Logo PHDI Pusat
Mengenal Masyarakat Tengger ( 5 ) Print E-mail

Mengenal Masyarakat Tengger   ( 5 )
Oleh : Prof. Dr. Simanhadi Widyaprakosa (Sambungan WHD No. 472)

(2) Siklus Hidup
Ada 3 (tiga) tahap penting siklus kehidupan menurut pandangan masyarakat Tengger, yakni:

1. umur 0 sampal 21 (wanita) atau 27 (pria), dengan lambang bramacari yaitu masa yang tepat
    untuk pendidikan;
2. usia 21 (wanita) atau 27 (pria) sampai 60 tahun lambing griasta, masa yang tepat untuk
    membangun rumah dan mandiri;
3. 60 tahun ke atas, dengan lambang biksuka, membangun diri sebagai manusia usia lanjut
    untuk lebih mementingkan masa akhir hidupnya.

Pada masa griasta ada ungkapan yang berbunyi kalau masih mentah sama adil, kalau sudah masak tidak ada harga, yang bermaksud hendaklah manusia itu pada waktu mudanya bersikap adil dan masa dewasa menyiapkan dirinya untuk masa tuanya dan hari akhirnya.

4) Pertunangan dan Perkawinan
Pada umumnya masyarakat Tengger mempunyai pendirian yang cukup bermoral atas perkawinan. Poligami dan perceraian boleh dikatakan tidak pernah terjadi. Perkawinan di bawah umur juga jarang terjadi. Dalam pertunangan (pacangan), lamaran dilakukan oleh orangtua pria. Sebelumnya didahului dengan pertemuan antara kedua calon, atas dasar rasa senang kedua belah pihak. Apabila kedua belah pihak telah sepakat, maka orangtua pihak wanita (sebagai calon) berkunjung ke orangtua pihak pria untuk menanyakan persetujuannya atau notok. Selanjutnya apabila orangtua pihak pria telah menyetujui, diteruskan dengan kunjungan dari pihak orangtua pria untuk menyampaikan ikatan (peningset) dan menentukan hari perkawinan yang disetujui oleh kedua belah pihak. Sesudah itu barulah upacara perkawinan dilakukan.
 
Sebelum acara perkawinan biasanya telah dimintakan nasihat kepada dukun mengenai kapan sebaiknya hari perkawinan itu dilaksanakan. Dukun akan memberikan saran (menetapkan) hari yang baik dan tepat, ‘papan’ tempat pelaksanaan perkawinan, dan sebagainya. Setelah hari untuk upacara perkawinan ditentukan, maka diawali selamatan kecil (dengan sajian bubur merah dan bubur putih).

Sebagai kelengkapan upacara perkawinan, maka pasangan pengantin diarak (upacara ngarak) keliling, diikuti oleh empat gadis dan empat jejaka dengan diiringi gamelan. Pada upacara perkawinan pengantin wanita memberikan hadiah bokor tembaga berisi sirih lengkap dengan tembakau, rokok dan lain, sedangkan pengantin pria memberikan hadiah berupa sebuah keranjang berisi buah-buahan, beras dan mas kawin.
 
Pada upacara asrah pengantin, masing-masing pihak diwakili oleh seorang utusan. Para wakil mengadakan pembicaraan mengenai kewajiban dalam perkawinan dengan disaksikan oleh seoran dukun. Pada upacara pernikahan dibuatkan petra (petara: boneka sebagai tempat roh nenek moyang) supaya roh nenek moyangnya bisa hadir menyaksikan.

5) Hak Waris
Pada dasarnya masyarakat Tengger mempertahankan hak waris tanah untuk anak keturunan mereka saja. Apabila ada keluarga yang terpaksa menjual hak tanah, diusahakan untuk dibeli oleh keluarga yang terdekat. Pewarisan kepada anak-turunannya ditentukan oleh kerelaan pihak orang tua, bukan atas dasar aturan ketat yang dibakukan.

5. Kesenian dan Tata Rumah
1) Kesenian
Kesenian merupakan bagian dari kebudayaan manusia. Hasil kesenian daerah, sebagai unsur dari kebudayaan dan adat istiadat masyarakat Tengger, dapat dikelompokkan menjadi tiga, yakni seni panggung, seni musik dan seni tari. Di samping itu dapat pula dikelompokkan menjadi kesenian tradisional dan modern. Kesenian tradisional dapat dikelompokkan menjadi keseniän tradisional yang berasal dari masyarakat Tengger sendiri dan yang berasal dari luar daerah Tengger.

Seni tari yang tradisional dan yang bersifat ash hanya ada dua, yaitu tari ujung dan tari sodoran. Kedua jenis tarian ini dilaksanakan pada upacara adat, yaitu pada waktu pembuatan jimat klonthong dan bertepatan dengan upacara Karo. Khusus untuk Desa Wonokitri dan Desa Sedhaeng, sebelum tari Ujung digelarkan, terlebih dahulu dilaksanakan dandosan berupa sesajen sedekah pangonan.

Yang pertama, tari sodoran merupakan kesenian tradisional Tengger yang mengandung nilai keagamaan. Penarinya empat orang dan saling berhadapan, dimulai dengan jarak berjauhan dan terus bergerak mendekati lawannya. Mereka menari dengan diiringi bunyi gamelan. Penari menunjukkan jarinya dalam gaya tariannya. Penunjukan telunjuk itu sebagai lambang purusan dan pradazza, yang bermakna sebab pertama dan alam semesta yang bersifat abadi.
Yang kedua, tari ujung merupakan suatu kçsenian yang merakyat Kesenian ini sening dinamakan kesenian tiban. Biasanya tarian ml dimainkan setiap hari raya Karo, setelah
- nyadran dan sebelum mulihe ping pitu ‘ dalam rangkaian upacara Karo. Tari ujung menunjukkan makna lambang persahabatan, yaitu rasa bersatu dan merasakan suka-duka bersama. Pada tarian ini penari saling memukul bergantian dengan rotan berukuran kurang lebih satu meter.

Seni tari lain yang sekarang banyakjuga disenangi oleh masyarakat Tengger antara lain adalah ludruk, kethoprak dan lain-lain yang berasal dan luar masyarakat Tengger. Kesenian ini sewaktu-waktu dapat dipanggungkan apabila diperlukan.
Seni musik yang masih bersifat tradisional dan berasal dan masyarakat engger sendiri adalah seni karawitan. Namun sekarang masyarakat ini juga menyenangi antara lain seni terbang gelipung, dan seni hadrah, sedangkan seni modern yang telah masuk adalah keroncong, band, dan orkes melayu.

Seni tari atau jenis kesenian yang memusatkan kepada gerakan, yang berasal dan luar masyarakat Tengger namun saat ini mulai digemari, antara lain adalah pencak silat dan akrobatik. Jenis kesenian ini banyak peminatnya danbisa diterima dengan baik. (Sebagai catatan, seni wayang kulit untuk daerah Tosari hanya dimainkan untuk ruwatan, sedangkari di Desa Ngadisari sama sekali tidak diperkenankan untuk dimainkan).

2) Tata Rumah
Rmah penduduk Tengger dibangun di atas tanah, yang sedapat mungkin dipilih pada daerah datar, dekat air, atau kalau terpaksa dipilih tanah yang dapat dibuat teras, dan jauh dan gangguan angiñ. Runah-rumah letaknya berdekatan atau menggerombol pada suatu tempat yang dapat dimasuki dan berbagaf jurusany yang dihubungkan dengan jalan sempit atau gak lebar antara satu desa dengan desa lain. Desa induk yang disebut Jcrajan biasa-nya terletak di tengah dengan jaringan jalan-jalan yang menghubungkan dengan desa lain.
Pembangunan sebuah rumah selalu diawali dengan selamatan, demikiah pula apabila bangunan telah selesai (rampung) diadakan selamatan lagi. Pada setiap bangunan yang sedang dikejakan selalu terdapat sesajen, yang digantungkan pada tiang-tiang, berupa makanan, ketupat, lepet, pisang raja dan lain-lain. Bangunan rumah orang Tengger biasanya luas sebab pada umumnya dihuni oleh beberapa keluarga bersama-sama, Ada kebiasaan bahwa seorang pria yang baru saja kawin akan tinggal bersama mertuanya.
Tiang dan dinding rumahnya terbuat dan kayu dan atapnya terbuat dan bambu yang dibelah. Setelah bahan itu sulit diperoleh, dewasa ini masyarakat telah mengubah kebiasaan itu dengan menggunakan atap dan seng, papan atau genteng.

Alat rumah tangga tradisional yang hingga sekarang pada umumnya masih tetap ada adalah baiai-balai, semacam dipanyang ditaruh di depan rumah. Di dalam ruangan rumah itu disediakan pula tungku perapian (pra pen) yang terbuat dan batu atau semen. Perapian ini kurang lebih panjangnya 1/4 dari panjang ruangan yang ada. Di dekat perapian terdapat ruang duduk yang meliputi kurang lebih separuh dan seluruh ruangan. Apabila seorang tamu drtenima dan dipersilakan duduk di tempat ini menunjukkan bahwa tamu tersebut diterima dengan hormat.

Selain digunakan untuk penghangat tubuh bagi penghuni rumah, perapian juga dimanfaatkan untuk mengeringkan jagung, atau bahan makan lainnya yang memerlukan pengawetan dan ditaruh di atas paga. Dekat tempat perapian itu terdapat pula alat-alat dapur, lesung, dan tangga. Halaman rumah mereka pada umumnya sempit (kecil) dan tidak ditanami pohon-pohonan. Di halaman itu pula terdapat sigiran, tempat untuk menggantungkan jagung yang belum dikupas. Selain itu, sigiran dimanfaatkan untuk menyimpan jagung, sehingga juga berfungsi sebagai lumbung untuk menyimpan sampai panen mendatang.

6. Tengger sebagai Daerah Penyangga Taman Nasional Bromo-Tengger Semeru
Lokasi Taman Nasional Bromo terletak di pertemuan empat kabupaten, yaitu Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang. Daerah tersebut dihuni oleh masyarakat Tengger yang memiliki tradisi dan budaya khas, sebagai peninggalan nenek moyang sejak zaman Majapahit. Gunung Bromo merupakan gunung berapi, yang terus-menerus mengepulkan asap pada bagian tengah kalderanya. Gunung tersebut dikelilingi olëh laut pasir (segara wedhi), serta dikelilingi oleh pegunungan dengan jurang-jurang yang terjal. WHD No. 474 Juli 2006.
(BERSAMBUNG)

 

 
< Prev   Next >
"));