Logo PHDI Pusat
Rasa Bhakti Terhadap Catur Guru dalam Perspektif Era Globalisasi Print E-mail

I Made Titib
APGAHN Denpasar

Dhyàna mùlaý gurur murtiá
Pùjà mùlaý gurur padam,
Mantraý mùlaý gurur vàkyaý
Mokûa mùlam gurur kåpam

Gurustotra 1.

Image(Pada saat mulai belajar pusatkanlah pikiran pada sosok sang guru,
saat mulai melakukan pemujaan, berbaktilah di depan kaki guru,
mantram adalah ajaran pertama kali keluar dari ucapan guru
dan untuk mencapai Mokûa mulailah dari karunia guru)

1. Pendahuluan

Pendidikan bagi seorang úiûya atau siswa adalah proses penanaman nilai-nilai yang akan mengantarkan siswa tersebut untuk mencapai kedewasaan. Kata dewasa mengandung pengertian yang amat luas, tidak hanya menyangkut jasmaniah, tetapi juga moral, metalitas dan spiritual. Kosa kata ini berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya seseorang yang memiliki sifat kedewataan, peribadinya mencerminkan sifat-sifat dewa atau Daivisampat.

Membicarakan masalah pendidikan, ajaran agama Hindu memandang peranan guru dan siûya sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam menempuh pendidikan. Pendidikan yang pertama dinyatakan dalam kitab-kitab Upaniûad adalah pendidikan yang diberikan oleh seorang ibu. Ibu adalah guru pertama yang memberikan pendidikan dan pelajaran kepada seorang anak. Seorang anak mulai berbicara dengan bahasa isyarat dan bahasa bibir. Kata-kata mama, papa, mami, meme, bapa, pita, mata semuanya itu menunjukkan bahwa haruf yang menyusun dari kata-kata itu adalah karena artikulasi bibir. Bahasa pertama umat manusia.

Bila kita mengkaji keberhasilan seseorang, maka kita tidak dapat melepaskan
---------------
*Makalah disampaikan pada Seminar Sehari Menyambut Pembukaan Perguruan Satya
Dharma, diselenggarakan oleh Yayasan Ratyni Gorda Singaraja, tgl.15-11-1995
bertempat di Kampus Perguruan Satya Dharma, Singaraja.
diri untuk tidak memperhatikan siapakah yang mendidik yang bersangkutan sejak masa anak-anak hingga mencapai tingkat kedewasaan. Semuanya itu tidak lain adalah karena jasa dari para guru. Guru sangat berperanan dalam menetukan keberhasilan seseorang mencapai kedewasaan.

Dalam dunia modern ini nampak peranan guru mulai kurang mendapat perhatian, terbukti dari jumlah peminat untuk menjadi guru di kalangan tamatan SLTA masih sangat kurang. Kalaupun peminatnya tinggi, umumnya adalah dari kalangan keluarga yang tidak mampu secara ekonomis, tetapi ada juga yang sebaliknya, secara ekonomis mampu membiayai pendidikan, namun dalam bidang akademik kurang berkualitas dan mereka memilih profesi guru tidak sebagai panggilan, namun sebagai keterpaksaan. Akankah perhatian terhadap guru dari kalangan generasi muda semakin surut? Masihkah guru memegang peranan penting dalam dunia pendidikan pada era globalisasi ini ? Banmyak pertanyaan yang dapat dimunculkan dalam tulisan singkat ini.

Menyingkapi citra dan rasa bhakti kepada Catur Guru dalam perspektif era globalisasi inilah yang dicoba untuk dibahas dalam tulisan ini, semoga tulisan ini bermanfaat untuk menegakkan citra guru di hadapan anak didik di tengah-tengah dunia modern yang penuh persaingan dan tantangan.


2. Pengertian, jenis dan kedudukan guru

Istilah guru dalam bahasa Indonesia berasal dari kosa kata Sanskerta yang artinya: berat, besar, kuat, luas, panjang, penting, sulit, jalan yang sulit, mulia, terhormat, tersayang, agung,sangat kuasa,orang tua (bapak-ibu) dan yang memberikan pendidikan (Apte,1978: 409). Istilah lainnya adalah Àcàrya, Adhyàpaka, Upàdhyàya dan Úiva. Kosa kata yang terakhir ini artinya adalah: yang memberikan keberuntungan atau kerahayuan, oleh karena itu di Bali para panditapun disebut Úiva oleh para Siûyanya.Dalam pengertian yang lebih luas, guru adalah yang mendidik pribadi, yang mencurahkan ilmu pengetahuan sucinya dan yang membebaskan siswanya dari lembah penderitaan serta yang membimbing untuk mencapai Mokûa sebagai tersebut pada Gurustotra 1, yang kami kutipkan pada manggala tulisan ini.

Pengertian tentang guru, terutama penghormatan yang patut diberikan kepada ibu-bapa dan guru yang mendidik secara terinci dijelaskan dalam lontar Pañcaúikûa sebagai berikut :

"Guru ngaranya,wwang awreddha, tapowreddha,
jñànawreddha.Wwang awreddha ng.sang matuha
matuha ring wayah, kadyangganing bapa, ibu.
pangajyan, nguniweh sang sumangàskàra rikita.
Tapowreddha ng. sang matuha ring brata, Jñàna-
wreddha ng. sang matuha rting aji" (Lamp.3).

(Yang disebut guru adalah orang yang sudah Awreddha, Tapo-
wreddha, Jñànawreddha. Orang Awreddha adalah orang yang
sudah lanjut usianya seperti bapa, ibu, orang yang mendidik
(mengajar/pangjyan), lebih-lebih orang yang mentasbihkan
(mensucikan/sumangàskàra)engkau.Tapowreddha disebut bagi
orang matang di dalam pelaksanaan brata.Jñànawreddha adalah
orang yang ahli di dalam ilmu pengetahuan (spiritual).

Demikian sepintas tentang pengertian guru, selanjutnya bila kita meninjau tentang jenis-jenis yang disebut guru atau yang berfungsi sebagai guru, maka sebagai guru tertinggi dari alam semesta ini tidak lain adalah Tuhan Yang Maha Esa yang disebut Guru Param Brahma atau Parameûþiguru sebagai dinyatakan dalam Gurupùjà 2, berikut:

Oý Gurur Brahma Gurur Viûóu
Gurur deva Maheúvara,
Gurur sàkûat Param Brahma
tasmai Úrì gurave namaá.

(Om Hyang Widhi, Engkau adalah Brahma, Viûóu dan
Maheúvara, sebagai guru agung, pencipta, pemelihara
pelebur alam semesta. Engkau adalah Guru Tertinggi,
Param Brahma, kepada-Mu aku memuja)

Di samping Parameûþiguru, guru tertinggi di dalam lontar-lontar di Bali kita mengenal Tri Kang Sinanggeh Guru (tiga orang yang disebut guru) atau Triguru, yaitu: Gururùpaka (orang tua, bapa-ibu), Gurupangajyan (guru yang memberi pendidikan dan pengetahuan suci untuk mendapatkan kesempurnaan) dan Guruviúesa (pemerintah yang menjadi abdi kesejahtraan rakyat dan tempat berlindung di kala kesusahan). Di antara ketiga guru itu, Gurupangajyan mendapat penghormatan yang lebih dibandingkan kedua guru lainnya, karena guru Pangajyan adalah guru yang tidak hanya memberikan kesejahtraan jasmani, tetapi ia yang memberikan kebahagiaan rohani yang disebut Dharma, yaitu pendidikan suci berupa kebajikan dan kesucian peribadi (Oka Puniatmaja,1976: 21). Menurut hemat kami istilah Gurupangajyan adalah perubahan metathesis dari Guru Pangadhyayan atau Guru Adhyàya atau guru kerohanian.

Umat Hindu di Bali nampak cenderung untuk memberi hitungan atau kategori nomor(numerical kategori)terhadap berbagai istilah, misalnya Puruûàrtha yang jumlanya empat disebut Catur Puruûàrtha sedang hal ini di India hanya disebut Puruûàrtha saja dengan tidak melengkapinya dengan kata Catur yang berarti empat Demikianlah Tuhan Yang Maha Esa disebut Parameûþiguru digabungkan dengan Triguru, maka kemudian kita mengenal istilah Catur Guru sebagai topik yang dibahas dalam makalah ini.

Di samping Catur Guru tersebut di atas, di dalam Vanaparva Mahabharata dikenal pula 5 jenis guru, yaitu: Ibu,Bapak,Guruvidyà, Api dan Àtman (CCXIV,27). Selanjutnya di dalam Dattatreya Jayanti, yakni perayaan turunnya Dattatreya (Brahma Viûóu dan Úiva dalam satu badan), umat Hindu di India mengenang kembali 24 hal yang dipandang sebagai guru. Dua puluh empat jenis Guru ini ditunjukkan oleh Dattatreya sebagai berikut: (1). bumi, (2). air, (3). api, (4). langit, (5). angin (6). bulan, (7). matahari,(8). merpati, (9). ular piton. (10). samudra,(11). semut,(12). lebah madu, (13). tawon, (14). gajah betina, (15) menjangan, (16). ikan, (17). penari wanita, (18). burung gagak, (19). anak-anak, (20). pelayan, (21). ular, (22). pembuat panah, (23). laba-laba dan (24). kumbang (Svami Sivananda, 1991: 66).

Setiap orang hendaknya belajar pada hal-hal yang baik dari 24 hal yang dapat memberikan teladan dalam berbuat dan bertingkah laku yang baik dan benar. Demikian antara lain beberapa jenis guru yang dapat diungkapkan berdasarkan susastra Hindu, selanjutnya bila kita mengkaji kedudukan guru, maka Paramestiguru adalah yang paling tinggi, Guru Pangjyan lebih tinggi dipandang dari Guru Wiúesa maupun Guru Rùpaka, karena Guru Pangjyan memberikan kesucian rohani (Oka Puniatmaja,1976: 22).

 

3. Agama Hindu dan persepektif globalisasi

Di dalam berbagai kitab Puràóa ditengarai bahwa sejak penobatan prabhu Parikûit cucu Arjuna sebagai maharaja Hastina pada tanggal 18 Februari 3102 SM., umat manusia telah mulai memasuki jaman Kaliyuga (Gambirananda, 1984 : XIII). Kata Kaliyuga berarti jaman pertengkaran yang ditandai dengan memudarnya kehidupan spiritual, karena dunia dibelenggu oleh kehidupan material. Orientasi manusia hanyalah pada kesenangan dengan memuaskan nafsu indrawi (Kàma) dan bila hal ini terus diturutkan, maka nafsu itu ibarat api yang disiram dengan minyak tanah atau bensin, tidak akan padam, melainkan menghancurkan diri manusia.

Ciri jaman Kali (Kaliyuga) semakin nyata pada era globalisasi yang ditandai dengan derasnya arus informasi, dimotori oleh perkembangan teknologi dengan muatan filsafat Hedonisme yang hanya berorientasi pada material dan usaha untuk memperoleh kesenangan nafsu berlaka. Dengan tidak mengecilkan arti dampak postif globalisasi, maka dampak negatifnya nampaknya perlu lebih diwaspadai. Globalisasi menghapuskan batas-batas negara atau budaya suatu bangsa. Budaya Barat yang sekuler sangat mudah diserap oleh bangsa-bangsa Timur dan bila hal ini tidak terkendalikan tentu menghancurkan budaya atau peradaban bangsa-bangsa Timur.

Seperti telah dijelaskan secara sepintas tentang arti kata Kaliyuga atau jaman pertengkaran atau masyarakatnya suka bertangkar dan kemudian mengarah kepada peperangan, kini dapat kita rasakan, di mana-mana nampaknya masyarakat mudah tersulut pada pertengkaran.

Pusat-pusat pertengkaran yang menghancurkan kehidupan manusia digambarkan dalam kitab Skanda Puràóa, XVII.1, antara lain pada : minuman keras, perjudian, pelacuran, dan harta benda/emas (Vettam Mani, 1989 : 373). Hal ini adalah logis, karena pada tempat-tempat tersebut merupakan arena yang sering mengobarkan pertengkaran. Minuman keras menjadikan seseorang mabuk dan bila mabuk maka pikiran, perkataan dan tingkah lakunya sulit untuk dikendalikan. Demikian di tempat judian, pelacuran dan persaingan mencari harta benda yang tidak dilandasi oleh Dharma (kebenaran), di tempat-tempat tersebut sangat peka meletupnya pertengkaran yang kadang-kadang berakibat fatal, yaitu pembunuhan.

Bila kita melihat diturunkannya ajaran agama, yang maksudnya adalah untuk menyejahtrakan manusia, maka manusia hendaknya kembali kepada ajaran agama sebagai basis kehidupan. Manusia yang taat untuk mengamalkan ajaran agama, akan berhasil mengarungi samudra kehidupan dengan berbagai gelombangnya, apakah dahsyat atau lembut. Seorang yang berhasil meniti gelombang kehidupan adalah ibarat seorang peselancar yang mahir, sesekali tenggelam dihantam gelombang, namun tidak lama kemudian ia tersenyum riang di atas alunan pasang.

Kehidupan modern yang sekuler,mengantarkan manusia pada kehancuran dan hal ini semakin nyata pengaruhnya dewasa ini. Nilai-nilai moralitas, nilai kemasyarakatan dan ritual Hindu menghadapi tantangan, apakah hal-hal tersebut mampu dipertahankan atau sebaliknya ditinggalkan oleh umatnya? Solusi untuk mengantisipasi permasalahan tersebut hendaknya dikaji secara seksama, sehingga agama Hindu sesuai dengan namanya yakni Sanatana Dharma, agama yang abadi atau berlaku sepanjang jaman benar-benar menjadi pedoman, suluh penerang yang memberikan kebahagiaan kepada umatnya.

Di antara berbagai bentuk tantangan dalam menghadapi globalisasi yang bercirikan filsafat Hedonisme yang berorientasi pada usaha mencari kekayaan material sebanyak-banyak sebagai sarana untuk memperoleh kesenangan duniawi, maka tantangan yang berat bagi umat beragama adalah menegakkan nilai-nilai moralitas, di samping etika dan spiritual seperti pula diamanatkan dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara sebagai pedoman dasar melaksanakan pembangunan nasional di segala bidang.

Kondisi masyarakat dewasa ini nampaknya persis sama dengan penggambaran
Viûóu Puràóa, sebagai berikut :

"atha evà bhijana hetuá, dhanam eva aúesadharma hetuá
abhirucir eva dàmpatyasaýbandha hetuá, aórtam eva
vyavahjayaá strìtvam eva'pabhoga hetuá......................
........brahma sùtram eva vipratve hetuá liòga dhàraóam
eva aúrama hetuá"

Viûóu Puràóa IV. 24. 21-22.


(Masyarakat hancur karena harta benda hanya berfungsi meningkatkan
status sosial/kemewahan bagi seseorang,materi menjadi dasar kehidupan
kepuasan hidup hanyalah kenikmatan seks antara laki-laki dan wanita,
dusta menjadi sumber kesuksesan hidup. Seks merupakan satu-satunya
sumber kenikmatan dan kesalahan merupakan hiasan bagi kehidupan
spiritual)

Demikian pula di dalam kitab Vànaparva, Mahàbhàrata keterangan serupa dapat kita jumpai sebagai berikut :

"Pada jaman Kaliyuga para Brahmana tidak lagi melakukan upacara
yajña dan mempelajari kitab suci Veda. Mereka meninggalkan tongkat
dan kulit menjangannya dan menjadi pemakan segala (sarvabhàkûa).
Para Brahmana berhenti melaksanakan pemujaan dan para Sudra
menggantikan hal itu (32-33)".

"Kelaparan membinasakan kehidupan manusia, jalan-jalan raya dipenuhi
oleh wanita yang reputasinya jelek.Setiap perempuan bertengkar/bermu-
suhan dengan suaminya dan tidak memiliki sopan santun (42)"

"Para Brahmana diliputi oleh dosa dengan membunuh para dwijati dan
menerima sedekah dari para pemimpin yang tidak jujur (43)"

"Pada jaman itu orang - orang bertentangan hidupnya dengan nilai-nilai
moralitas,mereka kecanduan dengan minuman keras, mereka melakukan
penyiksaan walaupun di tempat tidur gurunya. Mereka sangat terikat
keduniawian.Mereka hanya mencari kepuasan duniawi terutama daging
dan darah (48)"

"Pada jaman itu ashram-ashram para pertapa dipenuhi oleh orang-orang
berdosa dan orang-oranng angkara murka yang malang yang selalu me-
ngabdikan hidupnya pada ketergantungan duniawi (49)"

"Pada jaman itu orang-orang tidak suci baik dalam pikiran dan perbuatan
nya karena mereka iri hati dan dengki. Bumi ini dipenuhi oleh orang-
orang yang penuh dosa dan tidak bermoral (51)".

"Pada jaman Kaliyuga para pedagang melakukan berbagai bentuk peni-
puan, menjual barang-barangnya dengan ukuran dan timbangan yang
tidak benar (53)".

"Pada jaman Kaliyuga orang-orang budiman hidupnya miskin dan umur-
nya pendek.Orang-orang yang penuh dosa menjadi kaya raya dan memi-
liki umur panjang (55)".


"Gadis-gadis berumur 7 dan 8 tahun sudah melahirkan anak-anak dan
anak-anak laki berumur 10 atau 12 tahun telah menjadi ayah (60)".

"Orang-orang ketika berumur 16 tahun sudah jompo dan segera setelah
itu ajalpun menjemput (61)"

"Para wanita mudah celaka, melakukan perbuatan yang tidak pantas dan
melakukan perbuatan yang tidak terpuji, menipu suami-suami mereka
yang berbudi pekerti luhur, melupakan mereka bahkan berhubungan de-
ngan pelayannya dan atau dengan binatang sekalipun (63)"

Vànaparva, CLXXXVIII.

Lebih jauh di dalam kakawin berbahasa Jawa Kuno, Nìtiúàstra yang rupanya merupakan saduran dari Càóakya Nìtiúàstra dalam bahasa Sanskerta dinyatakan sebagai berikut :

"Singgih yan tekaning yugànta Kali tan hana lewiha sakeng mahàdhana
tan waktan guóaúura paóðita widagdha pada mangayapiing dhaneúwara
sakwehning rinahasya sang wiku hilang kula ratu pada hìna kàsyasih
putràdwe pìta nióða ring bapa si úùdra banija wara wìrya paóðita"

Nìtiúàstra IV.7.

(Sesungguhnya bila jaman Kali datang pada akhir yuga, hanya kekayaan
/harta benda yang sangat dihargai. Tidak perlu dikatakan lagi, bahwa
orang yang saleh,orang-orang yang pandai akan mengabdi kepada orang
orang yang kaya. Semua ajaran rahasia kepanditaan lenyap, keluarga-
keluarga dan para pemimpin yang bijaksana menjadi hina papa. Anak-
anak menipu dan mengumpat orang tuanya. Orang - orang hina akan
menjadi saudagar kaya, mendapat kemuliaan dan kepandaian).

Bila pada era globalisasi ini nilai-nilai moralitas tidak diindahkan lagi oleh orang-perorangan (individu) maupun oleh masyarakat, maka ciri-ciri yang digambarkan pada jaman Kaliyuga itu merupakan kebenaran. Nilai-nilai moralitas semestinya menjadi pegangan hidup setiap orang, namun karena trend jaman Kali lebih menekankan pleasure oriented , maka hal itu akan mudah ditinggalkan.

 

4. Aktualisasi ajaran Catur Guru Bhakti

Mampukah agama Hindu menghadapi arus globalisasi yang sangat dahsyat dewasa ini ? Masihkah relevan rasa bhakti kepada Catur Guru dalam era globalisasi dewasa ini ? Sepintas lalu telah diungkapkan kondisi negatif era globalisasi dewasa ini. dengan tidak mengurangi dampak positif globalisasi ini, globalisasi ditandai oleh kecendrungan penyeragaman tata nilai(hal ini disadari ataupun tidak oleh masyarakat), pola pikir dan pola kerja nampaknya lebih cepat dan lebih baik serta ingin mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Globalisasi juga memperlihatkan kecendrungan dominasi masyarakat maju terhadap masyarakat yang sedang berkembang. Apabila kita kurang arif memberi konsesi,maka umat Hindu akan tidak saja kehilangan identitas,
tetapi juga akan terjadi pendangkalan pengamalan agama dan sangat berbahaya bila pengaruh filsafat hedonisme yang permissif berkembang pesat. Kekuatan global juga mengandung prinsip - prinsip : individualisme, sekulerisme dan materialisme yang menghendakiindividu selalu bersaing terhadap yang lain untuk memperoleh kemakmuran material, menjadi kaya dan berkuasa, sesuai dengan sifat dari hedonisme itu, yakni mengejar kemewahan dan untuk memuaskan nafsu duniawi.

Susastra Hindu di antaranya Sarasamuccaya, yang merupakan karya kompilasi yang bersumber pada kitab Mahabharata dan kitab-kitab Puràóa menyatakan bila hanya mengejar kepuasan nafsu duniawi, maka diibaratkan seseorang yang menyiram api yang besar tidak dengan air, melainkan dengan bensin atau minyak tanah, api akan semakin besar dan dapat membakar atau menghancurkan segala. Mengejar kepuasan duniawi diibaratkan pula ibarat orang yang menggaruk-garuk gatal, enak pada mulanya dan ketika gatalnya lecet, maka keperihanlah akhirnya.

Bila setiap umat Hindu menyadari tentang makna penjelmaan dan tujuan hidup kita adalah untuk mencapai Mokûa kebahagiaan yang sejati yakni bersatunya Àtman dengan Brahman, maka usaha untuk mengamalkan ajaran agama Hindu akan diwujud nyatakan. Demikian pula bila kita memahami hakekat ajaran agama Hindu adalah Sanatana Dharma, yakni agama yang abadi yang selalu dianut oleh umat manusia, maka dampak negatif dari globalisasi tidak akan menjerumuskan orang-orang yang melaksanakan ajaran agama dengan sebaik-baiknya.

Untuk mengamalkan ajaran agama sebaik-baiknya, baik untuk diri pribadi maupun sebagai anggota masyarakat, maka perlu mengaktualisasikan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari, sebagai contoh, dalam era globalisasi ini persaingan untuk memperoleh kehidupan (lapangan kerja) sangat ketat, untuk itu diperlukan berbagai kiat untuk meningkatkan kualitas SDM kita. Meningkatkan kualitas SDM tidak bisa tanpa melalui pendidikan yang memadai. Berhasilnya seseorang menempuh jenjang pendidikan tertentu (apalagi pendidikan tinggi yang berkualitas) tidak akan mungkin bila kita tidak memiliki rasa bhakti kepada Catur Guru. Mereka yang melaksanakanm ajaran Guru Bhakti sejak dini (anak-anak), mereka pada umumnya memiliki disiplin diri dan percaya diri yang mantap pula. Dengan disiplin diri dan percaya diri yang mantap, tidak saja akan sukses dalam bidang akademik, tetapi juga dalam berbagai aspek kehidupan. Di sinilah kita melihat ajaran Catur Guru Bhakti senantiasa relevan sepanjang masa, sesuai dengan sifat agama Hindu yang Sanatana Dharma itu. Aktualisasi ajaran Guru Bhakti atau rasa bhakti kepada Catur Guru dapat dikembangkan dalam situasi apapun, sebab hakekat dari ajaran ini adalah untuk pendidikan diri, utamanya adalah pendidikan disiplin, patuh dan taat kepada sang Catur Guru dalam arti yang seluas-luasnya.


5. Penutup

Demikian pokok-pokok pikiran tentang Rsa Bhakti kepada Catur Guru dalam perspektif Globalisasi, semoga bermanfaat. Wasana kata mengakhiri tulisan ini kami kutipkan pendapat Svami Visvananda dari Sri Ramakrishna Ashram, Bombay (1938) yang menyatakan: Let us try to go to the fundamentals and basic of our religion and march onward and Godward with charity for all and malice towards none, sebagai pengejawantahan rasa bhakti kepada Catur Guru dengan mengembangkan Yajña yang sejati dan cinta kasih yang tulus.

Oý Úàntiá Úàntiá Úàntiá


DAFTAR PUSTAKA

1. Apte, Shiv Vaman : Sanskrit-English Dictionary, Motilal Banarsidass, New
1978 Delhi.

2. Dutt, M.N. : Mahàbhàrata, Translated in to English from Original
1988 Sanskrit Text, Vol.2, Parimal Publoications, Delhi.

3. Dvivedi, K.D. : The Essennce of the Vedas, Vishva Bharati Research
1990 Institute, Gyanpur, Varanasi.

4. Gambirananda, Svami : Bhagavadgìtà With Commentary of Sankaracharya,
1984 Advaita Ashram, Mayavati, Himalaya.

5. Poerbatjaraka, RMNg. : Nitisastra, Kakawin, Pemda Tingkat I Bali, Denpasar,
1976

6. Pudja, G. : Sarasamuccaya, Mayasari, Jakarta
1984

7. Puniatmaja,I B. Oka : Silakrama Parisada Hindu Dharma Pusat, Denpasar.
1975


8. Sivananda, Svami : Hindu Fas and Fertivals, A Divine Life Society
1991 Publications, Sivanandanagar, Garhwal, Himalaya.


9. Vettam Mani : Puranic Encyclopaedia, Motilal Banarsidass, Delhi.
1989


10.Visvananda, Svami : Unity of Religions, dalam The Religions of the
1938 World,Sri Ramakrishna Centenary Parliament of
Religions, Calcuta, India.

11. ----------------- : Viûóu Puràóa, Text in Sanskrit, Gita Press,
1990 Gorakpur, U.P., India.

12. ----------------- : Pañcaúikûa, lontar koleksi Perpustakaan Faksas.
Udayana, Denpasar.
-----------------------------------

 
< Prev   Next >
"));