Logo PHDI Pusat
Pengertian Kawasan Suci Menurut Hindu Print E-mail

Pengertian Kawasan Suci Menurut Hindu

Sauca ngarania nitya majapa maradina sarira.
(Wrehaspati Tattwa 6l).

Maksudnya: Suci namanya senantiasa berjapa dan tiap hari membersihkan badan jasmani.

DALAM berbagai pustaka Hindu ada beberapa istilah yang sering diterjemahkan dengan kata suci dalam bahasa Indonesia. Ada kata “sauca, nirmala dan sudha”. Tiga istilah itu umumnya diartikan suci. Sauca yang diartikan taat akan peraturan penyucian diri, dinyatakan dalam Manawa Dharmasastra VI.92 sebagai salah satu dari sepuluh pengamalan dharma (Dasa Dharmalaksana). Wrehaspati Tattwa yang dikutip di atas menyatakan suci itu dengan istilah sauca yang dilakukan dengan ber-japa untuk menyucikan rohani dan mandi dengan air untuk menyucikan jasmani dalam artian yang luas.

Ber-japa menurut pustaka Sarasamuscaya 369 menyatakan: Pawaluywaluyningkojaran sang hyang mantrajapa ngarania. Artinya mengulang-ulang merapalkan pengucapan mantra Weda japa namanya. Ber-japa itu menurut Bhagawad Gita X.25 adalah yadnya yang sangat utama.

Dalam Manawa Dharmasastra V.109 proses penyucian ini digunakan istilah suddhyanti yang artinya disucikan. Selanjutnya dinyatakan badan atau bagian luar diri kita sebagai manusia (adbhir) dibersihkan dengan air. Pikiran atau manah disucikan dengan satya atau kebenaran dan kejujuran, budhi disucikan dengan jnyana atau ilmu pengetahuan suci, atman disucikan dengan widya dan tapa. Pustaka Wrehaspati Tattwa 20 menyatakan suci itu dengan istilah nirmala. Apanya nirmala, dumeh ya gumayaken rasaning agama lawan wekasning guru. Artinya: Kesucian atman dalam diri dicapai karena ia melaksanakan rasa agama dan melaksanakan apa yang diajarkan oleh guru. Dalam ajaran Hindu orang yang disebut “guru” itu adalah orang yang mengajarkan Weda.

Karena itu dalam Wrehaspati Tattwa 26 dinyatakan: Kawarah sang hyang aji kaupapatyan de sang guru agama ngarania. Artinya: Apa yang dinyatakan oleh kitab suci dan diajarkan oleh guru itulah agama namanya. Ini artinya orang yang melaksanakan rasa agama karena patuh pada ajaran Weda yang diajarkan oleh guru akan mencapai keadaan nirmala atau suci.

Manusia menurut Upanishad terbangun oleh purusha yaitu unsur kejiwaan dan pradana yaitu unsur kebendaan. Karena itu dalam diri manusia ada dua kekuatan yang saling berebut pengaruh. Unsur purusa menyebabkan citta atau alam pikiran dikuatkan oleh dharma, jnyana, vairagia dan aiswarya yaitu kebenaran, kesadaran, keikhlasan dan dorongan untuk terus meningkatkan diri menuju sikap hidup yang semakin mulia mencapai kehidupan suci.

Kekuatan citta ini dihadang oleh kekuatan klesa yang muncul karena pangaruh pradana. Klesa artinya kotor secara rohani yang mengotori dan menyelubungi sinar suci atman. Karena lima klesa itu sinar suci atman tertutup sehingga tak bisa diaplikasikan dalam mewujudkan prilaku suci oleh indriya. Ada lima klesa yaitu avidya (kegelapan nurani), asmita (egois), raga (pengumbaran nafsu), dwesa (benci dan dendarn) dan abhinivesa (rasa takut yang amat mencekam). Keadaan alam lingkungan dan sistem sosial seyogianya ditata agar tercipta suasana hidup yang menguatkan eksistensi citta menguasai lima klesa. Dengan demikian kehidupan ini menjadi aman damai (raksanam) dan sejahtera (dhanam).
Dalam pustaka Bhuwana Kosa VIII,2-3 menyatakan adanya lima sauca yang artinya lima sarana untuk penyucian diri yaitu patra sauca artinya penyucian dengan daun, jala sauca penyucian dengan air. Pertiwi sauca penyucian dengan tanah, bhasma sauca penyucian diri dengan abu suci dan jnyana sauca penyucian dengan ilmu yang dinyatakan sebagai utama sauca artinya penyucian diri yang paling utama. Mengapa jnyana sauca itu dinyatakan sebagai penyucian yang paling utama. Karena semua unsur penyucian itu membutuhkan ilmu pengetahuan suci atau jnyana dalam penerapannya. Menggunakan patra, jala, pertiwi dan bhasma atau daun, air, tanah dan abu suci tidak mungkin dilakukan dengan baik tanpa menggunakan ilmu pengetahuan suci.

Dari berbagai sumber pustaka suci Hindu itulah seyogianya kita bangun dan pertahankan konsep pemukiman dengan konsep kawasan suci. Sarana, patra, jala, pertiwi, bhasma ditata dengan ilmu pengetahuan suci (jnyana) membangun sistem kawasan suci. Dengan jnyana, sistem kawasan ditata dengan konsep Tri Vana yaitu Maha Vana yaitu hutan lindung dengan tumbuhan hutan yang berkwalitas yang memiliki banyak fungsi dalam hidup. Di Bali tumbuhan hutan ini  disebut “tanem tuwuh”. Tumbuhan hutan inilah yang semestinya mendominasi tumbuhan di Maha Vana. Tapa Vana yaitu kawasan penguatan jiwa atau rohani dengan tumbuhan yang indah bunga dan daunnya dibangun fasilitas pendidikan kerohanian seperti tempat pemujaan, pasraman diorama berbagai episode Itihasa dan Purana dan berbagai sarana untuk menguatkan daya spiritual umat.

Sri Vana yaitu kawasan pemukiman dengan berbagai sarana penguatan eksistensi ekonomi mengembangkan peningkatan kualitas kehidupan lingkungan alam, sosial, politik, hankam dan masalah kehidupan lainnya di dunia ini. Sri Vana ini dibangun dengan tumbuhan produksi yang kegunaannya lebih menekankan untuk bahan pangan dan obat-obatan. Eksistensi tumbuhan di Sri Vana inipun seyogianya lebih menonjol dari bangunan fisik berupa gedung dan sejenisnya. Dengan penonjolan tumbuhan produksi itu maka suasana di Sri Vana akan tetap sejuk nyaman dan indah berseri mendominasi lingkungan pemukiman dalam artian luas. Udara yang dihirup senantiasa bersih, ini berarti oksigen yang kita hirup pun oksigen yang bersih dan sehat. Menghirup oksigen adalah kebutuhan hidup yang pertama kemudian baru minum air dan makan. Tanpa minum dan makan untuk beberapa waktu akan bertahan. Tanpa oksigen tak sarnpai sepuluh menit manusia pasti mati.

Untuk mendapatkan kondisi kawasan yang ideal seperti itulah wilayah yang ada wajib di tata dengan konsep Tri Vana. Dengan konsep Tri Vana itu sarana penyucian seperti patra (daun), jala (air), pertiwi (tanah), bhasma dan jnyana (ilmu pengetahuan suci). Untuk Pura Kahyangan Jagat sebanyak sembilan pura di Bali ditetapkan dalam bhisama kesucian pura seluas lima kilo meter. Dalam radius lima kilo meter itulah berbagai fasilitas untuk mengimplementasikan nilai-nilai kesucian pura bersangkutan. Pengembangan kawasan suci itu dapat mewujudkan dharma, artha dan kama. Artinya setelah memberi pelayanan yang tulus dan hormat sebagai suatu dharma, dalam kawasan suci itu boleh mendatang artha sebagai daksina atau honorarium. Memproleh artha setelah melakukan dharma disebut daksina. Hidup dengan artha yang daksina itu sungguh mulia. Ini artinya kawasan suci itu bukan berarti kawasan yang merugikan tidak ada hasil apa-apa. Justeru kawasan suci akan mendatangkan wisatawan spiritual dan hasilnya adalah artha yang daksina.

[dharmawacana Balipost – Minggu, 31 Oktober 2010 – ketut wiana].

 
< Prev   Next >
"));