Logo PHDI Pusat
UPACARA SIPATAN DALAM MEMINIMALKAN KEHAMILAN PADA USIA PRA NIKAH [Bagian I] Print E-mail

UPACARA SIPATAN
DALAM MEMINIMALKAN KEHAMILAN
PADA USIA PRA NIKAH

Bagian I
(Desa Pakraman Kuum, Sukawana, Kec. Kintamani, Kabupaten Bangli)
Oleh : I Gede Manik (Badung)

Kemajuan teknologi dibidang transportasi dapat membantu manusia, sehingga manusia dengan mudah dan cepat dapat bepergian kemanapun juga. Hal ini didukung oleh alat transportasi yang canggih dan modern, serta menawarkan kenyamanan dan keamanan bagi penumpangnya. Dengan kecanggthan alat-alat transportasi tersebut akan mengantarkan penumpang relatif lebth cepat sampai di tempat tujuan. Dalam bidang komunikasi, manusia sangat mudah berkomunikasi baik di desa maupun di kota. Hal ini didukung oleh kemajuan teknologi komunikasj yang relatif murah dan mudah. Dalarn hal berkomunikasi, manusia tidak terbatas pada lokal saja, melainkan sudah mencapai tingkat internasional. Komunikasi lokal maupun interlokal dengan menggunakan teknologi canggih seperti internet, telepon celuler, televisi dan lain-lain. Informasi yang ada dapat diakses lewat teknologi seperti internet, telpon celuluer, televisi dan lain sebagainya. Dengan adanya kemajuan teknologi transportasi dan komuniki yang signifikan, membawa implikii terhadap perkembangan tourism. Manusia akan lebih mudah mengunjungi tempat-tempat pariwisata baik antar pulau maupun antar negara. Dengan demikian akan berpengaru juga terhadap perkembangan pan wisata dan ekonomi global.

Derasnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) tidak menyurutkan Umat Hindu yang ada di Bali untuk tetap melaksanakan upacara yadnya. Pelaksanaan upacara keagamaan secara kuantitas terus mengalami peningkatan seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Upacara yadnya ini salah satu penyebab datangnya wisatawan asing untuk berlibur ke Bali. Di samping itu juga karena keindal-ian alam Bali, yang mendorong wisatawan unt-uk datang ke Bali, sehingga Bali menjadi daerah tujuan wisata dunia. Dengan demikian Bali sangat terkenal di seluruh dunia sehingga mendapat berbagai sebutan seperti pulau seribu pura, pulau sorga, pulau dewata dan sebagainya. Kemajuan tersebut juga berpengaruh terhadap perekonomian masyarakat Bali khususnya yang memeluk agama Hindu. Dengan meningkatnya pendapatan masyarakat, berimplikasi terhadap kuantitas pelaksanaan upacara keagamaan yang semakin meriah. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dimanfaatkan oleh Umat Hindu untuk membantu kelancaran upacara yadnya itu sendiri. Hal ini membuktikan bahwa Agama Hindu bersifat flexibel dan dinamis sesuai dengan perkembangan jaman.

Budaya melaksanakan upacara yadnya ini yang diwariskan oleh para leluhur keberadaannya masih tetap eksis dengan kehidupan masyarakat yang memeluk Agama Hindu. Hal ini disebabkan adanya ketaatan dan patuhnya masyarakat Bali yang memeluk Agama Hindu melaksanakan ajaran agama melalui upacara yadnya.
Soeka (1987; 11) mengatakan bahwa hutang budi manusia disebut Tri Rnam. Tri artinya tiga, Rnam artinya hutang. Jadi Tri Rnam berarti tiga macam hutang budi manusia kepada yang menciptakan, yang memelihara/membesarkan, yang mendidik, memberi tuntunan hidup dan sebagainya.

Khususnya Umat Hindu dalam kehidupan merasa mempunyai hutang yang disebut dengan Tri Rna. Bagian dan Tri Rna antara lain : Dewa Rna (hutang kepada Tuhan), Rsi Rna (hutang kepada tokoh-tokoh agama) dan Pitra Rna (hutang kepada orang tua dan leluhur). Dewa Rna yaitu kesadaran berhutang kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa(Tuhan) atas yadnyaNya kepada alam semesta beserta isinya. Hutang ini diaplikasikan dengan melaksanakan Dewa Yadnya yang disembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan) baik dengan upacara yadnya pada saat piodalan maupun pada hari-hari suci serta merenovasi tempat-tempat suci. Bhuta Yadnya yang disembahkan kepada alam semesta baik dengan upacara vadnva berupa caru, tawur, serta dengan menjaga kelestarian alam semesta. Rsi Rna merupakan kesadaran berhutang kepada para Rsi atau orang-orang suci yang telah berjasa mengajarkan ilmu pengetahuan suci Weda. Weda tersebut diolah disusun sedemikian rupa sehingga menjadi kitab sastra agama. Hutang ini dapat diaplikasikan dengan mematahi petunjuk sastra agama serta menjauhi larangan-larangan agama, menghormati para guru, dan lain sebagainya. Dalam bentuk upacara, dapat dilakukan dengan membantu prosesi Upacara Medwijati yang
dilaksanakan oleh sulinggih. Pitra Rna merupakan kesadaran berhutang kepada orang tua dan leluhur atas jasajasanya dalam memelihara dan mendidik sejak dan dalam kandungan sampai menjadi manusia dewasa. Hutang ini dapat diaplikasikan dengan melaksanakan upacara Pitra yadnya dan Manusa yadnya serta berbakti kepada orang yang lebih tua atau menghormati orang yang patut dihormati.
Hal ini yang memunculkan adanya hrmacam-macam yadnya dan upacara yang dilaksanakan oleh Umat Hindu. Dengan demikian, Tri Rna ini diaplikasikan oleh umat Hindu di Bali dengan melaksanakan upacara Panca Yadnya (Bhuta Yadnya, Manusa Yadnya, Pitra Yadnya, Rsi Yadnya dan Dewa Yadnya). Upacara Yadnya atau Panca Yadnya bertujuan untuk membayar hutang-hutang manusia. Hal ini dikemukakan dalam Bhagawadgita III.10 sebagai berikut:

sahayajnah prajah srtva
Puro vaca prajapatih
Anena Prasavisyadhvam
Esa vo stv’ istakamadhuk

Artinya:
Pada jaman dahulu kala Prajapati menciptakan manusia dengan yadnya yang bersabda : dengan ini engkau akan mengembang dan akan menjadi kamandhuk (lembu perahan yang memerah susunya). dan keinginanmu (Mantra, 2006;43).
Berdasarkan sloka di atas, bahwa Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan) dalam menciptakan manusia berdasarkan yadnya. Dengan demikian manusia akan mempunyai kewajiban untuk membalas kebesaran-Nya. Dengan melaksanakaii yadnya yang dikenal dengan Panca Yadnya. Upacara manusa yadnya merupakan bagian dari Panca Yadnya. Upacara perkawinan merupakan salah satu bagian dari upacara Manusia Yadnya.

Menurut Sura (2000) agama Hindu terdiri dari tiga kerangka, yaitu filsafat (tattwa), etika, dan acara. Dalam realisasinya, ketiganya merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisah-pisahkan; artinya satu aktifitas keagamaah merupakan realisasi dari ketiga kerangka dasar tersebut. Dalam penampilan secara empiris, upacara mungkin nampak lebih menonjol ketimbang aspek etika dan tattwa. Tetapi esensinya terdalam dari Agama Hindu terdapat dalam tattwa.
Upacara Yadnya merupakan salah satu bagian dan Tri Kerangka dasar Agama Hindu yaitu : Tattwa (filsafat), Etika (susila) dan Ritual (upacara). Namun pelaksanaan dan upacara panca yadnya tersebut yang dilaksanakan di Bali belum seluruhnya dipahami tujuannya oleh umat Hindu. Pelaksanaan upacara keagamaan di Bali dititik beratkan pada ritual, sehingga yang menonjol adalah pelaksanaan upacara itu sendiri.

Fenomena yang terjadi akhir-akhir ini di Bali sangat mengkhawatirkan masyarakat khususnya dari kalangan agamawan. Kemajuan teknologi bagaikan pisau bermata dua. Disatu sisi membawa dampak positif, namun disisi lain membawa dampak yang negatif. Dampak positip yang diakibatkan oleh kemajuan teknologi yakni dapat memudahkan dan membantu manusia dalam mengakses informasi dan memudahkan pekerjaan seperti mempercepat arus berkomunikasi, lebih cepat sampai di tempat tujuan dan lain sebagainya. Sedangkan dampak negatifnya yakni
manusia menjadi konsumtif, individual, meterialistis dan lain-lain. Selain itu, kalangan remaja (masa brahmacari) terjadi pergaulan bebas sehingga menyebabkan seks bebas yang mengakibatkan kehamilan sebelum adanya prosesi adanya upacara perkawinan.

Seiring dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat dijaman ini, tentunya membawa dampak positif dan negatif terhadap kehidupan manusia. Salah satu dampak negatif dari kemajuan teknologi tersebut yang mendukung hubungan seks bebas. VCD, DVD, HP, tabloid, majalah beserta internet dengan mudah menyajikan gambar, foto, film - film porno yang dapat diakses oleh remaja. Hal ini memicu hubungan seks bebas dikalangan remaja dimana gambar, film, foto - foto porno biasa mereka lihat melalui alat - alat teknologi. Dengan kemajuan teknologi tersebut, hubungan seks bebas semakin meresahkan dan mengkhawatirkan di era sekarang ini. Denpost (tanggal 30 Juni 2009) menyatakan bahwa marak dan bebasnya peredaraan benda - benda porno seperti blue film (BF), majalah atau tabloid porno dan sejenisnya di Indonesia, turut andil “menyuburkan” perilaku seks bebas di kalangan remaja. Untuk itu, kalangan orang tua, agamawan dan tokoh masyarakat untuk memberikan ajaran agama kepada para remaja agar terhindar dari hubungan seks bebas. Untuk mengarahkan manusia agar selalu untuk berperilaku seks yang baik, benar dan sehat jelas tidak mudah dilakukan. Banyak tantangan yang harus dihadapi oIeh mereka yang fanatik terhadap hubungan seks yang sakral.

[WHD No. 516 Desember 2010].
Bersambung.....

 
< Prev   Next >
"));