Logo PHDI Pusat
Lindungi Kecerdasan dengan Bhakti pada Tuhan Print E-mail

Senin, 16 Januari 2011 | BP 
Lindungi Kecerdasan dengan Bhakti pada Tuhan

Medhaam me varuna dadaatu
medhaam agnih prajapati
medham indrasca vaayusca
medhaam dhaata dadaatu me

(Yajurveda XXXI).

Maksudnya: Semoga para Dewa seperti Dewa Varuna (Deva Samudra), Deva Agni (Deva Api), Deva Prajapati (Raja Alam Semesta), Deva Indra (Deva Hujan), Deva Vayu (Deva Angin), Deva Daata (Deva Penyangga Bumi) semuanya melindungi kecerdasan para intelektual.

INTELEKTUAL yang berilmu memiliki resiko mabuk karena pintarnya. Karena itu dalam Nitisastra IV.19 diingatkan ada tujuh penyebab orang bisa mabuk gelap hati. Salah satu di antaranya adalah ''guna''. Artinya orang itu mabuk sombong karena merasa berilmu tinggi. Karena itu ada mitologi Hindu yang menceritrakan ketika para deva turun ke bumi mengajarkan berbagai keterampilan pada manusia, tidak pernah berhasil. Setelah Dewi Saraswati ikut turun memimpin para deva mengajarkan berbagai keterampilan untuk menopang hidup manusia barulah para deva berhasil mengajarkan berbagai keterampilan untuk menyelenggarakan hidupnya di bumi yang indah ini.

Ini artinya kecerdasan dan ilmu itu harus dipadukan dengan daya spiritual atau divine spirit power. Tanpa melalui proses itu kecerdasan sebagai modal dasar pada diri sementara orang justru bisa menjadi sumber kegagalan dalam hidup. Renald Gazali seorang akhli bisnis pernah mengatakan bahwa orang-orang yang IQ-nya tinggi kebanyakan gagal dalam mengembangkan kariernya. Orang yang memiliki IQ (Intelegentia Quetion) yang tinggi itu tentunya suatu karunia yang amat bernilai dari Tuhan. Kegagalan sementara orang yang memiliki IQ tinggi itu karena salah caranya memanajemen IQ yang tinggi itu. Kecerdasan menyerap ilmu itu tentunya suatu kelebihan dari seseorang. Hal itu tidak akan menjadi masalah apabila diyakini sebagai suatu karunia Tuhan pada dirinya dan juga ada jasa-jasa dari pihak lain. Kegagalan dari sementara mereka yang memiliki kadar kecerdasan tinggi ada yang menganggap orang lain tidak memiliki kelebihan meskipun bukan IQ-nya. Hal ini menyebabkan ia orang yang memiliki IQ tinggi itu bersikap exclusive dan diekspresikan dengan sikap egois tidak menghargai orang lain.

IQ itu mungkin dapat diidentikan dengan "medha" atau "metha" yang artinya bakat bawaan sebagaimana dinyatakan dalam kutipan Atharvaveda yang dikutip di atas. Kalau medha ini dikembangkan melalui proses pendidikan dan pelatihan yang baik maka dari medha inilah yang akan menumbuhkan SDM yang terampil dan ahli. Kalau keterampilan dan keahliannya itu demikian menonjol dan disikapi secara exclusive, maka kelebihannya itulah yang dapat membuat SDM yang menonjol itu gagal dalam hidupnya. Karena itu pengembangan medha atau bakat bawaan itu harus disertai dengan pemujaan pada para dewa manifestasi Tuhan Yang Maha Esa. Setiap orang memiliki medha yang berbeda-beda. Karena itu medha diarahkan untuk memuja salah satu dewa manifestasi Tuhan agar bakat yang dimiliki itu diaplikasikan pada wilayah yang Tuhan disebut dengan dewa yang berbeda-beda. Misalnya Tuhan yang berada di samudra disebut Dewa Baruna. Ini artinya pemujaan Deva Varuna sebagai deva samudra itu agar imedha itu dipersembahkan untuk mengembangkan wawasan maritim agar samudra itu dijaga kelestariannya sehingga dapat berkembang menjadi sumber kehidupan umat manusia. Demikian juga pemujaan Tuhan sebagai Dewa Agni agar bakat yang dimiliki manusia dapat dijadikan kekuatan pemeliharaan agni sebagai sumber daya alam yang multiguna dalam hidup ini. Pemujaan Dewa Prajapati, Tuhan sebagai pemimpin alam ini berarti agar medha itu dikembangkan menjadi kemampuan mengembangkan bakat kepemimpinan yang berwawasan spiritual.

Demikianlah seterusnya pemujaan pada Tuhan dalam manifestasinya sebagai berbagai dewa untuk mengembangkan medha agar dikembangkan untuk menjadi medha itu mengagungkan Tuhan dalam wujud pengembangan bakat untuk meningkatkan berbagai sumber daya alam dan sumber daya manusia sehingga bakat atau medha yang berkembang itu untuk diabdikan pada pelestarian alam dan penguatan SDM berkualitas. Seperti mohon pada Dewa Indra pada pengembangan medha agar medha itu dikembangkan untuk menjaga langit jangan penuh polusi dan hujan yang diturunkan disangga dengan gunung dengan hutannya yang lebat.

Dengan demikian langit dengan udaranya yang sejuk menghembuskan oksigen yang menyegarkan. Air hujan tertampung tidak hanyut sedemikian saja ke laut sia-sia. Dengan pemujaan dan pemanfaatan medha itu tidak akan membuat orang mabuk karena pintar dari pengembangan imedha tersebut. Dalam pengembangan medha itu melalui proses pendidikan, Swami Satya Narayana menyatakan bahwa sebelum medha dikembangkan dengan sempurna terlebih dahulu harus didahului dengan mengembangkan Sraddha dan Budhi. Sraddha artinya menumbuhkan SDM bersangkutan agar memiliki keyakinan hidup (sraddha) yang kuat pada Tuhan sehingga untuk menjalankan medha itu SDM bersangkutan memiliki prinsip mantap berupa keyakinan yang kuat bahwa Tuhan akan melimpahkan pahala yang mulia kalau manusia berbuat baik.

Memiliki keyakinan yang kuat akan ajaran Karma Phala ini wajib ditanamkan pada umat apalagi yang memiliki medha yang tinggi. Karena mengekspresikan medha yang sudah menjadi keterampilan dan keahlian itu dalam praktek kehidupan banyak godaan dan tantangan yang akan dihadapi. Dalam menghadapi berbagai godaan itu amat dibutuhkan SDM yang memiliki keyakinan yang kuat dan tangguh. Di samping memiliki sraddha yang wajib dimiliki terlebih dahulu adalah kesadaran budhi. Kesadaran budhi ini adalah kejernihan hati nurani yang akan berfungsi memberikan pertimbangan moral dan mental pada ekspresi kecerdasan pikiran dan kepekaan emosi melaksanakan medha. Ini artinya medha akan sukses dikembangkan apabila berlandaskan sraddha dan kesadaran budhi yang kuat terlebih dahulu. Dengan demikian medha akan senantiasa memberikan kontribusi positif pada perbaikan lingkungan alam dan pada masyarakat luas dan tentunya pada SDM bersangkutan. Jadinya urutannya adalah sraddha, budhi dan medha.
[Dharma Wacana - Balipost Minggu, 16 Januari 2011 - Ketut Wiana].

 
< Prev   Next >
"));