Logo PHDI Pusat
Siaran TV dan Takaran Nilai Budaya Print E-mail

Budaya - Minggu, 31 Mei 2009 | BaliPost
Siaran TV dan Takaran Nilai Budaya
Oleh Djuminto

SUATU hari dalam penerbangan Denpasar-Yogyakarta, penulis secara kebetulan duduk sejajar mendengarkan percakapan dua orang ibu muda yang memperbincangkan tentang tayangan televisi (TV) kita. Inti perbincangan itu, mereka sangat prihatin dengan beberapa tayangan TV akhir-akhir ini yang penuh dengan kekerasan dan obral kemewahan, sampai acara-acara yang isinya tak sesuai dengan norma dan nilai-nilai budaya kita.

Memang akan sulit menakar nilai budaya mana yang sesuai apalagi pas untuk pemirsa mulai balita sampai orang tua, serta pas juga untuk tayangan TV yang siarannya sepanjang hari.

Pada dasarnya, tayangan TV memang harus menghibur. Siapapun yang menonton TV umumnya mencari hiburan, jarang yang mengatakan mencari pendidikan. Namun, sudah menjadi sifatnya bahwa tayangan yang hanya menghibur saja sering tidak sesuai dengan kaidah siaran TV yang pada dasarnya merupakan media hiburan, informasi dan edukasi serta promosi. Namun juga tak dipungkiri bahwa memproduksi acara-acara pendidikan atau informasi, kalau tidak menghibur, juga tidak akan disaksikan oleh pemirsa.

Nah, pembicaraan dua ibu di atas yang sangat khawatir dengan siaran TV mestinya tak akan terjadi jika para pengelola menyadari fungsi siaran TV. Bahkan hal ini pun diatur oleh Undang Undang (UU) Penyiaran No.32 tahun 2002 yang masih berlaku hingga saat ini.

Bab II pasal 3 Undang-undang ini mengatakan, penyiaran diselenggarakan dengan tujuan untuk memperkukuh integrasi nasional, terbinanya watak dan jatidiri bangsa yang beriman dan bertakwa, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum dalam rangka membangun masyarakat yang mandiri, demokratis, adil dan sejahtera, serta menumbuhkan industri penyiaran Indonesia.

Memang kalau dibaca bab tersebut, tidak ada satu kata pun yang mengatakan bahwa media TV bertujuan menghibur. Namun pengelola siaran harus sadar benar apapun bentuk siarannya harus menghibur, namun menghibur yang sehat sebagaimana disebut pasal 4 ayat 2 UU Penyiaran tahun 2002.

Program siaran TV secara garis besar jenisnya dapat dikelompokkan menjadi dua bagian besar yaitu program informasi/berita dan program hiburan. Program informasi dibagi dua, berita keras dan berita lunak. Program hiburan dibagi empat kelompok besar yaitu musik, drama, permainan (game show) dan pertunjukan.

Acara "Bukan Empat Mata" tayangan TransTV merupakan salah satu acara yang menghibur dan secara format masuk ke wilayah acara talk show. Acara ini sangat menghibur, namun pernah dihentikan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) karena dianggap ada muatan yang dinilai tidak pas dengan etika dan perilaku penyiaran.

Ini merupakan salah satu contoh yang baik untuk dikaji insan penyiaran khususnya para tim kreatifnya, mengapa acara yang punya rating tinggi dihentikan penyiarannya KPI. Jadi jelas, produksi acara TV itu tidak hanya sekadar menghibur, tapi juga harus mendidik.

 

Lokal Mengglobal

"Think globally act locally" atau "berpikir global bertindak lokal" -- ungkapan John Naisbitt, pengarang "Megatrends 2000" dan "Global Paradoks" -- barangkali yang pas untuk pedoman tim kreatif insan penyiaran TV.

Semua insan penyiaran -- dari produser, director, presenter, hingga script writer -- pasti ingin karyanya tidak hanya disiarkan di tingkat lokal saja. Suatu saat pasti ingin karyanya juga disiarkan di kawasan global. Untuk menuju ke sana, tentunya secara teknis produksi termasuk artistik harus berstandar internasional. Dan itu tentunya tidak susah. Pedoman produksi program dan peralatan produksi serta penyiaran yang beredar di dunia semuanya standar internasional, termasuk di Indonesia.

Betapa bangganya suatu saat nanti insan penyiaran Indonesia dapat memproduksi program seri atau serial acara dokumenter, misalnya, yang disiarkan rutin oleh stasiun TV NHK Jepang, BBC Inggris, CBS Amerika, ABC Australia, dll. Memang sudah ada beberapa sinetron Indonesia yang sudah disiarkan di mancanegara seperti di kawasan Asia Tenggara.

Bahan untuk materi program di Indonesia luar biasa banyaknya. Jika diproduksi, tak akan kehabisan bahan. Contohnya, materi dokumenter tentang flora dan fauna Indonesia, kuliner khas Indonesia, termasuk seni dan budaya Indonesia dan banyak lagi. Ada yang bilang bahwa di Indonesia, "begitu buka lensa, kamera tidak usah digerakkan, gambarnya sudah menarik". Sebuah ungkapan yang sangat prospektif.

Stasiun TV Lokal

Saat ini, tak kurang dari 100 stasiun TV lokal tersebar di seluruh provinsi di Indonesia. Dari segi jumlah sangat menggembirakan, namun dari segi pengelolaan program yang memenuhi standar siaran masih perlu ditingkatkan. Belum lagi dari segi pendapatan iklan yang merupakan sumber pendapatan utama pembiayaaan operasional.

Slogan ataupun motto yang dipilih pun semuanya menggambarkan dan mengusung identitas lokal maupun nasional yang sangat berhubungan dengan budaya negeri sendiri. Seperti slogan "Tradisi Tiada Henti" Jogja TV, "Media Publik Kita" TVRI Yogyakarta, hingga "Matahari dari Bali" Bali TV. Jadi, jelas sekali warna slogan-slogan itu beridentitas khas daerah yang sangat melekat.

Materi acara yang berwarna dan berkarakter lokal menjadi salah satu lahan program yang diutamakan. Ini menunjukkan program siaran TV lokal sudah pada frame yang benar.

Namun, siaran "benar" saja ternyata belum bisa menarik perhatian maksimal dari pemirsa dan pemasang iklan.

Perlu ada kiat-kiat khusus untuk membuat terobosan sehingga pemirsa bangga kepada stasiun lokal di daerahnya.

Untuk produksi dan siaran yang baik memang perlu modal besar. Siaran TV itu padat modal. Kalau orang tak berani mengeluarkan biaya memadai untuk memproduksi acara, dapat dipastikan acara itu hasilnya tak maksimal -- segi teknis maupun dari segi artistik.

Untuk memproduksi acara TV yang baik, harus ada segala sesuatu yang berhubungan dengan produksi itu serba baik. Harus ada alat, materi, SDM atau tim kreatif, manajemen, dan (yang paling penting) uang yang baik. Uang yang baik inilah yang akan menentukan layar baik. Artinya, kalau punya modal yang baik atau uang yang memadai pasti dihasilkan acara yang baik, asal penggunaannya benar tentunya.

 

Berani Berbeda

Penulis ingat ketika tahun 1980-an hingga 1990-an, TVRI Denpasar (sekarang TVRI Bali) bersama-sama para seniman yang tergabung dalam Teater Mini Badung memproduksi drama klasik pewayangan. Acara ini merupakan drama pewayangan khas TVRI Denpasar.

Penulis naskah sekaligus pengatur laku dan pimpinan teater Anom Ranuara berani tampil beda dalam hal tampilan pelakunya, baik dari segi kostum maupun aktingnya. Akting yang tidak terlalu banyak gerakan, mengandalkan kedalaman makna dialog dan ekspresi digabungkan dengan terminologi atau teknik televisi seperti chromakey atau vizual manipulation (trik gambar), menghasilkan suatu drama wayang khas TV yang tampil beda dan punya segmen pemirsa sangat tinggi.

Acara ini hanya salah satu contoh kerja para tim kreatif TV berkolaborasi dengan pelaku seni menghasilkan sebuah program TV yang tampil beda. Inilah contoh kerjasama dan perpaduan teknologi yang ada dan materi program serta para pekerja seni yang sama-sama ngin menghasilkan acara TV yang menghibur sekaligus mendidik.

Acara TV sangat dinamis dan berkembang sangat pesat. Batas antara format acara satu dengan yang lain kini tidak begitu jelas dan tidak kaku. Acara reality show yang belakangan sangat variatif merupakan salah satu format yang punya kekuatan tersendiri dan menjadi salah satu alternatif bahan siaran. Batas antara talkshow, variety show dan reality show sudah tidak ada sekat lagi. Prinsip acara menariklah yang menjadi acuhan tim kreatif memproduksi program yang kadang-kadang di luar keadaan sebenarnya.

Sekarang, wawancara, dialog atau talk show dengan orang-orang penting yang punya kedudukan tinggi tidak harus di tempat formal. Demi alasan agar acara menarik, menghibur dan bahkan tampil beda, ini sah-sah saja. Minimal kalau pemirsa tidak mau menengarkan dialognya, dapat menikmati lokasi ataupun setting-nya. Pun acara berita yang presenternya biasa tampil formal, kini mulai tampil lebih santai, termasuk tampilan setting dekorasi dan propertinya.

Terlepas dari itu semua, tayangan acara-acara yang tampil beda, inovatif, sesuai dengan perilaku penyiaran, dan selalu memperhatikan keluhan serta masukan pemirsa seperti dua ibu muda tadi, perlu menjadi renungan dan pedoman bagi setiap insan penyiaran. Semoga!

 

* Penulis adalah

praktisi televisi,

tinggal di Yogyakarta

 
< Prev   Next >
"));