Logo PHDI Pusat
Etika Mencari Untung dalam Berbisnis Menurut Hindu Print E-mail

Etika Mencari Untung dalam Berbisnis Menurut Hindu
Drs. Ketut Wiana

Dalam kemajuan jaman sekarang ini sudah tidak relevan dibicarakan teori bisnis kiasik yang menyatakan “dengan modal sekecil-kecilnya mencari untung sebesar-besarnya”. Hal itu sudah tidak masuk akal. Dalam proses bisnis tersebut, investasi yang paling utama adalah kemampuan untuk menyusun “bisnis plan” yang relevan dengan perkembangan jaman. Bisnis yang relevan dengan perkembangan jaman adalah bisnis yang rnenguntungkan semua pihak yang terlibat dalam proses bisnis. Proses mencari untung benar-benar berdasarkan perhitungan menguntungkan semua pihak secara wajar dan adil. Di Bali para tetua jaman lampau meninggalkan konsep mencari Untung dengan istilah dalam bahsa Bali: ‘bani meli bani ngadep”. ini artinya pebisnis itu tidak memikirkan keuntungan diri sendiri. Yang juga harus mendapatkan perhatian seimbang adalah pembeli atau customer.
 
Dalam istilah “bani meli bani ngadep” itu terdapat rasa keadilan yang dirumuskan secara sadar dalam harga jual suatu produk bisnis. Dengan demikian proses mencari untung dalam bisnis itu sudah benar-benar memperhitungkan rasa keadilan. Tidak terkandung ambisi hanya mengejar untung saja tanpa memikirkan penderitaan orang lain. Dalam istilah tersebut penjual tidak rugi pembeli pun tetap merasa diuntungkan. Istilah “bani meli bani ngadep “ yang diwariskan oleh leluhur orang Bali ini semakin jarang didengungkan dalam bidang bisnis.Hal ini menyebabkan semakin merosotnya penggunaan moral dalam dinamika bisnis. Mencari untung dalam bisnis semakin tidak menghiraukan keadilan, kejujuran, kewajaran. Hahkan menipu sekalipun dilakukan dalam mengerjar untung. Hal ini sebagai akibat beragama dan berbisnis dipisahkan bahkan dibuat berdikotomi.
 
Cara memproleh kekayaan secara terhormat itu antara lain dengan melakukan pelayanan yang prima dan bermoral dalam bidang bisnis. Mengapa dewasa ini kebahagiaan dan kedamaian umat manusia tidak semakin bertambah. Karena dewasa ini masih banyak umat manusia mencari kekayaan dengan cara yang tidak terhormat. Bahkan kalau boleh dibilang kebanyakan orang mencari kekayaan dengan cara yang tidak terhormat.Seandainya pendidikan dijadikan media untuk membangun kharakter dan peluang bisnis dijadikan media untuk mencari kekayaan dengan cara terhormat, maka kebahagiaan dan kedamaian akan semakin bertambah. Setiap denyut kehidupan sesungguhnya terpampang peluang untuk melakukan pelayanan yang prima kepada sesama. Apa lagi di bidang bisnis peluang untuk melakukan pelayanan sangat luas itu memberikan keuntungan material dan keuntungan moral.

Mencari untung yang tidak terhormat dalam bisnis ujung-ujungnya banyak menimbulkan petengkaran yang sampai masuk ke pengadilan. Memang hal ini banyak melahirkan lapangan kerja bagi para Pengacara. Memperoleh keuntungan yang tidak terhormat banyak menimbulkan vibrasi negatif dalam masyarakat terutama para pelaku bisnis. Saling mempercayai dalam hubungan bisnis pun berobah menjadi saling curigai. Rendahnya saling mempercayai dan ruwetnya birokrasi juga menimbulkan semakin meningkatnya biaya produksi suatu usaha bisnis.Mencari untung dengan caraterhormat seperti melalui pelayanan yang bermoral akan dapat menyederhanakan birokrasi.Birokrasi yang tidak ruwet dapat membangun efisiensi bisnis.Keuntunganpun didapatkan lebih terhormat.
 
Pelayanan dalam Bisnis Harus Bermoral
Salah satu fungsi bisnis adalah sebagai media pelayanan kepada masyarakat luas dalam mendapatkan barang atau jasa yang dihasilkan oleh suatu bisnis. Pelayanan yang paling utama adalah memberikan produk barang atau jasa yang sesuai dengan biaya yang dikeluarkan oleh custumer atau konsumen.Kemasan barang dan isinya harus sesuai. Jangan kemasan barang dinyatakan asli, tetapi isi di dalamnya imitasi, bahkan benar-benar palsu. Demikian juga volumenya. Kalau kemasannya dinyatakan satu kilo misalnya jangan kenyataanya kurang dan satu kilo. Membohongi langganan atau menipu harga-harganya perbuatan dagang seperti itu sangat dilarang oleh kitab Manawa Dharmasastra IX, 287. Perbuatan seperti itu adalah perbuatan dosa yang patut dihukum oleh penguasa. Demikian Sloka Manawa Dharmasastra tersebut menyatakan.
 
Ada juga pebisnis melakukan pelayanan yang palsu untuk menutupi kualitas barang atau jasa yang dipasarkan. Misalnya melalui iklan yang dilebih-lebihkan lewat berbagai media. Jelas pelayanan ini termasuk perbuatan dosa dengan membohongi langganan. Ada juga usaha bisnis dengan mengeksploitasi kecantikan dan keindahan wanita untuk menarik costumer. Mengeksploitasi kemolekan wanita untuk tujuan promosi bisnis adalah usaha pelayanan yang tidak bermoral. Ini bukan berarti wanita cantik tidak boleh berbisnis. Wanita cantik tentunya syah-syah saja berbisnis namun jangan sampai ditampilkan seronok melanggar etika moral. Pelayanan dalam bisnis hendaknya jangan sampai berbohong, menipu dan melanggar etika moral. Inilah nampaknya yang sulit diwujudkan oleh sementara pebisnis. Kebohongan, penipuan dan mengeksploitasi kemolekan tubuh wanita dalam pelayanan bisnis menyebabkan banyak keluhan masyarakat konsumen dalam memperoleh barang dan jasa yang sesuai dengan uang yang dikeluarkan oleh kunsumen.
 
Pelayanan hendaknya diyakini sebagai suatu swadharma yang memang wajib dilakukan oleh pebisnis yang baik.Yakinlah Tuhan akan melimpahkan karunia kepada pebisnis yang jujur dan tulus melayani langganan. Pelayanan itu diberikan bukan karena semata-mata pebisnis mendapatkan untung uang dan konsumen. Tetapi karena seorang pebisnis memang swadharmanya melayani masyarakat konsumen dengan jujur, ikhlas dan penuh tanggung jawab. Mengapa harus demikian, karena ajaran agama memang sudah demikian menentukan swadharma seorang pebisnis atau Waisya Warna.
 
Dalam Mahabharata diajarkan bahwa barang siapa melindungi Dharma iapun akan dilindungi oleh Dharma. ”Dharma raksitah raksati”. Artinya melindungi Dharma akan dilindungi oleh Dharma. Ada cerita dalam kitab Cina Kata. Ada seorang Sanyasin Pemarah. Suatu hari bermeditasi di bawah pohon. Di atas pohon ada seekor burung bertengger terus berak. Kepala Sanyasin Pemarah itu kena beraknya burung tersebut. Sanyasin tersebut memandang dengan marah dan menggunakan Sidhi-nya membakar burung itu hidup-hidup. Burung tersebut pun mati terbakar.
 
Suatu hari Sanyasin itu datang ke seorang ibu pedagang untuk minta makan sore. Seorang Sanyasin memang hidupnya hanya dari minta-minta. Orang yang dapat melayani seorang Sanyasin memberi makan minum akan mendapatkan pahala yang sangat mulia, demikian ajaran Sastra Agama Hindu mengajarkan. Saat Sanyasin Pemarah itu minta dilayani diberikan makan minum, ibu pedagang tersebut sedang sibuk melayani langganannya. Hal itu menyebabkan ibu pedagang tersebut tidak cepat dapat melayani Sanyasin Pemarah tersebut. Sanyasin itu pun marah dan menggunakan Sidhi-nya mau mencelakakan ibu pedagang tersebut. Tetapi Sidhi Sanyasin pemarah itu tidak mempan membakar ibu pedagang tersebut. Mengapa demikian, karena ibu pedagang itu dilindungi oleh swadharmanya, yaitu melayani langganannya yang sedang berbelanja.
 
Jadi, seorang pebisnis yang dengan penuh kejujuran, ketulusan dan bertanggung jawab dalam melayani para langganannya akan mendapatkan pahala kerokhanian dari Tuhan Yang Mahaesa. Dari ceritra kitab Cina Kata itu kita dapat menarik kesimpulan, bahwa para pebisnis dalam memberikan pelayanan yang baik dan bermoral kepada langganannya bukan saja ia mendapatkan keuntungan material, juga akan mendapatkan keuntungan spiritual. Karena memang demikianlah agama menentukan swadharma seorang pebisnis. Kalau sikap pelayanan yang demikian dapat dikembangkan oleh para pebisnis, yakinlah Tuhan akan mencurahkan karunianya kepada mereka-mereka yang berbisnis dengan palayanan yang berkualitas seperti itu. Kalau pelayanan bisnis itu hanya berdasarkan motif untuk mengejar untung material semata, maka seorang pebisnis hanya memperoleh kepuasan lahiriah saja. Kalau pelayanan itu dilakukan dengan kejujuran, ketulusan dan bermoral maka disamping memperoleh keuntungan material juga keuntungan sosial dan spiritual.
Drs. Ketut Wiana, M.Ag, Ketua Sabha Walaka PHDI Pusat, dosen IHDN Denpasar.  Juli 2009 – Raditya 144.

 

 
< Prev   Next >
"));