Logo PHDI Pusat
Mengenal Masyarakat Tengger ( 8 ) Print E-mail

Mengenal Masyarakat Tengger ( 8 )
Oleh : Prof. Dr. Simanhadi Widyaprakosa (Sambungan WHD. No, 476)

(4) Upacara-upacara lain bersifat individual, sehingga sedikit kemungkinan untuk dijadikan
     objek kepariwisataan. Di samping itu terdapat pula upacara Galungan, yang ada karena
     masuknya agama Hindu Dharma Bali.

(3) Mantra
Beberapa mantra yang dibaca setiap upacara tradisional sudah dicatat oleh salah seorang dukun, yaitu Dukun Sujai, dan ditulis dengan huruf Jawa., Namun hingga sekarang masih ada dua mantra besar yang penting masih belum terdokumentasikan, yaitu mantra purwa bhumi dan mandhalagiri. Sebenarnya di Tengger masih terdapat 21 lontar yang disimpan dan dikeramatkan oleh penduduk, yang salah satu di antaranya berisi mantra purwa bhumi. Apakah isinya sama dengan mantra purwa bhumi yang dihafal oleh pewaris, masih belum diketahui.

Di masyarakat Tengger terdapat pewaris mantra yang sampai saat ini masih hafal isi dan ucapan mantra purwa bhumi dan mandhalagiri, yang perlu dilestarikan, apabila daerah Tengger akan digunakan sebagai daerah penyangga taman nasional dan sekaligus sebagai daerah wisata adat atau budaya tradisional.
Dengan mempelajari isi berbagai mantra yang terdapat di daerah Tengger, dapat diketahui isi kejiwaan dan pandangan hidup masyarakat Tengger. Dengan cara demikian akan lebih memudahkan membina can mengem bangka masyarakat Tengger, sehingga mampu hidup di tengah perkembangan dunia yang cepat berubah di alam globalsiasi.

(4) Makna Simbolik Beberapa Alat Upacara
Setiap pelaksanaan upacara disertai dengan berbagai sesajen dan peralatannya. Apabila dikaji lebih mendalam, berbagai sesajen dan peralatan itu secara simbolik mempunyai makna tertentu. Makna simbolik ini akan sangat berguna sebagai alat pendidikan dan pewarisan nilai-nilai kepada masyarakat dan generasi. Sebagai contoh, pada sesajen sering terdapat empat atau lima macam warna makanan, antara lain juadah putih diartikan sebagai Sang Hyang Iswara yang berkedudukan di timur, melambangkan kelahiran ataupun sifat kesucian waktu manusia dilahirkan. Juga diartikan sebagai penglihatan (paninggal). Timur diartikan sebagai ‘permulaan’ atau wiwitan atau wetan (Jw); juadah merah sebagai lambang Sang Hyang Bromo yang berkedudukan di selatan, yang diartikan pula sebagai pendengaran. Demikian pula jenis-jenis makanan dan warna lainnya, semuanya diberi makna simbolik.
 
Dengan demikian, berlangsungnya setiap upacara adat merupakan kesempatan baik untuk menyampaikan makna yang terkandung dalam setiap alat upacara ataupun sesajen. Apabila arti lambang tersebut sungguh-sungguh dipahami dan dihayati akan berguna bagi manusia untuk membentuk dirinya sendiri.

4. Konsep Tentang Manusia
Seperti halnya masyarakat tradisional lainnya, masyarakat Tengger mempercayai adanya dualisme hubungan antara jiwa dan raga, antara sukma dan badan. Sukma atau roh manusia bersifat langgeng, berasal dan alam baka datang ke dunia fana, dan akan kembali ke alam baka lagi. Di samping itu dipercayai pula bahwa hubungan antara roh dan badan adalah terpisah, seperti hubungan antara burung dengan sangkarnya.
 
Konsep tentang manusia bagi masyarakat tengger dapat dipelajari dan berbagai sumber antara lain dan mantra kata-kata sesanti, legenda dan tafsir mereka terhadap lambang-lambang tertentu. Beberapa mantra memang hanya dikuasai oleh para dukun atau orang yang dituakan oleh masyarakat Tengger, misalnya mantra purwa bhumi dan mandhalagiri, mantra ini dihafal juga oleh para dukun yang berkedudukan sebagai kepala adat dan jumlahnya sangat terbatas. Mereka adalah orangorang terkemuka yang dipandang berpengaruh dan dapat menerangkan segala sesuatu yang berkenaan dengan konsep hidup. Jadi, mereka berpengaruh atas lingkungannya, sebagai panutan atau sebagai sumber pengetahuan tentang hidup.
 
Mantra purwa bhumi berisi kejadian alam, termasuk kejadian manusia, yang mengandung ajaran bahwa manusia (Tengger) diwajibkan melaksanakan pemujaan melalui berbagai upacara, antara lain Galungan, Penawangan, Kasada, dan Kepitu, bulan purnama, dan bulan tilem. Apabila pemujaan itu dilakukan, maka manusia akan dibebaskan dan dosa-dosanya. Demikian pula dan beberapa mantra lain dapat dipelajari mengenai ajaran hidup dan konsep tentang manusia.

Dan legenda dengan cerita Aji Saka, dapat dipelajari konsep tentang manusia, terutama dengan penafsirannya terhadap aksara jawaha-na-ca-ra-ka, yang menggambarkan bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Manusia memiliki cipta, rasa dan karsa sebagai alat kejiwaan, sehingga mampu mengembangkan din sebagai pribadi manudiri, yang wajib melaksanakan lima tugas hidup untuk tumbuh menjadi manusia sempurna.
Kelima tugas hidup itu belum begitu jelas, namun bisa dikaitkan dengan panca sradha maupun panca setya, yaitu kepercayaan akan adanya lima hakikat keimanan dan lima kesetiaan dalam melaksanakan hidup di dunia ini.
 
Di samping penafsiran tersebut, secara harfiah pun aksara Jawa mengandung arti ada (dua orang) utusan, yang saling bertengkar (dan berkelahi), keduanya sama ampuhnya, dan akhirnya mati bersama. Dalam legenda kedua utusan itu dinamakan dora dan sem1da, yang berarti dusta dan konsekuen. Dan rangkaian katakatanya dapat diartikan bahwa pada dasarnya dalam din manusia ada dua sifat yang saling bertentangan, namun keduanya sama pentingnya. Atau dapat pula diartikan adanya dua utusan Tuhan, yang masing-mäsing membawa kebenaran sesuai dengan kondisi atau zamannya. Dalam hal ini masyarakat Tengger dapat memahami adanya agama lain (Islam) yang dipeluk oleh masyarakat tetangganya (dengan istilah geblag lor dan geblog kidul).
 
Tafsiran terhadap makna ha-naca-ra-ka dapat diartikan sebagai pertentangan kedua utusan yang saling mempertahankan kebenanari masingmasing, atau bahwa keduanya tidak dapat dipisahkan, sama teguhnya dalam memegang perinah, dan sama jayanya dalam memperjuangkan kebenaran, namun hal itu ternyata mengakibatkan kehancuran. Jadi, dalam mempertahankan kebenaran yang penting adalah marmane gun tya binuka thukul ngakasa, yang artinya saling terbuka tumbuh bebas, atau menyempurna.
Sesanti (kata-kata mutiara) yang mereka gunakan juga sangat berperan sebagai acuan sikap hidup. Kenyataan itu adalah tercermin pada lima kawruh buda, yaitu prasaja, prayogya, pranata, prasetya, prayitna, yang bermakna :jujur, bijaksana, patuh pada pimpinan, setia, dan waspada. Di samping itu tercermin pula pada panca setia, yaitu setya budaya, setya wacana, setya semaya, setya laksana, dan setya mitra. Ungkapan itu bermakna orang hidup hendaklah bersikap taat, tekun, mandiri setia pada ucapan (janji), patuh, dan setia kawan. Ajaran tersebut tampak masih melekat pada sikap dan perilaku masyarakat Tengger dalam kehidupan sehari-hari.
 
Dan konsep tentang manusia dan konsep hidup tersebut, dapatlah diambil hikmahnya untuk pengembangan masyarakat Tengger, antara lain tentang:

(1) penghormatan terhadap orang tua dan nenek moyang; kelanggengan roh manusia yang meskipun telah berada didalam baka, namun tetap harus diusahakan kesucian dan kesempurnaannya; roh-roh nenek moyang dimohonkan ampunan kepada Tuhan Yang Maha Esa, hal ini mengandung nilai penghormatan kepada nenek moyang.
(2) membentuk identitas kepribadian yang utuh dan baik; dalam hidup di dunia ini hendaklah jujur, tidak dibuat-buat, dan ada adariya; bijaksana dalam setiap tindakan; patuh kepada negara dalam arti berkesadaran nasional yang tinggi; loyal dan waspada.
(3) memiliki sikap sosialitas yang tinggi; dalam hubungan sosialnya hendaklah sadar akan kemampuan pribadi, taat dan tekun bekerja; konsekuen dan menepati janji, patuh dan setia kawan.

Di samping berbagai sikap pribadi dan sikap sosial yang pada dasarnya masih dimiliki oleh masyarakat Tengger, masih tampak jelas pula sikap toleransi yang tinggi, gotong royong masyarakat, tekun dan kerja keras, ramah terhadap para pendatang. Berbagai sikap tersebut perlu dioertahankan dan dikembangkan sesuai dengan kemajuan zaman.

5. Kesenian dan Tata Rumah Tangga
Kesenian asli yang berupa seni tan dan seni suara sangat erat dengan pelaksanaan upacara adat. Ada dua macam seni tan yaitu tan ujung dan tan sodoran, yang keduanya diiringi dengan seni karawitan. Kedua seni tan tersebut sangat erat dengan pelaksanaan upacara adat, terutama upacara perayaan Karo. Sebagai contoh, tan sodoran menggambarkan kejaian manusia yang berasal dan purusa dan pradama. Upacara Karo sendiri merupakan perayaan untuk memperingati kejadian manusia dan diharapkan manusia kembali kepada kemurnian dan kesuciannya, yaitu pada zaman satya Yoga, suatu zaman di mana kejujuran’ atau ke-satya-an manusia dijunjung tinggi.
 
Demikian pula tan ujung dilakukan pada waktu upacara Karo sebagai hiburan, sesudah nyadran dan sebelum mulihe ping pitu. Tari sodoran dilakukan pada pembukaan rangkaian upacara, sedangkan tari ujung dilakukan menjelang akhir rangkaian upacara. Rangkaian upacara diakhiri dengan tarian hiburan yang menunjukkan bahwa persahabatan itu selalu bersatu, suka-duka dirasakan bersama. Dalam tarian itu ditunjukkan teijadinya rasa sakit karena pukulan pada bagian badan tertentu yang boleh dipukul.
Kedua tarian diiringi dengan gamelan karawitan. Irama lagu yang digunakan untuk mengiringi telah ditentukan, yang semuanya mengandung arti simbolik. Jenis alat tabuh (gamelan) mempunyai arti tersendiri, demikian pula irama lagu yang dikumandangkan juga melambangkan sesuatu maksud.
 
6. Perubahan Nilai
Perubahan nilai tidak terlepas dari pemahaman terhadap arti nilai itu sendiri. Nilai sangat erat hubungannya dengan pandangan manusia terhadap segala sesuatu sebagai objek pengenalnya, serta kaitannya dengan arti dan makna bagi manusia sebagai subjek yang menghendaki objek pengenalan tersebut. Objek yang dikenal oleh subjek adalah sebagai pengetahuan dan subjek terhadap objek tersebut. Pengetahuan tersebut akan bernilai bagi subjek, baik sebagai nilai yang dikehendaki ataupun yang tidak dikehendaki. Secara teoritis arti dan makna pengetahuan dan nilai itu dapat dibedakan, akan tetapi kenyataannya nilai melekat pada diri pengetahuan. Jadi dalam arti luas, pengetahuan itu sebagai nilai, dan nilai itu melekat pada diri pengetahuan.
 
Pengetahuan datangnya dan objek yang dikenal oleh subjek melalui proses pengenalan, yang merupakan gambaran tentang objek yang dikenalnya. Jadi pengetahuan pada dasarnya bersifat objektif. Pengetahuan akan benar apabila cocok atau sesuai dengan objeknya. Kriteria pengetahuan adalah tentang kebenarannya.
 
Sebaliknya, nilai adalah harta tentang sesuatu jika dihubungkan dengan kepentingan dan kebutuhan manusia. Jadi nilai itu lebih bersifat subjektif karena keberadaannya bergantung pada pandangan manusia terhadap sesuatu bagi kepentingan dan kebutuhan manusia. Sesuatu adalah bernilai apabila berharga bagi manusia sebagai subjek. Sebagai ukuran tentang nilai adalah baik-buruk, atau dalam arti luas adalah kebaikan. Sesuatu akan dikatakan bernilai positif apabila dikehendaki dan memberikan manfaat dalam arti memberi kebaikan bagi subjek.
 
Hubungan antara pengetahuan dengan nilai adalah bahwa pengetahuan yang dimiliki subjek merupakan nilai-nilai, baik yang dikehendaki ataupun yang ditolaknya. Diterima atau ditolaknya sesuatu sebagai yang bernilai bagi seseorang sangat bergantung pada pengetahuan dan penilaiannya terhadap sesuatu itu. Atas dasar kenyataan itu, maka jelaslah bahwa antara pengetahuan dan nilai terkait erat, yang secara teoritis dapat dipisahkan dalam memahaminya, akan tetapi secara praktis nilai terletak pada pengetahuan itu sendiri. Hubungan antara keduanya adalah sangat erat dan timbal balik. Pengetahuan timbul karena adanya kemampuan subjek (manusia) untuk mengenal objek, dan nilai itu terjadi karena adanya pengetahuan yang dinilai untuk dimilikinya. Dengan pengetahuan itu subjek dapat mengembangkan diri menjadi seperti sesuatu yang dikehendakinya.
 
Nilai-nilai ada yang bersifat universal, ada pula yang bersifat partikular. Nilai universal bersifat abstrak umum, sedangkan yang partikular bersifat konkret instrumental. Nilai-nilai instrumental inilah yang dapat berubah sesuai dengan waktu dan kondisi, sedangkan yang abstrak-umum-universal adalah tetap tak berubah. Sebagai contoh nilai keadilan bersifat abstrak-umum-universal, sedangkan bentuk konkretnya yang bersifat instrumental dapat berubah, umpamanya adil diartikan sama rata dan sama rasa. Dalam kenyataan apakah mereka yang bekerja Lebih intensif akan mendapatkan bagian yang sama dengan mereka yang bekerjanya kurang intensif, meskipun dalam kurun waktu yang sama? Apabila keduanya disamakan, apakah itu adil? Permasalahan seperti inilah yang sering menjadi perbedaan pendapat. Dengan kata lain, apabila telah memasuki nilai-nilai instrumental sering terjadi berbagai perbedaan pendapat karena kurang jelasnya kriteria yang digunakan. WHD No. 477 Oktober 2006.

 

 

 
< Prev   Next >
"));