|
MAKANAN HALAL = SUKLA? Supaya tidak terjadi salah terima maka sejak semula haruslah ditegaskan bahwa tulisan ini tidaklah mempermasalahkan bahwa gagasan didalam Hindu lebih baik dari yang diluarnya melainkan didalam suatu keyakinan bahwasanya semua tradisi memperoleh tempat mereka masing masing ; yang patut diketengahkan adalah bahwasanya catatan yang paling penting dari Hinduisme adalah tentang penghormatan dan kemauan baik diantara satu dengan yang lainnya. Idealisasi yang paling tinggi didalam hal perilaku hidup dan tentu saja juga termasuk makan adalah bahwasanya kita dianjurkan untuk tidak membunuh, ahimsa dan hal ini memiliki makna yang sangat luas termasuk juga didalam hal apa yang paling pantas menjadi santapan manusia. Apapun yang kita lakukan lebih lebih didalam kehidupan rohani dasarnya haruslah ahimsa sebab tanpa hal ini tindakan lanjutan seperti misalnya didalam delapan tangga –nya Patanjali (astanga) tidak akan bisa dilaksanakan dengan berdaya guna. Pada akhirnya pengetahuan modern juga membuktikan bahwa pada dasarnya pencernaan manusia bukanlah diciptakan untuk menjadi pemakan segala akan tetapi paling sesuai untuk mencernakan makanan vegetarian. Kita adalah apa yang kita makan (you are what you eat) merupakan azas yang bersifat universal dan didalam Hindu kita diharapkan untuk selalu makan makanan yang bersifat satvika.(memuliakan) dan hanya pada keadaan tertentu saja kita dianjurkan menyantap makanan yang bersifat rajasika (misalnya untuk pengobatan) akan tetapi selamanya tidak dianjurkan untuk makan makanan yang bersifat tamasika. Keseluruhan daging, ikan adalah tamasika dan hanyalah pada keadaan tertentu saja daging bersifat rajasika yaitu ketika kita memperoleh satwa yang tidak ada karma manusia-nya (misalnya diperoleh didalam berburu, jadi bukan binatang peliharaan) ; akan halnya ikan selamanya bersifat tamasika karena karma yang lebih berat dari binatang yang hidup didalam air (tekanan air terhadap tubuh lebih besar dari hanya sekedar tekanan udara). Anjuran untuk menyantap makanan yang bersifat satvika dimulai dari gagasan bahwa keseluruhan dari raga kita dari yang paling halus (fikiran) sampai kepada yang paling kasar memerlukan asupan prana (yang-hidup) dan prana yang paling bagus kwalitasnya dan paling banyak menjadi sari makanan/minuman yang bersifat satvika. Sari makanan berupa prana ini (ojas) didistribusikan keseluruh tubuh sedang sisa-nya (amas) akan dikeluarkan melalui saluran pembuangan. Didalam Ayurveda dengan gamblang dikatakan bahwa kebanyakan amas yang sampai tidak terbuang akan menimbulkan penyakit dan amas yang menumpuk pada persendian akan menghasilkan sakit encok yang berkepanjangan. Apakah pemahaman seperti ini selamanya demikian? Jawabannya adalah memang demikian. Semuanya ada didalam Veda dimana diceriterakan bahwa Veda tidaklah memiliki permulaan dan tentu saja tidak memiliki akhir. Gagasan seperti ini tentu saja tidak sama dengan apa yang dikatakan oleh keimanan lain maupun oleh ilmu pengetahuan modern dimana semuanya memiliki permulaan dan memiliki akhir. Pemahaman tahapan peradaban yang dimulai dengan jaman kanibal dan primitive tidak dikenal didalam Hindu malah permulaan jaman adalah Jaman Emas (Satya Yuga). Jaman yang sempurna dimana manusia hampir mirip dengan dewata. Hal penting lagi yang patut dikemukakan adalah bahwasanya segala sesuatu yang disantap oleh manusia seyogyanya dipersembahkan terlebih dahulu kepada Tuhan ; dengan kata lain manusia hanyalah menyantap sesuatu yang sebelumnya telah dihaturkan kepada Dewata. Penegasan hal ini dijelaskan didalam Bhagavad Gita (iv, 31) dimana dikatakan bahwa ‘mereka yang menyantap makanan suci yang tersisa setelah sebuah upacara (yajna) akan mencapai Yang Mutlak Yang Abadi ; dunia ini bukanlah untuk dia yang tidak menjalankan yajna (kurban).’ Hukum alam semesta ini adalah yajna dan dia yang melanggarnya tidak akan memperoleh apa-apa. Karena segala sesuatunya harus dihaturkan kepada Dewata (Tuhan) terlebih dahulu maka faktor kebersihan (luar dalam) dan tiadanya pencemaran sangatlah diperhatikan. Tradisi mengenai makanan yang sukla (arti arfiahnya putih) sampai sekarang dijaga dengan baik di Bali dan mereka percaya bahwasanya hanya makanan yang dipersiapkan dengan baik saja yang dapat disebut sukla. Bersih itu tidak saja menyangkut ciri lahiriah akan tetapi lebih daripada hal itu. Dapur dimana makanan itu akan dipersiapkan tentu saja harus bersih secara fisik akan tetapi juga secara rohani. Tidak dibenarkan membangun dapur yang sekaligus menjadi kamar mandi atau tempat jemuran baju apalagi pakaian dalam (baik laki atau perempuan). Mempersiapkan makanan tidak boleh dengan mencicipinya sebab seberapa kecil-pun yang dicicipi maka keseluruhan makanan itu sudah tercemar sebelum sempat dipersembahkan. Konsekwensi daripada hal ini membawa kita kepada kesimpulan bahwasanya siapapun yang memasak untuk dihaturkan kepada Dewata tentu saja orang yang sudah berpengalaman ; sebab tentu saja yang dihaturkan adalah yang terbaik (yang paling enak atau sedap) yang mungkin dari sebuah keluarga (ini bukan berarti harus mewah atau berlebihan). Makanan yang dihaturkan tentu sajalah harus dipersiapkan dengan rasa cinta dan kasih sayang dan hal ini hanya mungkin diperoleh dari seorang ibu ; makanan restoran/warung yang dipersiapkan oleh seorang juru masak yang sehebat apapun tentu saja tidak bisa mengalahkan makanan rumah yang dipersiapkan oleh seorang ibu yang melaksanakannya dengan penuh kasih sayang. Hanya oleh orang yang mengerjakannya dengan kasih semua persiapan untuk memasak (bahannya harus yang baik, segar dst) bisa dikerjakan dengan sempurna. Sebab didalam Bhagavad Gita juga dijelaskan berbagai jenis makanan yang tidak layak untuk disantap (tentu saja juga untuk dihaturkan sebelumnya) seperti yang asam, basi dsb. Demikian telitinya dan demikian pentingnya faktor sukla didalam masak memasak sehingga mereka yang sedang datang bulan dianjurkan agar tidak memasak sebab aura dari mereka tidaklah dalam keadaan yang ideal dan dikhawatirkan akan memberikan hasil masakan yang kurang memuaskan. Faktor ‘peralatan tambahan’ juga diharapkan sukla luar dalam. Misalnya saja bagaimanapun bersihnya bekas busana (terlebih pakaian dalam) maka dilarang keras untuk menjadikannya lap pembersih baik piring, meja, kuali dsb. Kursi/bangku yang menjadi tempat duduk si tukang masak atau dagang tentu saja tidak bisa disimpan diatas makanan (baik yang masih mentah maupun yang sudah masak) atau diatas rombong. Adakah doa ketika persiapan untuk memasak? Doa dan komunikasi diantara tukang masak dangan api dan dengan apa yang dimasaknya tentu saja tidak sedikit. Malah mereka yang memetik sayur atau buah apalagi bahan obat bukan saja memanjatkan doa akan tetapi juga berkomunikasi dengasn tetumbuhan ini. Mantra yang paling banyak diucapkan sebelum makan tercantum didalam Bhagavad Gita (iv, 24) : brahma’r panam brahma havir / brahmagnau brahmana hutam / brahmai’va tena gantavyam / brahmakarmasamadhina ; Untuk dia persembahan ini adalah Tuhan, yang dipersembahkan adalah Tuhan. Oleh Tuhan hal ini disampaikan kepada apiNya Tuhan. Tuhan-lah yang akan dicapai oleh dia yang merealisasikan Tuhan didalam kerjanya. Disini yajna didalam Veda ditafsirkan didalam arah rohani yang lebih besar. Walaupun yang melaksanakan yajna memang berbuat dia tidaklah diikat oleh perbuatannya ini sebab dunianya dikembangkan didalam rasa keabadian. Disini pula terjawab berbagai pertanyaan yang terkadang sinis mengenai kemahakuasaan Tuhan yang tidak memerlukan apa apa sehingga pelaksanaan yajna hanyalah sekedar perbuatan bodoh yang kekanak-kanakan. Seperti dikatakan didalam mantra ini, persembahan itu sendiri adalah Tuhan, demikian juga dia yang menyantap persembahan itu, proses makan, orang yang menyumbang dan hasilnya, semuanya digabungkan bersama sama adalah brahman atau Kebenaran Mutlak. Sebab persembahan menjelang makan ini juga yajna (kurban suci) yang hanya dimaksudkan untuk pemujaan kebesaran Tuhan dan rasa syukur atas karuniaNya. Seyogyanya pemahaman mengenai makanan sukla ini bisa menjadi salah satu bahasan Sabha Pandita dan pada akhirnya disampaikan didalam bentuk bhisama sebab kami yakin makanan sukla sudah pasti menyehatkan jasmani dan rohani. Bhisama semacam ini juga menjadi sangat penting, semacam kavaca (tameng, shield) yang bisa menyelamatkan seni kuliner kita dari hantaman globalisasi yang demikian dersanya. (agus s. mantik).
|