusia pada umumnya.

Pelaksanaan diklat dharma wacana atau diklat dharma pracaraka merupakan upaya positif yang patut didukung dan ditingkatkan terus intensitasnya, terutama oleh para mahasiswa, yang tujuannya untuk menambah tenaga-tenaga terampil dalam memberikan dharma wacana. Selain itu bahwa tujuan diklat dharma pracaraka adalah untuk memberikan pemahaman yang baik dan benar tentang teori dan praktek dharma wacana. Sebagai tindak lanjut dan pelaksanaan diklat dharma pracaraka adalah untuk memberikan pemahaman yang baik dan benar tentang teori dan praktek dharma wacana. Sebagai tindak lanjut dan pelaksanaan diklat dharma pracaraka adalah untuk mencetak kader-kader baru dalam bidang dharma wacana, sehingga harapan di masa depan bahwa umat Hindu telah memadai memiliki tenaga pendharma wacana dan. kalangan pemuda dan pemudi Hindu. Selanjutnya juga untuk dapat meningkatkan penyebaran informasi agama Hindu lewat pendharma wacana, sehingga pemahaman umat Hindu mengenai isi ajaran agamanya menjadi semakin baik dan berkualitas.
Pelaksanaan dikiat dharma wacana atau dharma pracaraka yang digalang oleh para mahasiswa IHDN Denpasar lewat UKM Dharma Wacana, merupakan hal yang sangat baik dan sangat positif, guna melahirkan mahasiswa yang kritis, kreatif, dinamis, dan aplikatif dalam mencermati kondisi keagamaan Hindu di dalam masyarakat Hindu dewasa ini dan di masa yang akan. Kegiatan seperti ini perlu dicontoh terus oleh para generasi muda Hindu yang lainnya, yang belum berperan dalam dikiat dharma wacana atau dikiat dharma pracaraka kali ini. Tentu masih terbuka lebar peluang di masa berikutnya untuk turut aktif dalam menyikapi dinamika Hindu lewat dharma wacana.

Cara Menyusun Naskah Dharma Wacana
Dalam pelaksanaan dharma wacana bahwa hal yang sangat penting untuk diperhatikan adalah adanya kesiapan naskah atau teks dharma zvacana tersebut. Bilamana tidak disiapkan teksnya dirasakan kurang mantap pelaksanaan dharma wacana itu. Memang idealnya bahwa dalam pelaksanaan dharma wacana itu perlu menyiapkan naskah atau teks yang baik dan benar, agar dalam penyajiannya lebih terarah dan mantap. Namun demikian ada pula para pendharma wacana yang menyajikan dharma wacana tanpa memakai teks. Hal ini dikembalikan kepada kesiapan pendharma wacana tersebut,
asalkan materinya sudah mantap, dikuasai, dipahami, disajikan secara sistematis, dan tidak tumpang tindih. Dalam pelaksanaan dharma wacana, sebaiknya disajikan dengan memakai teks, supaya lebih baik, benar, terarah, sistematis, kronologis, dan jelas.
Bagaimana cara menyusun naskah dharma wacana ? Pertanyaan ini sangat sederhana dan mudah. Namun demikian bahwa dalam praktek untuk menyusun naskah dharma wacana sering terjadi banyak kesulitan, banyak hambatan, naskah tidak relevan dengan keinginan umat yang membutuhkannya, naskah sering dibuat asal-asalan, karena dikejar waktu, sering naskah dibuat hanya untuk memenuhi harapan pemohon, tetapi isinya masih kurang baik, dan sebagainya sangat banyak alasan bagaimana menyusun naskah dharma wacana yang tergolong baik. Sekilas disajikan cara menyusun naskah dharma wacana seperti benrikut ini:
 
1. Siapkan Sumber Bacaan
Dalam membuat naskah dharma wacana, sangat perlu disiapkan beberapa sumber bacaan yang memadai sangat penting dimiliki oleh penyusun dharma wacana. Bila saja buku-buku yang terkait dengan tattwa, buku tata susila, buku tentang upacara agama Hindu, buku tentang pendidikan agama Hindu, buku mengenai dana punia, buku mengenai lingkungan hidup perspektif agama Hindu, buku tentang keluarga dalam pandangan agama Hindu, buku tentang kesehatan dilihat dari sudut Hindu, dan buku lainnya yang cocok untuk dijadikan sumber materi dharma wacana.

2. Bacalah dan Pahamilah Isi Sumber Bacaan
Sebelum naskah dharma wacana disusun, maka terlebih dahulu bahwa wacana, sehingga harapan di masa depan bahwa umat Hindu telah memadai memiliki tenaga pendharma wacana dari kalangan pemuda dan pemudi Hindu. Selanjutnya juga untuk dapat meningkatkan penyebaran informasi agama Hindu lewat pendharma wacana, sehingga pemahaman umat Hindu mengenai isi ajaran agamanya menjadi semakin baik dan berkualitas. Pelaksanaan diklat dharma wacana atau dharma pracaraka yang digalang oleh para mahasiswa IHDN Denpasar lewat UKM Dharma Wacana, merupakan hal yang sangat baik dan sangat positif, guna melahirkan mahasiswa yang kritis, kreatif, dinamis, dan aplikatif dalam mencermati koridisi keagamaan Hindu di dalam masyarakat Hindu dewasa ini dan di masa yang akan. Kegiatan seperti ini perlu dicontoh terus oleh para generasi muda Hindu yang lainnya, yang belum berperan dalam dikiat dharma wacana atau dikiat dharma pracaraka kali ini. Tentu masih terbuka lebar peluang di masa berikutnya untuk turut aktif dalam menyikapi dinamika Hindu lewat dharma wacana semua bacaan yang diperlukan untuk kepentingan dharma wacana telah dibaca dan dipahami isinya. Hal ini maksudnya adalah agar pendharma wacana telah membaca sumber bacaau dengan baik dan selanjutnya dapat dipahami dengan baik pula. Naskah dharma wacana menjadi baik, bilamana yang menyusun dharma wacana itu telah menguasai isi atau materi yang ber-sumber dan sumber bacaan yang dimiliki. Terkadang buku sudah dimiliki, tetapi buku itu belum dibacanya dan juga belum dipahami isinya, maka hal ini akan menjadi penghambat dalam penyusunan naskah dharma wacana.

3. Buat Outline atau Kerangka Naskah Dharma Wacana
Idealnya bagi pendharma wacana bahwa dalam menyusun naskah itu diawali dengan membuat garis besar (outline) atau kerangka dan naskah. Bila hal ini telah ditempuh, maka dalam menyusunnya menjadi lebih mudah, terarah, dan lebih cepat membuatnya. Garis besar naskah akan membantu bagi penyusun naskah untuk menulis naskah lebih sistematis, lebih efektif, lebih kronologis, dan dapat menyesuaikan dengan permintaan dan umat Hindu, bila dharma wacana itu merupakan permohonan dan umat Hindu. Dengan adanya outline itu, maka si penyusun naskah tinggal mengembangkan ide, gagasan, pemikiran yang perlu dicantumkan, dan dituliskan dalam naskah dharnia wacana secara runut.

4. Tulis Naskah Dharma Wacana dengan Sederhana dan Jelas
Naskah dharma wacana yang baik adalah naskah yang disusun dengan sederhana dan jelas. Kesederhanaan naskah maksudnya adalah naskah yang isinya tidak berlebihan, tidak bertele-tele, tidak melebar dengan inti kegiatan yang diharapkan oleh umat Hindu, tidak menimbulkan persepsi yang rancu, tidak membuat kebingungan bagi penerimanya, tidak sesuai dengan sumber pustaka suci yang dirujuk, dan sebagainya. Unsur jelas, maksudnya adalah bahwa naskah dharn1a wacana itu selain baik, benar, relevan, dan akurat, maka unsur jelas makna yang dikandungnya, jelas bahasanya, jelas sumber acuannya, dan jelas pula isi dharma wacana itu.

5. Tulis Naskah dengan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar
Mengenai isi dharma zvacana dilihat dan segi komponen bahasanya, maka perlu diperhatikan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Walaupun dalam kenyataannya sering juga para pendharma wacana memakai bahasa lokal atau bahasa daerah, maka hal itu tergolong masth relevan. Namun dalam penulisarnya diusahakan dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar, mengingat peserta yang menerima dharma wacana biasanya tergolong heterogen atau pendengamya tergolong majemuk/plural. Bukan berarti memakai bahasa daerah itu lidak baik, bisa saja digunakan bahasa daerah lainnya yang adaptif, seperti bahasa Sasak, bahasa Sang Hyang, bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Banjar, bahasa Madura, bahasa Bugis, bahasa Hindi, bahasa Sansekerta, dan sebagainya.

6. Tulis Naskah Dalam Jumlah Memadai
Dilihat dan segi jumlah halamannya bahwa naskah dharma wacana tidak perlu terlalu banyak halamannya. Minimal 3 halaman sampai dengan 5 halaman kwarto, dengan durasi sajian lebih kurang 15 menit sampai 20 menit, atau bisa juga menyesuaikan maksimal 30 menit. Jika waktu sajian dharma wacana terlalu lama, maka hal itu bisa membosankan, oleh karena si pendengar dharma wacana pada umumnya masih melanjutkan kegiatan persembahyangan bersama. Lain lagi halnya jika kegiatan dharma wacana itu dikaitkan dengan kegiatan dharma tula (dialog agama Hindu), maka dan segi waktu dan jumlah halaman naskah dharma wacana bisa lebih banyak. Mengingat setelah sajian kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab atau diskusi yakni melakukan tanya jawab antara peserta atau pendengar dengan penyaji dharma wacana.

7. Kutipkan Materi Sumber Ajaran Agama Hindu
Dalam menyusun naskah dharma wacana sangat perlu disusun teks dengan mencantumkan sumber ajaran agama Hindu secara jelas sesuai dengan sumber pustakanya, sumber referensinya, sumber bibliografinya, sumber teksnya, sumber lontarnya, dan sebagainya. Jika hal ini telah dilakukan, maka naskah tersebut telah memenuhi syarat acuan yang dirujuk oleh penyajinya. Usahakan dalam menyusun naskah dharma wacana untuk tidak menulis hal-hal yang bersifat porno, kotor, keras, kritikan tajam atau nyentil, pesan yang membingungkan, qan membuat umat Hindu menjadi bentrok atau konflik. Hal-hal seperti itu dihindari dan tulislah hal-hal yang menyejukkan, membahagiakan, membuat ketenangan, membangkitkan kualitas spiritualitas yang tinggi, membangkitkan suasana persatuan dan kerukunan, mampu menjalin kedamaian bersama dalam masyarakat Hindu secara internal dan eksternal, dan sebagainya.

Demikian beberapa inti yang perlu diperhatikan dalam menyusun naskah dharma wacana. Tentunya ketentuan lainnya dalam menulis naskah dharma wacana yang baik dan benar, masih bisa disesuaikan lagi berdasarkan kepentingan dan masingmasing penyusurinya. Asalkan naskah itu masih tergolong relevan dengan aktivitas umat Hindu yang menerima sajian dharma wacana tersebut.

Cara Menyampaikan Naskah Dharma Wacana
Bagaimana cara menyampaikan naskah dharma wacana ? Hal ini perlu juga dipahami secara baik dan benar, agar pesan-pesan yang dituliskan dalam naskah dharma wacana bisa diterima dengan baik dan benar pula oleh si pendengar, dalam hal ini oleh umat Hindu yang mengikuti kegiatan dharma wacana. Ada beberapa cara dalam menyampaikan naskah dharma wacana sebagai berikut ini.

1. Menyajikan dengan Spontan
Sajian model ini (menyajikan dengan spontan) bisa dilakukan, asalkan si pendharma wacana telah menguasai isi teks, telah memahami makna teks, telah berpengalaman dalam memberikan dharma wacana. Sumbersumber ajaran agama Hindu yang telah dituliskan dalam naskah dharma wacana telah dikuasai dengan baik dan benar, maka hal ini lebih komunikatif dan bersifat luwes. (BERSAMBUNG) ....................WHD No. 505 Januari 2009

 

 

 
< Prev   Next >
"));