Logo PHDI Pusat
Cari Ilmu dengan Tiga Cara Print E-mail
Dharma Wacana – Balipost Minggu, 20 Juni 2010.
Cari Ilmu dengan Tiga Cara
Oleh : I Ketut Wiana

Tad viddhipranipatena
Pariprasnenasevaya.
Upadeksyanti tednyanam
Jnyaninastattvadarsiah.

[Bhagavad Gita IV.34].

Maksudnya : Carilah ilmu kebijaksanaan itu dengan sujud bhakti, dengan bertanya-tanya dan dengan pelayanan. Orang bijaksana dapat melihat kebenaran, hal itu akan menyebabkan ilmu pengetahuan memberimu petunjuk. Jumlah ilmuwan di dunia kian bertambah banyak. Ada ilmuwan bidang eksakta, ada ilmuwan sosial, ada ilmuwan humaniora dan ada juga ilmuwan bidang agama dan spiritual.

Namun keadaan hidup manusia di berbagai belahan dunia ini masih saja dirundung berbagai masalah yang pelik dan sulit diselesaikan. Seyogyanya para ilmuwan itu dapat bersinergi memberikan pemikiran yang cerdas dan bijak serta aktual dalam menyelesaikan berbagai masalah yang muncul dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki.

Ilmuwan seyogyanya dapat memberikan solusi dengan memakai daya nalar, dengan hati nurani dan dengan kepekaan emosi yang terkendali. Ilmuwan seperti itu belum banyak yang muncul. Hampir tidak ada masalah di dunia ini kalau tidak dipecahkan tanpa ilmuwan dengan cara bersinergi. Agar ilmuwan itu dapat berbuat bijaksana carilah ilmu dengan tiga cara sebagaimana dinyatakan dalam kutipan Sloka Bhagavad Gita di atas yaitu:
 
1.    Pranipatena: Mencari ilmu dengan sujud bhakti pada Tuhan dan dengan rendah hati. Untuk mendapatkan kebijaksanaan mengelola hidup di bumi ini carilah ilmu pengetahuan dengan rasa bhakti. Ilmu pengetahuan yang menga¬ndung nilai-nilai kebijaksanaan disebut viddhi dalam Bhagawad Gita yang dikutif di atas. Viddhi juga berarti yang mentakdirkan. Menurut Nitisastra ada tujuh penyebab mabuk (gelap hati) yang disebut Sapta Timira. Salah satu dari tujuh penyebab mabuk itu adalah ilmu pengetahuan. Tetapi Nitisastra menyatakan barangsiapa yang tidak mabuk oleh tujuh hal itu termasuk bagi mereka yang menguasai ilmu pengetahuan dialah diberi gelar Sang Mahardika. Ini artinya mencari ilmu itu amat utama, yang penting jangan mabuk seperti sombong dengan bersikap ekslusif.

Mencari ilmu dengan konsep pranipatena bermaksud untuk mengikis sifat-sifat egois sebagai tujuan ilmu pengetahuan. Karena itu Swami Satya Narayana menyatakan bahwa tujuan mendalami Weda ada lima yaitu: vidya artinya mencari ilmu pengetahuan rohani dan duniawi (para dan apara vidya), mencari viveka yaitu kemampuan untuk berpikir analitis. Karma siksana artinya memperbaiki tingkah laku, satsila artinya membangun kharakter yang mulia. Desa abhimana untuk memotivasi diri mengabdi pada tanah kelahiran.
 
Sebelum menjadi orang ahli dalam satu bidang ilmu terlebih dahulu bangunlah tiga kecintaan yang dalam yaitu dewa abhimana artinya kuatkan rasa bhakti pada Tuhan. Dharma abhimana yaitu kecintaan dan keteguhan berpegang pada kebenaran Veda atau dharma. Selanjutnya desa abhimana selalu bersemangat untuk mengabdi pada tanah kelahiran atas dasar kecintaan pada ibu pertiwi. Dalam tradisi Hindu di Bali ada tradisi Mawinten Saraswati saat akan memasuki jenjang pendidikan. Tujuan pemujaan Dewi Saraswati itu untuk memohon hyang hyangning pangeweruh. Artinya mohon untuk mendapatkan ilmu pengetahuan suci.
 
2.    Pariprasnena: Carilah ilmu dengan bertanya-tanya .. Dengan bertanya pada guru dalam menyerap ilmu, perhatian untuk menyerap ilmu itu lebih fokus. Kalau peserta didik belum mampu merumuskan berbagai pertanyaan, guru harus beru-saha membimbing agar peserta didik memiliki kemampuan untuk merumuskan pertanyaan.
 
Ilmu yang diserap lewat bertanya jauh akan lebih berkesan dan lebih mendalam kalau dibandingkan dengan hanya mendengarkan ceramah. Ilmu yang diserap lewat bertanya jauh akan lebih berkesafi dan lebih mendalam kalau dibandingkan dengan hanya mendengarrkan ceramah. Namun demikian metoda ceramah tetap dibutuhkan untuk melatih peserta didik untuk bertanya. Bahkan ada baiknya peserta didik setelah ditugaskan membaca dan mendengarkan ceramah untuk menyusun pertanyaan dari apa yang dibaca dan di dengar. Demikian juga peserta didik diajak untuk mengamati sesuatu objek ilmu. Selanjutnya peserta didik ditugaskan membuat berbagai pertanyaan dari hasil pengamatannya itu. Mencari ilmu dengan bertanya-tanya itu lebih dapat mendorong peserta didik lebih kritis dan lebih berpeluang mengembangkan daya analisanya.[ketut wiana].




 
< Prev   Next >
"));