Logo PHDI Pusat
Dan bergurulah Pada Raksasa Print E-mail

Dan bergurulah Pada Raksasa
N. Putrawan

Belajar agama kalau salah juga menggiring kita kepada belajar tentang kebencian. Karena pengaruh bacaan Purana dan Itihasa, psikologis kita menjadi kerap terguncang karena kesalahan dalam menyerap inspirasi dari kitab-kitab tersebut. Karena ada wacana antagonistik dalam Itihasa Ramayana: Rama dengan Rahwana, atau dalam Itihasa Mahabharata: Kaurawa dengan Pandawa, maka pemahaman di areal permukaan terhadap kisah-kisah ini bisa juga merabuk kebencian yang ada dalam din kita. Membenci si Rahwana yang bejat sebagai penculik istri orang, dan mengutuk Duryodhana yang laknat sebagai si per{elanjang istri orang.

Karena kita memutuskan untuk benci dan tidak mengidolakan Rahwana dan Duryodhana, maka kita pun mengabaikan pesan-pesan moralitas dari tokoh-tokok antagonistik itu. Padahal, kalau memang iya Itihasa itu sastra suci Hindu, maka semua yang tertera di dalamnya adalah Guru rohani, Guru moralitas dan spiritual bagi pembacanya. Faktanya, bahkan Guru dalam wujud manusia pun sering menceramahkan Itihasa dengan selalu menempatkan Rahwana, Hiranyakashipu, Duryodhana, dan sejenisnya sebagai sampah spiritual, penghalang jalan spiritual. Tetapi sepatutnya, murid yang bijak adalah ia yang sanggup mendapat pelajaran dari sastra, bukan mendapatkan kebencian darinya. Gara-gara membaca sebuah kitab, jiwa kita mengoleksi satu kebencian baru, buat apa? Murid yang bijak adalah murid yang menjadikan seluruh isi kitab sebagai inspirasi rohani, inspirasi yang hidup dan nyata.
 
Sekarang kita akan belajar untuk menjadikan para raksasa dalam Itihasa dan purana-purana sebagai Guru yang sebenarnya. Kisah-kisah yang termaktub dalam kitab-kitab itu selalu mengisahkan, bagaimana para raksasa atau manusia yang berkarakter jahat, seperti Duryodhana menonjolkan satu sifat utama yang bisa ditiru manusia, yaitu sifat totalitas. Mereka ini tidak pernah ragu dalam memperjuangkan cita-citanya. Sebelum jiwanya melayang, Rahwana tak berhenti untuk berusaha mempertahankan Sita, sebelum badan remuk, Duryodhana tak pernah berhenti mengangkangi Hastinapura, dan sebelum ketiga dunia dikuasai, Hiranyakashipu tak mau mengaso.
 
Mengapa raksasa memiliki semangat dan totalitas yang demikian tinggi dalam memperjuangkan cita-citanya? Dan berapa manusiakah yang sanggup memperjuangkan kebaikan-kebaikan yang diomongkannya, hingga kebaikan itu terwujud di masyarakat? Berapa jumlah orang baik yang berjuang hingga darah mengucur demi membela kebaikan itu?
 
Belajar agama bisa juga membuat kita menjadi penghayal dan pengecut. Jika salah, memang demikian akibatnya. Sehari-hari mengutuk Rahwana dan Duryodhana, sementara kita lupa bertanya, “Apakah yang tengah aku perjuangkan di dunia ini saat sekarang?” Jika Rahwana tak pernah gentar dalam membela harga diri dan cita-citanya, lalu bagaimana dengan kita? Apakah sudah total dalam membela kebaikan-kebaikan, atau hanya membicarakan kebaikan di bibir untuk kemudian bersembunyi sebagai pengecut manakala akibat kebaikan itu kita mendapat tantangan dari masyarakat sekitar?
 
Inilah pelajaran yang dapat kita petik dari Guru yang bernama raksasa. Untuk memperoleh prestasi gemilang, maka sepatutnya mutlak kita berjuang secara optimal. Dibutuhkan totalitas dari hidup ini. Memegang komitmen dan siap berjuang tanpa henti hingga cita-cita dan harapan baik itu terwujud. Para raksasa berjuang secara total, meninggalkan sifat setengah-setengah. Sementara keraguan adalah teman baik kita dalam keseharian, sehingga sifat inilah yang sering membuat kita tersandung pada suatu kegagalan. Entah itu di dunia bisnis, politik, sosial, apalagi di dunia spiritual. Tiada kesuksesan yang mungkin diraih tanpa usaha yang keras, kontinyu, berdisiplin tinggi dan ditopang motivasi yang tinggi.
 
Bila untuk hal-hal jahat, para raksasa rela berkorban nyawa, lalu untuk tujuan-tujuan baik, mampukah kita menyaingi prestasi kaum raksasa itu? Inilah inti pesan spiritual Itihasa dalam bentuk sosok raksasa. Berhentilah belajar kitab suci dengan menghakimi apa pun di dalamnya, tetapi belajarlah mencari inspirasi positif dari kitab itu, entah karakter apa pun yang dimainkan dalam cerita tersebut. Dengan demikian, spiritualitas pun baru dimulai.
Juli 2009 – Raditya 144.

 

 
< Prev   Next >
"));