Logo PHDI Pusat
MEMAHAMI DHARMA GITA DALAM SISTEM NILAI AGAMA DAN BUDAYA HINDU Print E-mail

MEMAHAMI DHARMA GITA
DALAM SISTEM NILAI AGAMA DAN BUDAYA HINDU

Oleh : I Made Suparta, Jakarta

Dalam perhelatan tualang langkah kita yang makin jauh menjelajahi ranah zaman Kali hingga ke gerbang milenium ketiga ini, maka berarti sejauh itu pulalah dharna gita (kidung dharma/religius) dikidungkan dalam bioritmis hidup dan kehidupan. Bahkan, gita dharma ini yang secara kosmologis an sich akan bersifat ad infinitum manakala kehidupan itu sendiri meniadakan hidup kita.

Dharma sehagaimana dinyatakan dalam kitab suci Weda ataupun dalam berbagai kitab yang dimarkahi “nafas” Weda, adalah poros yang menggerakkan dan menjaga stabillity jagad sakala-niskala kita ini. Brahmanda Purana (221.16) misalnya menyatakan, dharma merupakan wahana untuk mencapai sreyah (kebahagiaan, kesejahteraan, kesempurnaan), sehingga dengan jelas hal tersebut yang disitir dalam kitab Santiparwa (123.4), bahwa dharma merasuki secara esensial segala kegiatan yang dimaksudkan demi kesejahteraan dan kebahagiaan semua makhluk.

Dengan demikian secara (hipotetis)- teologis kitab Bhagawad Gita yang juga disebut sebagai “Pancama Veda” (IV.7 - 8), dengan tegas me-reorientasi dan mempresentasikan kembali dharma sebagai suatu doktrin religius yang secara hirarkis menduduki sentral pheriperi. Dinyatakan, hahwa manakala dharma berkurang kekuasaannya-dengan memimjam kata Joshua “diobok-obok”--dan kezaliman merajalela, maka Tuhan sendiri akan melahirkan diri-Nya sebagai “sesosok” penegak dharma, dengan melindungi orang-orang bijak dan menghancurkan ahamkaramurka, demi stability dharma yang tiada akhir (ad infinitum) sehingga Dia disebut juga Sang Hayang Parama Dharma.

Paham esensialisme yang melandasi pengindoktrian dharma dalam posisinya yang sentral pheriperi baik dalam sistem nilai religus - teologis dan kultural oleh para teolog Weda, secara kosmologis dalam verstehen kita dapat disadari sekaligus sebagai suatu representasi teori cosmos dan teori chaos. Oleh karena itu kitab suci Weda dan sastra-Weda (Wedic-lieterature) denga awanti-wanti menekankan bahwa betapa pentingnva usaha mengidungkan dan selalu meresonansikan gitadharma ini dalam segala gerak karma kita. Resonansi gita dharma kita ini merupakan bagian yang integral dan bioritmis Sang Hyang Pararnma Dharma itu sendiri.

Berdasarkan pemikiran yang tiwas tersebut, maka pratipadya yang diingatkan dalam tulisan singkat ini bermaksud mengungkapkan pentingnya makna dharma gita yang dikumandangkan melalui Utsawa Dharma Gita ini dalam sistem nilai keagamaan dan budaya Hindu; yang bukan sebagai “pentas” semata, tetapi yang lebih penting adalah sebagai media pembelajaran dan internalisasi Weda. Dalam kaitan itu, maka dalam tulisan ini juga akan dilakukan suatu tinjauan kritis atas teks naskah yang dijadikan sebagai bahan bacaan dan nilai-nilai apa yang dikemukakan dalam teks bacaan tersebut. “Benang merah” pemikiran Hinduisme apakah yang dapat kita simak dan teks bacaan Utsawa Dharma Gita itu sebagai suatu tolak ukur determinatif dalam memahami githa dharma tersebut.

Konsepsi Gita Sebagai Suatu Sistem Nilai
Pemahaman dharma gitlia atau gita dharma melalui tindak kegiatan religius kultural yang disebut Utsawa Dharma Gita pada dasarnnya merupakan suatu aktivitas yang dilengkapi oleh suatu sistem, baik dalam kaitan dengan sistem nilai keagamaan ataupun, dan bahkan sekaligus, bagian dari sistem nilai budaya, yakni kebudayaan Hindu. Pemahaman ini sesuai dengan suatu pandangan teoritis, yang menyatakan bahwa kebudayaan pada dasarnya mencakupi segala aktivitas manusia-termasuk sistem kognisinya--dalam hidup dan kehidupannya di muka bumi yang bugil ini yang diperoleh melalui suatu pembelajaran (bersifat nonbiologis) dari waktu ke waktu dan dari generasi ke generasi.

Dalam kerangka pemahaman dinamika kebudayaan itulah kita mengenal berbagai nilai yang secara continuum mengalami suatu proses dalam suatu sistem nilai masyarakat bersangkutan. Kebudayaan dengan berbagai sistem nilai yang ada di mana manusia sebagai bagian di dalamnya akan memiliki fungsi-utility-peran-yang oleh Radiliffe Brown dikatakan, bahwa sebuah masyarakat/kebudayaan ibaratnya sebagai sebuah mekanisme organisasi tubuh manusia; setiap bagiannya bersifat interlocking, interconnecting, interriated, dan pranata sosial. Konseptualisasi nilai dalam kaitan itu secara konseptual adalah sangat penting, karena akan menjadi orientasi dan seluruh prilaku budaya (cultural beharior) yang dipanndang “baik” dan “terbaik” dalam totalitas hidup dan kehidupan lahir-batin, sakala-niskala masyarakat yang empunya.

Sejalan dengan pemahaman itu, maka budaya dalam konsep Vedicliterature oleh Swami Tejomayananda disebut dengan samskriti--krtam means “that which is done”, sam means “very well”, samskrit means “that which is very well made, very well refined”. Menurut Ficktor F. Ayaoub konsep nilai budaya itu merupakan suatu cara bagi budaya masyarakat bersangkutan dalam mengatasi masalah-masal, baik berhadapan dengan alam (nature) maupun dunia sekelilingnya, serta bagaimana mereka menampilkan prilaku pada dunia.

Berdasarkan pengertian tersebut, jelas dapat kita pahami bahwa dharma gita merupakan suatu sistem nilai, baik agama maupun budaya, yang memiliki dan mempresentasikan secara sempurna tiga konsep dan wujud kebudayaan, yakni : dalam wujud sistem ide/gagasan, prilaku sosial/masyarakat, sistem material/artefak. Sebagai wujud dan sistem ide/gagasan, dharma gita memiliki kompleksitas nilai yang diorientasi, sebagai wujud prilaku sosial dharma gita mempresentasikan dia menjaga seluruh alam raya dalam kegiatan dan tradisi yang hidup di masyarakat yang dipayungi sistem nilai di atas, dan sebagai wujud material! Artefak, dharma gita yang present dalam bentuk sekumpulan teks naskah sastra agama yang dapat diapresiasi secara luas oleh individu dan masyarakat bersangkutan.

Dalam kaitan dengan dharma gita sebagai suatu sistem nilai, secara filsafati ia merupakan suatu objek material dalam bentuknya sebagai fenomena sosial-budaya-religius. Oleh karena itu, secara filsafati pula objek material dharma gita pun memenuhi prasyarat untuk diangkat sebagai objek formal. Sebagai sebuah fenomena (yang dibaliknya juga ada nomena), maka dharma gita pun dapat menjadi objek kritis (logis) kefilsafatan itu, dalam hal mana dharma gita dapat ditelaah secara ontologis (“ada/present sebagai objek”), epistemologis (“dapat diuji sebagai, dan memiliki kebenaran”), dan aksiologis (“merepresentasikan norma-norma etik dan estetik”).

Gita dalam Konsepsi tentang Nilai Teologis : Tuhan sebagai “Gita Abadi”
Dalam pemeriaan di atas sepintas dapat kita simak konsep tentang dharma abadi (sanatana dharma) yang dalam pada itu Tuhan menjadi Parana Dharma. Kata dharma yang secara etimologis berasal dari kata dhr- yang berarti “memegang, mempunyai atau menjaga” -- dan dan akar kata yang sama tersebut berasal dan kata Latin firmus, yang berarti “kuat” dan forma, yang berarti “bentuk”. Dengan demikian, dharma adalah “bentuk” dan benda-benda seperti apa adanya dan daya yang membuat mereka bertahan sebagaimana adanya, bersesuaian dengan hukum abadi, dan demikian juga, dalam lingkup moral dia menjaga bangsa manusia dengan hukum moral yang abadi.

Dalam kaitan itu, representasi dharma yang paradoksal dalam dua tataran, yakni sebaga hukum jagad tertulis (Weda sebagai sanatana dharma) dan hukum jagad lisan (abstrak) berada di dalam nurani dan kesadaran manusia, temyata dinegasikan oleh teori Sat “ Asal” Tertinggi; Brahrnan. Istilah ini menjadi kata kunci yang sangat penting dalam pandangan dunia teolog Weda ; yang pada zaman kemudian istilah kunci tersebut menjadi dasar bermakna, baik bagi para penganut paham theisme, ataupun para teokritikus yang berpaham a-theisme dalam mengembangkan spekulasi pemikirannya, seperti anti-brahmanaisme yang dikemukakan Buddha pencarian sang din dengan ‘inward- looking’.

Akan tetapi jika kita teliti lebih cermat, dapat kita simak bahwa hampir semua agama besar dunia ternyata mempresentasikan prinsip kata kunci tersebut, yakni Tuhan sebagai suatu “rumusan suci”, atau “kidung suci” yang dilantunkannya. Paham yang demikian itu, dengan jelas tampak dan atimologi kata bralmia yang berasal dan akar kata brh- yang menurunkan term Brahinan dan selanjutnya brahrnana, yakni dapat berarti (i) teks yang mengomentari rumusan dan tindakan suci tersebut, (ii) seorang (yang lebih sering disebut “Brahmin”) baik yang melaksanakan maupun yang menjadi perwujudan sendiri dan apa yang suci.
(BERSAMBUNG)

[WHD. No. 526 Oktober 2010]

 
< Prev   Next >
"));