Logo PHDI Pusat
Pengantar Weda Print E-mail
Article Index
Pengantar Weda
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8
Page 9
Page 10
Page 11
Page 12
Page 13
Page 14
Page 15
 

II.  APAKAH WEDA ITU

Pengertian

Menurut arti kata Weda berarti pengetahuan. Tetapi bila ditulis dengan huruf ã (panjang) berarti kata-kata yang diucapkan dengan aturan-aturan tertentu. Jadi Weda adalah kata-kata yang diucapkan, dinyanyikan atau dilagukan. Dan pengertian ini akhirnya di pergunakan istilah ,,Mantra”.

Manu didalam ajarannya sebagaimana yang ditulis oleh Bhagawan Bhrgu memberi keterangan tentang arti kata Weda secara limitatip, disebut dalam Bab II, 10.

Çrutis tu Wedo wijneyo dharma çastram tu wai smrtih,
te sarwartheswam immamsye tãbbyãm dharmo hi nirbabhau.
(M. II. 10).

Artinya :
Sesungguhnya Sruti (wahyu) adalah Weda demikian pula yang dimaksud Smrti, adalah dharmaçastra. kedua ini tidak boleh diragukan dalam hal apapun juga karena keduanva adalah kitab suci yang menjadi sumber dari pada Dharma (agama Hindu).

Dari ungkapan ini maka yang dimaksud dengan Weda adalah Sruti dan merupakan kitab suci yang tidak boleh diragukan kebenarannya. Demikian pula sumber hukum suci. Jadi Weda adalah kitab suci. Lebih jauh Dr. M. Winternitz menegaskan bahwa kitab suci Weda, tidak terdiri dari satu buku saja melainkan terdiri dari banyak buku 2). Hal ini dibenarkan pula baik oleh tradisi maupun kenyataan sebagai yang diperoleh dari hasil riset.

Banyak kitab-kitab dalam Weda, Tiap-tiap Weda merupakan satu kesatuan materi yang dihimpun secara sistematik menurut umur, isi dan kegunaannya. Istilah ,,samhita” yang dipergunakan untuk menyebutkan kelompok Weda itu karena kenyataannya. Weda terdiri dari banyak buku, yang penggolongannya akan diuraikan didalam penjelasan-penjelasan berikut nanti.

Bahasa dalam Weda

Sebelum Weda mulai diselidiki, Bhagawan Panini mulai menyusun tata bahasa Sanskerta, pada th. 700 SM. dan menamakan bahasa yang dipakai didalam Weda dengan nama ,,Daiwi Wak” (Bahasa Dewata). Baru dalam tahun 200 S.M. bahasa itu mulai dikenal dengan nama Sanskerta. setelah Patanjali menulis kitab Bhasa, pada abad II S.M. Nama Sanskerta yang. untuk pertama kali diperkenalkan oleh Bhagawan Patanjali adalah untuk menyebutkan nama bahasa yang dipakai oleh masyarakat umum dalam pergaulan di Bharatawarsa.

Kemudian bahasa itupun dibedakan pula dari bahasa Pali, bahasa yang dipakai oleh orang-orang Magadhi didalam penyebaran agama Buddha. Setelah Bhagawan Panini berhasil menyusun tata bahasa Sanskerta, jejak beliau diikuti pula oleh Bhagawan Kãtyayana yang lebih populer dikenal dengan Bhagawan Wararuçi pada abad V S.M. Beliau menulis keterangan-keterangan tambahan atas karya Panini disamping sebagai penulis Sarasamuccaya, yang karyanya telah diterjemahkan di Indonesia kedalam bahasa Jawa Kuno pada waktu jaman keemasan Hindu di Jawa dan telah pula dialih bahasakan kedalam bahasa Indonesia tahun 1970.

Sejarah pertumbuhan bahasa Sanskerta setelah lahirnya kitab Tata bahasa Panini itu kemudian membantu mempercepat proses pertumbuhannya sehingga dalam pertumbuhan abad VIII. Sanskerta menjadi bahasa percakapan sehari-hari. Kesusasteraan agama lahir yang kesemuanya memperindah gaya bahasa dan membantu penyebaran ajaran agama bahkan sampai ke Indonesia.

Kitab-kitab agama di Indonesia semuanya dalam bahasa Sanskerta. Tetapi karena di Indonesia sudah terdapat bahasa tersendiri, karena itu untuk menjelaskan pokok-pokok ajaran agama itu penjelasannya dilakukan kedalam bahasa kawi. Dan mantra-mantra dan kitab-kitab agama yang kini masih tersimpan dalam bentuk lontar-lontar, umumnya terdiri dari dua bahasa, yatu bahasa Sanskerta dan bahasa Kawi atau Jawa kuno. Text Sanskerta adalah naskah aslinya sedangkan bahasa kawinya adalah merupakan terjemahan atau terjemahan berikut komentarnya. Sebagai contoh, misalnya Kitab Sarasamuccaya, Sanhyang Kamahayanikan dll. Sistem penyajiannya umumnya sama. Kecuali naskah-naskah gubahan bebas yang bersifat sastra, baik sebagai nibandha sastra misalnya Kekawin Ramayana, Gathokacasraya, Bharatayuddha dll., semuanya ditulis dalam bahasa Kawi yang banyak meminjam bahasa Sanskerta itu.

Karena itu. didalam mempelajari Weda itu, pengenalan bahasa Sanskerta, bahasa Kawi dan bahasa Jawa Kuno sangat diperlukan. Hanya dengan demikian kita akan dapat mengungkap isi Weda itu nanti. Penyelidikan bahasa Sanskerta oleh bangsa-bangsa Barat telah dimulai sejak abad ke XVI. Ahli-ahli bangsa Barat yang berkecimpung dalam bahasa sanskerta a.l. Dr. Max Muller, Weber, Buhler, Sir William Jones. H.T. Colebrooke, Keilharn, Grimm, Grassmann, Jesperson. Wakernagel, C. Wilkin, A. Roger dsb.nya. Demikian pula tokoh-tokoh nasional Indonesia seperti Yogiswara, Danghyang Nirartha, Bubuksah, Panuluh, Sedah pada zaman keemasan Hindu dan dewasa ini tampil nama-nama seperti Dr. Purbacaraka (alm), Dr. Hariyati Subadio, Tjok. Rai Suddhartha dll., patut diketahui sebagai tokoh didalam bahasa Sanskerta.

1). Bhagawan Medhaditi menyatakan bahwa Weda adalah ucapan suara yang diatur menurut urutan.
2). A history of indian Literature vol. 1, part I. pg. 4.5. oleh Winternitz, Dr. M. Edisi University of Calcutta, 1959.

Cara Weda Diwahyukan

Tidak ada satu uraian tepat bagaimana wahyu itu diturunkan kecuali melalui penafsiran atau keterangan tak langsung dari berbagai ulasan yang dapat kita himpun dari berbagai buku. Perlunya mengetahui bagaimana Weda itu diwahyukan karena dijelaskan pada mulanya haliwa Weda adalah Wahyu Tuhan yang diyakini oleh umat Hindu dan kebenaran akan Wahyu itu tidak boleh dibantah lagi. Karena Weda itu adalah Wahyu, maka adalah wajar pula kalau kita bertanya dan mencari jawahan atau penjelasan yang dapat mengungkapkan bagaimana wahyu itu diturunkan.

Salah satu cara penjelasan yang dapat dikaji dalam memberi ulasan tentang turunnya wahyu melalui tafsiran dan keteranganketerangan yang dapat diperoleh dan Weda itu pula. Yang penting yang harus diyakini dan diimani dalam tahap pertama ialah adanya peranan mediator antara Tuhan dengan penerimanya, yaitu para Maha Resi, dimanan dewa Brahma sebagai dewa SABDA dinyatakan menyampaikan kata-kata itu kepada penerimanya. Ada berbagai cara atau proses yang dapat kita jumpai tentang bagaimana Wahyu itu sampai kepada Maha Resi (Nabi).

  • Uraian yang pertama menjelaskan bahwa wahyu itu dimasukkan langsung kedalam pikiran orang itu atau memasukkannya dalam-dalam ke dalam hatinya. Kata-kata itu memberi kesan dan membentuk rupa atau keadaan yang kemudian menemukan bentuknya berkembang dalam pikiran.
  • Dapat pula wahyu itu membentuk kesannya dengan melalui contoh atau perintah langsung yang dilakukan oleh Dewa-Dewa yang dinyatakan Dewa-dewa itu memperlihatkan dirinya dalam berbagai bentuk manusia biasa sebagaimana dapat kita tafsirkan dalam uraian Kitab-kitab Purana.

Ajaran yang diberikan oleh Dewa-dewa itulah yang akhirnya dihukukan sebagai ajaran sabda Tuhan karena sabda itu seridiri adatab sabda Dewata (Daiwi Wak).

  • Disamping itu wahyu dikatakan diturunkan seperti suara gemanya lonceng. Gema atau AUM itulah yang membentuk rupa yang dalam aksara dikenal sebagai OMKARA atau disebut SWARA NADA. Suara nada inilah yang merupakan gemerencingnya suara yang melahirkan kata-kata yang memberi petunjuk mengenai arti dan makna suara-suara itu sendiri. Cara ini yang paling sulit dalam ilmu dan karena itu bagaian ini pula yang dinyatakan hagian yang paling rahasia.
  • Dewa-dewa yang memperlihatkan dirinya dalam berhagai bentuknya yang mulia. Kejadian ini agak berbeda dari proses yang disebut dalam uraian no. 2 diatas karena dalam uraian no. 2 diatas, dewa-dewa dalam manifestasinya berbentuk manusia biasa. Penggambaran dalam turunnya wahyu seperti dalam kejadian ini, hanya dilukiskan sebagaimana manusia secara impiris secara langsung berhadapan dengan Dewa yang akan menyampaikan pewarah-warahnya kepada si penerimanya. Contoh cara pelukisan begaimana Arjuna menerima ajaran dari Dewa yang dikatakan pula dalam Weda bahwa Siwa tidak lain dari pada dewa Brahma pula.

“SAPTA RSI PENERIMA WAHYU”

Sapta resi adalah tujuh Rsi. Sapta artinya tujuh dan resi artinva Pendeta.
Sapta resi ini termasuk golongan Wipra yang dianggap sebagai Nabi pènerima Wahyu yang pertama didalam Weda (Rg. Weda). Istilah resi tidak sama artinya dengan Pendeta, walaupun kadang-kadang diartikan demikian seperti terdapat dibeberapa daerah.

Seorang resi mempunyai sifat-sifat tertentu dan jabatan tertentu. Ia adalah pendeta dan juga adalah sasterawan. Ia adalah Nabi. Jadi sukarlah untuk mengatakan kedudukan Resi yang sebenarnya, sedangkan dewasa ini Rsi adalah pendeta. Oleh karena itu untuk membedakan arti kata Resi sekarang dengan Resi jaman dahulu biasanya digunakan istilah Maha Resi, yang artinya Resi yang agung dan utama melebihi Resi-resi yang lainnya.

Dalam hubungan ini Ia adalah Nabi dan ialah yang menerima Wahyu. Tujuh Resi ini merupakan Resi-resi yang paling banyak disebutkan namanya. baik sebagai Nabi maupun Sasterawan. Ketujuh itu merupakan kelompok-kelompok keluarga. Daripadanyalah semua sloka-sloka yang terdapat di dalam weda ini dianggap sebagai sumbernya sebab dialah yang menerima pertama kali melalui Dewa Brahma sebagai Malaikat yang menyampaikan sloka itu.

Adapun ketujuh keluarga Maha Resi itu adalah:

  • Grtsamada
  • Wiswamitra
  • Wamadewa
  • Atri
  • Bharadwaja
  • Wasistha
  • Kanwa

Untuk mengetahui kedudukan serta peranan dan ketujuh Maha Resi itu dalam rangkaian turunnya Wahyu itu, berikut ini akan kami uraikan masing-masing dan mereka sebagai berikut

GRTSAMADA

Maha Resi Grtsamada adalah maha Resi yang dihubungkan turunnya sloka-sloka Weda, Rg. Weda, terutama mandala II. Hanya sayangnya sejarah kehidupan Maha Resi Grtsamada tidak banyak diketahui. Dari beberapa cukilan kita ketahui bahwa beliau adalah keturunan dari Sunahotra dari keluarga Angira. Anehnya didalam catatan lainnya kita jumpai bahwa Grtsamada lahir dari keluarga Bhrgu sehingga dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa nama Grtsamada sejarahnya tidak dapat diketahui dengan pasti. Beliau dikatakan putra Senaka, salah seorang Maha Resi terkenal pula pada zaman itu. Bahkan didalam kitab Mahabharata terdapat cerita yang menyebutkan bagaimana Maha Resi Senaka merupakan Maha Resi terhormat dalam sejarah Hindu. Grtsamada adalah keturunan dari Senaka yang terkenal ini.

Adapun Sunahotra dikatakan juga kelompok keluarga Bharadwaja keluarga mana juga terkenal sebagai Maha Resi penerima Wahyu.

Dari uraian ini ada tanda-tanda yang membuktikan bahwa Grtsamada adalah anggota keluarga yang sama dengan Maha Resi Bharadwaja yang kemudian banyak dihubungkan dengan nama-nama Bhagawan Bhrgu. Keluarga Bhrgu ini adalah keluarga yang namanya banyak disebut-sebut. Dari Grtsamada lahir putra bernama Kurma. Lebih dari pada itu tentang cerita keluarga ini tidak banyak diketahui kecuali dikatakan bahwa ada pula terdapat sloka-sloka yang diturunkan melalui Putra-putra beliau.

WISWAMITRA

Wiswamitra adalah Maha Resi yang kedua yang banyak disebut-sebut. Dan catatan yang ada diduga beliau menerima Wahyu yang kemudian dihimpun dalam Weda. Seluruh mandala III diduga berasal dari keluarga Maha Resi Wiswamitra.

Kitab mandala III ini terdiri atas yang terdiri atas beberapa pasal. Ada pula yang mengatakan bahwa diantara pasal-pasal itu diturunkan melalui Kusika putra dan Maha Rsi Isiratha. Cerita lain mengemukakan bahwa Wiswamitra adalah putra Musika. Karena itu dapat diduga bahwa sloka-sloka Weda mandala II ini ada yang diturunkan sebelum Wiswamitra yang kemudian oleh Wiswamitra menggabungkannya dengan sloka-sloka yang diterima olehnya dalam satu mandala.

Hubungan antara ketiga nama ini menunjukkan bahwa antara Isiratha dan Wiswamitra adalah satu keluarga.

Ada pembuktian lain yang menunjukkan adanya sloka-sloka yang telah diturunkan melalui Prajapati sedangkan Prajapati dikatakan putra dan Wiswamitra. Sayangnya seluruh sloka-sloka keluarga Wiswamitra tidak banyak diketahui. Kalau kita perhatikan dua sukta terakhir ada petunjuk yang menunjukkan bahwa mantra-mantra itu diturunkan melalui Maha Resi Yamadagni, sedangkan hubungan antara Maha Resi Yamadagni dengan maha Resi Wiswamitra tidak banyak diketahui, sehingga sulit untuk memastikannya. Hal lain yang perlu diketahui tentang Wiswamitra ialah sehubungan dengan kedudukan Wiswamitra bukan sebagai Brahmana, tetapi sebagài Kesatria atau golongan penguaasa yang kemudian terkenal sebagai Maha Resi. Dalam sejarah agama Hindu nama Wiswamitra banyak disebut-sebut.

WAMADEWA

Wamadewa dihubungkan dengan sloka-sloka dalam Mandala IV didalam sloka-sloka Rg. Weda itu. Hanya sayang riwayat hidup Wamadewa banyak diketahui. Hampir semua mantra-mantra yang terdapat dimandala IV dikatakan diterin oleh Wamadewa. Hanya dinyatakan salah satu dari pada mantra yang terpenting yaitu Gayatri tidak terdapat didalam mandala IV tetapi diletakkan di Mandala III.

Didalam cerita dikatakan bahwa Malia Resi Wamadewa telah mencapai penerangan sempurna sejak masih berada dalam kandungan ibunya. Diceriterakan bahwa semasih dalam kandungan Wamadewa berdialog dengan malaekat Indra dan Aditi. Rupanya ceritera tentang dialog ini dihubungkan dengan kedudukan Wamadewa yang telah dianggap mencapai kesucian, sehingga Wamadewa dilahirkan tidak melalui saluran biasa. Hanya itulah ceritera yang kita peroleh tentang Wamadewa sebagai Maha Resi.

ATRI

Maha Resi Atri banyak dirangkaikan dengan turunnya sloka-sloka yang dihimpun dalam Mandala V. Tetapi sebagai Maha Resi, Atri tidak banyak dikenal. Ada banyak dugaan yang membuktikan bahwa nama Atri dan keluarganya banyak dirangkaikan dengan turunnya wahyu-wahyu. Nama Atri juga dihubungkan dengan keluarga Angira.

Nama-nama yang banyak disebutkan didalam Mandala ini adalah, Dharuna, Prabhuwasu, Samwarana, Ghaurawiti. Putra Sakti dan Samwarana, putra Prájapati. Didalam mandala ini terdapat 87 Sukta. Däri 87 ini 14 sukta diturunkan melalui Atri sedangkan Lainnya diturunkan melalui keluara Atri Dalam catatan yang ada, anggota keluarga Atri yang dianggap sebagai penerima Wahyu.

BHARADWAJA

Mandala VI tergolong himpunan sloka-sloka yang diturunkan melalui Maha Resi Bharadawja. Buku ini memuat 75 sukta.

Menurut otensitasnya tampaknya lebih tua dari buku yang ke V, tetapi dalam urutan ditetapkan sesudah buku ke V.

Hampir seluruh isi mandala VI ini dikatakan kumpulan dari Bharadwaja, hanya sedikit saja yang diduga turun dari keluarganya, antara lain disebut nama Sahotra dan Sarahotra.

Nama-nama lainnya seperti Nara, Gargarjiswa, yang merupakan keluarga dari Bharadwaja termasuk pula sebagai penerima wahyu.

Diceriterakan Bharadwaja adalah putra Brhaspati. Akan tetapi kebenaran tentang cerita ini belum dapat dipastikan, karena disamping nama Bharadwaja terdapat pula nama Samyu yang dianggap sebagai putra Brhaspati, sedangkan hubungan antara Samyu dan Bharadwaja tidak diketahui.

WASISTA

Seluruh buku ke VII dianggap merupakan himpunan yang diturunkan melalui Maha Resi Wasista, atau keluarganya. Putra Maha Resi Wasista bernama Sakti. Dari catatan yang ada seperempat dari mandala VII diturunkan melalui putranya. Tentang keluarga Wasista tidak banyak kita kenal. Didalam Mahabharata nama Wasista sama terkenalnya dengan Wiswamitra. Didalam ceritera itu Maha Resi Wasista bertempat tinggal di hutan, “KAMYAKA” ditepi sungai Saraswati.

KANWA

Maha Resi Kanwa merupakan Maha Resi yang ke 7 yang banyak disebut-sebut namanya. Maha Resi ini dianggap penerima wahyu yang dihimpun kemudian yang merupakan buku yang ke VIII yang isinya macam-macam.

Buku ke VIII ini sebagian besar memuat sloka-sloka yang diturunkan melalui keluarga Kanwa sedangkan Maha Resi Kanwa sendiri menerima sebagian kecil saja. Maha Resi Kanwa inilah yang ceriteranya hanyak disebut-sebut didalam kisah cintanya Sakuntala, sebagaimana diceriterakan sastrawan Kalidasa. Disamping nama Kanwa terdapat pula Bhagawan Kasyapa putra Maha Resi Marici. Maha Resi Kanwa sendiri berputra Praskanwa. Disamping sloka-sloka yang seolah-olah tiap-tiap mandala itu merupakan kelompok sendiri, yang sulit ditentukan adalah mandala-mandalanya. Disamping itu masih ada banyak nama-nama yang dihubungkan dengan Mandala VIII ini seperti Gosukti, Aswasukti, Pustigu, Bhrgu, Manu Waiwasa Nipatithi dsbnya.

Nama-nama Maha Rsi lainnya
Mandala satu merupakan kelompok mini yang memuat sloka-sloka yang turun dari berbagai famili. Boleh dikatakan didalam mandala satu ini banyak nama-nama keluarga. Mandala ini yang tidak tergolong keluarga. Maha Resi itu. Ini tidak berarti bahwa sloka-sloka itu tidak dikesampingkan, karena bagaimanapun juga sloka-sloka ini adalah Wahyu yang harus dihimpun dan dipelihara. Maha Resi Sunahsepa adalah putra angkat dari Maha Resi Wiswamitra.

Disamping nama-nama itu terdapat pula nama-nama golongan putra Rahugana dan Nodha dari Gotama. Nama Maha Resi lainnya Kaksiwan putra dari Dhirgatama, sedangkan disamping Dhirgatama terkenal pula nama Maha Resi Agastya, yang namanya tersebut didalam Mandala I.

Keluarga Maha Resi inilah yang banyak disebut-sebut namanya di Indonesia. Adapun mandala 9 dan 10 terkenal karena didalam mandala inilah dasar-dasar kefilsafatan kerohanian yang banyak diungkapkan terutama bagian mengenai Purusa Sukta, Hiranyagarbha, yang diceriterakan sebagai sloka yang diturunkan melalui Bhagawan Narayana, Prajapati dan Hiranyagarbha, putra Prajapati.

Menurut kitab-kitab Purana, kelompok para Maha Resi itu banyak. Tiap-tiap masa Manu ada Sapta Resinya sehingga jumlahnyapun banyak pula. Di samping pembagian kelompok Maha Resi menurut Masa Manu (Manwantara) merekapun dikelompok-kelompokkan lebih jauh ke dalam beberapa kelompok ahli dengan gelar mereka masing-masing, menurut Puranic Encyclopedia, 1975, yaitu :

  • Kelompok Brahma resi (Brahmarsi)
  • Kelompok Dewa Resi (Dewarsi)
  • Kelompok Raja Resi (Rajarsi)

Penelitian lebih jauh nama-nama kelompok yang dapat kit abaca dari berbagai Purana disebutkan nama-nama kelompok sebagai berikut :

  • Kelompok Brahma Resi
  • Kelompok Satya Resi
  • Kelompok Dewa Resi
  • Kelompok Sruta Resi
  • Kelompok Raja Resi

Dari istilah-istilah itu dapat dipahami bahwa sesungguhnya nama-nama itu bersifat relatif fungsional dan dihubungkan dengan sifat-sifat khas dari para Rsi, baik sebagai kedudukan, keahlian atau tugas-tugas yang dijalankan.

Seorang Brahma Resi, menurut penjelasan di dalam kitab Brahmanda Purana pada hakekatnya bertugas menyumbangkan, mempelajari dan mengajarkan Weda. Jadi fungsinya sebagai kedudukan seorang pendeta dengan gelar keresiannya yang fungsinya lebih bersifat memahami, mengembangkan tafsir dan menulis apa yang ia fahami atau mengerti dari wahyu (revelasi) yang diterima. Satya Resi adalah gelar yang diberikan sebagai Resi yang memiliki asal-usul langsung dari Yang Maha Esa pada permulaan Ciptaan. Beliau ini yang semula disebut sebagai bhatara, yang pada hakekatnya adalah merupakan Maha Resi pula.

Pada Empat Maha Resi yang disebut-sebut pertama dicipta oleh Brahma menurut Brahmanda Purana, yaitu :

  • Sonaka;
  • Sananda;
  • Sanatana;
  • Sanatkumara.

Adapun kelompok Dewa Resi, dikenal pula sebagai kelompok-kelompok Prajapati yang diperinci di dalam Brahmanda Purana terdiri atas sembilan Prajapati, yaitu :

  • Marici;
  • Bhrgu;
  • Angira;
  • Pulastya;
  • Pulaha;
  • Kratu;
  • Daksa;
  • Atri; dan
  • Wasistha.

Dari mereka inilah kemudian timbul kelompok-kelompok Resi lainnya yang mempunyai hubungan geneologi.



 
< Prev   Next >
"));