Logo PHDI Pusat
Galungan Hari untuk Bersatunya Para Ilmuwan Print E-mail

Galungan Hari untuk Bersatunya Para Ilmuwan

Budha Kliwon Dungulan ngaran Galungan,
patitis ikang jnyana sandhi galang apadang mariakna biyapara-ning hidep

(Lontar Sunarigama).

HIDUP adalah melakukan kegiatan untuk memelihara seluruh unsur diri agar dapat berfungsi sesuai dengan posisinya. Dengan demikian seluruh unsur diri itu dapat menjadi alatnya atman mengimplementasikan kebenaran dan kesucian. Dengan berfungsinya semua unsur diri sebagai alat mewujudkan kebenaran dan kesucian atman maka di bumi ini akan terjadi dinamika kehidupan yang sinergis dan harmonis untuk mencapai tujuan hidup yang sejahtera lahir-bathin.

Hari Raya Galungan adalah prosesi ritual sakral untuk mengingatkan umat manusia agar senantiasa memelihara dan menjaga diri dan alam sebagai sarana mewujudkan kehendak Tuhan sebagaimana tercantum dalam kitab suci. Memelihara dan menjaga diri dengan cara menguatkan kesadaran budhi mencerahkan pikiran. Dengan pikiran yang cerah akan kuat mengendalikan gerak indria atau hawa nafsu. Dengan demikian dinamika indria dapat senantiasa dikendalikan agar berada pada jalan kebenaran dan kesucian. Perilaku jahat terjadi berasal dari hawa nafsu yang tidak terdidik dan terlatih. Kalau indria itu terdidik dan terlatih maka ia akan kuat bagaikan kuda yang sehat dan bugar menarik kereta dengan kencang dan patuh pada kendali kusir kereta.

Hari Raya Galungan seperti dinyatakan dalam teks Lontar Sunarigama di atas adalah hari untuk mengingatkan para ilmuwan agar bertemu dan bersatu baik di tingkat desa pakraman sampai di tingkat banjar. Bertemu dan bersatu untuk mensinergikan ilmu yang dimiliki untuk mencerahkan kehidupan masyarakat luas mengatasi masalah kehidupannya dengan baik. Kata “patitis” artinya mengarahkan pada sasaran yang tepat seperti yang dikehendaki. Sedangkan kata “jnyana sandhi” artinya bersinerginya ilmu pengetahuan suci.

Ilmu pengetahuan suci yang disebut jnyana itu sesungguhnya sudah ada pada diri manusia. Dengan belajar dan berlatih secara baik dan benar jnyana itu akan dapat bersinergi dalam diri menjadi sumber pencerahan hidup. Maksudnya Galungan itu untuk mengingatkan manusia agar hidup dengan menguatkan jnyana dengan belajar dan melatih diri. Kalau tepat caranya hal itulah yang membawa manusia pada kondisi diri yang disebut “galang apadang” atau pikiran dan pandangan hidup yang cerah secara rohani.

Kondisi diri yang “galang apadang” itulah dapat menghilangkan pikiran yang kacau yang disebut sebagai “biyaparaning hidep”. Itu artinya Galungan itu sebagai upaya untuk memotivasi manusia agar senantiasa memelihara dan menjaga pikirannya agar selalu cerah atau “galang apadang”. Dengan demikian hidup pun selain akan bergerak pada jalan dharma dan menjauhi jalan adharma. Berjalan di jalan dharma dengan kesadaran jnyana yang kuat dan konsisten menuju tujuan hidup mencapai Catur Purusaartha.

Pada zaman Kali ini berbagai dinamika kehidupan justru dapat menggiring pikiran manusia semakin kacau. Karena itu perayaan Galungan hendaknya dimaknai lebih sungguh-sungguh untuk menguatkan alam pikiran dengan membangun jnyana sandhi sesuai dengan teks dalam Lontar Sunarigama tersebut. Janganlah perayaan Galungan itu berhenti pada ritual setiap enam bulan sekali saja. Karena hakekat Galungan itu adalah menguatkan kesadaran budhi untuk memenangkan kehidupan. Kalau kesadaran budhi manusia itu kacau apapun yang dilakukan dalam hidup ini akan terseret ke jalan Adharma. Karena itu jadikanlah perayaan Galungan ini menjadi media untuk diri kita masing-masing agar senantiasa memiliki kesadaran budhi yang cerah.

Karena hanya orang yang memiliki kesadaran budhi yang cerah itulah yang akan memenangkan kehidupan dalam persaingan hidup yang semakin ketat dewasa ini. Memenangkan kehidupan berarti memenangkan eksistensi diri sebagai manusia ciptaan Tuhan. Sebagai ciptaan Tuhan manusia harus mengedepankan perilaku diri yang manusiawi. Karena itu dalam menafsirkan perayaan Galungan harus terus mengikuti dinamika jaman menyertai kehidupan manusia. Artinya antara perayaan Galungan dan juga perayaan keagamaan Hindu lainnya harus mampu memberikan landasan moral dan mental pada umat Hindu dalam menghadapi dinamika jaman.

Dengan demikian umat Hindu tidak digilas oleh dinamika zaman. Justru kehidupan beragama itulah yang didayagunakan untuk mengambil aspek positif dari perubahan zaman. Dengan demikian kehidupan beragama akan dapat mengarahkan perubahan zaman menuju jalan dharma dan mencegah jalan adharma. Perayaan Galungan harus terus menerus disesuaikan dengan perkembangan zaman dengan tetap berpijak pada tattwa-nya seperti dinyatakan dalam Lontar Sunarigama tersebut. Intisari Veda memang Sanatana Dharma atau kebenaran yang kekal abadi. Tetapi penerapannya harus nutana, artinya terus diremajakan. Peremajaan itu dengan konsep Tri Kona yaitu Utpati, Stithi dan Pralina.

Maksud ajaran Tri Kona itu terus menciptakan sesuatu yang patut diciptakan. Pelihara dan lindungi tradisi yang masih baik dan masih tetap berpegang pada dharma. Prima atau hilangkan sesuatu yang sudah usang tidak sesuai dengan keadaan zaman dan yang benar-benar sudah bertentangan dengan dharma. Idealisme Tri Kona itu akan berjalan baik apabila manusia mampu mengendahikan Tri Guna-nya. Dengan pemikiran ini perayaan Galungan akan terus memenangkan kehidupan umat manusia bagi yang meyakininya.

Manusia berhasil memenangkan kehidupannya akan dapat mengembangkan kepedulian pada kehidupan yang sehat (Swasthya Wahini), peduli pada pembanguman pendidikan (Widya Wahini) dan peduli pada nasib sesama (Praja Wahini). Tiga kepedulian ini akan berjalan apabila manusia punya tiga kecintaanya itu Dewa Abhimana yaitu cinta pada Tuhan dengan wujud Sradha dan Bhakti. Dharma Abhimana yaitu cinta pada kebenaran, kewajiban dan kebajikan. Desa Abhimana adalah cinta pada Tanah Air dengan mengabdi pada tempat kelahiran kita.

[Dharma Wacana – Balipost Minggu, 12 Desember 2010, kt. Wiana].

 

 
< Prev   Next >
"));