Logo PHDI Pusat
Direktur PPS IHDN Denpasar, Serahkan Dana Punia kepada Umat Hindu di Gunung Kidul Print E-mail

Berita Pendidikan Selasa, 07 Juli 2009, Balipost
Direktur PPS IHDN Denpasar
Serahkan Dana Punia kepada Umat Hindu di Gunung Kidul

Yogyakarta (Bali Post) -
Direktur Program Pascasarjana IHDN Denpasar Drs. I Ketut Widnya, M.A., M.Phil., Ph.D. Jumat (26/6) lalu menyerahkan dana punia Rp 24.050.000 kepada umat Hindu di Desa Kaliwaru, Ngawena, Gunungkidul, Yogyakarta. Dana punia tersebut merupakan sumbangan spontan yang dikumpulkan dari 107 mahasiswa S-2 Program Pascasarjana IHDN Denpasar yang sedang melakukan pengabdian masyarakat di desa tersebut selama satu hari penuh. Selain memberikan dana punia berupa uang tunai, juga diserahkan bantuan alat-alat upakara dan beberapa buku agama Hindu.

Mardi Sugino, yang mewakili umat setempat menerima bantuan tersebut, menyatakan sangat terharu dan tidak menduga akan mendapatkan bantuan dana punia sebesar itu. Dikatakan, umat Hindu di Desa Kaliwaru masih memerlukan uluran tangan umat dari seluruh Indonesia untuk membangun sarana dan prasarana pembangunan tempat suci.

Dana punia tersebut akan diarahkan untuk membayar kelebihan tanah tukar guling milik warga masyarakat yang lokasinya di samping pura dengan tanah milik umat Hindu yang letaknya sekitar 3 km dari lokasi pura. Jumlah umat Hindu di Desa Kaliwaru sebanyak 70 KK, dan sudah memiliki pura bernama Pura Podowenang yang dibangun sejak tahun 1984 dan baru di-pelaspas 24 Maret 2002.

Dharma Wacana
Ketua Program Studi Brahmawidya PPS IHDN Denpasar Drs. I Ketut Wiana, M.Ag. yang juga Ketua Sabha Walaka PHDI Pusat, dalam dharma wacananya menyampaikan pengertian beragama yang baik dan benar menurut kitab suci Weda. Wiana menekankan agar umat Hindu menjaga alam dengan baik seperti melestarikan lingkungan dengan mengembangkan pembangunan pertanian dan aneka perkebunan yang baik. 'Sebab, alam ini adalah badan Tuhan. Oleh karena itu, dengan melestarikan alam, berarti kita juga merawat badan Tuhan,' kata Wiana sambil menambahkan, bahwa beragama tidak berarti sembahyang di pura saja.

Wiana yang terkesan dengan keadaan lingkungan Gunungkidul sekarang ini yang lebih hijau royoroyo dibandingkan 10 tahun lalu masih gersang, mengajak umat Hindu setempat untuk membangun ekonomi sesuai dengan potensi daerah masing-masing. Pembangunan ekonomi adalah bagian dari pembangunan perabadan rohani manusia. Dalam percaturan global, siapa saja yang unggul, dia akan berhasil membangun peradaban rohani yang di dalamnya termasuk melestarikan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

Sebelumnya, I Ketut Widnya menyampaikan bahwa agama dimaksudkan untuk mencapai pembebasan. Jika agama tidak memberikan pembebasan, maka apakah yang dimaksudkan dengan pelaksanaan agama. Ini sesuai dengan tujuan agama, yaitu mencapai kebahagiaan di dunia ini (jagaddhita) dan pembebasan roh setelah kematian (moksa).

Praktik tirakat yang dilaksanakan oleh umat Hindu Jawa sangat mendukung tujuan agama tersebut. Oleh karena itu, praktik tirakat perlu dilestarikan sebagai warisan luhur bangsa Indonesia. (r/*)

 
< Prev   Next >
"));