Logo PHDI Pusat
Ada Tiga Jenis Manusia Menurut Keinginannya Print E-mail
Budaya - Minggu, 27 Juni 2010 | Bali Post
Ada Tiga Jenis Manusia Menurut Keinginannya
Oleh : Ketut Wiana

Adham dhanamicchanti
dhanamm nam ca madhyamh;
uttamam namicchanti.
mno hi mahatm dhanam

[Canakya Niti.VIII,1]

Maksudnya: Orang yang berkeinginan rendah (adham) hanya menghendaki harta kekayaan belaka. Orang yang tergolong berkeinginan sedang (madhyam) menginginkan harta kekayaan dan kehormatan. Orang yang berkeinginan mulia (uttamamnam) adalah orang hanya menghendaki kehormatan saja.

Sudah merupakan pengetahuan umum bahwa manusia yang lahir di dunia ini bermacam-macam jenisnya. Brahma Purana 228,45 telah memberikan arah bahwa wujud fisik ini hanya boleh digunakan sebagai alat untuk mencapai empat tujuan hidup yang disebut Catur Purusa Artha. Dalam Brahma Purana dinyatakan: Dharma, artha, kama Mokshanam sarira sadhanam. Wujud fisik yang disebut Sarira hanyalah boleh digunakan sebagai alat untuk mencapai dharma, artha, kama dan moksha.

Menggunakan sarira diluar tujuan tersebut adalah dosa. Salah satu yang dijadikan tujuan hidup itu adalah kama. Tujuan hidup mencapai kama bukan dimaksudkan bahwa hidup ini hanya untuk memenuhi segala keinginan. Dorongan hidup yang disebut kama itu ada dua arahnya. Ada yang disebut wisaya kama dan ada yang disebut sreya kama.

Wisaya kama artinya ingin mengumbar nafsu. Kata wisaya berasal dari kata wisa atau bisa yang artinya racun. Kalau nafsu itu menguasai pikiran dan kesadaran budhi maka itulah yang disebut wisaya kama. Seharusnya nafsu itu adalah alat dari pikiran dan pikiran adalah alat dari kesadaran budhi. Struktur diri yang seperti itulah akan dapat menjadi media untuk mewujudkan kesucian atman untuk membangun sikap hidup yang sreya kama. Atman itu bagian dari brahman (Tuhan Yang Mahaesa). Hal ini dinyatakan dalam Bhagawad Gita III.42 yang intinya menyatakan sempurnakankah indriamu, namun yang lebih sempurna dari indria adalah pikiranmu. Yang lebih tinggi adalah kesadaran budhi-mu. Yang tersuci dalam diri adalah atman.

Kalau kesucian atman dominan dalam diri maka manusia itu akan dapat membangun keinginan yang disebut sreya kama yaitu keinginan yang senantiasa selaras dengan dharma. Keadaan diri yang demikian itulah yang akan dapat membangun manusia berkeinginan mulia (sreya kama). Manusia yang sreya kama itulah disebut uttama mnam. Manusia uttama mnam adalah manusia yang segala prilakunya dalam menyelenggarakan hidupnya dibumi ini ditempuh dengan cara-cara yang terhormat. Manusia yang sehat secara jamani, memiliki indria yang sehat, pikiran yang cerdas berilmu mengendalikan indria, kesadaran budhi yang cerah akan dapat menguasai seluruh prilakunya secara terhormat.

Kalau keinginan sudah terkendali apapun yang didapat dalam hidup ini selalu dicapainya dengan cara terhormat. Karena itu dalam tradisi Hindu di Bali umat Hindu senantiasa mempersembahkan banten “daksina”. Banten daksina ini sebagai yadnya patni. Artinya sebagai predana dari suatu yadnya. Predana itu adalah wujud nyata alam ini sebagai stana purusha atau jiwatman. Yang Maha Purusha adalah Hyang Widhi sendiri. Kata daksina artinya kehormatan. Ini artinya hadirkanlah Hyang Widhi itu dengan cara-cara yang penuh hormat.

Karena itu setiap upacara dalam tradisi beragama Hindu di Bali selalu menggunakan daksina untuk menstanakan Tuhan sebagai saksi suatu upacara yadnya. Daksina itu juga bertujuan untuk membangun sikap hidup untuk mencari rejeki dengan cara-cara terhormat. Mereka yang menyelenggarakan hidupnya untuk mencari kehormatan tetapi tetap menerima bahkan menginginkkan harta kekayaan meskipun didapatkan dengan cara yang tidak terhormat. Mereka itu tergolong manusia berkeinginan menengah yang disebut madhyam. Sarasamuscaya 265 dan 266 orang menjadi suci apabila dapat menghindar dari tiga cara memproleh artha yaitu artha ulahning anyaya yaitu artha yang didapat dengan kekerasan, artha ulihning pariklesa yaitu artha yang didapat dari hasil penggelapan, artha kasembahning satru yaitu artha yang didapat dari pemberian musuh agar dapat berbalik bersahabat dengan musuh.

Manusia yang tergolong madhyam tidak akan menolak artha yang didapat dengan tiga cara mendapatkan artha tersebut. Memang mereka bersikap pasip terhadap tiga jenis artha itu.Kalau ada kesempatan mereka akan menerima artha seperti itu. Yang penting artha itu masuk menjadi kekayaan milikinya. Bahkan dengan artha itu mereka membuat seremonial-seremonial untuk mencari kehormatan. Pada hal kehormatan yang demikian itu adalah kehormatan yang palsu. Kalau kebetulan mereka itu memegang jabatan penting di birokrasi pemerintahan, mereka tidak akan menolak kalau ada uang pelicin dari rekanan atau masyarakat yang membutuhkan layanan birokrasi. Kalau ada bawahannya mengusukan melakukan pembengkakan anggaran akan diiyakan. Yang penting mereka dijatahkan hasil pembengkakan anggaran yang berasal dari uang rakyat itu.

Mereka yang hidupnya hanya berjuang untuk mendapatkan artha dengan jalan apapun. Dengan jalan dharma ataupun dengan jalan adharma tidak masalah. Kalau ada kesempatan dengan jalan dharma akan dilakukan. Tetapi kalau ada kesempatan dengan jalan adharma akan dilakukan juga bahkan dilakukan dengan aktif. Yang penting artha dapat dimiliki itulah tujuan hidupnya. Manusia yang bertipelogy seperti itulah dalam Pustaka Canakya Nitisastra di atas yang disebut manusia adham. Manusia jenis adham ini tidak menghitung masyalah moral, rasa malu demikian nasib rakyat bahkan keluarganyapun bisa dirugikan. Yang utama dia dapat untungnya kalau ada orang lain dirugikan itu bukan urusannya. Demikianlah tipelogy orang yang berkeinginan rendah yang disebut adham itu.

Adanya tiga jenis manusia berdasarkan keinginannya itu perlu kita cermati baik untuk melihat diri sendiri maupun untuk melihat masyarakat secara luas. Dari pengetahuan tersebut kita bisa menyesuaikan diri sehingga kita dapat menghindar dari cara-cara mengukur diri orang lain dengan ukuran kita sendiri. Tiap-tiap orang punya tipelogynya masing-masing. Kalaupun ada keinginan saling berbagi dalam memperbaiki hendaknya dilakukan dengan bijak. Perbaikan tipelogy itu dengan proses edukasi sehingga tidak terjadi perselisihan. [Ketut Wiana].

 
< Prev   Next >
"));