Logo PHDI Pusat
Cara Menyusun dan Menyampaikan Dharma Wacana .... (2) Print E-mail

Cara Menyusun dan Menyampaikan
Naskah Dharma Wacana Dalam Diklat
Dharma Pracaraka ……….(2)

Oleh : I Ketut Subagiasta IHDI Denpasar
(Penulis adalah Guru Besar Bidang Saiva Siddhanta, Fakultas Brahma
Widya, IHDN Denpasar)

(Sambungan WHD No. 505)
Kesannya kurang formal dan bersifat informal. Cara sajian ini masih ada kesempatan bagi si penyaji untuk mengembangkan isi dharma wacana, jadi sifat sajiannya tidak terasa kaku dan monoton. Cara ini menjadi tidak baik, bila isi sajian menjadi melebar dan keluar dan isi teks. Apalagi terlalu banyak sajian yang tergolong porno, maka hal inilah kelemahan dari sajian yang bersifat spontan atau oral tanpa teks, yang biasanya bagi para pendengar menjadi risih (ngerengkeng), gara-gara si pendharma wacana terlalu banyak sajian pornonya dan sedikit materi agamanya.

2. Menyajikan dengan Membaca Teks
Bagi sebagian besar pendharma wacana biasanya lebih suka untuk membaca naskah dharma wacana. Hal ini bisa dilakukan bilamana sudah terbiasa untuk membaca teks di hadapan publik. Membaca teks juga perlu kebiasaan. Hal ini diperlukan keterampilan membaca pemahaman. Selain itu juga diperlukan keterampilan membaca nyaring, tatkala dalam memberikan dharma wacana itu tidak disediakan media speaker oleh umat. Jadi dalam membaca naskah dharma wacana perlu keterampilan membaca, maka diperlukan juga keterampilan penguasaan audien. Siapakah umat yang hadir dihadapan pendharma wacana?

Apakah para tokoh agama, tokoh masyarakat, kaum pemuda-pemudi, para intelektual, kaum wanita, para remaja, atau para pejabat, dan sebagainya. Hal ini perlu diketahui oleh pendharma wacana, agar dalam membaca naskah dharma wacana bisa komunikatif, informatif, efektif, kronologis, logis, positif dan adaptif. Jangan sampai dalam menyampaikan dharma wacana lalu dibaca dengan cepat atau terburu-buru, volume suaranya tidak jelas, dan cara membacanya sering salah atau sering diulang-ulang, maka hal itu akan memberikan kesan bahwa sajian dharma wacananya tidak baik.

3. Pakailah Media Pengeras Suara
Bila umat yang mengikuti dharma wacana tergolong banyak dan berada di tempat yang terbuka, maka sebaiknya naskah dharma wacana itu disajikan atau dibacakan dengan menggunakan alat pengeras suara atau speaker, wireless, microphone, atau alat pengeras lainnya yang efektif. Hal ini dimaksudkan untuk menjamin kemumian pesan, kejelasan informasi isi dharma wacana yang disajikan, juga kemantapan umat Hindu mengikut dharma wacana. Pemakaian alat pengeras suara tentu disesuaikan dengan kebutuhan. Bila pengikutnya hanya sedikit, maka alat pengeras suara ini bisa jadi tidak diperlukan, karena sudah cukup dengan kekuatan suara si pendharma wacana saja.

4. Sajikan Dharma Wacana di Media Elektronik dan Media Cetak
Dalam kemajuan jaman dewasa ini yang semakin canggih, maka penyajian dharma wacana juga bisa dilakukan dengan media teknologi canggih, seperti lewat televisi, lewat radio, memakai tape, dan sebagainya, termasuk juga lewat media cetak, seperti; surat kabar, jurnal, majalah, tabloid, brosur, dan media cetak lainnya yang tersedia. Hal ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan setempat. Hal ini bisa dilakukan melalui program patent dan terprogram. Biasanya hal ini dilakukan dengan cara kerja sama dengan instansi pemerintah, swasta, dan LSM yang memiliki kepedulian dalam hal dharma wacana.

5. Menyajikan Dharma Wacana dengan Sopan Santun
Menyampaikan naskah dharma wacana diusahakan dengan sopan, santun, keramah-tamahan, keluwesan, kelembutan, ketenangan, ketulusan, kesucian, tanpa pamrih, tepat waktu, dan sebagainya. Hal ini penting. diperhatikan, oleh karena dharma wacana itu merupakan sajian materi agama Hindu, sajian rohani, sajian spiritual, dan sajian kajñanan. Sajian materi dharma wacana yang baik dan benar, nantinya dapat mengarahkan umat Hindu menuju alam spiritual, alam rohani, alam niskala, serta pemusatan konsentrasi kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa beserta semua manifestasiNya. Maka dan itu sajian dharma wacana sedapat mungkin dengan sopan santun, mengindahkan tata krama atau sima (dresta) dan masyarakat setempat.

6. Menyajikan Dharma Wacana dengan Berpakaian Bersih dan Rapi
Bilamana tempat dharrna wacana itu dilakukan di tempat suci atau di pura, maka si pendharma wacana sepantasnya memakai busana sembahyang, berpakaian sembahyang, berpakaian adat, atau memakai busana sesuai dengan ketentuan dresta yang berlaku dimana dharma wacana itu dilakukan. Intinya bahwa pendharma wacana diusahakan untuk berpakaian yang bersih dan rapi. Pendharma wacana diusahakan agar tidak berpakaian sembrono, acak-acakan, asal-asalan, luntang-lantung, atau berpakaian mentereng yang mengganggu konsentrasi peserta yang mengikuti dharma wacana. Jangan sampai pakaian yang berlebihan dari pendharma wacana itu menjadi perhatian, sedangkan materi sajian dharma wacana tidak diperhatikan oleh pendengar. Hal ini jangan sampai terjadi dalam memberikan dharma wacana.

7. Menyajikan DharmaWacana Tidak Bersifat Lelucon
Ada kebiasaan bagi pendharma wacana untuk menyajikan dharma wacana dengan cara menyelipkan materi-materi yang bersifat lelucon. Sajian yang banyak guyonnya, humor-nya, dan materi selipan lainnya mengakibatkan materi inti dharma wacana menjadi terabaikan atau tidak disajikan. Sebaiknya dan selayaknya bahwa pada saat berdharma wacana tidak mengarah kepada materi-materi yang tergolong lelucon, humor, atau yang mengundang gelak tawa. Materi dharma wacana adalah materi yang disajikan dengan mantap, serius ke arah spiritual, mengarah ke materi kerohanian atau materi agama Hindu, sehingga umat Hindu menjadi semakin mantap dalam teori dan praktek beragama Hindu.

8. Menyajikan Dharma Wacana Hindari Nyentil
Berdharma wacana merupakan upaya menyajikan materi agama Hindu di bidang tattwa, tata susila, upacara, pendidikan, sosial hukum, ekonomi, lingkungan hidup, kepemudaan, pertanian, dan sebagainya dalam konteks ajaran agama Hindu, diharapkan dapat disajikan dengan tidak menyentil komponen manapun dan pendengar atau lapisan masyarakat Hindu yang hadir pada saat mengikuti dharma wacana. Materi yang disajikan adalah materi yang bersifat netral, harmonis (sundaram), selaras, independen, melindungi semua yang hadir, serta memberikan pencerahan kepada semuanya. Bila terjadi selipan materi yang sifatnya nyentil atau dapat menyinggung perasaan beberapa orang atau kelompok masyarakat, maka hal itu sedapat mungkin jangan sampai diwacanakan. Oleh karena, semua pendengar mendambakan kemuliaan, kesucian, kebahagiaan lahir batin, kesentausaan, kesejahteraan, ketenangan, kedamaian, kerukunan, keselamatan dan sebagainya.

Materi Dharma Wacana
Para penyaji dharma wacana hendaknya dengan jeli dan teliti dapat memilih materi ajaran agama Hindu untuk disajikan dalam kegiatan dharma wacana. Materi apa saja yang bisa disajikan oleh pendharma wacana? Hal ini disesuaikan dengan kondisi pendengar atau audien. Bila yang dihadapi itu masyarakat petani, maka dapat disajikan materi agama Hindu yang memiliki relevansi dengan profesi sebagai petani. Bila yang dihadapi itu adalah masyarakat ekonomi, maka materi dharma wacana disesuaikan dengan topik ekonomi dari sudut pandang agama Hindu. Bila audiennya adalah para nara pidana, maka topik yang pantas disajikan adalah materi tentang perilaku baik dan benar, materi subhakarma asubhakarma, materi dharma, materi karma phala, materi wiweka, materi svarga dan naraka, dan sebagainya.

Inti materi dharma wacana, meliputi : materi tattwa, seperti : widhi tattwa, atma tattwa, karma tattwa, samsara atau punarbhawa tattwa, moksha tattwa, sizea tattwa, saiva siddhanta, maya tattwa, tri loka, sapta loka, panca sraddha, tri murti, sapta patala, catur marga yoga, jnana yoga, karma yoga, bhakti yoga, raja yoga, sapta dwipa, sapta sainudra, sapta tirtha, dan sebagainya. Kemudian materi dharma wacana yang terkait dengan tata susila Hindu, seperti : tri kaya parisuddha, panca yama brata, panca niyarna brata, dasa yama brata, dasa niyama brata, tri guna, tri parartha, tri mala, tri samaya, catur purusa artha, catur paramita, sad atatayi, sad ripu, sapta timira, astangga yoga, tapa, brata, yoga, samadhi, subha karma, asubha karma, tata cara berbusana ke pura, tata cara berbusana ke sekolah, tata cara berbicara dalam masyarakat, nilai pendidikan seksual bagi generasi muda, nilai pendidikan sosial, nilai pendidikan budaya, dan sebagainya.

Sedangkan materi dharma wacana yang terkait dengan materi upacara agama Hindu, seperti dewa yadnya, manusa yadnya, resi yadnya, bhuta yadnya, pitra yadnya, tri renam, berdana punya, macaru, masegeh, tawur agung, ngotonin, piodalan, upacara eka dasa rudra, upacara melasti, makna perayaan nyepi, makna perayaan saraswati, makna perayaan pagerwesi, makna perayaan siwaratri, makna perayaan galungan, makna perayaan kuningan, upacara matatah, upacara pawiwahan, upacara mantenin, upacara ngusabha desa, upacara ngusabha nini, upacara ngaben, upacara mamukur, upacara maligia, upacara ngelungah, upacara magedong-gedongan, upacara mawinten, upacara madiksa, upacara mulang pakelem, upacara nyagara gunung, upacara nuntun dewa hyang, dan sebagainya. Jadi mengenai materi dharma wacana dapat dipilih sesuai kondisi yang terjadi ditengah-tengah umat Hindu dalam masyarakat. Tidak semata materi tattwa, susila, dan upacara saja yang dapat disajikan materi sajian, tetapi juga materi-materi Veda, itihasa, purana, upanisad, tentang pura atau
parahyangan, materi hukum Hindu, pendidikan Hindu, seni Hindu, budaya Hindu materi kesehatan dalam perspektif Hindu, materi pertanian dan pandangan Hindu, materi kesehatan dalam perspektif Hindu, materi pertanian dan pandangan Hindu, materi kehidupan bersama dalam masyarakat sesuai pandangan Hindu, dan materi Iainnya yang diajarkan dalam ajaran agama Hindu yang bisa dipilih untuk disajikan kepada segenap umat Hindu, dengan tujuan untuk dapat membangkitkan pencerahan spiritual dan peningkatan wawasan di bidang keagamaan Hindu.

Penutup
Dharma zuacana merupakan cara yang efektif untuk menyampaikan pesan-pesan mengenai ajaran agama Hindu kepada umat Hindu. Dalam melakukan dharma wacana sebaiknya disiapkan teksnya dengan baik dan benar, supaya pesan-pesan dharma wacana bisa diterima dengan baik dan benar oleh umat Hindu. Cara penyajian dharma wacana adalah bisa dengan
spontan, dengan dibacakan, dan melalui media elektronik, guna bisa dijangkau lebih luas oleh para pendengar secara luas dan merata dalam waktu-waktu yang telah ditentukan. Dilaksanakannya kegiatan diklat dharma wacana, merupakan hal positif untuk mencetak kader muda Hindu dan melatih pendharma wacana pemula yang lebih berkualitas dalam memberikan pelayanan publik kepada umat Hindu Indonesia.

Kemudian mengenai materi dharma wacana dapat dipilih sesuai dengan kondisi dalam masyarakat Hindu atau sesuai permintaan dari umat Hindu. Materi sajian agar bersifat netral, harmonis, dan memberikan pencerahan spiritual. Materi sajian diusahakan agar tidak menimbulkan perpecahan dalam masyarakat. Sajian dharma wacana agar bisa diterima oleh semua pendengar secara tulus dengan jelas. Materi inti meliputi tattwa, susila, dan upacara agama Hindu. Dapat pula dipilih materi ajaran Agama Hindu yang relevan sesuai dengan permintaan umat Hindu.• WHD No. 507 – 508 Maret – April 2009.

 

 
< Prev   Next >
"));