Logo PHDI Pusat
Brahmavidya dalam Bhuana Kosa Print E-mail

Brahmavidya dalam Bhuana Kosa
Oleh : I Wayan Sukarma, Denpasar

Perkembangan kemajuan zaman yang disertai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di berbagai bidang kehidupan, akhirnya membuka pola interaksi antar masyarakat dan berbagai latar belakang. Demikian pula globalisasi yang ditandai oleh kemajuan dalam bidang industri, investasi, informasi dan individualisasi akan memberi peluang dan sangat memungkinkan jaringan informasi dan komunikasi akan semakin terbuka. Hal ini menciptakan jarak dan batas-batas kebudayaan bangsa-bangsa di dunia semakin kabur dan mendorong semakin cepat terwujudnya bumi ini sebagai sebuah desa dunia. Dalam hal ini kapitalisme dan materialisme telah secara nyata super aktif memainkan perannya dan menggeser konsentrasi nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan ke arah netral yang gersang tak bertuan. Selanjutnya hal ini, juga akan memberikan dampak negatif terhadap perkembangan sosial budaya masyarakat dan penurunan kepercayaan terhadap sradha agama.
 
Sebagaimana dijelaskan oleh Sukarma dalam Dharmasmrti Volume II (2004:110) bahwa peningkatan kebutuhan hidup yang diiringi oleh peningkatan pendapatan akan berpengaruh secara signifikan pada pola hidup masyarakat yang cenderung hedonis dan konsumeristis. Pola hidup ini, jika tidak disertai dengan peningkatan pendapatan yang memadai cenderung
akan memicu tindakan kriminal dan praktek-praktek premanisme dalam herbagai dimensi dan skalanya. Di amping itu kekeliruan pemahaman terhadap adat, budaya dan agama akibat dan pergeseran orientasi serta terjadinya dekadensi moral yang sangat akut akan melahirkan generasi yang amoral dan koritra produktif terhadap pembangunan yang holistik. Akhirnya, pengertian dan pemahaman tentang jati diri dan integritas diri sebagai umat Hindu semakin jauh dan arti dan maknanya yang sesungguhnya.

Lebih lanjut ditegaskan bahwa apabila mencermati situasi dan kondisi tersebut maka agama Hindu harus dipahami secara lebih komprehensif dan holistik. Dikatakan demikian karena bila agama Hindu dipahami secara parsial, yaitu menekankan hanya pada salah satu aspeknya saja maka tidak akan dapat memberikan hasil yang optimal. Walaupun pada prakteknya dalam kehidupan beragama sehari-hari tidaklah mungkin melaksanakan Upacara tanpa memperhatikan Susila dan berpedoman pada Tattwa, atau sebaliknya. Dengan demikian pemahaman agama Hindu secara holistik yang lebih mantap merupakan hal yang mutlak harus dilakukan oleh masyarakat Hindu di Bali. Mengingat pemahaman terhadap agama yang lebih holistik dan komprehensif merupakan jaminan kecilnya kemungkinan pembacaan terhadap agama secara cauvis dan dangkal. Dengan demikian tidak teijadi, seperti apa yang diibaratkan oleh Svami Vivekananda (2004) bahwa pemeluk agama bagaikan katak yang hidup di dalam sumur kecil. Katak sumur bertanya, “apakah samudera itu lebih luas dan sumurku?” Jadi, pembacaan yang telah terhadap agama dapat menyempurnakan citta, buddhi, dan ahamkara, yakni identitas dan jati diri dan makhluk yang disebut manusia.
 
Kesempurnaan ini memberikan kekuatan dan kekuasaan kepada manusia sebagai pengatur yang sanggup mempengaruhi dunia dan sekaligus pula sebagai yang diatur yang mampu menerima pengaruh dan dunia. Dalam perbuatan mengatur dan diatur tersebut perbuatan manusia dibentuk dan diwarnai oleh tri guna dan dinilai dengan tri kaya parisuda. Oleh karena itu agar memperoleh pemahaman yang lebih mantap mengenai triguna dan tri kaya parisuda ini perlu dilakukan dengan pengkajian dalam perspektif Tattwa. Artinya, di samping Upacara dan Susila, Tattwa juga merupakan salah satu aspek dari agama Hindu yang harus dipahami secara baik dan benar. Akan tetapi dalam pengalaman empiris kehidupan beragama sehari-hari masyarakat Hindu di Bali memiliki minat yang relatif rendah terhadap tattwa.
Bhuwana Kosa merupakan salah satu lontar termasuk jenis tattwa yang dipandang sebagai lontar tertua dan sumber dan lontar-lontar tattwa yang bercorak Siwaistik. Akan tetapi masyarakat Hindu di Bali yang menganut agama Hindu, paham Siwasiddhanta dengan ajaran Siwatattwa belum memiliki perhatian yang serius dan sungguh-sungguh untuk lebih memahami lontar Bhuwana Kosa. Sehubungan dengan itu maka kajian ini hendak memahami dan mendeskripsikan brahmawidya dalam Bhuwana Kosa, merupakan kajian yang relevan dalam perspektif sosiologi agama, dalam hal ini sosiologi agama Hindu.

Oleh karena itu pada dasarnya kajian ini hendak memahami dan mendeskripsikan brahmawidya dalam Bhuwana Kosa. Dengan demikian dapat disajikan pertanyaan masalah sebagai berikut:
a) Apakah yang dimaksud dengan brahmavidya dalam agama Hindu?
b) Bagaimanakah brahmavidya dalam Bhuwana Kosa?
Berdasarkan permasalahan tersebut maksud kajian ini pada hakikatnya diarahkan untuk   mencapai tujuan kajian seperti berikut:
(a) Untuk mengetahui kejelasan mengenai brahmavidya dalam agama Hindu.
(b) Untuk mengetahui kejelasan mengenai brahmavidya dalam Bhuwana Kosa.

Brahmavidya Dalam Agama Hindu
Dalam ilmu agama khususnya dalam bidang brahmavidya atau yang dalam agama lain disebut dengan teologi dikenal berbagai ajaran (isme) yang oleh Panitya Tujuh Belas dijelaskan sebagai paham yang menggambarkan hubungan kepercayaan manusia dengan Tuhan, seperti monoteisme, politeisme, panteisme, monisme, dan henoteisme, Isme artinya kepercayaan atau ajaran. Imam Suprayogo dan Tobroni, mengatakan bahwa monoteisme adalah paham yang berpendapat Tuhan itu hanya satu, Esa, tunggal, dan tak terbilang. Politeisme adalah paham yang mengimani, menyembah, dan memuja banyak Tuhan. Di dalamnya terdapat animisme, dinamisme, dan paganisme yang intinya berpendapat bahwa ada penguasa-penguasa lain di dunia ini selain Tuhan yang berupa benda-benda alam, roh-roh halus, dewa-dewa, makhluk halus, bahkan manusia. Menurut Rahardjo (dalam Imam Suprayogo dan Tobroni, bahwa henoteisme adalah paham yang mengkonsentrasikan diri pada Tuhan yang tunggal, tetapi dalam mitos masih mengakui adanya Tuhan-Tuhan lain.

Menurut Bagus teologi (brahmavidya) adalah ilmu tentang Tuhan. Sesungguhnya brahmavidya merupakan bagian dari metafisika yang menyelidiki hal eksistensi menurut aspek dan prinsipnya yang terakhir - suatu prinsip yang luput dari indrawi tunggal. Objeknya adalah Tuhan: eksistensi-Nya, esensi-Nya, dan aktivitas-Nya. Dikatakan pula jelaslah bahwa ilmu tentang Tuhan tidak memberikan pengetahuan tentang Tuhan yang dalam setiap hal sama dengan pengetahuan yang diperoleh dari ilmu tentang objek-objek pengalaman inderawi sehari-hari. Pernyataan-pernyataan tentang Tuhan tidak memberikan suatu pengetahuan yang memadai tentang Dia, tetapi semata-mata pengetahuan yang bersifat analogis.
 
Syukur (dalam Suprayogo dan Tobroni) mengatakan bahwa brahmavidya adalah pengetahuan adikodrati yang metodis, sistematis, dan koheren tentang apa yang diwahyukan Tuhan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa brahmavidya adalah refleksi ilmiah tentang Tuhan. Artinya, brahmavidya adalah ilmu yang ‘subjektif’ yang timbul dari dalam, yang lahir dari jiwa yang beriman dan bertakwa berdasarkan wahyu.
 
Wahono mengatakan bahwa ada empat pilar dalam teologi (brahmavidya) pembebasan, yaitu kemerdekaan, keadilan sosial, dan kerakyatan dalam arti cinta kepada kemanusiaan. Melalui keempat pilar tersebut, Wahono mengantarkan teologi (brahmavidya) Kristiani kepada keterjangkauan dalam bentuknya yang lebih bersifat praktis sehingga umat Kristiani dapat mengembangkan suatu kehidupan baru yang lebih damai dan sejahtera yang diterangi iman.
 
Sebagai ilmu yang mempelajari ketuhanan brahmavidya tentu tidak mungkin mampu mempelajari dan mengungkap secara tuntas mengenai hakikat Tuhan karena gajala-Nya tidak tampak dan tak terukur. Oleh karena itu Pedikso (dalam Suprayogo dan Tobroni), mengatakan bahwa brahmavidya sebagai upaya seluruh orang beriman dalam menangkap, memahami, dan memberlakukan kehendak Tuhan melalui konteksnya. Dapat juga dikatakan bahwa brahmavidya adalah refleksi orang beriman tentang bagaimana bentuk atau nilai-nilai kualitas iman yang dimilikinya.
 
Sementara itu, Dharmaputera (dalam Suprayogo dan Tobroni) mengemukakan bahwa brahmavidya adalah upaya untuk mempertemukan secana dialektis, kreatif serta eksistensial antara “teks” dan “konteks”, antara “kerygma” yang universal dan kenyataan hidup yang kontekstual. Secara lebih sederhana dapat dikatakan bahwa brahmavidya adalah upaya untuk merumuskan penghayatan iman pada konteks ruang dan waktu tertentu. Dengan cara lain dapat juga dikatakan bahwa brahmavidya adalah pengkajian, penghayatan (internalisasi), dan perwujudan (aktualisasi) nilai-nilai iman (ketuhanan) dalam memecahkan masalah-masalah kemanusiaan.
 
Sementara itu, Pudja mengatakan brahmavidya atau brahma jnana tattva adalah ilmu tentang Tuhan. Jadi, dalam kitab suci Hindu ilmu yang mempelajari tentang Tuhan dinamakan brahma vidya atau brahma tattva jnana. Brahma diartikan Tuhan, yaitu gelar yang diberikan kepada Tuhan sebagai unsur yang memberikan kehidupan pada semua ciptaanNya, Yang Maha Kuasa. Vidya atau Jnana kedua-duanya artinya sama yaitu ilmu. Tattva berarti hakikat tentang tat atau “itu”, yaitu Tuhan dalam bentuk Nirguna Brahman. Tattva Jnana artinya sama dengan ilmu tentang hakikat, yaitu ilmu tentang Tuhan.

Berdasarkan uraian tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan brahmavidya dalam agama Hindu adalah brahma tattwa jnana, yaitu ilmu tentang Tuhan. Ajaran Hindu adalah bersifat monoteistis, yaitu menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Dikatakan demikian karena di dalam Chandogya-Upanisad, IV.2.1 ditegaskan “Ekam Eva Advityam Brahman”, (Hanya ada satu Tuhan (Brahman) tidak ada yang kedua”). Pada mantram Trisandhya dikatakan “Eko Narayanaa na dwityo’sti kaccit”. (Tuhan hanya satu, sama sekali tidak ada duanya (yang kedua). Di dalam Rg. Weda. 1.164.46. disebutkan “Ekam Sat Viprah bahudha vadanti”, (“Hanya terdapat satu Kebcnaran Yang Mutlak, orang bijaksana (resi) menyebut dengan banyak nama”). Dalam Kakawin Arjuna Wiwaha disebutkan, “Wahyadhyatmika sembahing hulun i jong ta tan hana waneh”. (Lahir batin sembah hamba ke hadapan Tuhan tak ada yang lainnya’) . Demikian pula dalam mantra, Tuhan Yang Maha Esa (Sang Hyang Widhi Wasa) diwujudkan sebagai pranawa dengan suku kata suci OM.
 
Dalam Siwa Tattwa disebutkan bahwa Tuhan dalam agama Hindu Indonesia adalah Sang Hyang Widhi Wasa. Nama ini berarti Yang Mentakdirkan, Yang Maha Kuasa, yang dalam bahasa Bali diterjemahkan dengan Sang Hyang Tuduh atau Sang Hyang Titah. Dalam sastra-sastra, baik lontar maupun dalam puja astawa saat upacara keagamaan Tuhan atau Sang Hyang Widhi Wasa disebut dengan Bhatara Siwa. Artinya, umat Hindu di Indonesia termasuk di Bali yang telah memeluk agama Hindu secara turun-temurun adalah memuja Tuhan atau Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Bhatara Siwa.
 
Di dalam Siwa Tattwa dijelaskan pula bahwa ajaran-ajaran seperti tersebut di atas sering disebut ajaran Saivasiddhanta. Di Indonesia Sctivasiddhanta ini tampak jalinannya dengan ajaran Upanisad (terutama Svetasvatara), kitab-kitab Purana, Samkya, Yoga, Vedanta, dan dan kitab-kitab Tantra. Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa semua ajaran-ajaran itu mengalir dan kitab suci Weda. Artinya, Weda adalah sumber pertama ajaran agama Hindu walaupun wujud dan peaksanaannya dalam kehidup an beragama Hindu berbeda-beda, tetapi hakikatnya jiwa dan semangatnya adalah sama.
 
Di dalam Weda Tuhan disebut Brahman. Dikatakan bahwa Brahman itu yang pertama ada, satu adanya, bersifat abdi, tak terbinasakan, pencipta, pemelihara, pelebur, raja alam sernesta, cahaya tertinggi, pelindung, dan sebagai insti alam semesta. Demikian pula kitabkitab Upanisad menyatakan realitas dan Brahman Tertinggi sebagai satu tanpa yang kedua, tanpa atribth atau penetapan-penetapan, yang identik dengan sang din terdalam dan manusia. Ia merupakan subjek mumi yang eksistensinya tak dapat ditolak menjadi dunia eksternal atau objektif. Dalam hal mi dapat dikatakan Brahnian memiliki dua aspek, yaitu Saguna Brahmon dan Nirguna Brahman. WHD. No. 510 Juni 2009
 (BERSAMBUNG)

 

 
< Prev   Next >
"));