PADA akhirnya, pengetahuan tentang Tuhan sekali pun akan dikendalikan oleh Pasar. Pada akhirnya, lingkaran paling sakral pun akan dimasuki oleh pasar. Pada akhirnya, pemujaan paling pribadi pun dimasuki pasar. Kini spiritualitas masuk biasa diiklankan. Iklan memasuki dunia spiritualitas juga sudah biasa. Kemajuan seperti ini sudah diduga dari dulu. Karena kita sendirilah yang menginginkannya, walau sering kali berusaha mengingkarinya. Kita sebut ini dampak! “Dcr pemangku Dukuh Sakti utk Dialog Kawitan, 081xxx- 747xxx” [Balipost, 13 April 2007, h.16.]. Itu baru satu contoh, bahwa iklan itu ada karena ada permintaan, ada kebutuhan dari publik. Sepintas lalu masalah kawitan tidak berhubungan langsung dengan soal spiritualitas. Kawitan adalah sejarah, keleluhuran. Tapi karena sistem di Bali menempatkan keleluhuran sebagai jenjang dasar “sekolah niskala”, maka mau tidak mau urusan kawitan masuk dalam pembicaraan spiritualitas. Contoh iklan seperti itu sudah banyak bermunculan, pertanda pasar spiritualitas ada karena adanya permintaan publik. Kalau ini disebut perubahan, maka sejatinya publik itulah yang ingin berubah. Tidak ada yang salah dengan itu. Keinginan publik untuk berubah adalah sah. Para elite telah menunjukkan jalannya. Ada contoh iklan obat Hipertensi yang menggunakan pendeta Hindu sebagai model. Begini bunyi iklan itu: Pendeta agama Hindu berusia 73 tahun ini semasa mudanya dulu bekerja sebagai wiraswastawan. Sebagai salah seorang pengusaha sukses tentu saja beliau pernah berkecimpung di berbagai oraganisasi pengusaha. Tersebutkan Kadin, Akpindo, Hippi, dan sebagainya nama-nama organiasi yang pernah beliau geluti. Selain itu sejak awal Orde Baru beliau aktif di organisasi politik sehingga beliau sering bulak balik ke Jakarta. Namun sejak beberapa tahun belakangan, beliau meninggalkan urusan dunia, dan mengabdi sepenuhnya untuk urusan agama. Tepatnya, beliau pun menjadi seorang pandita. Menurut beliau, baik sebelum maupun setelah beliau menjadi pemuka agama tidak ada penyakit spesifik dan berbahaya yang beliau idap. Hanya saja sejak beberapa tahun terakhir ini beliau sering mengeluhkan tekanan darahnya yang tidak normal. Bahkan suatu ketika tensi beliau pernah mencapai di atas 200. Akibatnya bahu dan tengkuk beliau sering terasa sakit. “Bila mengangkat tangan, lebih sakit lagi,” ujar Sri Empu yang berdomilisi di Kabupaten Jemberana, Bali Barat, ini. […teks tentang obat yang dijual…]. Sekarang bahu dan tengkuk saya tidak pernah sakit lagi. Bahkan menyetir mobil dengan jarak yang cukup jauh pun saya masih merasa sanggup, namun sebagai pandita hal itu tidak boleh lagi saya lakukan,” ujar beliau meyakinkan sembari berucap kepada pewawancara “Mudah-mudahan produk Anda ini sukses di pasaran. [cetak tebal dari penulis]. Berbeda dengan iklan pertama yang muncul dari adanya permintaan publik, iklan dengan model seorang Sri Mpu di atas muncul karena pengusaha melihat celah untuk mempromosikan produknya. Dalam masyarakat beragama seperti Bali, omongan seorang pandita akan lebih didengarkan daripada omongan dagang obat di pinggir jalan. Pengusaha yang tahu itu, memanfaatkan celah itu. Dan jadilah seperti iklan di atas, seorang pandita mendoakan mudah-mudahan produknya sukses di pasaran. Pengusaha itu memiliki kejujuran. Ia ingin berdagang. Ia pikir dagangannya laku kalau melibatkan pandita. Maka ia, atau orang suruhannya, menghubungi pendeta. Kita tidak tahu bagaimana negosiasinya dengan pandita. Kita juga tidak tahu deal-deal apa yang telah disepakati. Juga kita tak tahu apakah kesepakatan itu dinyatakan dalam sebuah kontrak bermaterai, atau ada semacam MoU. Kita tidak tahu dan juga tidak ingin tahu rahasia perusahaan orang. Yang kita tahu adalah hasil negosiasi itu. Wajah pak pandita terpampang gagah dalam iklan naratif itu. Artinya, beliau memang mau itu. Tentu beliau punya pertimbangan sendiri. Dan apa pun pertimbangan beliau, tentu beliau pikir itu baik. Pengusaha pemasang iklan itu jeli. Cerdas. Dan berani berspekulasi. Iklan itu akan berhadapan dengan masyarakat yang ternyata juga semakin cerdas, semakin berani. Dengan menggunakan pandita sebagai model, produknya bisa sukses di pasaran, tapi bisa pula bangkrut. Karena memang begitulah pelajaran ilmu alam. Sebuah panggung adalah tempat orang naik, tapi dari sana pula tempat orang turun. Pandita itu juga jeli dan cerdas. Mungkin beliau lebih cerdas dibandingkan dengan pengusaha tadi. Karena latar belakang beliau sendiri adalah wiraswatawan sukses dan politikus. Beliau tidak menolak, karena ada tradisi pantang menolak permohonan umat yang membutuhkan nasihat, advis, petunjuk, atau apa pun namanya. Pertanda beliau teguh memegang sasana. Kecerdasan itu nampak ketika banyak pandita lain sukses menaklukkan media, mengimbangi modernisasi, membentuk ormas, traveling, beliau membuktikan bahwa dirinya juga mampu menaklukkan dunia iklan. Ada hal lain yang tak kalah pentingnya dari kutipan iklan kedua di atas. Dalam iklan itu ada penanda loncatan pekerjaan yang akhirnya mengantarkan seseorang menjadi pandita [penanda itu dicetak tebal]. Seperti sebuah tangga: anak tangga wiraswasta, terus pengusaha sukses, lalu organisasi politik, dan puncaknya menjadi pandita. Di puncak tangga, apa yang dulu biasa dilakukan sekarang tidak boleh, yaitu menyetir mobil. Loncatan pekerjaan itu pun sebenarnya bukan masalah aneh. Sekarang banyak pandita datang dari berbagai latarbelakang profesi. Proses panjang menjadi pandita berhasil diperpendek dan dipermudah. Nabe mencetak pandita banyak dan kilat Karena mengikuti logika pasar, banyak permintaan tapi persediaan sedikit. Iklan jenis kedua itu sangat banyak. Tidak hanya terbatas pada pemakaian obat, juga iklan tentang tawaran paket meditasi, iklan tirtayatra, iklan tabungan yadnya. Agama benar-benar sebuah pasar terbuka. Seperti pasar malam. Meriah. Dan hidup. Dan itu sah. Dan itu kenyataan. Tidak ada lagi yang bisa menutupinya. Semua orang sudah tahu itu. Dan kebanyakan orang, mau atau pun malu, terlibat dengan pasar besar yang meriah itu. Tapi masih banyak pula orang yang mengingkarinya. Agama dan iklan tidak lagi terpisahkan. Pemisahan seperti itu rupanya dipandang tidak perlu. Masyarakat sendiri sepertinya menghendaki agama tidak lagi menjadi sesuatu yang sakral. Pandita sendiri tidak lagi mensakralkan dirinya, tapi sebaliknya go public. Atribut-atribut agama tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang berjarak secara psikologis. Agama sepertinya akan menjadi institusi yang populer. Siapa saja bisa membuat organisasi agama baik yang mengatas namakan umat maupun tidak. Siapa saja bisa menjadi pandita. Pasar adalah urusan bersama. Urusan produser, perantara, dan pembeli. Itulah pesan yang disampaikan iklan-iklan di atas. Jika masyarakat memang ingin berubah, maka tidak ada yang salah dengan semua itu. Jujur dengan keinginan. Tapi agama-pasar dan pasar-agama bukanlah satu-satunya pilihan. Bagi orang yang stress dan depresi oleh kebisingan pasar, mereka bisa pergi dari pasar dan duduk manis di ruang tunggu psikiater, atau konselor psikososial lainnya. *[ibm dharma palguna]
|