Logo PHDI Pusat
Badung: Hulu dan Kaki Print E-mail

Balipost – Minggu, 6 September 2009.
Badung: Hulu dan Kaki
Pandangan Selatan Tentang Jagat Perkampungan..

KABUPATEN Badung berbentuk memanjang utara selatan. Diujung utara adalah Pucak Tedung. Dan di ujung selatan adalah bukit Pecatu. Secara geografis bukit Pecatu dan Pucak Tedung menarik diperhatikan. Keduanya sama-sama dataran tinggi. Keduanya sama-sama
“bermahkota” Pura. Bukit utara bermahkota Pura Pucak Tedung, Bukit selatan bermalikota Pura Huluwatu. Dan keduanya saling berhadapan dalam satu garis lurus. Orang yang berdiri di Pucak Tedung dan memandang lurus ke selatan, akan melihat jelas apa yang dinamakan Kaki Pulau Bali.

BUKAN kebetulan posisi kedua bukit dan pura ini saling berhadapan. Dan juga bukan kebetulan arti nama kedua Pura itu memiliki hubungan semantis. PUCAK Tedung berarti Puncak Payung. Istilah payungjagat adalah istilah yang hunrah dipergunakan untuk menyebut pelindung jagat. Jika pelindung itu adalah orang, maka di masa lalu yang disebut payung jagat itu adalah raja (catreng bhuwana). Jika jagat itu adalah jagat-spiritual, maka sampai sekarang pun yang disebut payung jagat itu adalah Pura dalam arti “beliau’ yang dipuja
di sana. Dalam shastra dan dresta yang berlaku di Bali, Puri dan Pura itu adalah hulu. Dalam bahasa sekarang, hulu itu bisa diartikan kepala. Bisa pula hulu dibayangkan seperti sebuah sungai. Bisa pula dikatakan luan (bahasa Bali), yang artinya memiliki konotasi dengan suci, tinggi, luhur, sumber, dan sebagainya. Itulah kurang-lebih hubungan semantis antara Puncak Tedung dan Huluwatu.

SELAIN memiliki persamaan yang kasat mata, keduanya tentu berbeda. Bukit selatan berseting laut. Bukit utara berseting pegunungan. Sementara
bukit utara berkembang secara perlahan-lahan, bukit selatan berkembang luar biasa cepat. Lima puluh tahun yang lalu bukit selatan sepi dan jarang dikunjungi orang. Sekarang orang-orang seakan numplek di selatan. Lapangan terbang di selatan. Pelabuhan laut di selatan.
Universitas di selatan. Kawasan pariwisata dengan segala pengiringnya, baik yang berupa “makhluk siang” maupun “makhluk malam’ juga di selatan.

ADA APA di selatan? Jika kita setuju dengan metafora yang dipergunakan orang, bukit selatan adalah kaki pulau Bali, maka dapat dikatakan bahwa kehidupan orang-orang sekarang numplek di kaki. Bukan hanya itu yang bisa dikatakan, pura Huluwatu akan dikatakan ada di kaki Bali. Dan itu memang sudah sering dikatakan orang. Secara semantis pernyataan ini sangat kontradiktif. Betapa anehnya bila kepala (hulu) ada di kaki? Seperti sebuah teka-teki anak-anak: “makhluk apakah kepalanya di kaki?” Jawabannya ternyata bukan makhluk, tapi Kabupaten Badung. Mana yang benar, selatan itu hulu atau kaki? Ternyata pertanyaan sederhana ini membawa keruwetan tersendiri, bukan hanya dalam tingkat pikiran, juga dalam kenyataan yang berkembang di selatan.

PURA Huluwatu menjadi penanda utama, bahwa bukit selatan itu adalali hulu. Penanda utama ini dibarengi dengan penanda-penanda lain. Di bukit Selatan ada puluhan piga-pura yang dalam sejarahnya menjadi pusat perhatian para yogi, para kawi, para wiku, dan para penempuh jalan mistis-spiritual. Misalnya pura Batu Pageh, Pura Gowa Ghong, dan masih banyak lagi. Para penekun sastra Bali akan tahu bahwa tidak sedikit karya-penting ditulis di bukit selatan ini. Pendeta legendaris Dang Hyang Nirartha pun memi]iki tempat ini, bukan hanya untuk berkarya dan bersemadi, juga sebagai tempat konon moksa.

Bahwa bukit selatan adalah kaki juga ada penandanya. Berdasarkan dokumentasi yang ada, dapat dikatakan bahwa pembangunan perkampungan turis di Nusa Dna sekitar tiga dasawarsa silam salah satu latar belakangnya adalah anggapan bahwa bukit selatan itu adalah kaki dalam arti teben (lawan kata dan luan). Alasan lainnya, karena dekat dengan lapangan terbang, dengan pelabuhan laut, dengan Kuta, yang semuanya ada di selatan.

PANDANGAN selatan sebagai hulu dan selatan sebagai kaki sama-sama memiliki pendukung yang sama-sama kuat. Ketika Universitas Udayana dipindahkan ke bukit selatan, tidak jelas diketahui apakah dilatarbelakangi oleh konsep hulu dan konsep kaki, atau bukan keduanya, tapi entah apa. Demikianjuga ketika disetujui pembangunan patung Garuda Wisnu di selatan, tidak diketahui pandangan filosofis yang melatarbelakanginya. Karena Wishnu itu sebenarnya dikonsepsikan ada di utara menurut pandangan religius Bali.

Orang boleh saja berkata bahwa dalam dunia yang hitam putih tidak tertutup kemungkinan ada yang abu-abu. Karena pencampuran warna putih dan hitamlah yang membuat adanya abu-abu. Maksudnya, dalam pandangan dikotomis hulu dan kaki, orang bisa berpikir di luar yang dua itu. Artinya, selatan adalah bukit, selatan adalah kawasan bebas.

Ada tidak hanya satu standar dalam pikiran kebanyakan di antara kita tentang bukit selatan (barangkali juga dalam banyak hal). Beberapa standar yang sama-sama “diperbolehkan” itu menyebabkan bukit selatan berkem-bang menjadi kawasan yang unik. Kawasan itu unik bukan karena sekarang orang-orang numplek di selatan. Ke-numplekan itu hanyalah dampak. Bukit selatan itu unik karena menjadi seperti muara bagi banyak gagasan dan kepentingan baik yang berhubungan dengan siang maupun dengan malam, yang berhubungan dengan terang maupun yang berhubungan dengan gelap! •IBM Dharma Palguna.
.

 

 

 
< Prev   Next >
"));