Logo PHDI Pusat
Makna Upacara Magedong Gedongan (Garbadana) Print E-mail

Makna Upacara Magedong Gedongan (Garbadana)
Oleh: S. Swarsi, BKSNT Denpasar

I. Pendahuluan
Kebudayaan Bali merupakan satu sosok kebudayaan yang unik dengan jati dirt yang khas. Jati din tersebut merupakan rajutan fisik, simbol, kelembagaan dan gaya yang bersifat lokal, terpadu dengan sistim kepercayaan, sistim filosofis yang menekankan sifat ekonomis yang dijiwai agama Hindu. Masyarakat Bali masa kini sebagai refleksi masyarakat transpormatif yang bergerak semakin heterogen dengan dua dikotomi kebudayaan, yaitu :
Kebudayaan Tradisional dan Kebudayaan Modern. Disisi lain, Kebudayaan Bali mencakup unsur-unsur yang sangat banyak beragam, salah satu diantaranya adalah unsur upacara.
 
Upacara di Bali yang masih termasuk upacara tradisional, merupakan suatu mata rantai yang tidak dapat dipisahkan dan Tattwa/filsafat; yaitu merupakan tujuan dan pada ajaran Agama Hindu, serta Susila; yaitu aturan-aturan yang patut dilaksanakan untuk mencapai tujuan. Ketiga unsur di atas (Tattwa, Susila, Upacara) adalah merupakan unsur-unsur universal Agama Hindu yang antara unsur yang satu dengan unsur yang lain, saling dipahami dan ditaati secara terpadu sebagai acuan perilaku masyarakat Bali yang beragama Hindu. Umat Hindu di Bali, dua unsur yaitu Etika dan Upacara telah dipahami, walaupun terjadi penyesuaian sesuai dengan Desa, Kala Patra. Sedangkan filsafat dan upacara tersebut, lebih cendrung dalam kenyataan masih dilaksanakan secara Gugon Tuwon (Nak Mulo Keto). Pemahaman filsafat belum mantap, hal tersebut menyebabkan terjadi kef anatikan dalam pelaksanaan dan belum siap berubah. Pada hal dalam perkembangan kehidupan masyarakat yang serba maju dan telah banyak mengalami pergeseran, mestinya dinamika Agama hams secara harmonis beijalan dengan dinamika pembangunan.
 
Disamping itu pula, upacara tradisional yang masih eksis di Bali, merupakan suatu cara utama untuk menyatakan rasa bakti umat kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa; kepada Leluhur, kepada Para Rsi maupun kehadapan para Dewa maupun terhadap sesamanya. Upacara Tradisional juga membakukan berbagai nilai luhur maupun menata pola tingkah laku masyarakat menjadi masyarakat yang berbudi luhur. Dan perlu pula disaring ada nilai yang cocok pembangunan perlu di transpormasikan, sedangkan ada nilai yang kurang cocok untuk pembangunan secara pelan akan ditinggalkan oleh para pendukungnya. Maka dart itu penulis mencoba untuk mengangkat tulisan “Upacara Tradisional Daur Hidup” di Bali secara bertahap dari bayi dalam kandungan. Sekarang coba dibahas Upacara Bayi dalam Kandungan dengan salah satu variasi upakara (sesajen) yang dibuat.

1. Upacara Bayi dalam Kandungan
Upacara Megedong-Gedongan adalah Upacara Kehamilan. Menurut Kanda Pat Rare mengatakan dalam proses kehamilan karena “Kama Jaya” (Sperma dari Ayah) bertemu dengan “Kama Ratih” (Ovum dari Ibu) terjadilah pembuahan. Semakin besar terwujudlah Jabang Bayi. Upacara Megedong-gedongan adalah Upacara yang ditujukan kepada Bayi yang masih berada di dalam Kandungan dan merupakan Upacara pertama dilaksanakan pada saat Bayi berumur 5 bulan Bali (±6 Bulan kalender), karena wujud Bayi sudah dianggap sempurna. Pelaksanaan Upacara Magedong-gedongan berfungsi sebagai penyucian terhadap Bayi. Disisi lain juga berarti agar kedudukan Bayi dalam Kandungan agar baik kuat tidak abortus. Secara bathiniah agar Sang Bayi kuat mulai setelah lahir menjadi orang yang berbudi luhur, berguna bagi Keluarga dan Masyarakat. Demikian juga dimohonkan keselamatan atas diri si Ibu agar sehat, selamat waktu melahirkan.

2. Variasi Upacara
Berdasarkan kenyataan di masyarakat pelaksanaan upacara maupun upakara sangat bervariasi, menurut adat setempat dan menurut Tukang Banten. Yang lainnya dalam Satu Desa saja bisa bervariasi, namun inti dan maknanya yang sama. Beberapa Variasi Upakara sebagai berikut:

 Variasi I Upakara (sesajen) menurut Kanda Pat Rare adalah sebagai berikut:
- Abyakala
- Pagedongan
- Sesayut Pengambean
- Canang
- Daksina

 Variasi II, menurut salah satu variasi di Desa Batubulan sebagai berikut:
- Dapetan Tumpeng Pitu
- Pejati Munggah ring Dewa Hyang Guru
- Pejati Pemangku
- Soroan
- Tebasan Prayascita
- Sodaan sesuai dengan Kondisi Merajan

 Variasi III, untuk pembersihan sederhana
- Abyakala.
- Prayascita.

Makna dan upakara, jenis sesajen di atas, menurut analisis penulis : Sesajen Abyakala dan Prayascita untuk menghilangkan pengaruh buruk dari Sang Buta Kala serta bencana yang akan menimpa sang Bayi maupun Sang Ibu. Daksina yang diperuntukkan Pemangku merupakan ungkapan terimakasih telah ikut ngayabang Banten. Daksina juga diisi tetapakan dan Janur yang berbentuk menyilang ( + ) sebagai simbul swastika yang artinya semoga baik dan selamat. Yang arah ke atas memohon keselamatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sedangkan arah ke bawah mohon keselamatan pada Buana Agung. Salah satu variasi metanding Abyakala/Biakala adalah sebagai berikut:
- Alas kulit Sayut di bawah memakai sidi/ayakan di atas kulit peras pandan.
- Nasi dibungkus daun,
- Penek merah ditusukkan di atasnya bawang Tabia dialasi kau.
- Telur Ayam
- Base Tulak (Base 5 lembar) digulung bolak-balik, satu lembar dililit berfungsi sebagai kamben/Kain
- Kala Sepet = Tiying/bambu disepak kurang lebih 6cm didalamnya diisi Sambuk.
- Buu Tangga Menek, Tangga Tuun, Jan Lilit linting, Lilit Lengkung dibuat dari Janur.
- Padma (berupa Sampiyan)
- Sidi, tempat sebagai alas metanding. Sidi dibuat berlubang-lubang. Menurut analisis Penulis mengandung makna agar Kala dapat disaring atau hal yang kotor dan hal yang dianggap bersih dapat dipisahkan. Secara simbolik segala yang cemer/leteh agar keluar dari orang tua maupun si Jabang Bayi.
- Kekeb (tutup kukusan) diatas diisi takep api dari sambuk yang disilang seperti simbol swastika. Simbol Dewa Brahma yang mengandung makna, semoga yang reged/kotor/leteh, tidak baik secara niskala dapat dimusnahkan oleh api sebagai simbol Brahma.
- Pebersihan.
- Satu Ceper berisi isuh-isuh, diisi Bawang Merah, Uang Kepeng (pis bolong).
- Coblong berisi air.
- Penyeneng.

Semua tetandingan Byakala di atas mengandung makna untuk pebersihan dan mohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Kala baik yang datang di dalam diri (Buana Alit) maupun pengaruh luar di Buana Agung dapat ditolak  atau ditangkal. Demikianlah salah satu variasi cara membuat Abyakala/Byakala. Semoga bermanfaat. WHD No. 433 Maret 2003.

 
< Prev   Next >
"));