Logo PHDI Pusat
“Mreteka Layon” Sebagai Sosialisasi Nilai Luhur Print E-mail

“Mreteka Layon” Sebagai Sosialisasi Nilai Luhur
Oleh: Dra. S. Swarsi, Gianyar

Studi antropologi menunjukkan bahwa, upacara termasuk juga dalam hal upacara kematian adalah suatu fenomena agama dan budaya yang kaya dengan lambang-lambang. Betapa pentingnya kemampuan manusia dalam mengorganisir dan menggunakan lambang-lambang untuk menvatakan pikirannya. Seluruh tingkah laku manusia itu berpangkal pada penggunaan lambang. Lambanglah dapat mengubah leluhur manusia menjadi manusia yang berkebudayaan Whote, 1970).
 
Upacara kematian sebagai suatu fenomena lebudayaan dan agama yang kaya dengan lambang-lambang yang pada hakekatnya berfungsi sebagai sarana sosiálisasi bagi masyarakat pendukungnya. Seperti upacara Kematian di daerah Bali yang merilpakan salah satu upacara Pitra Yadnya yang sarat dengan lambang yang mengandung nilai luhur yang perlu digali dan dihayati dan mampu ditransformasikan pada generasi penerus sebagai penangkal prilaku menyimpang. Sosialisasi merupakan suatu proses belajar pada sistem sosial seperti proses belajar pada saat ngayah banjar; nguopin, dli. Pada saat ini akan diangkat sekelumit upacara Kematian sampai layon dikubur menjelang di aben, dibakar.

Hidup Sesudah Kematian
Hidup sebagai manusia merupakan suatu berkah Ida Sang HyangWidhi
Wasa, maka dan itu perlu disyukuri, demikian pula kematan juga merupakan suatu berkah pula’ dan Ida Hyang Widhi Wasa, sudah semestinya tidak perlu ditakuti, harus pula disyukuri. Menurut ajaran suci agama Hindu yang terdalam beberapa kitab suci, yang saiah satu dapat dikutif sebagai berikut:
 
“Apan ikang dadi wwang utamajuga ya, nimittaning mangkana, wenang ya tumulung awak nya sakeng sangsara, makasa dhanang subha karma”: Artinya menjelma.menjadi manusia itu adaiah sungguh-sungguh utama; sebab demikian karena ía dapat menolong dirinya dan keadaãn sengsara,denganjalan berbuat baik, demikianlah keuntungan dapat menjelma menjadi manusia.
 
Menurut analisis penulis, makna dan arti sloka diatas, kita sebagai umat manusia harus mensyukuri atas rahmat Ida Hyang Widhi Wasa, diciptakan sebagai mahiuk hidup yakni “manusia”. Pada saat hidup ini dapat kita melaksanakan suatu perbuatan yang baik dan luhur, dapat membayar utang kepada para Dewa-Dewa (Dewa Rna) yang telah menciptakan seisi dunia ini; utang pada roh leluhur atau pada orang tua (Pitra Rna); dan utangpada para Rsi (Rsi Rna). Utang-utang tersebut merupakan kewajiban sebagai manusia, harus dilaksanakan.
 
Disamping kita hidup, kita juga mengalami suatu kematian. Menurut hasil penelitian para penekun pengetahuan spiritual yang sudah waskita para yogi yang mengatakan bahwa ada suatu kehidupan setelah kematian, dan ini dibenarkan pula suatu ajaran Hindu/ajaran Ketuhanan/Brahma Vidya bahwa, pada saat ajal kematian tidak hanya badan sajalah yang dapat rusak dan mati tetapi jiwa manusia itu hidup terus tak pernah mati. Pahamilah bahwa “badan ini bukanlah Aku tapi Aku adalah Roh yang bersemayam dalam sebuah badan”. Roh adalah merupakan suatu pribadi hidup yang merupakan gabungan : Atman-buddhi-Manas (pikiran). Pada saat roh tersebut meninggalkan badan kasar disanalah perlu diadakan suatu pencairan antara badan kasar untuk kembali ke zat-zat panca maha bhuta dengan cara membakarnya, di Bali disebut dengan upacara ngaben termasuk upacara Pitra Yadnya yang bertujuan membersihkan Roh leluhur agar dapat memasuki alam yang lebih suci. Menurut penulis, upacara ini penting, namun yang paling penting pada saat hidup sebagai manusia kita sudah secara bertahap, terus-menerus membersihkan Roh yang bersemayam di badan ini; dengan cara berbuat baik, menetralisir sifat-sifat Sad Ripu padadiri kita, sehingga kehidupan setelah kematian cepat dapat lewat dan bersemayam di alam surga.
 
Apa yang dikerjakan pada saat Wau Lampus
Seperti telah diuraikan diatas, setelah badan pisik ini ditinggalkan oleh Roh atau yang disebut dengan kematian, perlu diadakari mepreteka layon membersihkan layon secara sekala, niskala menurut penelitian penulis, mepreteka Layon termasuk salah satu unsur upacara Pitra Yadnya, upacara ini bukan saja untuk menebus utang pada roh leluhur yang telah meninggal, namun yang lebih penting lagi adalah “memelihara para orang tua kita, leluhur kita yang masih hidup, dengan berbhakti, memelihara kesehatan badan, menyayangi, mematuhi nasehat orang tua dll.
 
Disamping memelihara orang tua (leluhur kita yang telah meninggal dengan cara):
1. Membersihkan jenasah (nyiramang layon)
2. Memendam Sawa (metanem) sebelum diaben
3. Yang paling baik membakar jenasah tersebut dengan melaksanakan upacara ngaben, kal.au tak mampu, sederhana saja.

Apa yang harus dilakukan pada saat baru .... atau mara pegat angkihan yang diucapkan doa sebagai berikut :
Variasi I“Om Swargatu, moksantu Suryantu, murcantu Om Ksama sampurnaya nama Swaha”.
Artinya:
 “Oh Tuhan, semoga atma ini mendapatkan surya manunggal dengan-Mu, mencapai keheningan, Tuhan ampunilah dia, hormat kami kepada-Mu Sang Maha Sempurna”.

Variasi II: Doa pada saat orang meninggal bisa menggunakan saha (doa bahasa sendiri) sebagai berikut:
 “Nah meme/bapa/atau ... melah-melahan mejalan apang sweca Ida Sesuhunan nerima meme/bapa di kali dituan, maan tongos ane melah, inget yasain panak/cucu apang rahayu“. Boleh dengan bahasa Bali halus. Doa tersebut mengandung makna agar keluarga yang meninggal diterima disisi Ida Hyang Widhi Wasa, dengan tenang tetap juga mendoakan keluarga yang ditinggal tenang, rukun bahagia.
 
Variasi III: Orang yang baru Lampus
 “Om A Ta Sa ba I Om Wa Si Ma Naya, Mang, Ang, Ung, Murcantu, Swargantu,
Moksantu, Shanantu, Ang Ksama Sampurnaya nama swaha”.

Artinya:
Semoga tenang dalam menghembuskan nafas terakhir dalam perjalanan sorga dan semoga mencapai rnoksa, semoga semua-semuanya.
 
Tata Urutan Nyiraman Layon
Tata urutan nyiraman layon ini hasil penggabungan beberapa daerah di Bali dataran sebagai berikut:

1. Ambuh (terdiri dari santan + air dan dapdap untuk ambuh (keramas).
2. Beblonyoh putih dibuat dari beras dan cekuh dihaluskan.
3. Beblonyoh kuning dibuat dari beras dan cekuh + temutis.
4. Irisan gadung/irisan sekapa untuk badan.
5. Daun tuwung (terong belo) 3 lembar untuk laki-laki (kemaluan).
6. Daun tunjung untuk wanita 3 lembar.
7. Sigsig menggunakan jaja gina dan lenga asem di mulut.
8. Daun intaran 2 buah untuk alis.
9. Pusuh menur 2 buah untuk lubang hidung.
10. 2 Pulung malem untuk telinga.
11. 2 pecahan kaca untuk mata.
12. 4 buah waja untuk gigi.
13. Panca datu/gunakan minyak berwarna putih, kuning, merah, hitam, campuran ke empat warna.
14. Telor pembersih seluruh badan dengan cara menggelindingkan.
15. Sekapa untuk seluruh badan, simbolik agar kulit halus.
 
Alat diatas biasanya mewadah dulang atau kapar/nampan dan ditaruh/mewadah takir, Hal tersebut merupakan suatu simbol agar orang yang meninggal tersebut kalau punarbawa agar lebih baik, mulus, dll.

Persiapan Alat Peleletan (ngelelet)
1. Tali ante berupa galar yang diikat.
2. Benang putih untuk itik-itik untuk kaki dan tangan.
3. Rubek anget-anget.
4. Tali katekung.
5. Bantal di taruh dibawah kepala layon bervariasi yang menggunakan batang kayu dapdap dililit jinah/pis bolong 33 keteng, 66 keteng atau ada bakul, juga biu kayu 1 sisir, pis bolong 250 kepeng. Meletakkan alat-alat pembersihan di atas sema/kuburan menggunakan mantra atau boleh saha. Layon dibaringkan di atas pepaga di atas layon diberikan ulap-ulap atau juga disebut leluur dengan kasa/kain putih.
 
Mewastra
Mewastra seperti pada saat masih hidup disesuaikan dengan tradisi yang berlaku baik untuk layon lanang/istri arangsukan/setel.
 
Menaruh Kwangen
Kwangen merupakan lambang aksara ongkara yang di isi bunga dan pis bolong sebagai unsur panca datu yang merupakan sarana penyucian. Menaruh kwangen pada layon yang sudah dibersihkan bervariasi, gabungan dari beberapa variasi tersebut. Salah satunya adalah sebagai berikut:
1) Kwangen pada lelata di isi dengan 2 tu + 2 muncuk dapdap.
2) Kwangen di tangkah 1 buah diisi pis bolong 25 kepeng + pis bolong + base silih asih.
3) Siku 2 buah kwangen.
4) Pengatep pala 2 buah kwangen.
5) Entud/lutut 2 buah kwangen.
6) Pada jeriji tangan 2 buah kwangen diisi masing-masing 5 buah lekesan dan uang kepeng.
7) Jeriji kaki 2 buah kwangen dengan tubungan 5 buah menyerupai jeriji kaki, uang kepeng 5 buah. Tiap biji ditusuk pada lekesan + pucuk cempaka kuning.
8) Kwangen di bokong 1 buah dengan pis bolong, kwangen diisi 2 buah lekesan.
9) Kwangen di tangkah/dada 1 buah dengan uang kepeng 25 buah pis bolong dengan lekesan.
10) Kwangen di pala 2 buah, uang kepeng 11 buah.
11) Siku tangan kanan dan siku tangan kin masing-masing 1 buah dengan lekesan 2 buah, uang bolong/pis bolong 11 kepeng.
12) Pengatep paha masing-masing 1 buah. I buah lekesan masing-masing 2 buah uang kepeng 11 buah.
 
Menurut analisis penulis, kwangen merupakan walung, pis bolong merupakan kekuatan Panca Datu lambang kehidupan dari kekuatan Panca Dewa sebagai pengider jagat. Ada juga menyebut memberikan simbol pranawa atau mengembalikan panca maha bhuta, ke asalnya. Pemasangan kwangen juga ada mantra tidak ditulis.
 
Mebhakti dan Nyembah/Nyumbah
Menaruh kwangen sudah selesai dilanjutkan dengan mebhakti dan nyumbah : mebhakti adalah suatu kegiatan persembahan terakhir orang yang meninggal pada Ida Sanghyang WidiWasa, secara simbolik sebagai persembahan terakhir menjelang buana alit dikembalikan ke asalnya dan menyatu dengan unsur Panca Maha Bhuta di buana agung. Disisi lain juga para kerabat dekat/soroh saling mengadakan sembah-menyembah pada sang meninggal dan juga sembah kepada Ida Hyang Widhi Wasa agar roh leluhurnya mendapat tempat Yang baik.
 
Sembah berguna untuk mendoakan Atma sang meninggal agar secepatnya dapat menyatu dengan Hyang Widhi Wasa, sedang sembah merupakan penghormatan terakhir pada sang meninggal agar atma/roh beliau mendapat tempat yang layak.
 
Methirta
Kegiatan memercikkan tirta secara simbolis layon setelah mengadakan sembah dan disembah. Tirta antara lain :
1) tirta Penglukatan;
2) tirta Pebersihan;
3) tita Kahyangan Tiga;
4) tirta Pengresikan;
5) tirta dipercikkan Layon dan kepala sampai kaki dll.
Natab banten (upakara)
- Peras Ajuman
- Bubur Pirata
- Nasi Angkeb

Maksudnya untuk bekal Sang Atma kembali ke asal. Pemasangan basan ubad (urug urig) sebelum dililit seperti halnya:
1) alis helai don intaran;
2) kaca kecil untuk kedua mata;
3) bunga teleng pada seleng lelata;
4) pucuk merah di kedua lobang hidung;
5) sekeping waja pada gigi;
6) don delimo di kedua kuping;
7) boreh di ulu hati:
8) don tuwung pada alat kelamin laki-laki, dan don tunjung pada alat kelamin perempuan;
9) sekapa di seluruh tubuh;
10) taluh ke seluruh jenasah dll. Pemasangan badan ubad tersebut sebagian simbol agar pada saat punarbawa nantinya bisa lebih baik/sempurna.
 
Ngeringkes
Pemasangan Tetindih
Layon tersebut sudah selesai dipreteka siap untuk natab banten dan siap untuk dibuatkan upacara lanjutan apakah di pendem atau diaben. Uraian tersebut diatas belum bisa detail karena kondisi terbitan yang terbatas. Mudah-mudahan bisa berlanjut. WHD No. 470 Maret 2006.

 

 

 
< Prev   Next >
"));