Logo PHDI Pusat
MAKNA HARI RAYA NYEPI, DITINJAU DARI SUDUT FILSAFAT Print E-mail

Bagi umat Hindu pergantian tahun Caka selalu dimulai sesudah tilem kesanga (IX), sehingga Hari Raya Nyepi merupakan tahun baru. Mengapa pergantian tahun dimulai sesudah berakhirnya sasih ke IX ?, padahal satu tahun itu ada 12 bulan menurut perhitungan kalender. Disamping itu kalender Bali mengakui satu tahun itu ada 12 bulan yakni Kedasa, Jiyestha, Sadha, Kasa, Karo, Katiga, Kapat, Kalima, Kenem, Kepitu, Kaulu, Kesanga. Mengapa tahun Caka itu dimulai dari kedasa?

Budaya  - Senin, 14 Maret 2010 | BaliPost
MAKNA HARI RAYA NYEPI
DITINJAU DARI SUDUT FILSAFAT

Bagi umat Hindu pergantian tahun Caka selalu dimulai sesudah tilem kesanga (IX), sehingga Hari Raya Nyepi merupakan tahun baru. Mengapa pergantian tahun dimulai sesudah berakhirnya sasih ke IX ?, padahal satu tahun itu ada 12 bulan menurut perhitungan kalender. Disamping itu kalender Bali mengakui satu tahun itu ada 12 bulan yakni Kedasa, Jiyestha, Sadha, Kasa, Karo, Katiga, Kapat, Kalima, Kenem, Kepitu, Kaulu, Kesanga. Mengapa tahun Caka itu dimulai dari kedasa?

Hal ini disebabkan karena pengertian tentang angka. Umat Hindu khususnya di Bali mengakui bahwa angka yang tertinggi adalah angka 9 (sanga). Sedangkan angka sepuluh sebenarnya merupakan angka ulangan yang terdiri dari angka 1 dan 0 (angka sepuluh huruf Bali). Demikian juga angka sebelas merupakan angka ulangan 1 dan 1, begitu juga angka dua belas (12) dan sebagainya. Semuanya angka pengulangan kembali. Sedangkan angka sembilan dikatakan sebagai angka mistik (ajaib) karena satu-satunya angka kalau dikalikan angka bilangan kecuali angka nol atau pecahan, jumlahnya akan menunjukkan kelainan dari angka-angka yang lain. Sebab salah satu angka diantara angka satu sampai sembilan jika dikalikan dengan angka sembilan, hasil perkalian ini kemudian dijumlahkan pasti akan menghasilkan angka Sembilan misalnya :

9 X 4 = 36 ( 3+6=9)
9 X 5 = 45 ( 4+5=9)

Kemudian bandingkan dengan :
7 X 7 = 49 ( 4+9=13)
7 X 8 = 56 ( 5 +6=11) dan seterusnya.

Kemudian angka Sembilan juga dihormati oleh Umat Hindu dalam hubungannya dengan Dewata Nawa Sanga yaitu Sembilan dewa yang menguasai sembilan penjuru mata angin yaitu Dewa Iswara (timur), Dewa Mahesora (tenggara), Dewa Brahma (selatan), Dewa Rudra (barat daya), Dewa Mahadewa (barat),Dewa Sangkara (barat laut), Dewa Wisnu (utara), Dewa Sambu( timur laut), Dewa Siwa (ditengah).

Disamping itu angka sembilan juga dihubungkan dengan jumlah lubang yang dimiliki oleh tubuh manusia yaitu 7 di kepala dan 2 ditubuh bagian bawah, sedangkan puser (pungsed tidak merupakan lubang). Karena itulah kita mengenal nama dwara (9 lubang ditubuh kita). Kemudian jika dihubungkan sasih kesanga itu dengan letak matahari dan keadaan musim di Indonesia, merupakan paduan pengertian dan perhitungan yang sangat komplek. Mengapa demikian?, karena kesanga menurut perhitungan Bali akan jatuh pada bulan Maret perhitungan Masehi, dimana pada bulan ini kita khususnya di Indonesia akan melihat matahari tepat di tengah-tengah khatulistiwa untuk selanjutnya menuju atau bergerak ke lintang Utara. Umat Hindu mempercayai bahwa arah Utara itu adalah hulu (suci). Oleh sebab itu, pada saat-saat matahari ada dilintang Utara banyak dijumpai piodalan-piodalan. Didalam cerita Bhismaparwa dimana Bhagawan Bhisma setelah roboh di medan perang oleh Srikandi belum juga mau menghembuskan nafasnya yang terakhir karena menunggu sampai matahari berada di lintang Utara ( Utarayana ). Disamping arah Utara, arah Timur juga merupakan arah yang suci, sebab itulah paduan arah Utara dan Timur disebut Airsanya (timur laut) merupakan arah tersuci sehingga bangunan Padmasana ( sthana Ida Sang Hyang Widhi yang Maha Esa) mengambil letak arah Timur laut (Airsanya ).

Perhitungan umat Hindu khususnya di Bali begitu kompleknya dan mencakup bermacam-macam aspek, baik aspek angka, jumlah, arah, dewa dan juga musim. Sebagaimana kita ketahui bahwa di Bali khususnya dikenal dua (2) musim yang menonjol yaitu musim panas dan musim hujan. Dengan bergesernya matahari ke ambang utara, maka musim semi dan musim panas akan menyongsong, dimana musim hujan dan angin ribut telah berlalu. Dari duabelas (12) bulan yang di miliki uamat Hindu di Bali, membagikan atas dua bagian yaitu bulan kedasa sampai bulan kelima untuk Dewa, sedangkan mulai dari keenem sampai kesanga adalah bulan-bulan untuk bhuta, dimana bulan kedasa sampai bulan kelima matahari ada diambang utara, sedangkan dari bulan keenem sampai kesanga matahari berada dibagian selatan katulistiwa.

Udara dialam ini makin lama semakin kotor, akibat ulah manusia dan makhluk-makhluk lainnya yang hidup didunia ini sehingga dunia ini menjadi kotor oleh racun-racun manusia dan makhluk lainnya. Maka dengan dimulainya pergantian tahun caka yang dimulai dari bulan kedasa seolah-olah kita menginjak alam baru dengan atmosfir yang bersih, tetapi bulan demi bulan udara alam semesta ini makin lama makin banyak dikotori,sehingga perlu diadakan pembersihan-pembersihan lagi berupa korban-korban ( Caru ) dimana arti caru itu adalah membersihkan atau mengharmoniskan. Dari bulan kedasa sampai kelima alam kita masih bersih, tetapi mulai dari keenem alam kita sudah dapat digolongkan kotor,dan makin lama semakin kotor sampai akhir kesanga yang merupakan puncak dari kekotoran ini. Sebab itulah mulai dari bulan keenem kita sudah mulai waspada karena mulai sejak bulan ini tantangan dan godaan-godaan akan semakin bertambah besar. Pertama-tama akan ditandai dengan masa panca roba dari musim panas kemudian hujan, matahari mengambang keselatan mulailah adanya upacara-upacara nangluk merana untuk keselamatan tumbuh-tumbuhan supaya jangan tertimpa bahaya dan bencana.

Kemudian kita meningkat pada sasih kepitu dengan peteng pitunya, dimana gelap pada sasih tilem kepitu itu adalah merupakan bulan gelap. Kita harus menguatkan iman akan datangnya bencana dan godaan-godaan yang sangat hebat. Pada tilem kepitu umat dianjurkan supaya beryoga semadi, waspada dan waskita dan kita kenal dengan upacara Ciwa Ratri. Sasih kaulu kita sudah dihantam oleh hujan deras, angin rebut, halilintar dan sebagainya. Ini sebagai pertanda listrik-listrik berloncatkan merupakan halilintar, orang sakit semakin banyak, dan akhirnya puncak dari segalanya itu jatuh pada bulan kesanga dimana ''belabur kesanga'' merupakan bahaya dan bencana bagi kita. Jadi mulai bulan keenem dengan nangluk merana, kita sudah mulai waspada terhadap akibat dari kotornya udara dengan mengadakan upacara-upacara Caru ( korban ), sasih kepitu itu mohon kehadapan Bhatara Siwa ( Ida Sang Hyang Widhi ) dengan bersemadi semoga dianugrahi keselamatan dengan akan datangnya sasih kaulu dan kesanga yang merupakan bencana yang lebih besar terhadap manusia,tumbuh-tumbuhan dan ternak-ternak yang kita miliki. Pengaruh udara kotor ini menjelang kesanga akan ditandai dengan pertikaian-pertikaian, penyakit-penyakit dan hawa nafsu jasmaniah berkobar-kobar, orang cepat naik darah pada bulan-bulan ini, bahkan anjingpun yang masa birahinya berkala itu pada bulan-bulan ini meraung-raung mengerikan bulu roma sebagai tanda rindu kepada kekasihnya. Pada bulan tilem kesanga inilah diadakan upacara tawur atau Caru serentak diseluruh pelosok pulau Bali, untuk menetralisir kekuatan alam,hingga menjadi tenang kembali.

Besoknya harinya setelah pengerupukan atau mecaru, maka datanglah saatnya hari raya Nyepi dimana secara lahiriah, orang tidak boleh memuaskan hawa nafsu. Biasanya hawa nafsu itu timbul karena panas (makanan yang agak panas lebih enak dari yang dingin ). Karena itu lahiriahnya tidak dibenarkan berapi-api atau mempergunakan api pada saat itu.

Sesuai lontar Sundarigama pada waktu Nyepi orang harus :
Amati geni ( tidak boleh berapi-api)
Amati karya (tidak boleh bekerja )
Amati lelungan ( tidak boleh bepergian )
Amati lelanguan ( tidak boleh memuaskan hawa nafsu )

Secara rokhaniahnya Nyepi atau Sipeng ini adalah bersemadi atau mengheningkan pikiran dan perasaan menghentikan segala aktifitas (mengosongkan segala kenangan baik dan buruk), mengevaluasi diri sendiri seberapa jauh perbuatan baik yang bisa kita lanjutkan, dan seberapa besar kesalahan (perbuatan jelek ) yang perlu diperbaiki dan dibenahi di Tahun baru yang akan datang. Karena pada hari esoknya ngembak geni(api) kita sudah dapat mengisi dengan aktifitas baru dan prilaku baru pada permulaan tahun baru. Sebab tanpa mulai dari kosong kita tidak akan dapat membuat perhitungan dan perencanaan serta program yang baru. Jadi hakekat Nyepi ini adalah kita memulai segala sesuatu dengan nol seolah-olah kita memulai hidup baru pada permulaan tahun baru. [Made Saniarta].

 
< Prev   Next >
"));