Logo PHDI Pusat
Menjelekkan Orang lain, Itu Manusia Rendahan Print E-mail

Weda Wakya
Menjelekkan Orang lain,
Itu Manusia Rendahan

Parasparasya marmaani.
Ye bhasante nara adhamah
Te eve wilayam yaánti
Valmikodara sarpavat.
(Canakya Nitisastra IX.2)

Maksudnya: Orang yang menjelek-jelekkan orang lain di depan orang banyak, tergolong manusia rendahan (nara adhama). Mereka akan menemui kehancuran bagaikan ular masuk sarang semut.

ORANG yang senang melihat orang lain menderita dan kecewa melihat orang lain hahagia salah satu ciri orang menderita gangguan mental. Demikian menurut pandangan Prof. Dr. Zakiah Darajat seorang ahli ilmu jiwa. Orang yang demikian itu selalu mengagung-agungkan dirinya dan merendahkan orang lain sampai di hadapan orang banyak. Ia pun tidak merasa risi menjelekkan orang lain tanpa hak.

Suka menyombongkan diri dengan pamer kekuasaan dan pamer kekayaan hal itu tergolong orang yang dipengaruhi oleh sifat keraksasaan. Dalam Bhagawad Gita XVI. 4 dan 5 manusia dibagi menjadi dua jenis yaitu Dewi Sampad dan Asuri Sampad. Dewi Sainpad yaitu kecenderungan bersifat kedewaan. Sedangkan Asuri Sampad, kecenderungan bersifat keraksasaan. Manusia dengan kecenderungan keraksasaan memiliki enam ciri yaitu dhambo yakni berpura-pura, darpo (sombong), abhimanasa (membangga-banggakan diri), krodha (pemarah, dengki dan pendendam), parusia (keras dan kasar), ajnyana (tanpa kesadaran atau menderita tujuh kegelapan atau sapta timira), abhijatassya (mengagung-agungkan wangsanya atau bersikap eksklusif).

Sejalan dengan kutipan Canakya Nitisastra di atas Swami Satya Narayana menyatakan bahwa mengkritisi dan menjelek-jelekan orang lain tidak di hadapan yang bersangkutan adalah dosa perilaku orang rendahan. Tetapi menunjukkan kekurangan atau kejelekan orang lain sebagai suatu kritik di hadapan yang bersangkutan adalah perbuatan mulia, sebab itu akan berguna bagi keduanya. Bagi orang yang nara adhama akan menyanjung di hadapan yang bersangkutan dan mengkritik dan menjelek-jelekannya di belakangnya.

Meskipun memiliki jabatan tinggi dan pendidikan tinggi orang yang bertipologi Asuri Sampad justru ilmu dan jabatannya sebagai pendorong semakin eksisnya kecenderungan Asuri Sampad. Semakin mendapatkan suatu kelebihan semakin lupalah dia akan dirinya. Tujuh kegelapan sebagaimana dinyatakan dalam Nitisastra IV. 19 akan semakin mendukung kemabukannya itu.

Dewasa inii manusia mabuk yang lupa diri itu ada yang sukses mendapatkan jabatan dan gelar formal di perguruan tinggi. Tujuh kegelapan yang menyebabkan mabuk itu adalah Surupa, Guna, Dhana, Yoana, Kula Kullina, Sura dan Kasuran. Surupa artinya rupawan, mereka mabuk karena berwajah tampan. Guna artinya mereka mabuk karena merasa berilmu tinggi. Dhana yaitu mabuk karena merasa kaya. Yowana mabuk karena merasa punya tenaga muda. Kula Kulina mabuk karena merasa keturunan bangsawan. Sura ada yang mabuk karena gemar minuman beralkohol dan Kasuran mabuk karena merasa punya keberanian. Seandainya ketujuh hal itu tidak membuat mabuk itulah sesungguhnya orang yang merdeka yang amat ideal menjadi pinandita. Sayangnya kalau ketujuh hal itu ada pada orang yang bertipologi Asuri Sampad, hal tersebut akan menimbulkan kemabukan. Suka menyombongkan din, tidak malu menyanjung-nyanjung dirinya seperti pamer kekayaan, merasa paling pintar, menyombongkan diri karena merasa sukses meraih jabatan dan pendidikan tinggi. Sikap orang Asuri Sampad ini amat pintar melakukan lobi-lobi pada siapa saja yang diyakini dapat memberikan dirinya keuntungan. Kekayaan yang dimiliki dibangga-banggakan dan digunakan untuk mengeksistensikan dirinya agar orang lain semakin menyanjung-nyanjungnya.

Kalau di zaman Kali dewasa ini semakin muncul pemimpin yang dikuasai oleh Asuri Sampad, hal itu memang sudah dinyatakan dalam pustaka Basya Purana. Dalam pustaka tersebut dinyatakan pada zaman Kerta kekuatan raksasa tidak mampu berbuat apa-apa karena kekuatan dharma penuh melindungi dunia ini. Pada zaman Treta dan Dwapara Yuga kekuatan dharma terus merosot. Apalagi zaman Kali kekuatan dharma terus merosot drastis, tinggal seperempat saja. Pada zaman Kali inilah sifat-sifat raksasa menjelma ke dunia. Menjelma menjadi manusia mabuk mengklaim diri sebagai orang hebat bahkan mengaku diri sebagai Brahmana bahkan menjadi pandita atau pemimpin. Mereka akan menjadikan fasilitas yang didapatkan bukan untuk diabdikan pada publik dengan tulus ikhlas. Kalau mereka ini duduk sebagai pejabat publik, berbagai fasilitas itu akan digunakan mengeksistensikan gengsi dirinya. Hal inilah yang menyebabkan banyak pejabat publik tidak merasa malu pada rakyat menggunakan fasilitas mewah dengan menghambur-hamburkan uang rakyat. Seandainya pejabat publik itu tidak menderita sikap Asuri Sampad dengan tujuh kegelapan (sapta timira) sesungguhnya banyak sekali negara memiliki uang untuk mengentaskan kemiskinan, meningkatkan pendidikan, meningkatkan kualitas fasilitas umum, menjaga kelestarian lingkungan hidup dan menjaga ciri khas budaya bangsa.

Mencegah agar jangan muncul tipologi manusia Asuri Sampad yang menderita Sapta Timira itu menjadi pejabat publik haruslah dimulai dari membenahi sistem pendidikan. Swami Satya Narayana menyatakan pendidikan hendaknya dimulai dari penguatan sraddha, kemudian budhi barulah meta. Pendidikan itu haruslah menguatkan sraddha yaitu keyakinan diri sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Penguatan sraddha ini sebagai dasar membangun komitmen moral dan daya tahan mental menghadapi dinamika zaman yang sering amat fluktuatif sulit untuk diprediksi. SDM yang kuat sraddha-nya ini tidak mudah hanyut oleh dinamika zaman yang kadang-kadang menjauhkan manusia dari prinsip dharma.

Pendidikan kesadaran budhi itu untuk menguatkan tegaknya hati nurani agar mampu mengarahkan kepekaan emosional pada arah yang benar, baik, wajar dan tepat. Meta adalah pengembangan bakat untuk menjadi terampil dan ahli membangun SDM yang profesional. Manusia akan tampil elegan kalau dinamika kepekaan emosinya selalu terukur dengan kuatnya daya spiritual melandasi kesadaran budhi dan kecerdasan intelektual. Dengan demikian sikap yang aneh-aneh dari mereka yang punya jabatan dan pendidikan tinggi akan dapat diminimalisir.

[Weda Wakya – Balipost Minggu, 20 Maret 2011 – Kt. Wiana].

 
< Prev   Next >
"));