Logo PHDI Pusat
Mengenal Masyarakat Tengger (1) Print E-mail

Mengenal Masyarakat Tengger (1)
Oleh: Prof. Dr. Simanhadi Widyaprakosa

Keadaan Geografis
Luas daerah Tengger kurang lebih 40km dan utara ke selatan; 20-30 km dan timur ke barat, di atas ketinggian antara 1000m - 3675 m. Daerah Tengger teletak pada bagian dari empat kabupaten, yaitu : Probolinggo, Pasuruan, Malang dan Lumajang. Tipe permukaan tanahnya bergunung-gunung dengan tebing-tebing yang curam. Kaldera Tengger adalah lautan pasir yang terluas, terletak pada ketinggian 2300 m, dengan panjang 5-10 km. Kawah Gunung Bromo, dengan ketinggian 2392 m, masih aktif mengeluarkan asap yang menggelembung ke angkasa. Di sebelah selatan menjulang puncak Gunung Semeru dengan ketinggian 3676 m.

Keadaan Tanah dan Tanam-tanaman
Keadaan tanah daerah Tengger gembur seperti pasir, namun cukup subur. Tanaman keras yang tumbuh terutama adalah agathis laranthifolia, pinus merkusii, tectona, grandis leucaena, dan swietenia altingia excelsa, anthocepalus cadamba. Di kaki bukit paling atas ditumbuhi pohon cemara sampai 3000 m di lereng Gunung Semeru. Tumbuhan utamanya adalah pohon-pohonan yang tinggi, pohon elfin dan pohon cemara, sedangkan tanam-tanaman pertanian terutama adalah kentang, kubis, ubi ketela, jagung dsb.

Jenis Hewan
Jenis hewan piaraan yang ada antara lain lembu dan kambing. Jenis binatang lainnya adalah babi hutan (sus scrofa) rusa timur (cervus timorensis), serigala atau (muncak muntiacus), dan berkembang pula jenis macam tutul (panthera pardus), terdapat pula species burung, misalnya burung air.

Iklim dan Cuaca
Iklim daerah Tengger adalah hujan dan kemarau. Musim kemarau terjadi antara bulan Mei-Oktober. Curah hujan di Sukapura sekitar 1800 mm, sedangkan musim hujan terjadi pada bulan November-April, dengan persentase 20 hari/lebih hujan turun dalam satu bulan. Suhu udara berubah-ubah, tergantung ketinggian, antara 3º - 18º Celsius. Selama musim hujan kelembaban udara rata-rata 80%. Temperaturnya sepanjang hari terasa sejuk, dan pada malam hari terasa dingin. Pada musim kemarau temperatur malam hari terasa lebih dingin daripada musim hujan. Pada musim dingin biasanya diselimuti kabut tebal. Di daerah perkampungan, kabut mulai menebal pada sore hari. Di daerah sekitar puncak Gunung Bromo kabut mulai menebal pada pagi hari sebelum fajar menyingsing.

Penduduk dan Mata Pencaharian
Penduduk di sekitar Taman Nasional Bromo kurang lebih sebanyak 128.181 jiwa dengan distribusi sebagai berikut: petani penggarap 48.625 orang (37,93%), buruh tani 10.461 orang (8,16%), karyawan dan ABRI 1.595 orang (1,24%), pedagang 3.009 orang (2,38%), pengrajin/industri kecil 343 orang (0,01%), dan lain-lain sekitar 64.140 orang (50,05%). Penduduk masyarakat Tengger pada umumnya bertempat tinggal berkelompok di bukit-bukit mendekati lahan pertanian. Mereka hidup dari bercocok tanam di ladang, dengan pengairan tadah hujan. Pada mulanya mereka menanam jagung sebagai makanan pokok, akan tetapi saat ini sudah berubah. Pada musim hujan mereka menanam sayuran seperti kentang, kubis, bawang, dan wortel sebagai tanaman perdagangan. Pada penghujung akhir musim hujan mereka menanam jagung sebagai cadangan makanan pokok.

Sejak zaman pemerintahan Majapahit, tingkat perkembangan penduduk Tengger tergolong lambat. Sejarah perkembangan masyarakat Tengger tidak diketahui dengan jelas, kecuali secara samar sebagai hasil penelitian Nancy (1985).

Sejarah dan Legenda
Pengertian Tengger
Ditinjau dari arti etimologisnya tengger berarti ‘berdiri tegak’, diam tanpa bergerak (Jawa). Sedangkan bila dikaitkan dengan kepercayaan yang hidup dalam masyarakatnya, Tengger diartikan sebagai tengering budhi luhur (Jawa), Tengger berarti tanda atau ciri yang memberikan sifat khusus pada sesuatu. Dengan kata lain tengger dapat berarti ‘sifat-sifat budi pekerti luhur’. Arti yang kedua adalah ‘daerah pegunungan’, yang memang tepat dengan keadaan sebenarnya bahwa masyarakat Tengger berada pada lereng-lereng pegunungan Tengger dan Semeru.

Arti kata tengger juga dapat dianalisis dari mitos masyarakat Tengger, tentang suami istri sebagai cikal bakal atau yang pertama menghuni daerah itu, yaitu Roro Anteng, dan Joko Seger. Dalam legenda, suami istri tersebut mempunyai 25 anak, yang salah satunya dikorbankan sebagai tumbal dengan masuk ke dalam kawah Gunung Bromo yakni Kusuma demi keselamatan saudara-saudaranya. Tengger merupakan singkatan dari kata teng dari asal kata anteng dan ger dari kata seger. Anteng mengandung arti sifat tidak banyak tingkah, dan tidak mudah terusik.

Makna dari istilah tersebut tercermin pula pada kenyataan bahwa masyarakat Tengger hidup sederhana, tenteram dan damai, bergotong-royong, bertoleransi tinggi, serta suka bekerja keras. Mereka bekerja di ladang dari pagi sampai petang, bahkan sehari penuh tidak pulang ke rumahnya, kecuali pada malam hari.

Digambarkan oleh Suprijono (1992), masyarakat Tengger adalah rakyat yang patuh pada pimpinan (sabda pandita ratu); taat melaksanakan tradisi seperti : selamatan perayaan hari besar dan upacara adat; selalu memakai sarung jika berada di kawasan gunung Bromo; kontak sosial antar tetangga dilakukan secara langsung; kepercayaan kepada benda-benda gaib, tempat-tempat keramat dan roh halus masih sangat kuat.

Sifat pergaulan masyarakat Tengger komunal, dalam arti hubungan batin antar-warga adalah erat, dan sikap serta tindakan untuk saling menolong sesama warga dilakukan baik antar-tetangga maupun antar-kerabatnya. Sikap tolong-menolong itu terwujud pada kegiatan bercocok tanam, mendirikan rumah, hajat keluarga, mengatasi bencana alam, dsb.

Sejarah Masyarakat Tengger
Masyarakat Tengger memiliki sifat khas, beragama Hindu-Budha yang terpadu dengan adat kepercayaan tradisional. Masyarakat Tengger tergolong masih bersifat tradisional, dalam arti masih mampu mempertahankan nilai-nilai tradisionalnya. Hingga sekarang, pada umumnya mereka hidup sangat sederhana, penuh dengan suasana kedamaian sebagai rakyat petani di lereng-lereng pegunungan yang curam, namun secara bertahap telah ikut menikmati hasil kemajuan teknologi modern dalam batas-batas tertentu.

Tengger pada zaman Majapahit
Sejak awal kerajaan Hindu di Indonesia Pegunungan Tengger diakui sebagai tanah suci. Penghuninya dianggap sebagai abdi spiritual yang patuh dan disebut hulun (abdi) dari Sang Hyang Widhi Wasa. Hal ini dapat dipelajari dari prasasti Tengger yang pertama ditemukan berasal dari abad ke-10. Prasasti itu berangka tahun 851 Saka (929 Masehi) dan menyebutkan bahwa sebuah desa bernama Walandit, terletak di pegunungan Tengger, adalah tempat suci karena dihuni oleh hulun. Hal ini diperkuat pula dengan prasasti berangka tahun 1327 Saka (1405 M) yang ditemukan di daerah Penanjakan (desa Wonokitri). Prasasti ini menyatakan bahwa desa Walandit dihuni oleh hulun Hyang (abdi Tuhan) dan tanah di sekitarnya itu disebut hila-hila (suci) (Hefner, 1985:26). Oleh karenanya, desa tersebut dibebaskan dari pembayaran pajak.

Masyarakat Tengger mempunyai hubungan historis dengan agama Hindu. Hal ini tampak pula dalam hubungan antara nama Bromo dengan dewa Brahma dalam agama Hindu. Gunung Bromo dijadikan tempat pemujaan kepada Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewa Brahma dan digunakan sebagai tempat penyucian para arwah untuk bisa naik ke Kahyangan. Sedangkan lautan pasir (segara wedhi) digambarkan sebagai jalan lintasan bagi arwah manusia dalam perjalanan penyucian sebelum bisa naik ke Kahyangan.

Masyarakat Tengger mempunyai hubungan historis yang sangat erat dengan kerajaan Majapahit. Hal ini diperkuat pula dengan adanya berbagai alat upacara agama yang berasal dari zaman kerajaan Majapahit, yang sampai saat ini masih dipakai oleh para Pandita Tengger. Alat-alat itu antara lain prasen ‘tempat air suci terbuat dari kuningan bergambar patung dari dewa dan zodiak agama Hindu’.

Sebagian besar prasen yang digunakan di Tengger berangka tahun Saka di antara 1243 dan 1352. Saat itu adalah masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Kenyataan ini diperkuat pula dengan pengakuan penduduk masyarakat Tengger yang menyatakan bahwa mereka adalah keturunan Majapahit. Alat-alat ritual lain yang berasal dari Majapahit antara lain adalah baju antrakusuma, sampet dsb. Demikian pula menurut naskah yang berasal dari Keraton Yogyakarta yang berangka tahun 1814 M (Nancy), konon daerah Tengger termasuk wilayah yang dihadiahkan kepada Gajah Mada karena jasa-jasanya kepada keraton Majapahit.

Tengger dari Abad ke-16 sampai ke-18
Keadaan daerah Tengger pada abad ke-16 sulit diketahui karena kurangnya informasi mengenai sejarah Tengger. Dalam Serat Kandha (Nancy) diberitakan adanya seorang guru agama yang ikut berjuang melawan musuh Majapahit. Namun, karena kegagalannya keraton-keraton yang dulu terletak di bawah pegunungan Tengger dibongkar dan penghuninya diusir.
Pada awal abad ke-17 situasi politik di pulau Jawa berubah, dengan adanya perpindahan pusat kekuasaan dari pesisir utara bergeser ke selatan. Sultan Agung memperluas kekuasaannya dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, yang akhirnya sampai pula ke daerah Tengger. Pusat kerajaan pengikut agama Hindu yang masih di ujung timur tinggal Blambangan, mereka lewat pegunungan Tengger dan merusahkan keraton, serta membawa sebagian orang Tengger ke Mataram. Namun demikian rakyat daerah Tengger itu masih tetap mempertahankan identitasnya dan melawan kekuasaan Mataram. Pada tahun 1680M, sewaktu Trunajaya gagal memberontak melawan Mataram dan pasukan Belanda, ia lari ke timur. Kemudian ia dibantu oleh orang Tengger. Demikian pula pada waktu Surapati melawan Mataram dan Pasukan Belanda, setelah terdesak ia juga lari ke ujung timur, ke Pasuruan dan dibantu oleh orang-orang Tengger. Perlawanan rakyat Tengger ini baru dapat dikuasai oleh pasukan Belanda pada tahun 1764.

Tengger pada Abad ke-19
Pada tahun-tahun terakhir abad ke-18 pejabat Belanda mulai memasuki daerah Tengger untuk mengamati keadaan sosial ekonominya. Pada tahun 1785 didirikan sebagai pesanggrahan di Tosari, dan di daerah ini mulai ditanam sayur-mayur dari Eropa dan Amerika. Para pengamat Belanda itu memperhatikan tradisi Tengger, dan memperoleh gambaran bahwa daerah Tengger bebas dari kejahatan, bebas dari candu; rakyat Tengger bersifat jujur dan lurus hati. Mereka pemeluk agama Hindu yang memuja Brahma, Siwa dan Wisnu.

Situasi politik abad ke-19 berubah. Kekurangan penduduk di daerah Tengger dan sekitarnya menarik para pendatang dari daerah yang mulai memadat. Para penghuni baru mulai
berdatangan dan membuka pemukiman baru. Pada saat terjadi perlawanan Diponegoro terhadap pasukan Belanda, yang akhirnya dapat dipatahkan, sebagian sisa pasukan Diponegoro lari ke timur dan menghuni daerah sekitar pegunungan Tengger. Sebagai akibatnya, daerah dataran sekitar Tengger dihuni oleh pendatang baru dan menjadi terpisah dengan masyarakat Tengger asli.

Tengger Sesudah Tahun 1945
Peran masyarakat Tengger pada waktu perang kemerdekaan sesudah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 tidak jelas. Seperti diungkapkan oleh Nancy, menjelang tahun 1945 rakyat Tengger mulai menggali lagi identitasnya dengan mempelajari sejarah nenek moyangnya yang berasal dari daerah Majapahit. Agama yang dipeluk pada waktu itu tidak jelas meskipun menyatakan diri beragama Budha, namun ciri-cirinya tidak jelas. Kemudian sejak tahun 1973 mulai diadakan pembinaan keagamaan, yaitu dengan memeluk agama Hindu Dharma.

Legenda
Asal Mula Nama Tengger
Pada zaman dahulu ada seorang putri dari Raja Brawijaya dengan permaisuri Kerajaan Majapahit, yang cantik jelita, bernama Roro Anteng. Pada waktu itu keadaan kerajaan yang tenteram, sejahtera dan damai, mengalami perubahan situasi memburuk. Atas nasihat dan saran dan para pini sepuh kerajaan, Roro Anteng disuruh mencari tempat yang lebih aman, tenteram dan damai, daripada hidup di kerajaan. Ia dengan para punggawanya pergi ke pegunungan Tengger. Di desa Krajan ia singgah selama satu windu.

Kemudian ia melanjutkan perjalanannya ke desa Pananjakan dan menetap di desa itu serta mulai bercocok tanam. Di tengah pegunungan dekat gunung Bromo ada seorang pendeta bernama Resi Dadap Putih, yang berasal dari sekitar Majapahit. Ia bertemu dengan Roro Anteng yang datang dari Majapahit dan sedang mencari ayahnya. Roro Anteng kemudian diangkat menjadi anak oleh Rsi Dadap Putih. Keduanya hidup berbahagia.
Sementara itu Kediri juga dalam keadaan kacau, sebagai akibat dari situasi politik di Majapahit. Joko Seger, putra seorang Brahmana, mengasingkan din ke desa Keduwung sambil mencari pamannya yang tinggal di dekat Gunung Bromo. Di desa ini Joko Seger mendapatkan informasi dan penduduk bahwa ada sejumlah orang dan Majapahit yang menetap di Pananjakan. Joko Seger kemudian meneruskan perjalanan sampai ke desa Pananjakan.
 
Pada suatu hari, sewaktu pergi mencari air, Roro Anteng bertemu dengan Joko Seger yang minta tolong karena tersesat. Roro Anteng menolong dan mengajaknya pulang ke pondoknya. Sesampai di rumah, Roro Anteng dituduh oleh para pini sepuhnya telah berbuat serong dengan lelaki yang diajaknya pulang itu. Joko Seger membelanya dan mengatakan bahwa hal itu tidak benar, sekaligus mengutarakan ingin melamar gadis itu. Lamaran itu diterima. Adapun yang bertindak sebagai pengesah perkawinan sesuai dengan agama mereka adalah Resi Dadap Putih.

Meskipun perkawinan Joko Seger dengan Roro Anteng sudah berusia sewindu, namun mereka belum juga dikaruniai anak. Mereka bersemedi (bertapa) selama 6 tahun dan setiap tahun berganti arah. Pertama kali mereka bertapa dengan menghadap ke timur, kemudian ke selatan, ke barat dan ke utara, ke bawah dan ke atas. Setelah semedi mereka ditanggapi oleh Sang Hyang Widhi Wasa, dari puncak gunung Bromo keluar semburan cahaya yang kemudian menyusup ke dalam jiwa Roro Anteng dan Joko Seger. Seketika ada getaran berupa wisik yang berisi dikabulkan permohonan mereka, dengan janji bahwa anak bungsunya harus dikorbankan ke kawah gunung Bromo. Setelah itu mereka berdua pulang ke pondoknya dan hidup dalam keadaan aman, tenteram, damai dan sejahtera. Mereka kemudian dikaruniai putra 25 orang.

Putra sebanyak 25 orang itu memang merupakan hasil permohonan suami istri itu, mengingat penduduk di Tengger pada saat itu sangat sedikit. Bertahun-tahun kemudian gunung Bromo bergoncang dan mengeluarkan semburan api, sebagai isyarat bahwa sudah saatnya janji mereka ditepati. Suami istri itu ingat akan janji mereka, namun mereka tidak rela mengorbankan salah seorang anaknya, Putra bungsu, yang bernama R. Kusuma, disembunyikan oleh orang tuanya di suatu tempat sekitar desa Ngadas. Namun, semburan api itu sampai juga di tempat tersebut dan Raden R. Kusuma pun tertarik ke kawah Gunung Bromo. Dari kawah terdengar suara yang ditujukan kepada saudara-saudaranya supaya selalu hidup rukun. Ia rela sebagai wakil dari saudara-saudaranya dan masyarakat setempat untuk berkorban demi kesejahteraan dan kedamaian orang tua dan saudara-saudaranya. Ia berpesan pula bahwa setiap tanggal 14 Kasada minta upeti hasil bumi. Cerita lain menunjukkan bahwa saudara-saudara R. Kusuma pun dianggap sebagai penjaga atau baureksa tempat-tempat lainnya.

Demikianlah cerita rakyat tentang asal mula nama Tengger, yaitu paduan dari nama Roro Anteng dan Joko Seger. Cerita itu juga berisi pesan teladan yang baik bagi masyarakat, agar mereka mau dan berani berkorban demi kesejahteraan, kedamaian, dan ketenteraman hidup anak cucu dan keturunannya serta masyarakat. Di samping itu diharapkan pula manusia harus selalu bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dongeng Terjadinya Pegunungan di Kawasan Tengger
Kecantikan dan keluhuran budi Roro Anteng terkenal luas, dianggap sebagai titisan Dewi, sehingga banyak berdatangan orang yang ingin melamarnya. Salah seorang pelamar berwatak raksasa (buta) bernama Kyai Bima, Dia adalah seorang penjahat ulung dan sakti. Roro Anteng tidak dapat menolak begitu saja lamaran itu, maka ia menerimanya dengan syarat, Kyai Bima harus membuatkan lautan di atas gunung dan selesai dalam waktu satu malam.

Kyai Bima menyanggupi persyaratan tersebut dan bekerja keras menggali tanah untuk membuat lautan dengan menggunakan tempurung (bathok) yang bekasnya sekarang menjadi Gunung Batok, dan lautan pasir (segara wedhi) terhampar luas di sekitar puncak Gunung Bromo. Untuk mengairi lautan dibuatkan sumur raksasa yang saat ini bekasnya menjadi kawah Gunung Bromo. Dengan rasa cemas Roro Anteng melihat kesaktian Kyai Bima yang hampir dapat menyelesaikan pernyataannya. Roro Anteng mulai gelisah lalu ia berusaha menggagalkan pekerjaan Kyai Bima dengan menumbuk jagung seolah-olah fajar sudah akan menyingsing, meskipun sebenarnya hari masih malam.

Mendengar suara orang menumbuk jagung, ayam-ayam bersahutan seakan-akan fajar sudah menyingsing. Mendengar kicauan burung-burung itu Kyai Bima terkejut. Disangkanya fajar telah menyingsing, padahal pekerjaannya belum selesai. Dengan sangat menyesal Kyai Bima meninggalkan bukit Penanjakan karena merasa tidak mampu menyelesaikan pekerjaannya sebagai syarat pinangannya.

Tanda bekas hasil karya Kyai Bima seperti diceritakan dalam legenda itu adalah : (1) segara wedhi, berupa hamparan pasir di bawah Gunung Bromo; (2) Gunung Batok, sebuah bukit yang terletak di sebelah selatan Gunung Bromo, yang berbentuk seperti tempurung yang ditengkurapkan; (3) gundukan tanah yang tersebar di daerah Tengger; yaitu : Gunung Pundak-lembu, Gunung Ringgit, Gunung Lingga, Gunung Gendera, dan lain-lain.

Aji Saka
Pada zaman dahulu (abad pertama Masehi?), ada seorang pengembara sakti bernama Saka ke bumi Nusantara. Ia adalah seorang anak muda yang baru saja menyelesaikan pelajaran tentang kesusastraan di sebuah padepokan, yang dipimpin oleh seorang Resi. Ia mengembara bersama dua orang muridnya, yaitu Dora dan Sembada. 

Perjalanan mereka sangat panjang dan melalui hutan belantara. Dalam perjalanan mereka sudah singgah di tempat-tempat suci dan keramat. Atas pengalamannya itu, mereka menjadi sakti. Akhirnya sampailah mereka di sebuah pulau bernama Majesti. Lingkungan alam pulau itu sangat indah dan membuat mereka terpesona. Karena perjalanan masih panjang dan bawaan mereka cukup berharga dan jumlahnya banyak, maka Saka mengadakan undian untuk menentukan siapa yang harus menjaga barang-barang tersebut. Yang mendapat tugas untuk menjaga adalah Dora. Sebelum berangkat, Saka meninggalkan sebuah keris yang diberi nama Sarutama, dengan sebuah pesan agar jangan diberikan kepada siapa pun kecuali kepada Saka.
 
Saka bersama Sembada meneruskan perjalanan. Akhirnya sampailah mereka di Pulau Jawa. Di pulau ini mereka bertemu suami istri yang sudab tua dan tidak mempunyai anak. Saka dan Sembada tinggal bersama mereka dan diangkat menjadi anak. Di Medang, tempat mereka tinggal, ada seorang raja raksasa bernama Dewata Cengkar, yang memiliki kebiasaan buruk, yaitu makan daging manusia setiap hari.

Pada suatu hari tibalah giliran bagi orang tua angkat Saka untuk mengirimkan seorang korban. Oleh karena keluarga itu tidak mempunyai anak, maka sang Ibu yang menjadi korban. Saka mendengar berita buruk itu dan ia bersedia menjadi penggantinya. Berangkatlah ia ke Medang untuk menjadi korban, disertai doa oleh kedua orangtua angkatnya agar dapat mengalahkan Dewata Cengkar.

Sesampai di Medang Saka diterima oleh patih dan diantar kepada Dewata Cengkar. Melihat pemuda tampan dan cukup sehat itu, Dewata Cengkar sangat senang dan segera ingin memakannya. Sebelum dijadikan korban Saka minta agar kedua orang tua angkatnya diberi tanah seluas ikat kepalanya dan pemberian itu disaksikan oleh rakyatnya. Permintaan itu dikabulkan. Maka digelarlah ikat kepala itu di atas tanah, disaksikan banyak orang. Ikat kepala Saka digelar dengan dibuka lipatannya. Ternyata lipatan itu tidak habis-habisnya, sehingga akhirnya sampai di tepi laut selatan. Dewata Cengkar terus tergiring oleh penggelaran ikat kepala itu. Akhirnya sampailah ia pada sebuah tebing, dan terjatuhlah ia ke laut.

Sepeninggal Dewata Cengkar, negara Medang diperintah oleh Saka dengan gelar Aji Saka. Rakyat merasa hidup tenteram, aman dan sejahtera. Pada suatu hari Saka ingat pada muridnya yang menjaga keris dan barang-barang berharga miliknya di Pulau Majesti. Ia mengutus Sembada untuk mengambil keris dan barang-barangnya itu dan Dora.

Sesampai di Pulau Majesti, Sembada bertemu dengan Dora. Mereka sangat senang dan berbahagia, saling berpelukan untuk menyatakan rindunya. Kemudian Sembada mengatakan bahwa kedatangannya atas utusan Saka, yang sekarang menjadi raja di Medang, untuk mengambil keris yang dititipkan kepada Dora. Namun Dora menolak memberikannya, sebagaimana pesan Saka bahwa tidak boleh diambil oleh siapa pun kecuali oleh Saka sendiri. Keduanya bertengkar dan tidak ada yang mengalah untuk menyatakan kebenaran pesan yang diterima. Terjadilah perkelahian antara keduanya untuk memperebutkan pusaka Sarutama. Kedua saling memukul saling menusuk tanpa mempedulikan rasa sakit. Kedua sama kuat dan sama Jayanya, tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah. Akhirnya keduanya mati bersama. Anehnya setelah mati Dora roboh ke barat, dan Sembada roboh ke timur.

Setelah lama ditunggu dan kedua muridnya tidak datang, maka Aji Saka sendiri menuju ke tempat Dora di Pulau Majesti. Setiba di Majesti diketahuinya bahwa kedua orang utusannya telah meninggal dengan bekas tusukan pusaka Sarutama. Melihat kenyataan tersebut Prabu Aji Saka tergerak hatinya untuk memperingati pengabdian kedua muridnya dengan menciptakan Aksara Jawa, yang berbunyi:
HA-NA CA-RA-KA ada utusan DA-TA SA-WA-LA: saling bertengkar PA-DHA JA-YA-NYA : sama-sama berjaya (kuat dan sakti) MA-GA BA-THA-NGA : mereka menjadi bangkai.

Klambi Antrakusuma
Ada dua orang, bernama mbah Tunggak dan mbah Tampa, bertapa di gua Purwana, sebelah timur pedukuhan Baledono. Pada waktu tengah malam mereka melihat sebentuk benda terbang di angkasa. Benda itu diikutinya dan akhirnya turun di Tunggul Wulung, kurang lebih sejauh 1 km dari Tosari ke arah Ngadiwono. Benda itu berhasil dipegang, tetapi kemudian lepas dan terbang kembali. Pertapa itu terus mengikutinya sampai akhirnya benda itu turun di Cemara Gading, jurusan Kaliteja, dan dipegang kembali. Ternyata benda itu berupa klambi antakusuma. Pada saat itu terdengar suara yang mengatakan : “aku gelem digawe, ning rumaten sing apik” (saya boleh dipakai, tetapi peliharalah baik-baik). Namun sekarang benda itu sudah tidak ada lagi. Konon katanya telah dijual orang-orang dukun Tosari, yang bernama Pak Kamar, kepada orang Belanda. Dan sewaktu meninggal dunia, badan Pak Kamar hancur membusuk dalam waktu singkat.

Selain disebut sebagai antrakusuma, benda ini kadang-kadang disebut juga sebagai antakusuma. Istilah antakusuma dipergunakan di wilayah Kabupaten Probolinggo, seperti
Ngadas, Ngadisari, dan Sukapura. Sedangkan istilah antrakusuma dipakai di wilayah Kabupaten Pasuruan, seperti di Tosari, Wanakitri, Sedaeng dan Ngadiwono.

Beberapa Peninggalan Nenek Moyang Tengger
Legenda
Ketiga legenda tersebut di atas oleh masyarakat Tengger dihafal, terutama oleh para dukun sebagai pemegang dan kepala adat. Khususnya legenda tentang Roro Anteng dan Joko Seger, selalu diceriterakan pada setiap upacara perayaan Kasada. Legenda tentang Aji Saka dikaitkan dengan upacara Karo, sebagai contoh tentang kehidupan dan untuk manusia kembali kepada sifat dan sikap kejujurannya, yaitu pada zaman ‘Satya Yoga’. Pada waktu itu penduduk masih sangat sedikit, sehingga hidup manusia masih serba kecukupan, makmur dan sejahtera.

Jimat Klonthongan
Jimat klonthongan merupakan benda warisan nenek moyang berisi gayung, sarak, sodar, tumbu, cepel, sejenis pakaian nenek moyang, dan sejumlah uang logam. Setiap desa memiliki uang logam tersebut yang digunakan dalam melaksanakan upacara Sodoran, sedangkan jimat klonthongan itu disimpan secara bergilir.

Lontar (keropak)
Di Tengger masih terdapat lontar (keropak) sebanyak 21 ikat, berisi tulisan Jawa lama, yang orang Tengger sendiri tidak bisa membacanya. Lontar tersebut saat ini disimpan oleh P. Rusma di Desa Ngadirejo, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. (Mantra purwa bhumi, yang dipakai sebagai salah satu data dalam penelitian ini, merupakan salah satu isi dan lontar tersebut).

Penghitungan Tahun Saka
Untuk pelaksanaan beberapa upacara penting, masyarakat Tengger menggunakan perhitungan kalender tersendiri, yang mereka namakan Tahun Saka atau Saka Warsa.

Perhitungan Tahun Saka di Indonesia jatuh pada tanggal 1 (sepisan) sasih kedhasa (bulan ke sepuluh), yaitu sehari setelah bulan tilem (bulan mati), tepatnya pada bulan Maret dalam Tahun Masehi (Supriyono, 1992). Cara menghitungnya dengan rumus : tiap bulan berlangsung 30 hari, sehingga dalam 12 bulan terdapat 360 hari. Sedangkan untuk wuku dan hari pasaran tertentu dianggap sebagai wuku atau hari tumbuk, sehingga ada dua tanggal yang harus disatukan dan akan terjadi pengurangan jumlah hari pada tiap tahunnya. Untuk melengkapi atau menyempurnakannya diadakan perhitungan kembali setiap lima tahun, atau satu windu tahun wuku. Pada waktu itu ada bulan yang ditiadakan, digunakan untuk mengadakan perayaan Unan-unan, yang kemudian tanggal dan bulan seterusnya digunakan untuk memulai bulan berikutnya, yaitu bulan Dhesta atau bulan ke-sebelas.

Agama, Adat dan Kepercayaan
Agama dan Kepercayaan

Seperti penjelasan sebelumnya, sebelum tahun 1973 masih belum jelas agama yang dianut masyarakat Tengger, kecuali mereka secara patuh melaksanakan berbagai upacara adat, antara lain: “Upacara Kasada, Karo, Entas-entas, Unan-unan, dan beberapa upacara lainnya yang bersifat tradisional. Mereka masih belum melaksanakan ibadah agama sebagaimana ditentukan oleh agama-agama besar. Sejak tahun 1973 pembinaan agama mulai dilaksanakan.

Menurut kepercayaan dari Parisada Jawa Timur, masyarakat Tengger digolongkan pemeluk agama Budha Mahayana dengan surat keputusan No. 00/PHB Jatim/Kept/III/73, tanggal 6 Maret 1973. Namun demikian, ditilik dari cara ibadah dan upacara keagamaannya, agama tersebut kurang menunjukkan tanda sifat ke-Budha-annya, kecuali pada setiap mantra yang dimulai dengan kata Hong, yang biasanya dipakai oleh masyarakat Tengger sebagai berikut:

“Abdi dalem sangep sumpah pandamelan ingkang kapasrahaken, lan andadosaken apisir, nindakaken penimbangan ingkang kalayan leres, pendamelan-pendamelan ingkang katekakaken miturut dateng agami BUDA sarana lisan, inggih punika damel jawab ingkang leres, tampia bra utami boten, kenging dhateng sepinten kemawon”.

Upacara adat yang dilaksanakan menunjukkan adanya salah satu upacara agama Hindu, yaitu Galungan. Di samping itu sejumlah mantra yang biasa diucapkan pada setiap upacara adat banyak mengandung ajaran agama Hindu. Akhirnya, oleh pembina keagamaan, ditetapkan bahwa masyarakat Tengger beragama Hindu.

Adat kepercayaan masyarakat Tengger tercermin pada cerita rakyat di kalangan masyarakat itu, berupa legenda yang berkaitan dengan Gunung Bromo dan Semeru. Kedua tempat mi dianggap sebagai tempat suci dalam melaksanakan upacara keagamaan. Tempat suci yang utama adalah pada Segara Wedhi (lautan pasir). Di samping itu, ada beberapa tempat di bawah pohon-pohon besar yang biasa untuk tempat sesajen. Segara Wedhi digunakan untuk upacara besar Kasada tiap tahun sekali.

Daerah Tengger dianggap sebagai tempat suci. Hal ini dikuatkan dengan ditemukannya prasasti Tengger dari awal abad ke-10. Prasasti itu terbuat dari batu dan bertahun Saka 851 (tahun 929 Masehi), serta menyebutkan bahwa sebuah desa bernama Walandit, terletak di pegunungan Tengger, adalah tempat suci karena dihuni oleh hulun hyang atau abdi dewa-dewi agama Hindu (Nancy).

Tempat ibadah yang utama ialah di sanggar pamujan, atau di rumah mereka sendiri. Baru setelah ada pembinaan, tuntunan oleh Parisada, maka didirikan pura tempat pemujaan, seperti halnya di Bali. Pura itu sampai sekarang masih dalam pengembangan, dan masih memerlukan waktu lama untuk menyempurnakannya (di Wonokitri 1991).

Agama masyarakat Tengger sebenarnya dianggap cenderung kepada agama Budha Mahayana, meskipun bila ditinjau dari cara beribadah dan kepercayaannya lebih merupakan perpaduan antara agama Hindu, Budha dan kepercayaan tradisional. Untuk tetap mempersatukan masyarakat Tengger, pada tahun 1973 oleh para sesepuhnya diadakan musyawarah di balai desa Ngadisari (Probolinggo). Pada kesempatan itu mereka menetapkan diri memeluk agama Hindu dan secara khusus melestarikan ucapan Hong, seperti terdapat pada setiap permulaan mantra tradisionalnya, sebagai permulaan salam. Salam khusus yang disetujui berbunyi Hong ulun basuki langgeng yang berarti: “Semoga Tuhan tetap memberikan keselamatan atau kemakmuran yang kekal abadi kepada kita”.

Pada dasarnya mereka menyembah pada Tuhan Yang Maha Esa yang diberi nama Sang Hyang Widhi Wasa. Sebelum diadakan pembinaan agama, masyarakat Tengger menamakan Tuhan dengan sebutan Gusti, atau Gusti Ingkang Maha Agung. WHD No. 469 Pebruari 2006.
(BERSAMBUNG)

 

 
< Prev   Next >
"));