|
Mimbar Hindu Pendidikan Membangun Kuatnya Keyakinan Diri Orang yang selalu ragu-ragu dalam hidupnya akan hancur. Samsayamatma vinasyati, demikian Shri Krihsna menyatakan dalam Bhagawad Gita IV.40. HAKIKAT pendidikan adalah mengembangkan berbagai potensi dalam diri manusia. Pengembangan potensi itu agar senantiasa berfungsi sesuai dengan posisinya. Manurut Bhagawad Gita IV. 34 yang pertama-tama carilah ilmu pada Tuhan sebagai sumber dari segala sumber ilmu pengetahuan. Dengan penyerahan diri secara tulus pada Tuhan kita mohon agar ilmu pengetahuan kebenaran dialirkan pada diri manusia. Dalam Bhagawad Gita dinyatakan Prani Patena. Penyerahan diri bukan berarti kemalasan, tetapi upaya untuk memahami sabda Tuhan dalam kitab suci. Karena itu dalam tradisi Hindu di Bali belajar diawali dengan prosesi ritual pawintenan Saraswati. Ini artinya pendidikan itu dimulai dengan menguatkan keyakinan diri bahwaTuhanlah sumber segala ilmu yang disebut jnyana. Selanjutnya ilmu kebijaksanaan itu diperoleh dengan bertanya-tanya pada mereka yang dianggap tepat untuk itu. Dalam Bhagawad Gita tersebut dinyatakan pari prasnena yang artinya mencari llmu dengan bertanya-tanya. Selanjutnya mencari ilmu kebijaksanaan melalui sewanam atau pengabdian dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan swadharma masing-masing. Proses pencarian ilmu pengetahuan yang disebut jnyanam, dengan tiga tahapan itu untuk menguatkan keyakinan diri agar memiliki sikap hidup yang konsisten atau ketetapan hati dalam melaksanakan kebenaran (dharma). Hidup ini untuk melaksanakan dan membela kebenaran (dharma). Bhagawad Gita II.33 menyatakan bahwa dosa bagi mereka yang tidak melaksanakan dan membela kebenaran. Pada kenyataannya melaksanakan dan membela kebenaran bukanlah pekerjaan yang mudah. Berbagai hambatan dan tantangan akan senantiasa menghadangnya. Karena itu dibutuhkan keyakinan diri yang kuat dan konsisten. Hal itu wajib diperhatikan dalam menyelenggarakan pendidikan. Sebagai langkah awal pendidikan, pertama-tama mesti menanamkan keyakinan diri sedalam-dalamnya pada peserta didik, agar memiliki sikap hidup yang kuat akan keyakinan dirinya dalam melaksanakan dan membela kebenaran (dharma). Sejalan dengan makna yang terkandung dalam arahan Bhagawad Gita IV.34 tersebut Swami Satya Narayana menyatakan pendidikan itu hendaknya diawali dengan pengembangan sraddha kemudian baru pengembangan kesadaran budhi selanjutnya barulah mengembangkan meta atau bakat pembawaan. Penguatan sraddha yaitu penguatan keyakinan diri dengan pendekatan diri pada Tuhan melalui sraddha dan bhakti yang mendalam. Artinya, sraddha dan bhakti tidak sekadar percaya dan berbakti pada Tuhan yang bersifat formalistik. Sraddha dan bhakti itu berdaya guna menguatkan keyakinan bahwa Tuhan itu Mahakuasa dan Maha Adil dan Maha Mengetahui. Tuhan akan senantiasa melindungi umatnya yang kuat berpegang bahwa Tuhan itulah sesungguhnya sebagai “Sutradara Agung” kehidupan umat manusia di bumi ini. Keyakinan diri yang kuat ini akan membawa orang selalu bersikap konsisten pada prinsip hidup yang benar. Dalam hal-hal yang prinsip akan senantiasa konsisten dan kuat pada pendirian. Sedangkan dalam tatanan aplikatif senantiasa bersikap fleksibel. Kuatnya sraddha dan bhakti itu bukan berarti bersifat kaku. Dalam hal cara atau metode mencapai prinsip hidup itu dapat saja berjalan zig-zag, yang penting tujuan itu dapat dicapai. Inilah perlu pendidikan untuk menguatkan keyakiran diri, tidak mudah terombang-ambing oleh dinamika zaman yang senantiasa berubah sangat fluktuatif. Pendidikan harus dijalani dengan mencerahkan kesadaran budhi untuk membangun karakter mulia. Dengan karakter mulia seseorang tidak mudah terpancing emosi dalam dinamika hidup bersama. Dengan pengembangan kesadaran hati nurani, dinamika jiwa senantiasa cerah terkendali. Penyelenggaraan pendidikan untuk mencerahkan hati nurani bukanlah pekerjaan yang mudah. Hal ini menyangkut keseimbangan yang sinergis peran tiga pusat pendidikan yaitu pendidikan informal, nonformal dan pendidikan formal. Pendidikan kesadaran budhi nurani adalah pendidikan yang menyangkut pembangkitan kesadaran jiwa bukan kecerdasan intelektual semata. Pendidikan membangun kesadaran jiwa membutuhkan berbagai pengembangan kebiasaan hidup. Pengembangan kebiasaan hidup itu dari kebiasaan makan, gaya hidup dan kebiasaan membangun sistem kesehatan jasmani dan rohani. Kesadaran budhi nurani akan semakin kuat apabila SDM bersangkutan sudah mantap mengomsumsi makanan yang satvika sebagaimana diajarkan dalam Bhagawad Gita.VXII.8. Demikian juga kesadaran rohani sulit dicapai kalau masih hidup dengan gaya hidup yang hedonis mengutamakan kenikmatan indriya lepas dari kontrol kecerdasan pikiran. Hidup lebih mengutamakan gengsi daripada fungsi. Mengembangkan Meta Tujuan pengembangan bakat ini untuk membangun SDM yang terampil dan ahli. Mengapa Swami Satya Narayana menyatakan pengembangan meta atau bakat ini menjadi urutan ketiga. Karena orang yang terampil apalagi ahli bisa membuat orang mabuk kalau tanpa karakter. Di lain pihak SDM terampil dan ahli dalam berbagai aspek kehidupan amat dibutuhkan. Tetapi keterampilan apalagi keahlian dapat membuat orang mabuk lupa diri kalau tidak kuat keyakinan dan hati nuraninya. Mete adalah mengembangkan keterampilan dan keahlian dalam berbagai bidang kehidupan. Kehidupan ini membutuhkan jasa dari SDM yang terampil dan ahli. Kalau keterampilan dan keahlian itu dimiliki oleh SDM yang memiliki keyakinan yang kuat serta kesadaran budhi yang cerah maka keterampilan dan keahlian itu tidak membuat orang mabuk atau gelap hati. Setiap orang yang hidup di bumi ini membutuhkan barang dan jasa yang dihasilkan oleh pendidikan yang mengembangkan meta atau bakat. Orang bisa mabuk kalau tanpa sraddha dan kesadaran budhi. [Mimbar Agama Hindu - Balipost Minggu, 17 April 2011 – Ketut Wiana].
|