|
Merawat Paradoks, Merawat Indonesia Oleh : Anton Wisnu Nugroho DI Yogyakarta yang menyandang kota pendidikan, mitos hidup dan terus diperbarui. Karena itu, Tugu yang berdiri di tengah jalan tidak pernah kesepian meskipun dini hari. Mitos baru selalu lahir dari Tugu. Mitos terbaru adalah menyentuh aksara Jawa di Tugu untuk mempercepat kelulusan. Tidak hanya untuk mitos itu Tugu ramai. Sementara sekelompok warga berdoa dan menaruh sesaji di alas Tugu, para pendatang tertawa-tawa dan berfoto di sekitarnya. Kedua kelompok menempatkan Tugu sebagai pusat. Tentu saja dengan kepentingan berbeda.
Tak ada ketegangan untuk paradoks di Tugu yang merupakan bagian dari garis imajiner tegak lurus yang menghubungkan Laut Selatan, Keraton Yogyakarta, dan Gunung Merapi. Laku hening bisa berjalan di tengah tawa cekikikan. Yogyakarta menampung semua, juga untuk yang tampaknya bertentangan. Di antara sesaknya toko 24 jam di Yogyakarta, sejumlah toko tutup untuk istirahat siang hari. Ketika beragam restoran modern berkembang dengan harga makanan puluhan ribu, angkringan dengan nasi Rp 1000 tersebar di mulut-mulut gang. “Itulah Yogyakarta yang memiliki kemampuan mengelola paradoks. Kemampuan itu adalah kunci untuk bertahan hidup,” ujar Guru Besar Sejarah Universitas Gadjah Mada Djoko Suryo. Idealisasi Wisnu Kemampuan mengelola paradoks itu memang dicita-citakan sejak Keraton Ngayogyakarta dibangun Pangeran Mangkubumi atau Raden Mas Sujana seusai ;Perjanjian Giyanti (1755). Sejak Keraton Ngayogyakarta berdiri tahun 1756 dan gelar Hamengku Buwono dipilih, gelar itu dihayati dan diterjemahkan hingga sekarang. Ngayorakarta berasal dari kata Ayodya (Sanskerta) atau Ngayodya (Jawa), ibu kota Kerajaan Rama dalam epik Ramayana. Rama adalah inkarnasi Dewa Wisnu sebagai penyelamat dan pemelihara Bumi. Wisnu adalah tipe ideal setiap Sultan Yogyakarta. Wisnu sebagai ksatria termanifestasi dalam Krihsna di epik Mahabarata. Gambaran ini klop dengan kepribadian HB I sebagai panglima perang yang gagah berani melawan kolonialisme Belanda. Untuk cita-cita memelihara seperti Wisnu, secara fisik keraton berada di tengah-tengah antara Gunung Merapi di utara lan Laut Selatan. Keraton yang dibangun di Hutan Beringan juga terletak di antara Sungai Code di timur dan Sungai Winongo di barat. Cikal bakal keraton hadir di Gedong Proboyokso (tempat pusaka). Tiang penyangga Gedong Proboyokso dan kayu jati Hutan Beringan itu dinamai Kyai Jegot. Sebelum menetapkan lokasi keraton yang menyerap konsep mandala dalam Hindu, HB I bertapa di istana sementara di Ambarketawang (Gamping, Sleman) “Ada wahyu yang saat itu dikejari dan wahyu itu berhenti di Hutan Beringan,”ujar Yudhaningrat, Kepala Bidang Sejarah dan Kepurbakalaan Dinas Kebudayaan DIY. Mandala adalah konsep integrasi harmonis komponen kehidupan dari unsur-unsur berentangan. Integrasi itu diwadahi dalam satu pusat (punjering jagad), yaitu Keraton Ngayogyakarta. Meskipun memeluk Islam, warisan Hindu tetap terpelihara. Hindu dan Islam yang, “berwajah” Jawa mendapat tempat hingga sekarang di Seluruh wilayah Keraton. Saat pintu untuk wisatawan Keraton dibuka, Kallamakara (penjaga waktu dalam tradisi Hindu) menjulurkan lidah menyambut. “Ini untuk tolak bala, menolak kekuatan-kekuatan jahat yang akan masuk Keraton,” ujar Ibnu Darmoyo (62), abdi dalem berpangkat lurah. Sepasang patung ukuran besar di sisi kiti dan kanannya yang disebut Dwarapa menyapa dengan gadha. Sisi kiri bernama Cingkarabala (penerima kebaikan) dan sisi kanan bernama Balaupata (penolak kejahatan). Untuk pengunjung Keraton, Dwarapala bercat perak ini menjadi tempat favorit berfoto setelah menikmati tarian, gamelan, wayang, dan macapat di Bangsal Srimanganti. Dari Bangsal Srimanganti, inti Keraton yang konsep dan pembangunannya dirancang HB I dan dipercantik dengan hiasan dan marmer untuk lantai oleh HB VIII siap dimasuki. Sesaji untuk paradoks Meskipun banyak ruang terbuka di Keraton, keteduhan terasa karena sebaran pohon sawo kecik. Sayangnya, tidak ada tempat duduk yang hisa dipakai untuk menikmati keteduhan dan ketenangan lingkungan Keraton lebih lama. Empat kursi hanya ada di dekat tempat penjualan cendera mata yang tidak memberikan imajinasi atau suasana apa-apa. Keteduhan dan ketenangan itu bisa leluasa dinikmati abdi dalem yang sukarela, tanpa pamrih, penuh loyalitas, dan berdedikasi menjaga keberadaan Keraton lebih dari dua setengah abad lamanya. Untuk menjadi abdi dalem, tidak mudah. Bukan pada syarat yang nyaris tidak ada, tetapi pada kesiapan batin di tengah tuntutan hidup serba benda. “Seminggu dua hari saya mengabdi di Patehan (tempat membuat teh untuk Sultan). Saya mencari tenteram. Meskipun tidak mendapat uang, saya enggak sepaneng (pusing),” ujar Sugito (42), penjaga Gedong Patehan. Sehari-hari Sugito jualan soto ayam di Gamping, Slernan. Di tengah upaya hariannya mencari uang, Sugito menampik uang selama di Keraton. Untuk paradoks ini, Sugito mengaku mendapat ketenteraman. Setiap hari berjualan dan mendapat uang justru lebih kerap membuat Sugito pusing. Paradoks lain yang juga hadir di Keraton adalah Gedong Sarang Boyo (bar tempat minum bir) yang dibangun HB VIII untuk otoritas Belanda yang datang ke Keraton untuk berbagai kepentingan, termasuk menyaksikan tari-tarian. Meski gedung ini kini telah menjadi gudang, sesaji tetap dipasang di bawah dua payung kayu. Sesaji adalah cara simbolis magis masyarakat Jawa menghilangkan hal-hal negatif dari sesuatu. “Di tengah paradoks yang hidup berdampingan, yang negatif dalam benda atau makhluk distimulir agar tidak nakal. Sesaji dan juga pemberian nama untuk benda atau makhluk adalah cara manusia Jawa menetralkannya,” ujar Djoko. Karena itu, untuk pohon, gamelan, kereta, pusaka, dan benda apa pun, nama selalu diberikan. Untuk dua pohon beringin di Alun-alun Utara, misalnya, diberi nama Kyai Dewadaru (sebelah barat) dan Kyai Wijayadaru (sebelah timur). Dua pohon beringin itu adalah simbol sifat berbeda yang bertentangan. Kemenyan dan kembang sekar rutin dibakar di bawah teduhnya. Soal sesaji ini, Yudhaningrat rnernaknainya sebagai upaya hidup selaras dengan alam (habluminalam) selain hidup selaras dengan sesama manusia (habluminanas) dan hidup selaras dengan Allah SWT (habluminallah). Atau Tri Hita Karana (Hidup selaras dengan alam, hidup selaras sesama manusia dan hidup selaras dengan Tuhan Yang Maha Kuasa. “Ketiga-tiganya harus dijalani dalam keselarasan dan menuju pada Allah,” ujarnya. Di antara paradoks yang dapat hidup berdampingan yang dijalani dan menjadi cita-cita Keraton Ngayogyakarta itu, tantangan Indonesia yang lebih luas dengan paradoksnya terbentang. Dalam konteks demokrasi yang sedang dipilih, sesaji untuk paradoks itu bukan pada bakaran kemenyan, tetapi pada kepemimpinan. Untuk kepemimpinan, Semar “penyangga” Keraton dengan paradoksnya memberikan tuntunan. Meskipun dewa dan lebih tua daripada Batara Guru, Semar bersedia menjadi hamba manusia. Meskipun kaya raya, Semar makan nasi sisa. Ironisnya, banyak pemimpin hasil pesta demokrasi enggan menghayati paradoksnya. Paradoks pemimpin sebagai pelayan kerap hanya jadi janji kampanye. Alih-alih menjadi pelayan, pemimpin berlaku seperti tuan. Meski kaya raya, banyak yang merasa punya hak atas banyak hal yang bukan miliknya. Korupsi dipilih sebagai jalan. Keengganan merawat paradoks, keengganan merawat Indonesia. Juga soal kepemimpinan yang sejatinya adalah pelayan.KOMPAS, Sabtu 8 Mei 2010.
|