Logo PHDI Pusat
Topeng Sidakarya dan Alam Print E-mail

TRADISI
Topeng Sidakarya dan Alam
KOMPAS - Senin, 14 Desember 2009 | 04:28 WIB

Oleh  Ayu Sulistyowati

I Made Sartika (48), asal Kerobokan, Kabupaten Badung, menyelipkan sebatang dupa menyala di sela rambut palsunya yang berurai panjang berwarna putih dan mengenakan topeng karakter seorang tua bernama topeng Sidakarya. Ya, pada pertengahan Oktober siang itu, ia tengah didaulat menarikan topeng Sidakarya pada salah satu upacara adat di salah satu pura yang tak jauh di rumahnya.

TRADISI
Topeng Sidakarya dan Alam
KOMPAS - Senin, 14 Desember 2009 | 04:28 WIB

Oleh  Ayu Sulistyowati

I Made Sartika (48), asal Kerobokan, Kabupaten Badung, menyelipkan sebatang dupa menyala di sela rambut palsunya yang berurai panjang berwarna putih dan mengenakan topeng karakter seorang tua bernama topeng Sidakarya. Ya, pada pertengahan Oktober siang itu, ia tengah didaulat menarikan topeng Sidakarya pada salah satu upacara adat di salah satu pura yang tak jauh di rumahnya.

Sebelumnya, ia bersama dua temannya, Agus Adi dan Nyoman Sugama, memerankan beberapa karakter topeng sebelum ditutup dengan topeng Sidakarya. Ketiganya bergantian atau bersamaan muncul dan terkadang bercanda dengan para tamu.

Namun, topeng-topeng yang mereka perankan bukan tak punya makna dan hanya menjadi sarana penghibur tamu yang hadir pada upacara tersebut. Karena munculnya topeng Sidakarya dipentaskan khusus dalam upacara adat bersamaan dengan pedanda (pemimpin upacara) melantunkan doa-doa (mantra-mantra keselamatan) dan membunyikan genta tanda keheningan dimulai. Bersamaan itu pula gamelan berdegung dengan lantunan suara pesinden.

Bahkan, Sartika, sebagai penari topeng Sidakarya di Pulau Dewata, pun tidak mudah. Sang penari harus melalui beberapa tahap, termasuk tahapan penyucian diri atau disebut di Bali sebagai upacara mewinten. Alasannya, topeng Sidakarya ini bukan sembarang topeng yang bisa ditarikan di mana saja, apalagi untuk konsumsi komersial. Sakral karena sebelum memulai tariannya, sang pemilik hajatan harus menyiapkan pula rangkaian banten atau sesaji untuk harapan keselamatan selama menarikan topeng.

”Siapa pun yang telah melalui tahapan mewinten sebagai penari topeng Sidakarya tidak diperkenankan menarget bayaran karena mereka adalah pengayah (tidak menarik imbalan dan ikhlas melakukannya),” kata Sartika yang juga dipanggil Pak Nang Tesen.

Selain itu, menurut Sartika, ia memiliki aturan main ketika menerima sesari atau imbalan dari pemilik karya (upacara). Para penari topeng Sidakarya harus membaginya menjadi tiga bagian berapa pun rupiah yang disarikan untuknya. ”Satu bagian untuk saya dan teman (jika tidak menari sendiri), satu bagian lagi untuk pemilik hajatan, dan satu bagian lainnya diberikan kepada pembuat banten (sesaji),” ujarnya.

Ia sendiri sudah memiliki bakat yang diturunkan dari almarhum sang ayah, Ketut Sarjana, yang juga pengayah topeng Sidakarya. Memasuki usia 35 tahun, Pak Nang Tesen mulai tergerak untuk menjalani mewinten sebagai penari topeng Sidakarya. Sebelumnya ia sudah menjadi karyawan di salah satu perusahaan negara di Pulau Dewata.

”Jadi, saya tidak pusing memikirkan penghasilan karena selain tercatat menjadi pegawai, saya juga seniman yang biasa manggung tari di beberapa acara,” ujarnya.

Sejarah

Topeng Sidakarya ini memiliki sejarah. Singkatnya, berdasarkan referensi Filsafat Seni Sakral dalam Kebudayaan Bali oleh I Made Yudabakti dan I Wayan Watra, sejarah itu berawal dari bangsawan di Pura Besakih dari Zaman Dalem Waturenggong di Gelgel yang tengah menggelar karya besar (upacara besar). Saat itu, datang seseorang dari Keling, Pulau Jawa, mencari si bangsawan Besakih tersebut karena mereka adalah sahabat.

Sayangnya, beberapa pengawal bangsawan Besakih tidak percaya dan justru mengusir tamu tersebut. Tamu tersebut murka dan mengutuk upacara tidak akan sukses.

Karya besar pun gagal. Sang bangsawan Besakih menyesali tindakan pengawalnya yang bertindak tanpa sepengetahuannya. Ia pun mencari sang tamu yang juga sahabatnya itu dan terjadilah kesepakatan. Sang tamu diberikan tempat tinggal di Dalem Sidakarya di Denpasar selatan dan setiap ada upacara di Bali harus menggenapi dengan adanya topeng Sidakarya atau bisa digantikan dengan tirta (air) topengnya.

Ritual pembuatan

Tak hanya sang penari, proses pembuatannya pun tak bisa sembarangan karena memang tak dipakai untuk sembarangan. Topeng Sidakarya ini lain dengan topeng-topeng yang dibuat dan dijual secara massal, seperti di pasar-pasar kerajinan atau pasar oleh-oleh. Perbedaannya bisa mulai dari pemilihan bahan kayu, ritual memulai memahat, pengawetannya, hingga ritual penghidupan topeng tersebut.

Namun, jangan salah paham dengan adanya ritual penghidupan topeng ini. Penghidupan ini bukannya topeng tersebut kemudian bisa berbicara, melainkan dimaksudkan terasa lebih hidup dan menyatu dengan sang penarinya, yakni proses inisiasi (penyucian) dan pesupati (menghidupkan). Biasanya, si penari topeng Sidakarya yang telah mewinten memiliki satu topeng khusus untuk dirinya ngayah. Satu hal lagi, pembuat topengnya pun melewati tahapan mewinten.

Ida Bagus Sudiksa (51), asal Banjar Jambe, Keroboka Kaja, pun mengingatkan permintaan membuat topeng Sidakarya ini tidak bisa sembarangan meminta. ”Saya tidak akan pernah mau membuatnya jika dalam memintanya sudah mengeluarkan sejumlah angka rupiah. Kami ini pembuat topeng sakral dan ini bagian dari ngayah terhadap kehidupan ini,” katanya sambil tangannya tetap tak terganggu membuat sebuah topeng.

Menurut dia, penyakralan pada pembuatan topeng ini mampu menahan manusia untuk tidak semena-mena terhadap alam, khususnya pepohonan. Ia beranggapan pendahulunya telah memikirkan bagaimana agar manusia tidak sembarangan menebang atas nama kesenian, budaya, atau adat. Karena itu, dari pemilihan kayu hingga penebangannya pun harus disesuaikan dengan musim serta hari baiknya dengan tujuan agar alam tidak murka.

”Namun, ketika topeng sudah menjadi kerajinan yang dibuat secara massal, manusia menjadi rakus tanpa memilih kayu itu sudah cukup umur sampai tanpa pemilihan musim yang tepat pula. Semua demi kepentingan uang, bahkan pariwisata. Wajar jika kemudian alam menjadi murka. Inilah salah satu pesan topeng Sidakarya tentang alam,” katanya serius.

Sakral

Waktu pembuatan topeng sakral ini pun bervariasi, tergantung dari mood sang pengukirnya, bisa hanya tiga hari atau sebulan. Sama halnya dengan Pak Nang Tesen, Sudiksa pun mendapatkan bakat keturunan dari almarhum ayahnya, Ida Pedanda Gede Telaga. Mereka ini bukan perajin, melainkan seniman yang telah melalui tahapan penyucian. Namun, bakat ini bisa dipelajari dan tidak semuanya mendapatkan dari garis keturunan.

Hal yang unik selama pembuatan topeng sakral, antara lain, adalah pengawetannya yang harus direbus dengan kuah bumbu genep (bumbu dapur lengkap) selama 12 jam tanpa putus.

”Karena merebusnya memunculkan bau yang enak seperti kuah sayur yang bisa dimakan, sering kali tetangga pun berkelakar saya tengah membuat sup topeng yang enak dan gurih,” ujarnya.

Meski demikian, lanjut Sudiksa yang juga dosen manajemen pemasaran di Universitas Udayana itu, awet dan tidaknya topeng juga tetap tidak lepas dari awal pencarian kayu cendana, pole, atau batang kamboja, termasuk pemilihan tanggal penebangannya. Ia menambahkan, dari sejak ayahnya puluhan tahun lalu, semua pembuatan topeng menggunakan ilmu logika. ”Kami semua membuatnya dalam keadaan sadar dan pertimbangan penuh. Inilah seni lokal genius,” ujarnya.

Sayangnya, bahan pengawetan alami ini tidak diikuti dengan pewarnaan alami. Sudiksa mengatakan, pewarnaan alami tidak lagi memiliki kualitas sama kuat antara puluhan tahun lalu dan sekarang. Karena itu, ia terpaksa menggantikan dengan cat kimia dengan pemilihan kualitas nomor wahid.

Topeng sakral selain topeng Sidakarya di Pulau Dewata, juga ada topeng yang sengaja disakralkan dan biasanya disimpan di pura-pura, seperti Rangda, Barong, dan Irarung. Pementasannya pun tidak setiap saat karena memiliki hari atau waktu pementasan sendiri. Semua topeng sakral ini pun diberikan banten dan doa-doa, terutama ketika tumpek wayang, sebagai persembahan kepada Dewa Iswara.

 

 
< Prev   Next >
"));