Logo PHDI Pusat
YANG DIKALAHKAN: RAHWANA [4] Print E-mail
RAHWANA harus kalah. Itulah kemenangannya!
Rahwana harus mati. Karena itulah, ia hidup terus. Hak Rahwana atas pemulihan nama baik harus ditiadakan, karena itulah ia menjadi figur menarik. Rahwana bukan tokoh dengan karakter yang sudah jadi. Ia gelisah. Kalah dan menang, sama sekali bukan ukuran.
Kekalahan Rahwana pertama-tama adalah kehendak pengarang. Tapi pengarang tidaklah sendirian dalam memutuskan kekalahan Rahwana. Karena di belakang otak pengarang ada sindikat yang terdiri dari tradisi, ajaran, moral, mazhab, audiens, norma, etika, aturan, lembaga, dan bahkan dewa-dewa. Semua itu bekerja dengan caranya masing-masing, sangat halus, dan lama kelamanaan menjadi pandangan dunia pengarang. Semua itulah yang menghendaki seorang Rahwana harus kalah. Harus dimatikan. Dan sebelum dimatikan, ia masih harus dihajar. Bukan hanya fisiknnya, juga propertinya, kerajaannya, dan benda-benda termasuk orang-orang kesayangannya. Selesai?
Teryata tidak. Sebuah perang di mana dan kapan pun tidak pernah menyelesaikan permasalahan. Perang adalah bentuk penyikapan permasalahan dengan membuat masalah-masalah baru. Sehingga permasalahan itu akan berpindah dari tempatnya semula ke tempatnya yang baru. Bharatayuddha tidak menyelesaikan masalah, tapi memang menyelesaikan [baca: menghabisi] musuh, tapi bukan permusuhan. Dengan cara terbalik, kita seakan diberitahu, bahwa Rahwana dikalahkan karena ada yang lain harus dimenangkan.
Apakah yang harus dimenangkan itu? Jawaban sederhananya adalah moral. Moralnya siapa? Moral jaman yang masuk ke dalam tradisi menjadi moral cerita. Kenapa harus ada kalah dan menang? Tidak harus! Tapi bukankah memang begitu keinginan sebagian besar dari kita? Sama dengan pertanyaan, kenapa harus ada upacara-ritual? Jawabannya pun: tidak harus! Tapi, bukankah memang itu isi kepala kebanyakan dari kita?
Kenapa seorang pengarang harus mengikuti moral tradisi? Jawabannya pun: tidak harus. Tapi boleh. Bagi pengarang setiap pilihan akan membawa mereka pada satu atau beberapa konskwensi. Tidak bisa dibayangkan bagaimana jadinya cerita Ramayana bila kemenangan tidak di pihak Rama, tapi di pihak Rahwana. Juga tidak bisa dibayangkan bagaimana jadinya cerita Ramayana bila pengarang tidak membuat pilihan kalah menang, tapi mengakhiri cerita dengan ending terbuka, yaitu terserah pembaca.
Berbeda pilihan di masa lalu, tentu berbeda keadaannya yang diakibatkannya hari ini. Dalam kasus Ramayana kita telah dibuatkan pilihan di masa lalu. Bahwa Rama itu benar. Rahwana itu salah.
Benar dan salah, baik dan buruk, adalah ajaran. Sanggup tidaknya sebuah ajaran menembus jaman dan ruang yang luas, tergantung kedalaman kebenaran yang disampaikannya. Di dalam kebenaran itulah, konon, ada keindahan. Karena banyak karya yang indah kelihatannya, akhirnya hilang ditelan waktu, karena membawa kebenaran yang dangkal. Begitu, teoritis.
Bagi pengarang yang tidak mengikuti moral tradisi, tentu ia akan menghadapi dirinya sendiri sebelum akhirnya ia menghadapi orang-orang dan lembaga. Keyakinan pribadi tidak cukup bila tidak dibarengi keberanian. Tapi apakah keberanian itu?
Tidak mudah mengatakannya. Banyak yang terperosok oleh apa yang pada mulanya dikira keberanian, ternyata akhirnya diketahui sebagai kebodohan. Sungguh lama seseorang harus mempelajari apa itu keberanian. Pelajaran pertama adalah berani dianggap pengecut, berani dianggap bodoh, berani tidak menjadi apa-apa, berani terbuang dan tersisih dari pergaulan beradab dan berani menderita.
Rahwana sudah kalah. Ya, itu benar, jika yang dimaksud adalah Rahwana dalam Ramayana. Di sekitar kita sekarang banyak bermunculan Rahwana, yang jumlahnya berimbang dengan Rama yang juga sedang bermunculan. Yang paling ditakuti dari Rahwana adalah kemampuannya berubah wujud. Dalam kasus Shita di atas, jurus Rahwana yang paling mematikan adalah ketika ia menyamar menjadi pandita. Seorang pandita-raksasa jauh lebih mematikan daripada raksasa itu sendiri.
Rama kuturunan Dewa. Rahwana keturunan Raksasa. Rama dan Rahwana keduanya berbadankan manusia. Konflik abadi sifat-sifat Dewa dengan watak Raksasa menjadi nyata dalam permusuhan Rama dengan Rahwana.  Ketika Rama dan pengikutnya merayakan kemenangan, bagaimanakah pengikut Rahwana mengelola dendamnya? Bukankah banyak sekali kekalahan dalam cerita sesungguhnya kemenangan dalam realita? Bukankah kekalahan dalam realita sering tiba-tiba menjadi kemenangan dalam cerita? Menghadapi pesan-pesan moral cerita, pembaca harus berpikir terbalik. Karena dengan cerita sesuatu diungkapkan, dengan cerita pula sesuatu yang lainnya ditutupi.
Rahwana memiliki banyak keunggulan. Pengarang menggambarkan kelebihannya dengan cara absurd: sepuluh kepala. Masing-masing menghadap ke sepuluh penjuru. Tidak ada ruang yang tidak diamatinya. Masing-masing kepala berisi otak. Semuanya ada sepuluh otak. Bayangkan, manusia sepintar Einstein saja memiliki hanya satu otak. Bagaimana dengan Rahwana yang berotak sepuluh?
Rahwana adalah sosok pintar, yang tahu dirinya memiliki kepintaran. Ia tidak saja bisa berubah menjadi pandita, ia juga bisa berubah menjadi kelembutan, keindahan, ketinggian moral, pengabdian, kebijaksanaan. Ia sosok berbahaya. Ia bisa membangun kemegahan sebuah kebudayaan. Tapi ia sendiri, hanya dengan dirinya sendiri, bisa menghancurkan ciptaannya.
Sosok pintar ini sangat berbahaya, karena ia tidak takut mati. Tidak tahu apa itu perasaan malu. Dan tidak mengerti apa itu perasaan bersalah. Tak pernah merasakan apa yang orang katakan sakit  nyele hati
Sekarang Rahwana punya hak yang sama dengan Rama untuk hidup dan untuk mati. Dharma yang ada di tangan Rama, sudah dari dulu terbukti akan berhasil mengantarkan Rama memasuki sorga, tapi tidak cukup untuk menuntaskan dendam sejarah antara dua kelompok yang rebutan cewek ini. Sama seperti tokoh Dharmawangsa yang berhasil masuk surga bersama seekor anjing kesayangannya, tapi gagal membebaskan dunia dari permusuhan. Jika Dharma tidak, perang juga tidak, lantas apa yang akan membebaskan kita dari permusuhan ini? Cinta? Bukankah permusuhan Rahwana Vs. Rama bermula dari cinta? *

 
< Prev   Next >
"));