Logo PHDI Pusat
Anjali dan Amusti Karana Print E-mail

Anjali dan Amusti Karana
Oleh I Gede Adnyana, Bontang

OM SWASTYASTU, merupakan salam umat Hindu yang disertai cakupan tangan yang mengandung makna semoga sehat selalu dalam lindungan Tuhan.

Anjali dan Amusti Karana
Oleh I Gede Adnyana, Bontang

OM SWASTYASTU, merupakan salam umat Hindu yang disertai cakupan tangan yang mengandung makna semoga sehat selalu dalam lindungan Tuhan.
 
Anjali adalah cakupan kedua belah telapak tangan yang digunakan sebagai salam ataupun pada saat sembahyang. Jika cakupan tangan didepan dada berarti salam untuk sesama, ujung tangan didepan hidung sebagai sembah pada leluhur, tangan diatas ubun-ubun adalah sembah pada Sang Hyang Widhi, cakupan tangan kebawah adalah sembah untuk Ibu Pertiwi.
Cakupan tangan memiliki makna yang amat mendalam, yang merupakan cermin kedalaman filsafat Hindu. Makna cakupan tangan yang mendalam ini dapat kita jumpai dalam kekawin Arjuna Wiwaha:

Om Sembah ninganata tinghalana de Tri Loka sarana
Wahyadyatmika sembahingulun ijong ta tan hana waneh
Sang iwir agni sakeng tahen kadi minyak sakeng dadi kita
Sang Saksat metu yan hana wwang amuter tutur pinahayu
.

Terjemahan:
Om sembah hamba yang hina ini, saksikanlah wahai pen guasa ketiga dunia, Lahir batin sembah hamba kehadapan-Mu tiada henti-hentinya,
Engkau bagaikan api didalam kayu, bagaikan minyak didalam santan,
Engkau menampakkan diri jika ada orang yang memutar kesadaran menuju kerahayuan.
 
Jika kita cermati nampaknya sang kawi ingin menuangkan sembah yang lahir batin kedalam karya sastranya. Bagaimana sebuah cakupan tangan yang bermakna Wahyadyatmika (lahir dan batin) inilah yang perlu kita ketahui bersama. Kedalaman batin dari seorang Mpu Kanwa memang tak perlu diragukan lagi, terlebih-lebih memancarnya sifat sundaram atau keindahan rasa yang tertuang dalam bait kekawinnya mampu membawa siapa saja merasakan sentuhan rasa agama.
 
Telapak tangan sebagaimana diketahui adalah bagian penting dari badan (buana alit), yang memiliki fungsi yang sangat penting. Telapak tangan kiri biasanya digunakan untuk membersihkan kotoran setelah buang air, atau untuk memungut sampah-sampah yang menjijikkan, bau busuk dan sebagainya. Sedangkan tangan kanan digunakan untuk makan, menyalami orang lain, mengambil yang sifatnya bersih dan suci. Sepasang tangan ini saling bekerjsama dengan tidak pernah saling tuntut, walaupun tangan kiri selalu digunakan untuk mengambil yang kotor namun ketika ada cincin atau jam tangan pastilah tangan kiri yang mendapatkannya.
 
Dalam ajaran kebatinan Hindu disebutkan bahwa tangan kiri aksaranya adalah Ang yang merupakan simbul dari Ibu Pertiwi (Shakti). Tangan kanan aksaranya adalah Ah, yang merupakan simbul dari Bapa Akasa (Siwa). Shakti adalah potensi jasmaniah, Siwa adalah potensi rohani. Dengân mencakupkan kedua telapak tangan maka berarti telah menyatukan Ang Ah (Pertiwi - Akasa).

Ketika Bumi dan Langit bersatu maka terjadilah kehidupan. Bersatunya Ang Ah melahirkan aksara Om. Maka terciptalah semua yang ada, Didalam mantram Tri Sandhya disebutkan “Om Narayana ewedham sarvam” (Om Narayana Engkau adalah semua ini). Dengan demikian semua ini adalah Narayana yang lahir dari Siwa-Shakti. Ternyata walaupun tidak diucapkan cakupan tangan tetaplah berbunyi Om. Simbul dan pernyataan yang dua menjadi satu, Purusa dan predana, Siwa dan Shakti, laki-perempuan, Cetana Acetana, gelap-terang, inilah makna dari cakupan tangan yang lahir dan Batin (wahyadyatmika).

Amusti Karana
Musti artinya tangan dikepal, amusti berarti mengambil sikap tangan Mudra. Mudra itu sendiri berarti gerakan tangan rahasia yang berfungsi sangat sakral. Amusti karana artinya Mudra penyebab. Yang dimaksud dengan Mudra penyebab atau Amusti Karana. adalah mempertemukan kedua Ibu jari, dengan tangan kanan mengepal, kepalan tangan kanan dipegang atau disusun dengan telapak tangan kiri, sehingga membentuk seperti sebuah segitiga.
 
Segitiga ini melambangkan Tri Murti. Sudut yang terbentuk dari telunjuk dan jempol tangan kiri (sudut kiri) adalah Brahma aksaranya Ang, yang merupakan penyebab lahir, Sudut yang terbentuk dari telunjuk dan jempol kanan (sudut kanan) adalah Wisnu aksaranya Ung yang merupakan penyebab Hidup. Sedangkan sudut yang terbentuk dari kedua ibu jari adalah Iswara atau Rudra aksaranya Mang yang merupakan penyebab kematian.
 
Dengan demikian dengan melakukan gerak amustiakarana berarti sudah memuja Tri Murti Brahma, Wisnu, Iswara atau Rudra, atau Ang Ung Mang yang tidak lain adalah Om. Yang lahir pasti akan hidup sebelum kemudian menjemput ajalnya. Inilah hukum rta, hukum alam tertinggi yang patut disadari.
 
Tri Murti, antara Buana Agung dan Buana Alit
Brahma yang merupakan sumber kehidupan yang juga disimbulkan dengan api. Api adalah panas, dimana ada hawa panas pastilah ada tanda-tanda kehidupan. Karena itu Matahari adalah sumber kehidupan dijagat raya ini. Tanpa matahari tak akan ada kehidupan. Suhu di bumi sangat dipengaruhi oleh matahari. Saat matahari terbit suhu bumi mulai naik, menyebabkan tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia melakukan aktifitasnya. Sedangkan pada malam hari suhu menjadi lebih dingin menyebabkan makhluk dibumi cenderung untuk beristirahat. Bila dewasa ini suhu bumi meningkat atau yang dikenal dengan efek pemanasan global itu merupakan tanda bahwa bumi ini sudah sakit. Banyaknya penebangan pohon, pencemaran, penggunaan senjata modern yang diciptakan manusia adalah yang paling dominan dalam menciptakan bumi yang “sakit”. Dengan demikian panasbumi yang hakikatnya adalah api mempengaruhi kehidupan.
 
Demikian pula jika badan manusia kelebihan unsur api atau kekurangan unsur api, maka suhu badannya akan di atas rata-rata atau dibawah normal. Dalam keadaan ini badan dikata akan sakit.
 
Wisnu adalah air, merupakan pelindung untuk terjaganya kehidupan dimuka bumi ini. Tanpa adanya air tak akan makhluk hidup itu mampu bertahan. Air adalah juga sumber kesuburan, dimana air berlimpah pastilah kesuburan tanah akan senantiasa terjaga. Air dibumi sangat dipengaruhi oleh gravitasi bulan. Air pasang atau naik mencapai puncaknya pada bulan purnama, air surut mencapai titik terendah pada bulan mati (tilem).
 
Pada bulan purnama nafsu birahi makhluk yang ada dimuka bumi ini mengalami peningkatan yang maksimal. Itulah sebabnya pada bulan purnama umat Hindu mengadakan persembahyangan guna mengendalikan nafsu birahi. Di samping itu pula jika tenaga ojas yang besar ini mampu diarahkan untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, alangkah besarnya tenaga yang digunakan untuk meuju pendakian rohani. Semakin besar tenaga yang digunakan maka semakin cepatlah sampai pada tujuan. Dengan demikian maka pada saat bulan purnama merupakan suatu isyarat agar kita lebih mengupayakan Yadnya khususnya Dewa Yadnya.
 
Pada bulan mati, nafsu atau gairah hidup dari makhluk yang ada dimuka bumi mencapai titik terendah. Hal ini disebabkan pikiran sering diliputi kekosongan, oleh karena itulah pada bulan mati identik dengan pemujaan Shiwa, dan merupakan hari baik untuk melakukan Butha Yadnya. Maksud dari Butha Yadnya tidak lain adalah memberikan kasih sayang kepada makhluk-makhluk yang tingkatannya lebih rendah dari manusia, agar mereka yang diperhatikan juga kelak akan memperhatikan manusia.
 
Terjadinya bencana banjir adalah sebagai indikasi bahwa air yang berlimpah yang seharusnya merupakan karunia, namun berubahlah menjadi malapetaka, tidak lain adalah karena lalainya manusia menjaga keseimbangan alam semesta ini. Jika kita tidak mampu menjaga keseimbangan alam semesta ini maka air di musim hujan menjadi bencana air, namun pada musim kemarau justeru kekeringan.
 
Di dalam badan manusia hal ini juga terjadi, manakala manusia kelebihan unsur air yang tidak mampu diserap didalam tubuhnya maka ia akan sakit, misalnya tekanan darah rendah. Demikian pula jika kekurangan air maka badanpun akan sakit, misalnya dehidrasi akibat kurang minum, atau akibat diare.

Iswara adalah udara, udara yang bergerak disebut angin. Setiap makhluk memerlukan udara untuk bernafas. Tumbuhan memerlukan CO2 untuk melakukan fotosintesa, sebaliknya binatang dan manusia memerlukan O2 untuk membakar zat makanan. Demikian pula udara mengandung berbagai unsur-unsur yang dibutuhkan oleh makhluk hidup. Iswara disimbulkan dengan bintang karena bintang mempengaruhi arah angin. Para petani tradisional menggunakan ilmu perbintangan untuk menentukan musim tanam. Demikian pula para pelaut kita pada jaman dahulu mempergunakan ilmu perbintangan untuk menentukan arah angin.
 
Jika didalam badan seseorang kekurangan oksigen maka badannya akan membiru, lihat dan perhatikan pembuluh vena yang berwarna kebiru-biruan adalah akibat dari gas CO2. Jika kelebihan udara maka seseorang akan menderita masuk angin.
 
Dalam Ekaksara (Om) maka matahari disimbulkan dengan windu (O); yang juga merupakan simbul dari kepala. Bulan disimbulkan dengan candra, dan bintang disimbulkan dengan nada, yang juga diidentikkan dengan rambut Windu, Candra, Nada adalah simbul dari Matahari, Bulan, dan Bintang yang hakikatnya adalah Brahma Wisnu Iswara. Inilah manifestasi Tuhan dalam menjaga keseimbangan alam, baik buwana agung maupun buwana alit.
Setelah mendalami makna cakupan tangan dan amusti karana, marilah kita mencakupkan kedua tangan, menyatukan lahir dan batin agar benar-benar menjadi damai.
WHD No. 444 Pebruari 2004.

 

 
< Prev   Next >
"));