Logo PHDI Pusat
Print E-mail

Memperbaiki Prilaku dan Kebiasaan


...phala sang hyang Weda inaji phala sang hyang aji,
kinawruhen ayuning sila muwang acara
.
[Sarasamuscaya 177]

Maksudnya: pahala kitab suci Weda dipelajari untuk mengetahui tujuannya yaitu memperbaiki prilaku (sila) dan memperbaiki kebiasaan hidup (acara).

Memperbaiki Prilaku dan Kebiasaan


...phala sang hyang Weda inaji phala sang hyang aji,
kinawruhen ayuning sila muwang acara
.
[Sarasamuscaya 177]

Maksudnya: pahala kitab suci Weda dipelajari untuk mengetahui tujuannya yaitu memperbaiki prilaku (sila) dan memperbaiki kebiasaan hidup (acara).

Tuhan mensabdakan sabda suci Weda pada para Resi bukan sekadar untuk dibangga-banggakan bahwa kita punya kitab suci sabda Tuhan yang hebat. Apa lagi kebanggaan itu terus berlebihan sampai menjadi kesombongan. Weda sabda suci Tuhan itu diturunkan kedunia untuk dipelajari dengan sungguh-sungguh dan dengan upaya tersebut kita bisa memperbaiki tingkah laku dan berbagai kebiasaan hidup bersama yang menuju kearah yang semakin benar, baik, wajar dan tepat.

Prilaku yang semakin baik itu adalah prilaku yang semakin sesuai dengan konsep prilaku yang disabdakan oleh Tuhan dalam kitab suci. Karena itu pustaka Wrehaspati Tattwa 33 ada dinyatakan ciri hidup sukses duniawi (wahya tusti) ada tiga yaitu: Wedadyayana yaitu terus mempelajari kitab suci, Tarka Jnyana yaitu terus menerus menterjemahkan ajaran suci dalam praktek kehidupan individual dan sosial. Daana artinya penerapan ilmu dalam praktek kehidupan sampai memberikan kontribusi positif pada kehidupan individual dan kehidupan sosial dalam masyarakat.

Tujuan belajar ini agar terus diingat oleh umat manusia maka ada pemujaan Sang Hyang Aji Saraswati. Dalam tradisi Hindu di Bali pemujaan Tuhan sebagai Sang Hyang Aji Saraswati itu diperingati setiap rerainan Saraswati yang dirayakan berdasarkan konsep Wuku. Saraswati disebut sebagai Hyang Hyangning Pangeweruh. Artinya mencari ilmu pengetahuan suci. Pengetahuan itu sesungguhnya netral. Tetapi dalam perayaan Saraswati itu diarahkan agar mencari ilmu itu untuk tujuan suci. Tujuan suci mempelajari Weda itu dinyatakan dalam Sarasamuscaya 177 yang dikutip di atas yaitu ayuning sila muang acara. Sila itu adalah prilaku diri sedangkan acara adalah tradisi kehidupan yang sesuai dengan ajaran agama.

Ayuning sila itu adalah hidup yang mampu mewujudkan prilaku benar, baik dan wajar. Maksudnya mendayagunakan sraddha dan bhakti-nya pada Tuhan untuk menguatkan daya spritualnya membangun kesadaran bhudi nurani. Kesadaran budhi nurani itu menjadi landasan untuk menajamkan kecerdasan intelektual. Kuatnya daya spiritual dan cerdasnya eksistensi intelektual untuk mengarahkan kepekaan emosi pada pengamalan dharma. Dengan demikian upaya mempelajari kitab suci itu dapat mendatang pada tiga kecintaan yaitu Dewa Abhimana yaitu cinta pada Tuhan dengan berbagai sinar sucinya yang disebut dewa itu dalam wujud bhakti, Dharma Abhimana yaitu cinta pada kebenaran dengan wujud selalu mengupayakan pikiran, perkataan dan prilaku yang sesuai dengan dharma dan Dewa Abhimana cinta pada tanah kelahiran dalam wujud pengabdian yang tulus pada kesejahteraan Tanah Air tempat kita pertama menginjakkan kaki di bumi ini.

Sila Rahayu sebagai salah satu tujuan belajar kitab suci Weda adalah untuk mengembangkan tiga kecintaan tersebut. Dengan tiga kecintaan itu diharapkan melahirkan tiga upaya yaitu swastya wahini yaitu peduli pada upaya pengembangan hidup sehat (health care) lahir batin baik untuk kesehatan individu maupun kesehatan masyarakat luas. Widya wahini yaitu peduli pada upaya pengembangan pendidikan (educational care). Pendidikan itu untuk mengembangkan kehidupan yang benar baik dan wajar. Pendidikan yang benar baik dan wajar itu bukan pendidikan yang semata-mata mengajar peserta didik untuk mencari nafkah. Tetapi pendidikkan yang menghasilkan peserta didik untuk membina hidup sehat lahir batin, bermoral dan bermartabat.

Praja Wahini yaitu belajar Weda harusnya mendatangkan kepedulian pada nasib sesama dalam masyarakat (social care). Kepedulian pada nasib sesama itu dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk. Misalnya menghimpun dana pedidikan anak-anak yang orang tuanya kurang mampu. Demikian juga misalnya dengan membangun peguyuban hidup bersama seperti dalam wujud koperasi sebagai bentuk sistem ekonomi kerakyatan yang adil. Memberikan pelatihan pada SDM yang berbakat dalam berbagai bidang keterampilan dan keahlian. Dengan keterampilan itu mereka dapat mengembangkan hidupnya secara benar dan wajar.

Belajar Weda untuk memelihara tradisi yang benar dan baik sesuai dengan ajaran Weda. Sarasamuscaya 260 mengajarkan agar Weda itu diadatkan atau ditradisikan (Weda Abyasa). Tradisi atau adat istiadat dalam mentradisikan ajaran Weda itu disebut acara atau abyasa. Acara itu adalah Agama Hindu dalam wujud empiris untuk mengamalkan Weda sabda Tuhan yang bersifat supra empiris. Artinya Weda sabda Tuhan itu bukan dari hasil karya manusia (non human origin). Adat istiadat sebagai kebiasaan manusia dalam menganut Agama Hindu itu memiliki batas ruang dan waktu. Ada suatu kebiasaan yang sesuai di di daerah tertentu dan waktu tertentu. Tetapi di daerah lain dan pada waktu lain bisa saja hal itu tidak cocok sebagai kebiasaan untuk mengamalkan ajaran suci Weda. Karena tradisi Weda itu harus terus menerus dipelihara dengan konsep Tri Kona (Utpati,Sthiti dan Pralina) dan Tri Guna (Sattwam, Rajas dan Tamah).

Dengan konsep itu dinamika adat istiadat beragama Hindu itu akan senantiasa segar dan menarik. Dengan Tri Kona akan ada tradisi baru yang dibutuhkan oleh pengamalan Weda yang diciptakan. Ada tradisi yang masih relevan dengan zaman yang patut dipertahankan. Ada juga tradisi beragama Hindu yang sudah usang yang tidak mendukung pengamalan Weda yang sanatana dharma itu. Terhadap tradisi yang demikian itu seyogianya di-pralina dengan cara-cara santi dan demokratis. Agar proses utpati, sthiti dan pralina itu senantiasa ke arah yang positif maka umat yang melakukan itu dalam keadaan Tri Guna-nya terkendali. Kalau sattwam dan rajas menguasai alam pikiran (citta) maka orang tersebut akan senantiasa berniat mulia dan niat baiknya itu diwujudkan dengan perbuatan nyata.

Ini artinya perubahan berdasarkan konsep Tri Kona itu senantiasa berubah ke arah yang semakin baik apabila dilakukan oleh mereka yang Tri Guna-nya terkendali baik. Pemujaan Tuhan sebagai Tri Murti untuk menguatkan rokhani umat dalam menerapkan ajaran Tri Kona dan Tri Guna tersebut.

[Balipost - Minggu, 26 September 2010 – ketut wiana].

 

 
< Prev   Next >
"));